Sejarah

Tradisi

Recent Posts

Cari Dokter Terdekat di Masa Pandemi

5/29/2020 Add Comment
Selama pandemi global Covid-19 ini semua orang sedang menyesuaikan diri dengan pola hidup baru. Mulai dari gaya hidup, makanan, keuangan dan tentu saja kesehatan yang perlahan ikut berubah. Bahkan sampai konsultasi dengan dokter saja dengan cara online, sebab rumah sakit hanya melayani pasien yang benar-benar gawat.

Sedangkan untuk konsultasi biasa kita bisa cari dokter terdekat. Nah, di masa pandemi seperti ini tentu kita akan berpikir dua kali untuk pergi ke tempat praktik dokter terlebih bila keadaannya sedang urgent kita tidak bisa keluar rumah. Sebab selama masa pandemi Covid-19, kita dianjurkan untuk menunda kegiatan ke rumah sakit untuk meminimalisir tingkat penyebaran virus corona baru tersebut.

Ketakutan pun dialami banyak orang saat harus memeriksakan dirinya ke rumah sakit di dalam dan luar negeri karena takut tertular serta pembatasan bepergian. Padahal Informasi atau konsultasi kesehatan sangat dibutuhkan warga saat pandemi Covid -19 seperti sekarang ini. Kalau sudah begini konsultasi dengan dokter secara online menjadi solusi yang baik yang bisa kita lakukan.

Oleh karenanya pada masa seperti ini aplikasi kesehatan seperti Halodoc cukup membantu seseorang untuk dapat berkonsultasi seputar masalah kesehatan. Aplikasi ini cukup populer untuk menanyakan seputar masalah kesehatan. Halodoc menawarkan fitur konsultasi dengan dokter umum dan spesialis secara daring.

Tidak ada biaya konsultasi dan waktu konsultasi pun cukup lama dari durasi 30 menit sampai 1 jam. Untuk berkomunikasi dengan dokter menggunakan aplikasi halodoc konsultasi dokter, pengguna bisa memilih fitur voice, video call atau chat yang jadi fitur favorit pengguna.

Bagi yang memiliki masalah kesehatan atau butuh informasi kesehatan tertentu, mereka bisa melakukan konsultasi langsung dengan dokter umum/spesialis di Halodoc, di mana dan kapan saja. Dokter yang sedang aktif di aplikasi ditandai lampu hijau di samping avatar mereka. Jadi, jangan ragu untuk menggunakan layanan chat tanya dokter ini, karena ada lebih 16 ribu dokter dari seluruh Indonesia sudah bergabung dengan aplikasi Halodoc ini.

Bukan hanya itu saja, aplikasi ini juga menawarkan pemeriksaan laboratorium bagi para pelanggannya. Pengguna bisa memilih paket pemeriksaan yang dibutuhkan, kemudian tentukan tanggal dan staf halodoc akan langsung datang ke rumah pelanggan. Selain itu Halodoc juga dapat digunakan untuk memonitor kondisi kesehatan seseorang dalam mengenali gejala-gejala penyakit yang berkaitan dengan Covid-19.

Kita akan dibantu oleh Dokter dari Halodoc untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan seseorang yang melakukan isolasi diri di rumah apakah masih dapat ditangani dengan istirahat di rumah, atau benar-benar membutuhkan perawatan dengan harus merujuknya ke rumah sakit.

Dan satu lagi sebagai catatan, karena ini bersifat tanpa tatap muka langsung, kita harus mempersiapkan diri seandainya dokter dari aplikasi kesehatan Halodoc menyarankan kita untuk pergi ke rumah sakit terdekat.

Di Halodoc juga kita bisa lho memesan obat dan vitamin. Tidak perlu khawatir karena Halodoc memastikan akan mengantar obat yang dibutuhkan oleh pasien melalui mitra GoJek dalam waktu 30 menit saja. Fasilitas tebus resep dan pesan obat ini sangat membantu di tengah masa pandemi seperti sekarang. Hebatnya, obat pesanan kita diantar langsung dalam kondisi tersegel rapi.

Terakhir, pengguna juga bisa membuat janji dengan rumah sakit yang dituju dan mendaftar untuk dokter spesialisnya. Jadi, kita bisa datang ke rumah sakit dan langsung masuk ruang konsultasi dokter. Simpel, bukan?

Sepenggal Cerita Tentang Batik Patengteng Modung Bangkalan

4/09/2020 Add Comment
Sebenarnya tidak ada sejarah yang pasti mengenai batik. Namun keindahan batik ini kabarnya sudah ditorehkan sejak 2000 tahun silam di Timur Tengah, Asia Tengah, dan India.

Di peradaban mesir kuno, teknik membatik digunakan untuk membungkus mumi dengan kain linen. Kain linen ini dilapisi cairan lilin, kemudian digores dengan benda tajam semacam jarum atau pisau untuk menorehkan motifnya.


Pada Jaman Dinasti Tang (tahun 618-690) di Cina, teknik seperti ini juga sudah dijumpai. Bahkan pada jaman Dinasti Sui (tahun 581-618) teknik ini sudah dipraktekan lho. Karena Cina adalah bangsa pedagang yang berkeliling dunia, teknik ini kemudian menyebar ke banyak benua seperti Asia, Amerika, Afrika, bahkan sampai ke Eropa.

Kemudian para pedagang yang berasal dari India-lah yang membawa teknik ini ke Indonesia. Pada abad ke-6, teknik ini dibawa ke pulau Jawa. Teknik ini kemudian mulai tersebar luas dan dikembangkan oleh masyarakat Jawa.

Berdasarkan Rens Heringa, pada bukunya Fabric of Enchantment: Batik from the North Coast of Java (1996), batik pertama kali ada di Indonesia sekitar tahun 700an. Diperkenalkan oleh orang India, pada saat Raja Lembu Amiluhur (Jayanegara), yang merupakan raja kerajaan Janggala menikahkan putranya dengan seorang putri India.

Kilas Balik Pengrajin Batik Patengteng, Mbok Miyeh

Menurut catatan perkembangan batik di Madura, Batik Patèngtèng sudah dikenal sejak beberapa abad yang lalu tepatnya ketika kerajaan Daha dan Tumapel (Kediri dan Singasari) mulai bergolak. Sebagian orang-orang Tumapel maupun Daha yang terpinggirkan mereka mengungsi dengan menyusuri sungai-sungai yang ada diantaranya Sungai Brantas hingga berakhir diujung laut Selat Madura.

Sampai akhirnya menemukan Pulau Madu Oro yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan Madura. Pertama kali yang dilihat adalah daerah Patèngtèng dengan kampung Mencay yang juga sebagai tempat pelarian tentara China ketika mereka dikalahkan oleh tentara dari Tumapel maupun Daha.

Ditempat tersebut mereka beranak Pinak dan membaur dengan masyarakat sekitarnya dengan mengenalkan istilah ambatik. Kata batik berasal dari bahasa Jawa, "ambhatik" dari kata "amba" berarti lebar, luas, kain; dan "titik" berarti titik atau "matik" (kata kerja dalam bahasa Jawa berarti membuat titik) dan kemudian berkembang menjadi istilah batik, yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala sesuatu yang berhubungan dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori.

Titik Awal Menghidupkan Batik Patengteng

Batik Patengteng mempunyai peranan penting dalam karya seni batik yang ada di Madura. Menurut penuturan warga setempat, batik Patengteng menjadi contoh bagi para pengrajin batik Madura sehingga  dijadikan acuan dalam pembuatan batik. Warga juga mengungkapkan bahwa dahulu para pengrajin batik terutama di Tangjung Bumi yang sekarang terkenal batiknya, konon mereka belajar batik ke Desa Patengteng sehingga dapat mendapatkan menghasil karya seni yang bagus, bahkan motif yang sangat khas. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, batik Patengteng hanya terdengar ceritanya, karena generasi penerus terutama pengrajin batik patengteng sudah tidak ada lagi yang dapat meneruskannya (memang cukup disayangkan).

Padahal batik Patengteng dulunya terkenal dimana-mana karena menjadikan batik Patengteng sebagai sumber ekonomi bagi warga setempat dalam meningkatkan kesejahteraannya, hal lain disebabkan juga di daerah tersebut dilalui jalur kereta api bahkan menjadi stasiun pemberhentian kereta api waktu itu sehingga batik Patenteng laris manis di pasaran dan bisa meningkatkan perekonomian di Desa tersebut.

PERJALANAN KAMI MENGHIDUPKAN BATIK PATENGTENG


Belajar Bahasa Madura Edisi Anak Binatang

3/03/2020 Add Comment
Kembali lagi kita membahas tentang Bahasa Madura, kali ini Pak Adrian Pawitra selaku penyusun Kamus Madura - Indonesia kembali menuliskan status di Facebook tentang Bahasa Madura Edisi Anak Binatang awalan dari Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Madura, dengan tulisan ini semoga bisa menambah perbendaharaan kita tentang Bahasa Madura.


AJHÂR OCA’ MADHURÂ - 02
BHÂB : NYAMA BUḌU’NA KÈBÂN
(NAMA ANAK BINATANG)
(Sè ngangghit : Adrian Pawitra)


01. Anak angsa = buḍu’na bhânyak (bâlengngor)
02. Anak anjing = buḍu’na patè’/bhurus (rè’-kèrè’)
03. Anak ayam = buḍu’na ajâm (ṭok-koṭok, pètè')
04. Anak ayam kampung silang dengan ayam terata = buḍu’na ajâm kampong kabin bi’ ajâm tarata (bâgisar, bâkisar)
05. Anak ayam kampung silang dengan ayam bekisar = buḍu’na ajâm kampong kabin bi’ ajâm bâgisar (bâkèkkok, ajâm kèkkok)
06. Anak babi = buḍu’na bâbi (gembul, gemblu’)
07. Anak babi hutan = buḍu’na cèlèng (bâbi alas) (ḍuḍut, ghenjhi’)
08. Anak badak = buḍu’na bârâk (palencèng)
09. Anak banteng = buḍu’na bhânṭèng (bhârèng)
10. Anak belalang = buḍu’na bâlâng (ḍugul)
11. Anak belut = buḍu’na bellu’ (odhet, udet)
12. Anak berang-berang = buḍu’na râng-ghârângan (saronṭol, gonggo)
13. Anak biawak = buḍu’na bârâkay (bânyowabâk)
14. Anak buaya = buḍu’na bhâjâ (bâcokok, karètè)
15. Anak bulus = buḍu’na bhulus (keṭṭol)
16. Anak cacing = buḍu’na cacèng (ellur)
17. Anak capung = buḍu’na sèsèt (jhenṭèt, jenḍet)
18. Anak cicak = buḍu’na cekcek (sabiyâ)
19. Anak emprit = buḍu’na mano’ keddhi’ (ènḍhil)
20. Anak gagak = buḍu’na mano’ ḍângḍâng (engkak)
21. Anak gajah = buḍu’na ghâjhâ (kapeḍḍhit, beldhuk)
22. Anak gelatik = buḍu’na mano’ ghâltè’ (caratcat)
23. Anak hemar = buḍu’na hèmar (kèḍhâh)
24. Anak ikan bandeng = buḍu’na jhuko’ bhândheng (nènèr)
25. Anak ikan belanak = buḍu’na blâna’ (la-kala)
26. Anak ikan dorang = buḍu’na jhuko’ kandhibâs (cepplek) ;
27. Anak ikan gabus = buḍu’na jhuko’ kotok (kotèsân, koncèlan, klèyon)
28. Anak ikan hiu = buḍu’na jhuko’ monḍung (mongsèng)
29. Anak ikan kelemar = buḍu’na jhuko’ kalemmar (srèbhet)
30. Anak ikan keting = buḍu’na jhuko’ jhengghirâng (ghungghu)
31. Anak ikan layang = buḍu’na jhuko’ lajâng/pènḍhâng (rèncèk)
32. Anak ikan tongkol = buḍu’na jhuko’ cakalan (panèt, cengkè’)
33. Anak ikan pari = buḍu’na parè (katoka)
34. Anak itik = buḍu’na bhibhik/ètèk (rè-merrè)
35. Anak itik silang dengan mentok = buḍu’na bhiṭok (brântè)
36. Anak jangkrik = buḍu’na ghânta’ (kabu’ḍul, ghânḍulu)
37. Anak jangkrik putih = buḍu’na jherring (calonḍu)
38. Anak kadal = buḍu’na kaḍḍhâl (bâlâḍhâs, tobil)
39. Anak kalajengking = buḍu’na kala/kalajhengkèng (katopa)
40. Anak kambing = buḍu’na embè’(kacèmpè, mèmèk)
41. Anak kancil = buḍu’na kancèl (kenṭè)
42. Anak karengga = buḍu’na kalèng (kroto)
43. Anak katak = buḍu’na kata’ (bâ’-dhâbâ’)
44. Anak kecoak = buḍu’na ngè-rèngè (mènḍhet)
45. Anak kelelawar = buḍu’na bhâbbhuru (kamprèt)
46. Anak keong/siput besar = buḍu’na ko’ol (karèkkèk)
47. Anak kera = buḍu’na keṭṭang/moṭak (monyo’, monyong, ennyong)
48. Anak kerbau = buḍu’na kerbhuy (dhil-ghudhil)
49. Anak keremi = buḍu’na karemmè (biyâr, racek)
50. Anak kijang/menjangan = buḍu’na kèddhâng/manjhângan (komprèng)
51. Anak kuda = buḍu’na jhârân (bellu)
52. Anak kuda koldi = buḍu’na jhârân kolḍi (bihal)
53. Anak kucing = buḍu’na kocèng (cacemmeng, cemmèng)
54. Anak kumbang = buḍu’na kombâng (engkok)
55. Anak kumbang tahi = buḍu’na wâng-ghuwâng (ghenḍut)
56. Anak kunang-kunang = buḍu’na nang-konang (èndrak)
57. Anak kura-kura = buḍu’na ra-kora (laos)
58. Anak kutu = buḍu’na koto (kor, lèngsa)
59. Anak lalat = buḍu’na lala’ (sèt, sènggât)
60. Anak lebah = buḍu’na nyarowan/ nyèrowan (gâna, ola’)
61. Anak lintah = buḍu’na lènta (pacet)
62. Anak macan = buḍu’na macan (gogor)
63. Anak mentok = buḍu’na ènṭok (mènṭè, ènḍhil)
64. Anak merak = buḍu’na mano’ merrak (koncong)
65. Anak merpati/dara = buḍu’na dhârâ (pejji)
66. Anak musang/luwak = buḍu’na moseng/lowa’ (kobuk)
67. Anak nyamuk = buḍu’na rengngè’ (get-oget, ola’ antèng)
68. Anak puyuh = buḍu’na mano’ ghemmek (dhrighul)
69. Anak sapi = buḍu’na sapè (pè’-empè’)
70. Anak sapi yang agak besar = buḍu’na sapè sè abâk rajâ (jâgir)
71. Anak singa = buḍu’na macan lèyo (kadhibâl)
72. Anak terwelu = buḍu’na tarbilung (koyor)
73. Anak tikus = buḍu’na tèkos (cènḍil)
74. Anak tokek = buḍu’na tekko’ (calolo)
75. Anak tonggeret/ uir-uir (riang-riang pohon) = buḍu’na wè-rowè (dhrungko’)
76. Anak udang = buḍu’na oḍâng (ghrâghu, rekket, jembrit)
77. Anak ular = buḍu’na olar (ocet, kèsè)
78. Anak yuyu = buḍu’na bâlâṭṭang (bâjâs)


Sumber : 
1. Adrian Pawitra, “Kamus Lengkap Bahasa Madura – Indonesia”, Penerbit PT. Dian Rakyat Jakarta, Th 2009.
2. Adrian Pawitra, Kamus Bahasa Indonesia - Madura, belum diterbitkan
3. Kramer Sr. A.L.N, Kamus Indonesia (Indonesisch-Nederlands en Nederlands-Indonesisch), Gravenhage 1951 – Djakarta, G.B Van Goor Zonens Uitgevermaatschaapp N.V.
4. P. Penninga & Hendriks H. “Practish Madurees-Nederlands, WOORDENBOEK”, G.C.T. van Dorp & Co.N.V. Semarang – Deen Haag 1913.
5. P. Penninga & Hendriks H. “Practish Nederlands - Madurees, WOORDENBOEK”, G.C.T. van Dorp & Co.N.V. Semarang – Deen Haag 1913.
6. Sebuah catatan yang tidak diketahui sumbernya.

Bangkalan

Pamekasan

Sampang

Sumenep