Sejarah

Tradisi

Recent Posts

Melihat Tradisi Rokat Tase atau Petik Laut di Pulau Mandangin - Sampang

1/17/2017 Add Comment
Rokat Tase' atau yang biasa dikenal dengan Larung Laut / Petik Laut adalah salah satu adat budaya masyarakat Madura. Sebagai kepulauan yang memiliki letak geografis dikelilingi oleh lautan masyarakat Pulau Madura rutin melaksanan tradisi Rokat Tase' ini. Rokat Tase' sendiri memiliki ciri khas dan keunikan sendiri pada masing-masing daerah yang ada di Madura.


Seperti yang ada di Pulau Mandangin di Kabupaten Sampang pada hari selasa tanggal 10 Januari 2017 kemarin mengadakan Rokat Tase'. Rokat Tase’ juga disebut Petik Laut, atau Larung Sesajen bagi masyarakat Jawa, merupakan peristiwa ritual yang dilakukan para nelayan sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberi limpahan hasil ikan tangkapan di laut.

Demikian pula yang dilakukan masyarakat nelayan yang ada di Pulau Mandangin Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang. Sebelumnya perlu teman-teman ketahui Pulau Mandangin merupakan sebuah pulau yang memiliki luas sekitar 1,65 kilometer persegi dan memiliki jumlah penduduk yang cukup padat. Dengan luas pulau demikian, jumlah penduduk mencapai 18.000 jiwa, sehingga rumah-rumah tampak berdekatan dan jalan-jalan tidak begitu lebar.

Runtutan Proses Rokat Tase' di Pulau Mandangin

Upacara ritual Rokat tase’ diadakan selama tiga hari dengan beberapa tahapan. Acara Rokat tase’ sebelumnya diawali dengan acara selametan bersama warga yang diadakan di rumah Bapak Kepala Desa atau yang biasa disebut Bapak Klebun. Dalam acara selametan semua warga berkumpul untuk berdoa bersama demi kelancara acara Rokat Tase’.

Kemudian dihari kedua adalah hari jadi acara Rokat Tase’. Sejak pagi hari semua masyarakat sudah bersiap dengan berkumpul di sebuah musholla. Di area musholla tempat berkumpul terdapat dua makam sosok penting di Pulau Mandangin yakni Bangsacara dan Ragapadmi. Sebelum menuju tepi pantai untuk memulai acara kembali diadakan doa bersama sembari membaca sholawat bersama.


Di lain sisi, masyarakat Pulau Mandangin sudah selesai menghias perahu untuk acara Rokat Tase’ tidak ketinggalan juga pernak-pernik yang akan dibawa dan yang diarung ke laut. Selama acara berlangsung arus transportasi laut menuju Pulau Mandangin pun ditutup untuk umum.

Acara Rokat Tase’ sendiri difasilitasi oleh masyarakat dan dinas terkait dengan bergotong royong sehingga acara berlangsung ramai dan meriah, selain itu ada aparat Kepolisian dan TNI serta Wakil Bupati Sampang turut hadir memeriahkan acara Rokat Tase' di Pulau Mandangin. Pada kegiatan kemarin kita dari Tim Gerbang Pulau Madura bersama perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sampang turut mengabadikan acara Rokat Tase'. Acara dimulai dari jam 07.00 pagi hingga selesai pada siang menjelang sore hari.


Pada hari ketiga sekaligus hari terakhir merupakan acara ludruk dan hiburan rakyat lainnya. Rokat Tase’ sendiri rutin diadakan setiap tahun pada bulan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, acara ini biasa ditunggu-tunggu oleh semua masyarakat di Pulau Mandangin. Jika teman-teman ingin melihat langsung acara Rokat Tase’ di Pulau Mandangin ini bisa datang langsung tahun depan.

Mengunjungi Pengrajin dan Sentra Batik Klampar di Pamekasan

1/08/2017 Add Comment
Batik merupakan salah satu budaya yang sudah tidak asing di dengar lagi. Di Pulau Madura sendiri tepatnya di Kabupaten Pamekasan terdapat jenis batik yang berbeda dengan batik pada umumnya. Jika di Kabupaten Bangkalan terdapat Batik Gentongan yang berada di Kecamatan Tanjung Bumi maka di Kabupaten Pamekasan ada Kampung Batik Klampar yang terletak di Desa Klampar Kecamatan Proppo.

Beberapa waktu yang lalu Tim Gerbang Pulau Madura berkesempatan datang langsung ke sentra batik Klampar yang berjarak sekitar 5 Km dari Kota Pamekasan tersebut. Menurut cerita Batik Klampar ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Di desa Klampar sendiri terdapat kurang lebih 300 pengrajin batik yang meneruskan usaha keluarga mereka hingga saat ini.


Walaupun hampir di seluruh kabupaten di Madura mempunyai daerah sentra batik, batik tradisional asal Desa Klampar ini mempunyai keunikan tersendiri. Yakni kaya akan warna bahkan, dalam satu potong kain batik bisa lebih dari tiga warna. Warna-warna tersebut adalah coklat sagon (tua), hitam, merah, dan hijau.

Kalau diperhatikan secara teknis dan mendetail tidak ada perbedaan yang mendasar dalam pembuatan Batik Tulis Desa Klampar dengan batik-batik lainnya. Mulai dari memotif, mewarnai, mencelup hingga menjemur. Termasuk cairan untuk mewarnai kain yaitu malam yang direbus. Yang membedakan hanya paduan warna, motif, dan jenis kain yang digunakan.

Mengembangkan para Pengrajin di Sentra Batik Klampar

Untuk harga jual sendiri para pengrajin Batik Desa Klampar membagi dua segmen para konsumennya. Untuk segmentasi konsumen batik yang ekonominya menengah ke bawah misalnya, harga 1 potong kain batik hanya Rp 75 ribu hingga Rp 500 ribu. Batik tersebut berbahan dasar dari kain katun dan hanya melewati satu tahap pewarnaan.


Sedangkan untuk batik yang biasa dibeli kalangan ekonomi menengah ke atas, bahkan hingga tingkat menteri, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta per potong. Bahan dasarnya kain sutra asli dan melalui dua kali tahap pewarnaan. Setelah selesai diwarnai kemudian dijemur kemudian kering dan lanjut pada proses diwarnai lagi.
 
 
Dengan makin dikenalnya batik Desa Klampar, membuat warga desa tersebut semakin bersemangat membuka industri usaha kecil menengah (UKM) sebagai pengrajin batik. Tentu saja, dengan banyaknya UKM semakin mengurangi pengangguran yang ada di desa Klampar. Batik Klampar sendiri pernah memecahkan Rekor MURI dengan kategori batik terpanjang yakni 1530 meter.

Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan mulai ambil bagian dalam menata desa. Dinas tersebut memproyeksikan Desa Klampar, Kecamatan Proppo sebagai desa wisata batik di Kota Gerbang Salam. Jika teman-teman penasaran ingin melihat dan membeli Batik Klampar yang murah atau mahal bisa segera datang ke Desa Klampar yang berjarak tidak terlalu jauh dari Kota Pamekasan tersebut

Tradisi Tidur di Pasir Kampung Pasir Desa Legung - Sumenep

1/02/2017 Add Comment
Bukan hanya menyimpan kekayaan wisata alamnya, Pulau Madura juga memiliki adat dan tradisi tersendiri yang mungkin akan membuat teman-teman tidak percaya saat mengetahuinya. Salah satunya yang ada di Kabupaten Sumenep, ada suatu kebiasaan khusus yang dilakukan oleh masyarakatnya disana.

Tepatnya di desa Legung Timur Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep, masyarakatnya terbiasa tidur di atas kasur pasir. Bukan hanya di desa Legung Timur, kebiasaan unik ini juga bisa teman-teman temukan di dua desa lainnya yang masih berada di Kabupaten Sumenep yakni desa Legung Barat dan desa Dapenda.


Tidur di atas pasir, hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun bagi warga sekitar dan merupakan kewajiban setiap rumah memiliki kasur pasir dalam rumahnya. Bahkan tidak hanya di dalam rumah saja masyarakat setempat menaruh pasirnya, di halaman rumah dan tempat-tempat tertentu juga ada pasir yang digunakan untuk bersantai bersama keluarga dan tetangga.


Tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun secara turun-temurun. Bahkan kebanyakan anak di Desa Legung dilahirkan di atas pasir juga. Jadi, sedari kecil mereka memang sudah akrab dengan kasur berpasir. Mereka lahir, bermain, bertumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa di atas pasir sehingga tak jarang ada yang menyebutnya Manusia Pasir

Di setiap kamar maupun di ruang istirahat di tiga desa itu pasti didapati tumpukan pasir yang dijadikan tempat tidur. Sekalipun di kamar ada tempat tidur, seperti pada umumnya, mereka nyaris tidak pernah menggunakannya. Meskipun begitu para warga tetap memilih tidur di atas kasur dari pasir tersebut.

MANFAAT TIDUR DI KASUR PASIR

Warga tiga desa yang mayoritas sebagai nelayan, sebagian lainnya pedagang dan bertani, menganggap pasir memberi manfaat besar berupa kesehatan bagi tubuh.Mereka juga menganggap tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibandingkan dengan kasur kapuk maupun spring bed yang harganya jutaan rupiah.


Pasir yang diambil dari sekitar Pantai Lombang itu tidak lengket di kulit atau tubuh meski kulit dalam keadaan basah. Butiran pasir tersebut memiliki kristal pasir yang sangat halus, bersih mengkilap, dan memiliki warna putih gading. Sebelum digunakan pasir akan diayak untuk memastikan tidak ada batu atau benda berbahaya lain di dalamnya. Pasir lalu dijemur agar tak basah atau lembab.

Warga yang memanfaatkan pasir sebagai tempat tidur atau istirahat bukan hanya mereka yang kelas ekonomi menengah ke bawah, melainkan warga yang sudah mempunyai kemampuan lebih, masih tetap tidur di atas pasir. Bagi teman-teman yang ingin pergi ke Desa Legung dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Kota Sumenep.

Penasaran ingin mencoba Tidur diatas Kasur Pasir ? segera datang ke Kampung Pasir, Desa Legung, Kabupaten Sumenep.

Bangkalan

Pamekasan

Sampang

Sumenep