Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Biografi Adrian Pawitra

1/31/2015 Add Comment
BIOGRAFI ADRIAN PAWITRA



Adrian Pawitra, dilahirkan di Bangkalan 20 Agustus 1969, adalah seorang pencinta dan pemerhati seni dan budaya Madura, Karya-karya yang telah dihasilkan adalah menyusun buku kumpulan lagu-lagu Madura (Penerbit LPKM Jakarta 2003), menyusun pantun-pantun Madura, mencipta dan mengaransir lagu-lagu Madura (Album Madurese Love Songs), menekuni seni lukis dengan motif batik Madura, menyusun Kamus Bahasa Madura-Indonesia (Penerbit PT. Dian Rakyat Jakarta, tahun 2009), menyusun Kamus Bahasa Indonesia-Madura (belum diterbitkan), menulis novel dengan setting budaya Madura, menulis puisi-puisi Madura, selain berkarya juga aktif dalam berbagai bidang organisasi yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan seni dan budaya Madura seperti pada : Yayasan Pragalba, sebagai ketua, LPKM (Lembaga Pelestarian Kesenian Madura) sebagai sekretaris, Komunitas Tèra’ Bulan sebagai bendahara sekaligus ketua bidang musik, juga pada Pangghellâr Bhuddhi “Nangghâlâ” pada komisi Bahasa Madura.

Sejarah Sultan R. Abdul Kadir Cakra Adiningrat II atau Sultan Abdul Kadirun

2/17/2013 Add Comment
SULTAN R. ABDUL KADIR CAKRA ADININGRAT II
(SULTAN R. ABD. KADIRUN)
(1815-1847 M)

Secara umum beliau disebut R. Abdul Kadirun walaupun dalam Prasasti yang terukir di Mihrab Masjid Agung Bangkalan, terukir Maulana Abdul Kadir bin Almarhum Maulana Abdurrahman. 

Beliau adalah Putra kedua Sultan Abduh (Sultan R. Abdurrahman Cakraadiningrat I) dari 13 bersaudara. Ibunya adalah R. Ayu Saruni Permaisuri ke 2 Sultan R. Abdurrahman, Cangga (Cucu Buyut) dari Pangeran Cakraningrat II (Panembahan Siding Kamal). Perlu dijelaskan bahwa R. Ayu Saruni, Pasareannya ada di Buju’ Aghung Dedelan (Pasarean keluarga Kerajaan di luar Kraton, sekarang Jl. KH. Moh. Toha RT.2 / RW. 06 dalam lingkungan Pondok Al-Ikhlas Bangkalan). Asuhan KH. Zainuddin, SH.

Catatan sejarah tentang Tahun Kelahiran Sultan R. Abdul Kadirun tidak tertulis dengan pasti tapi penulis memberanikan diri menghitung mundur, tahun lahir beliau berasal dari tahun wafat beliau, bahwa Sultan R. Abdul Kadirun wafat pada tahun 1847 M, dalam usia 69 Tahun.

Jadi, Insya Allah Beliau dilahirkan pada tahun 1778 Masehi (1847-69). Sejak muda Beliau selalu mendapat tugas-tugas berat dari ayah beliau, misalnya pada tahun 1880 Masehi pada usia yang masih sangat muda (22 tahun), Sultan R. Abdul Kadirun atau disebut juga R. Tumenggung Mangkudiningrat, telah memimpin Pasukan Bangkalan sebanyak 500 orang dalam perang melawan Inggris pada Perang Cilincing di Batavia, sekarang Jakarta. 

Tak lama kemudian dalam usia 23 tahun karena keberanian dan jasa-jasanya, Beliau mendapat Gelar Pangeran disertai hadiah-hadiah berupa Talam Emas itu terjadi dalam tahun 1801 Masehi, dua tahun kemudian pada usia 25 tahun, Beliau dipersiapkan sebagai Raja Muda (Ratoh Megang) untuk menggantikan ayah Beliau, dengan Gelar Pangeran Adipati, itu terjadi pada tahun 1803 Masehi.

Sebagai seorang Raja Muda pada tahun 1803 Masehi dengan membawa kekuatan Pasukan Bangkalan sebanyak 1000 orang Beliau berangkat ke Daerah Cirebon, berperang dan berhasil menekan perlawanan R. Bagus Idum, yang sangat sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga beliau mendapat Penghargaan berupa Keris Indah bergagang Emas Bertabur Intan, yang sekarang tersimpan di Museum Betawi Jakarta Pusat (semoga TreTans suatu saat bisa kesitu). Tahun 1815 Masehi, Sultan R. Abdurrahman Cakraadiningrat 1 wafat, sehingga dalam usia 37 tahun, Sultan R. Abdul Kadirun naik tahta kerajaan Madura Barat III, saat itu pula Bangsa Inggris menyerahkan kembali kekuasaannya kepada Kompeni Belanda (Senin, Syawal 1743 Tahun Jawa) atau Tahun 1815 Masehi. 

Gubernur Jendral Baron Van Der Capellen tahun 1824 Masehi meminta bantuan Sultan R. Abdul Kadirun untuk mengirim Pasukan Bangkalan Madura dalam Perang Bone di Sulawesi. Pasukan ini dipimpin oleh putra ke-8 Beliau, yaitu Pangeran Suryo Adiningrat (Pangeran Sorjah), dengan Kekuatan 900 Pasukan Bedil, 600 orang prajurit bersenjata tombak, 80 orang Pasukan Berkuda, 2 buah meriam. 

Bahwa kecakapan tempur Pasukan Bangkalan Madura ini, saat itu benar-benar menggetarkan seluruh jawa. Pasukan ini berangkat ke Sulawesi Selatan dan bekerja sama dibawah komando Mayor Van Geen, dalam perang itu pula Calon Putra Mahkota Sultan R. Abdul Kadirun, Pangeran Adipati Seco Adiningrat IV (R. Moh. Yusuf) dan menantu Sultan Pangeran Atmojo Adiningrat. Pangeran Suryo Adiningrat mendapat Pangkat Letnan Kolonel dan Mayor.

Tujuh bulan berada di Bone, Pasukan Bangkalan Madura ini, ditarik kembali ke Madura dan 2 tahun kemudian tahun 1883 Masehi kembali Pasukan Bangkalan Madura dikirim ke Jogjakarta dalam Perang Diponegoro. Enam bulan berperang disana, Pangeran Seco Adiningrat IV (R. Moh. Yusuf putra ketujuh Sultan), menjadi Kolonel dan Pangeran Suryo Adiningrat , Pangeran Atmojo Adiningrat berpangkat Letnan Kolonel. 

Tahun 1831 Masehi, Korps Barisan dibentuk di Madura dan 2 tahun kemudian 1833 Masehi kembali Pasukan Bangkalan Madura diberangkatkan dalam perang Jambi, kali ini pemimpin pasukannya adalah Pangeran Adinegoro (Ibrahim). Putra ke-18 dari Ibu Nyai Djai, tahun 1846, Pasukan Bangkalan Madura berangkat dalam ekspedisi yang pertama di bawah pimpinan Pangeran Adinegoro dalam Perang Bali. 

Dapat diambil kesimpulan bahwa masa pemerintahan Sultan R. Abdul Kadirun, seolah-olah disibukkan oleh masa-masa perang, itu tidak berarti Beliau meninggalkan tugas Kepemerintahannya yang lain, satu contoh bahwa sebagai seorang Satrio Pinandito (Ulama dari Umaroh yang bersatu dalam pribadi Beliau), Sayyidin Panotogomo, Beliau telah membuka Masjid Kraton Kerajaan untuk kepentingan Ibadah Rakyat Umum (Masjid Agung Bangkalan yang dipakai sampai sekarang). 

Uraian tentang hal tersebut diatas dapat dibaca dalam buku Sultan R. Abdul Kadirun hubungannya dengan Masjid Agung Bangkalan, karya tulis (R. Moh. Sasra). 

Beliau mendasarkan watak kepemimpinannya pada Asta Brata, 8 sifat Kepemimpinan dari sudut pandang Budaya Jawa (tertulis dalam buku : Alm. Sumarsaid Murtono), yaitu : 
1. Demawan (Indra) 
2. Tegas (Yama) 
3. Ramah Tamah (Suya) 
4. Kasih Sayang (Candra) 
5. Cermat (Bayu) 
6. Pemberi Kegembiraan (Kuwera) 
7. Cerdas (Baruna) 
8. Keberanian (Brahma) 

Akhirnya pada hari Kamis Legi II Syafar, 1775 tahun Jawa atau tanggal 28 Januari 1847 Masehi, Sultan R. Abdul Kadirun Cakradiningrat II atau Sultan R. Abdul Kadirun, berpulang ke Rahmatullah pada usia 69 tahun, jenazah beliau dikebumikan di Pasarean Congkop (Makam Raja Bangkalan dan Keluarganya), di belakang Masjid Agung Bangkalan. 
Beliau mengendalikan Pemerintahan, yang bersifat MONARKI (Sistem Pemerintahan Kerajaan), selama lebih kurang 32 tahun dan beliau adalah Raja Generasi ke-II Panembahan Lemah Duwur (R. Pratanu) di Kerajaan Madura Barat Bangkalan pada Pasarean Beliau terdapat Lambang Prasasti Cakra bersudut 8, yang berarti WOLU (Wohing Laku = Buwena Lako atau Lakonnah Badan/Bahasa Madura), yang menurut uraian Almarhum R. Ario Saleh Saeryowinoto, manusia harus mempunyai watak yang 8 (delapan) yaitu: 
1. Prilaku Bumi – Teduh dan melindungi yang tertindas 
2. Prilaku Air – Pendingin Suasana 
3. Prilaku Angin – Sejuk 
4. Prilaku Samudra – Watak Sabar, Nerimo 
5. Prilaku Candra / Bulan – Membuat orang lain tentram 
6. Prilaku Matahari – Memberi warna kehidupan 
7. Prilaku Api – Tegas menentukan benar dan salah 
8. Prilaku Gunung – wibawa karena disegani, bukan “ditakuti” 

Tentang Peri Kehidupan Beliau, sebagai seorang Sultan Beliau didampingi seorang permaisuri (Garwa) Patmi), R. Ayu Masturah (Ratoh Ajunan), cucu panembahan Cakraningrat V (Panembahan Sedho Mukti) dan 7 (tujuh) orang Garwa Ampiyan (Selir): 
1. Ratu Timur (R. Ayu Saina) 
2. Nyai Reno 
3. Nyai Jai 
4. R. Kenoko 
5. R. Citrowati 
6. R. Siya 
7. R. Ajeng Trisnowati (Mas Ajeng Ratnowati) 

Dari ke-8 Garwo/Istri ini diturunkan putra-putri Beliau sebanyak 46 (empat puluh enam) seperti yang tercantum dibawah ini : 
1. R. Ayu Pangeran Atmojodiningrat (Ngaisa) 
2. R. Ayu Raiya 
3. Pangeran Noto Adiningrat (Hosen) 
4. R. Ayu Tmg. Mangkuadiningrat (Raisa) 
5. R. Ayu Ario Jaying Rasminingrat 
6. R. Ayu Stina 
7. Pnb. Cakra Adiningrat VII (R. Moh. Saleh) 
8. Png. Suryo Adiningrat (Abdussaleh) atau Pangeran Sorjah 
9. Ratu Paku Buwono VII (R. Ayu Srija) 
10. R. Ayu Tmg. Cokro Negoro (Sariganten) 
11. R. Bakir, ibunya Ratu Timur (R. Ayu Saina) 
12. Png. Sosro Adiningrat, ibunya Ratu Timur R. Ayu Saina 
13. R. Ayu Tmg. Purwo Negoro (Nurisa), Ibunya Ratu Timur 
14. Satu Putra, Meninggal, Ibunya Nyai Reno 
15. R. Ayu Supiya, Ibunya Nyai Reno 
16. R. Ayu Maryam, Ibunya Nyai Reno 
17. Satu Putra, Meninggal, Ibunya Nyai Jai 
18. Png. Adinegoro (Ibrahim), Ibunya Nyai Jai 
19. R. Ayu Tmg. Purwo Negoro (Janiba), Ibunya R. Kenoko 
20. R. Ayu Tmg. Broto Adinegoro (Janiba), Ibunya R. Kenoko 
21. R. Ali 22. R. Ayu Tmg. Cokro Kusumo (Asia) 
23. R. Ayu Srina 
24. Png. Cokro Negoro (Hasan) 
25. Png. Cokro Kusumo (Abdur Rasyid) 
26. R. Ayu Ario Suro Dipuro (Stia) 
27. R. Ayu Rusya 
28. R. Ayu Ario Mloyo Musumo (Halima) 
29. R. Ayu Ario Brotoningrat (Matrya) 
30. R. Ayu Ario Cokrodiputro (Manten) 
31. Png. Cokrowinoto (Jamilun) 
32. Seorang Putra Meninggal, Ibunya R. Citrowati 
33. Png. Mangku Adinegoro (Abdussamad alias Kondur), Ibunya Mas Ajeng Retnowati 
34. Png. Prawiro Adinegoro (Amir) 
35. Png. Prawiro Adiningrat (Sleman) 
36. R. Ayu Ario Surodipuro (Nurani) 
37. R. Ayu Sulodilogo atau Brotoningrat (Sripa) 
38. Png. Suryonegoro (Hasyim), Bupati Pertama Bangkalan 
39. Seorang Putra Meninggal, Ibunya R. Siya 
40. Seorang Putra Meninggal, Ibunya R. Ajeng Trisnowati (Mas Ajeng Ratnowati) Pasareannya ada di Congkop – Bangkalan 
41. Png. Sastronegoro (Santara) 
42. Png. Sosro Winoto (Kadimin) 
43. R. Ayu Ario Purwowinoto (Slama) 
44. Png. Suryowinoto (Abdurrahman) 
45. R. Ayu Ario Joyokusumo (Grambang) 
46. R. Ayu Kembar 



Diambil dari Buku Risalah Tahlilan "Memperingati Hari Wafat Sultan R. Abd. Kadir Cakra Adiningrat II (Sultan R. Abd. Kadirun) ke 166, 25 Desember 2012 (11 Syafar 1434 H) Yayasan Ta'mirul Masjid Agung Bangkalan Bagian Makbaroh, Jl. Sultan R. Abd. Kadirun No. 5 Bangkalan

LOKASI PASAREAN CONGKOP MAKAM RAJA BANGKALAN
SULTAN R. ABDUL KADIRUN

Berikut adalah letak dari makam atau kuburan Sultan R. Abdul Kadirun jika diakses lewat Jembatan Suramadu.

Biografi Mohammad Faizi

12/27/2012 Add Comment
BIOGRAFI MOHAMMAD FAIZI



M. Faizi dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1975, di desa Guluk-Guluk, Sumenep (Madura). Karya tulisnya, terutama bergenre puisi, dimuat di koran dan majalah seperti Republika, Aula, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur’an, Basis, Surabaya Post, Serambi Indonesia, Suara Muhammadiyah, MPA, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Memorandum, Jawa Pos, Romansa, Riau Pos, Lampung Post, Banjarmasin Pos, Fajar, Horison, Tashwirul Afkar, Pedoman Rakyat, Bahana (Brunei Darussalam), Orientierungen (Jerman), dll. Puisi-puisinya juga terkumpul dalam kira-kira 12 buku antologi puisi bersama.

Adapun karya puisi tunggalnya adalah;
1. “18+” (Diva Press, Jogjakarta, 2003),
2. “Sareyang” (Pustaka Jaya, Jakarta, 2005),
3. “Rumah Bersama” (Diva Press, 2007),
4. “Permaisuri Malamku (Diva Press, 2011)

M. Faizi juga menghadiri beberapa kegiatan nasional dan internasional, seperti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2008 di Ubud, Bali; Jakarta Berlin Arts Festival, di Berlin, 24 Juni–3 Juli 2011; Temu Sastrawan Indonesia ke-IV, Ternate, Oktober, 2011; juga (akan hadir di) Pertemuan Penyair Nusantara ke-6 di Jambi, 28-31 Desember 2012.

Setelah menerbitkan buku catatan perjalanan di Komodo Books (Juni, 2012) dengan judul "Merentang Sajak Madura-Jerman", saat ini dia sedang menyiapkan penerbitan catatan perjalanannnya yang lain dengan angkutan umum yang paling dia gemari, yaitu bis (bus).

===================================
M. Faizi

Sabajarin, Guluk-Guluk, Sumenep
email: sabajarin@gmail.com
YM: sabajarin@ymail.com
Blog:
http://kormeddal.blogspot.com
http://kormeddal.multiply.com
http://myspace.com/sareyang
http://titosdupolo.blogspot.com
http://m-faizi.blogspot.com
http://sabajarin.wordpress.com

nb:
Terima Kasih kepada Bapak Mohammad Faizi yang telah menyumbangkan Artikelnya untuk Blog PulauMadura.com [Berbagi Seputar Pulau Madura]