Galeri Foto Wisata Pemandian Kolam Renang Aeng Guweh Pote Jaddih

12/31/2014 4 Comments

Foto Wisata Alam Pemandian Kolam Renang Batu Kapur


Selang beberapa hari dibukanya Pemandian Kolam Renang Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Kemarin (30/12) kami dari Tim PulauMadura.com mengunjungi tempat wisata yang cukup unik dan menarik itu untuk mengetahui keadaann Kolam Renang yang konon satu-satunya didunia Kolam Renang yang terdapat di Bukit Kapur dan Air bersumber langsung dari kolam itu.

Banyak pengunjung yang datang untuk sekedar berfoto atau berenang ditempat itu, beberapa fasilitas seperti ruang ganti, perosotan, ember air raksasa ditengah kolam dan lain sebagainya. Tempat parkir sepeda motor berada di area kolam itu tepatnya dibekas galian tambang Batu Kapur.

Warna air cukup unik dikarnakan tidak bening seperti biasanya namun berwarna hijau, tidak ada efek negatif dari berubahnya air dikolam dan tetap aman untuk anak-anak ataupun orang dewasa.

Dibeberapa tempat masih terlihat beberapa pekerja yang membenahi area sekitar Kolam seperti tembok, tambahan bangunan untuk ruang ganti dan lain sebagainya.
Berikut adalah beberapa hal yang kami dapatkan ketika berkunjung ke Kolam Renang "Aeng Guweh Pote" / Air Gua Putih:

1. Untuk masuk kedalam lokasi kolam renang, kita dikenakan biaya karcis masuk sebesar Rp. 5.000
2. Selain sepeda motor, kendaraan seperti Mobil bisa mencapai lokasi dan telah disediakan parkir.
3. Jalan akses terbaik adalah lewat Pelabuhan Ujung Surabaya - Menuju Bilaporah, Socah.
4. Hanya terdapat 1 warung kecil yang biasanya untuk istirahat para buruh/supir pengangkut batu kapur letaknya diatas kolam dan di sekitar kolam hanya ada lapak kecil yang menjual beberapa camilan.
5. Disarankan untuk berenang pada Pagi atau menjelang Sore hari.

Baca Juga: Potensi Wisata Kolam Air Alami Desa Jaddih - Bangkalan

Lokasi Gambar Kolam Renang dari Pelabuhan Perak Surabaya - Pelabuhan Ujung Kamal menuju Kolam Renang "Aeng Guweh Pote"



Galeri Foto Pemandian Kolam Renang "Aeng Guweh Pote" Desa Jaddih, Kecamatan Socah - Kabupaten Bangkalan.


Kolam Renang Aeng Guweh Pote Desa Jaddih

Tempat Parkir Kolam Renang Desa Jaddih
Nama Kolam Renang Jaddih Aeng Guweh Pote








Foto Perosotan Kolam Batu Kapur Jaddih
Salah satu sisi Pemandian Kolam Renang Jaddih







Fasilitas Pemandian Air Kolam Batu Kapur
Tempat Teduh di Kolam Renang Desa Jaddih
















anak anak bermain di perosotan kolam renang jaddih batu kapur
Suasana Kolam Renang Desa Jaddih Socah









VIDEO KOLAM RENANG GUWEH AENG POTE DESA JADDIH

Wisata Pantai Talang Siring di Kabupaten Pamekasan

12/28/2014 Add Comment
Para pembaca PulauMadura.com, kali ini pembahasannya masih seputar wisata pantai. Sebelumnya sudah dibahas tentang Pantai Slopeng, Sumenep, sekarang kita akan meluncur ke kebupaten di sebelah barat Sumenep, yaitu Pamekasan. Tepatnya di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Pantai Talang Siring, begitulah namanya. Jaraknya sekitar 15 Km dari pusat kota Pamekasan.

Bisa ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan pribadi. Jika TreTan berangkat dari kota Pamekasan menggunakan angkutan umum, ongkos ke pantai ini berkisar antara Rp 3.000 - 4.000. TreTan juga tak perlu khawatir kesasar karena kebanyakan sopir angkutan umum sudah mengenalnya. Pantai ini juga agak berdekatan dengan batas wilayah bagian barat Kabupaten Sumenep, sekitar 1 Km dari pintu gerbang kabupaten.

Wisata Pantai Talang Siring Pamekasan - Madura - Jawa Timur

Pantai Talang Siring merupakan pantai dari laut selatan Madura. Sebagaimana telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa karakter pantai di bagian selatan Sumenep jarang berpasir, maka pantai ini juga memiliki karakter yang sama. Mungkin karena berdekatan dengan Sumenep. Bagi Anda yang mau mencebur ke laut, sebaiknya hati-hati karena khawatir kena batu karang.

Apa destinasi wisata yang ditawarkan pantai ini? Sebagaimana lumrahnya wisata bahari, maka yang menjadi daya tariknya adalah panorama pantai yang indah. Dari bibir pantai kita bisa menyaksikan lanskap pemandangan pantai berhias sampan-sampan para nelayan pencari ikan, atau menyaksikan rimbunnya mangrove yang hijau. Di bagian timur pantai ada jejeran rumah bagang yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Rumah bagang ini menjadi daya tarik tersendiri karena konstruksinya yang unik, seperti rumah panggung yang terbuat dari pohon bambu.


Pantai ini sangat cocok untuk liburan melepas kepenatan. Aksesnya cukup mudah karena berada di dekat jalur utama jalan Kamal-Kalianget. Pantainya persis berada di pinggir selatan jalan, sehingga dari dalam kendaraan bisa terpantau. Karena aksesnya yang mudah, pantai ini selalu ramai. Anak-anak muda seringkali datang ke sana untuk menikmati keindahannya. Mereka kadang rombongan dari sebuah komunitas. Pengunjung lainnya berasal dari pejalan jauh yang ingin sekadar istirahat sebentar di tempat tersebut.

Dua tahun terakhir pantai Talang Siring mendapat kucuran dana dari pemerintah. Beberapa infrastruktur telah dibangun untuk mendukung kenyamanan dan keindahannya. Kini sudah ada mushalla, toilet, kantor, lahan parkir, tempat duduk-dukuk, dll. Namun, sayang sekali belum ada fasilitas penginapan. Bagi Anda yang mau menginap, sebaiknya membawa tenda atau bisa menumpang ke rumah warga yang ada di sekitar pantai.

Di Pantai Talang Siring juga sudah banyak orang berjualan. Tidak perlulah Anda berat-berat membawa makanan dari rumah. Terlebih lagi, di sini ada kuliner khas bernama Rujak Lumpur Lapindo. Warung rujak ini selalu diserbu pengunjung, terutama saat hari libur. Mereka ingin menikmati sensasi rujak yang secara bahan sebenarnya tak jauh beda dengan rujak pada umumnya. Bedanya, ada di rasa. Rasa yang beda inilah yang membuat Rujak Lumpur Lapindo banyak penggemarnya.

PETA DIGITAL GOOGLE MAPS DARI ARAH SURABAYA - JEMBATAN SURAMADU MENUJU PANTAI TALANG SIRING - PAMEKASAN

Peta Lokasi menuju Pantai Talang Siring Pamekasan

Untuk bisa menikmati pantai ini, Anda tidak perlu membeli karcis. Jadi, Anda bebas keluar-masuk sesuka Anda. Berikut beberapa tips yang bisa kami bagikan kepada Anda untuk mengunjungi pantai ini:
1. Jika Anda kurang terbiasa dengan panas pantai, sebaiknya bawa topi dan sunblock agar kulit Anda tetap terjaga.
2. Kalau mau menginap, bawalah tenda karena di situ tak ada penginapan ataupun hotel.
3. Jangan lupa bawa kamera, ponsel, dll, untuk merekam momen di pantai ini.
4. Jika ingin mencebur ke laut, jangan lupa pakai sandal biar kaki agar tidak menginjak karang.

Sekian dulu review pantai Talang Siring. Semoga bisa membantu TreTan.

Indahnya Wisata Pantai Slopeng di Kabupaten Sumenep - Madura

12/27/2014 Add Comment
Keindahan Wisata Pantai Slopeng, Sumenep, Madura Pernahkah Anda ke Madura untuk berwisata? Ke mana saja nih ceritanya? Bangkalan? Sampang? Pamekasan? Atau Sumenep? Nah, kali ini PulauMadura.com akan berbagi tentang salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sumenep.

Sebagai pulau yang dikelilingi lautan, wisata apa lagi kalau bukan bahari. Ya, Sumenep memang memiliki banyak objek wisata bahari. Sebagian sudah dibangun infrastrukturnya, sebagian lagi masih alami, semisal di Gili Labak. Jangan khawatir, akses ke pantai yang akan kita bahasa kali ini sudah tergolong lumayan bagus dan, yang terpenting, tidak perlu menyeberang lautan karena berada di daratan Sumenep. Apa nama pantai itu? Slopeng! Nah, kenal kan? Kalau Anda googling, tulisan yang membahasnya sudah banyak. Tapi tak ada salahnya saya akan membahas lagi di sini. Hitung-hitung juga sebagai penambah referensi.


Letak Pantai Slopeng berada di Kecamatan Dasuk, Sumenep. Jarak dari jantung Kota Sumenep sekitar 21 Km ke arah barat laut. Atau sekitar 180-an Km dari Suramadu. Waktu tempuh dari Suramadu ke Pantai Slopeng sekitar 5-6 jam. Jika berangkat dari arah barat Madura, selain jalur selatan, Anda juga bisa melewati jalur sisi pantai utara (pantura). Lewat jalur tersebut waktu tempuhnya bisa lebih cepat, karena tidak perlu memutar ke pusat kota Sumenep sekaligus relatif sepi kendaraan.

Tapi, ini khusus yang membawa kendaraan sendiri. Kalau ikut angkutan umum, sebaiknya tidak menempuh jalur ini karena di situ minim angkutan umum. Tampaknya, pantai daratan Sumenep yang indah selalu ada di bagian utara. Selain pantai Slopeng ada juga pantai Lombang . Di bagian selatan kebanyakan sedikit pasirnya, hanya batu karang yang menghampar.


Pantai Slopeng terkenal dengan gundukan-gundukan pasirnya yang indah. Pasir-pasir putih terhampar sepanjang 6 kilometer. Dari atas gunungan pasir, kita bisa menikmati keindahan pantai sambil duduk-duduk santai di atas gazebo. Dari situ pula kita bisa menyaksikan beberapa fasilitas seperti kuda-kuda yang lalu lalang dikendarai oleh pengunjung yang menyewanya atau menyaksikan sampan-sampan nelayan yang sedang mencari ikan.

Sebagaimana di Pantai Lombang, pantai Slopeng juga memiliki cemara udang. Namun, jumlahnya tidak sebanyak di Lombang. Selain cemara, ada juga jejeran pohon kelapa dan siwalan. Pohon-pohon tersebut menambah indah suasana pantai. Bagi pengunjung yang membawa anak kecil, di situ sudah disediakan arena bermain. Ada ayunan, seluncuran, dll. Jadi, selain bisa bermain di pasir, mereka juga bisa memanfaatkan arena bermain ini.


Di situ juga sudah banyak orang yang menjual makanan Khas Madura, semisal rujak, degan, soto, dll. Anda tidak perlu khawatir kelaparan.  Oya, pada hari-hari tertentu, semisal lebaran ketupat (tujuh hari setelah lebaran Idul Fitri), di tempat tersebut biasanya ada hiburan rakyat, berupa pertunjukan musik dangdut. Artis-artis ibukota diundang untuk menghibur pengunjung. Acara ini sudah seakan menjadi ritual tahunan. Karenanya, di situ sudah dibangun pentas permanen untuk arena pertunjukan.

PETA DIGITAL MENUJU PANTAI SLOPENG DARI ARAH SURABAYA - JEMBATAN SURAMADU

Wisata Pantai Slopeng Sumenep Madura

Pada hari-hari biasa, pantai ini tergolong sepi, mungkin karena kurang promosi. Namun, suasana sepi tersebut justru membuat pantai ini enak untuk menyegarkan pikiran yang suntuk. Tak ada karcis masuk untuk hari-hari biasa. Namun pada hari libur, pengunjung biasanya dikenai karcis sebanyak Rp. 5.000. Tertarik berkunjung? Silahkan

VIDEO LIPUTAN OBYEK WISATA PANTAI SLOPENG DI KABUPATEN SUMENEP



Asal Usul Budaya Kerapan Sapi Madura

12/25/2014 Add Comment
Kerapan Sapi Madura sudah banyak dikenal oleh masyarakat lokal, nasional bahkan internasional. Mereka rela datang dari jauh hanya ingin menjadi saksi kehebatan pasangan sapi dan joki beradu kecepatan di arena balap seperti alun-alun yang telah disiapkan sebelumnya. Terdapat beberapa macam lomba kerapan sapi seperti Tingkat Desa, Tingkat Kecamatan, Tingkat Kabupaten hingga Piala Presiden yang menjadi ajang prestisius bagi para pemilik sapi.

Di Bangkalan sendiri biasanya Kerapan Sapi ini dilakukan di Lapangan Skeep atau Stadion R.P Moh. Noer dan di Pamekasan terletak di Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo. Piala Presiden lebih sering diadakan di Pamekasan dan biasanya rentetan dengan acara "Semalam di Madura" dengan menampilkan acara Kebudayaan Daerah seperti Tari Khas Madura dan lain sebagainya dengan mengundang para pejabat.

ASAL USUL DAN SEJARAH MENGENAI KERAPAN SAPI MADURA


Kerapan Sapi Madura telah menjadi kebudayaan orang Madura sejak jaman dahulu. Kebiasaan memacu binatang peliharaan di arena memang sudah menjadi kegemaran penduduk Madura sejak dahulu kala. Di Madura tidak hanya hewan peliharaan sapi yang diadu cepat, tetapi juga kerbau seperti yang terdapat di Pulau Kangean. Adu cepat kerbau itu disebut “mamajir”. Sapi atau kerbau yang adu cepat itu, dikendarai oleh seorang joki yang disebut tukang tongko. Tukang tongko tersebut berdiri di atas “kaleles” yang ditarik oleh sapi atau kerbau pacuan.




Pengertian dan Asal Mula

Bagi orang Madura, pengertian kata kerapan adalah adu pacu sapi memakai kaleles. Perkaitan kerapan diartikan sebagai adu/pacuan sapi karena pacuan binatang lain seperti kerbau tidak disebut kerapan, tetapi mamajir. Oleh sebab itu tidak pernah dikenal istilah kerapan kerbau.

Kata Kerapan berasal dari kata Kerap atau Kirap yang artinya berangkat dan dilepas bersama-sama atau berbondong-bondong. Ada pula anggapan lain yang menyebutkan bahwa kata kerapan berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti persahabatan. Dalam pengertiannya yang umum sekarang kerapan adalah suatu atraksi lomba kecepatan sapi yang dikendarai oleh joki dengan menggunakan kaleles.

Lahirnya kerapan sapi di Madura nampaknya sejalan dengan kondisi tanah pertanian yang luas di Madura. Tanah-tanah pertanian itu dikerjakan dengan bantuan binatang-binatang peliharaan seperti sapi dan kerbau. Karena banyaknya penduduk yang memelihara ternak, maka lama kelamaan muncullah pertunjukan kerapan sapi.

Ada dugaan bahwa kerapan sapi sudah ada di Madura sejak abad ke 14. Disebutkan ada seorang kyai bernama Kyai Pratanu pada jaman dulu yang telah memanfaatkan kerapan sapi sebagai sarana untuk mengadakan penjelasan tentang agama Islam. Oleh sebab itu ajaran-ajarannya yang filosofis dihubungkan dengan posisi sapi kanan (panglowar) dan sapi kiri (pangdalem) yang harus berjalan seimbang agar jalannya tetap “lurus”, agar manusia pun dapat berjalan lurus.

Cerita lain mengatakan, pada abad ke-14 di Sapudi memerintahkan Panembahan Wlingi. Ia banyak berjasa dalam menanamkan cara-cara berternak sapi yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Adi Poday. Sang putra lama mengembara di Madura daratan dan ia memanfaatkan pengalamannya di bidang pertanian di Pulau Sapudi sehingga pertanian semakin maju.

Karena pertanian sangat maju pesat, maka dalam menggarap lahan itu para petani seringkali berlomba-lomba untuk menyelesaikan perkerjaannya. Kesibukan berlomba-lomba untuk menyelesaikan pekerjaan itu akhirnya menimbulkan semacam olahraga atau lomba adu cepat yang disebut karapan sapi.


Berbagai macam “Kerapan Sapi”


Di Madura dijumpai beberapa macam “kerapan sapi” yang memberikan klasifikasi kepada jenis dan kategori peserta karapan tersebut. Berbagai macam karapan sapi itu adalah sebagai berikut:

Kerap Keni’ (Kerapan Kecil)


Kerapan jenis ini diadakan pada tingkat kecamatan atau kewedanaan. Para peserta adalah yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Sapi kerap dari luar tidak diperbolahkan turut serta. Jarak tempuh hanya 110 meter. Dalam kategori ini yang diutamakan adalah kecepatan dan lurusnya. Kerap keni ini biasanya diikuti oleh sapi-sapi kecil dan baru belajar. Pemenangnya merupakan peserta untuk mengikuti kerap raja.

Kerap Rajha (Kerapan Besar)


Kerapan besar ini disebut juga kerap negara, umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Ukuran lapangan 120 meter. Pesertanya adalah juara-juara kecamatan atau kewedanaan.

Kerap Onjhangan (Kerapan Undangan)


Kerapan undangan adalah pacuan khusus yang diikuti oleh peserta yang diundang baik dari dalam kabupaten maupun luar kabupaten. Kerapan ini diadakan menurut waktu keperluan atau dalam acara peringatan hari-hari tertentu.

Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)

Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesdenan diadakan di kota Pamekasan pada hari Minggu, merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

Kerap jhar-ajharan (kerapan latihan)


Kerapan latihan tidak tertentu harinya, bisa diadakan pada setiap hari selesai dengan keinginan pemilik atau pelatih sapi-kerap itu. Pesertanya adalah sapi lokal.

Persyaratan sapi-kerap tidaklah banyak, asalkan sapinya kuat dan diberi makanan yang cukup, dilatih lari, dipertandingkan dan diiringi dengan musik saronen. Konon beberapa pemilik sapi-kerap juga melengkapi kehebatan sapinya dengan menggunakan mantra-mantra serta sajian tertentu. Sesungguhnya hal ini tidak dibenarkan dalam aturan sebuah lomba atau kerapan.


Pelaksanaan Kerapan


Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan, berparade agar dikenal. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi karena sudah ditambatkan, juga merupakan arena pamer akan keindahan pakaian/hiasan sapi-sapi yang akan berlomba. Sapi-sapi itu diberi pakaian berwarna-warni dan gantungan-gantungan genta di leher sapi berbunyi berdencing-dencing. Setelah parade selesai, pakaian hias mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta, peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding antarpelatih untuk mengatur strategi.

Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut pertandingan babak selanjutnya.


Dalam mengatur taktik dan strategi bertanding ini masing-masing tim menggunakan tenaga-tenaga trampil untuk mempersiapkan sapi-sapi mereka. Orang-orang itu dikenal dengan sebutan:

(1) Tukang Tongko’:  joki yang mengendalikan sapi pacuan;

(2) Tukang Tambeng: orang yang menahan kekang sapi sebelum dilepas;

(3) Tukang Gettak: orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba sapi itu melesat bagaikan abak panah ke depan;

(4) Tukang Tonja: orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi agar patuh pada kemauan pelatihnya;

(5) Tukang Gubra: anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapinya dari tepi lapangan. Mereka tidak boleh memasuki lapangan dan hanya sebagai suporter.

Demikian sekilas tentang Kerapan Sapi di Madura yang sudah merupakan acara hiburan tradisi yang masih lestari sebagai konsumsi wisatawan, tetapi juga telah membawa akibat positif bagi masyarakat Madura di bidang ekonomi, kreatifitas budaya dan sekaligus juga telah melestarikan penghargaan masyarakat terhadap warisan budaya nenek moyang.

Tulisan ini diambil dari :

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejarah KH Kholil Bangkalan: Mempersiapkan Pemimpin Berilmu

12/24/2014 Add Comment
Sebagai seorang yang hidup di zaman penjajahan, KH Moh Kholil juga tak terlepas dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Dengan caranya sendiri beliau melakukan perlawanan dengan mempersiapkan pemimpin yang berilmu, punya wawasan dan tangguh.

Beliau dalam melawan kaum penjajah lebih banyak berada di belakang layar, dengan tidak segan segan memberi Suwuk atau kekuatan bathin kepada pejuang.

Masjid Syaichona Moh Kholil

Suatu ketika beberapa pejuang pelarian dari Jawa bersembunyi di kompleks Pesarean Demangan. Namun tercium oleh tentara penjajah yang langsung mengerahkan bala tentaranya. Saking jengkelnya karena menyembunyikan kaum pejuang, penjajah membawa KH Moh Kholil untuk ditahan. Dengan harapan para pejuang itu mau menyerahkan diri.

Tapi apa yang terjadi, para pejuang itu tidak menyerahkan diri. Malah penjajah dipusingkan oleh berbagai kejadian yang membuat mereka tak mengerti. Mula-Mula semua pintu tidak bisa ditutup ketika KH Moh Kholil dimasukkan kedalam tahanan. Ini membuat mereka harus menjaga siang malam, kalau tidak ingin tahanan yang lain melarikan diri.

Beberapa hari kemudian, ribuan orang dari berbagai penjuru Madura, bahkan dari Jawa datang untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada KH Moh Kholil. Tentu saja ini memusingkan penjajah yang akhirnya mengeluarkan larangan mengunjungi tahanan. Tapi ini juga tak menyelesaikan masalah. Akhirnya KH Moh Kholil dilepaskan dari tahanan.

Sebenarnya bakat diluar jangkauan pikiran manusia itu mulai nampak sejak berusia belasan tahun. Beliau pada saat itu nyantri kepada Kyai Muhammad Noer di Pesantren Langitan Tuban. Kyai Mohammad Noer jadi terkejut. Ternyata santri yang nyentrik ini mampu membaca secara persis apa yang terlintas di benaknya.

Sejak saat itu Kyai Mohammad Noer sangat hati-hati dalam menghadapi Kholil, santri muda yang bukan saja sangat cerdas, tapi juga mempunyai kelebihan mengindra hal-hal yang Gaib, Kyai Kholil dikenal sebagai kyai yang suka berbuat yang aneh-aneh. Penuh teka-teki dan misteri. Walaupun demikian perbuatan yang aneh-aneh itu oleh masyarakat dianggap sebagai isyarat tertentu.

Misalnya ketika beliau mengusir Wahab Hasbullah dari pesantrennya dan menyuruh nyantri kepada Kyai Hasyim Asyari, murid seniornya yang mendirikan pesantren Tebuireng, Jombang. Padahal sebelumnya beliau sering nyantri dalam bulan puasa pada kyai Hasyim Asyari. Padahal semua orang tahu, Kyai Hasyim Asyari adalah santrinya.

Bagi kalangan pesantren hal ini merupakan isyarat pengakuan beliau terhadap derajat keilmuan dan intensitas Kyai Hasyim. Karena itu tak aneh kalau dikemudian hari pesantren Tebuireng dibanjiri santri dari berbagai daerah di tanah air.

Kyai Kholil kadang berlaku tega terhadap santrinya. Misalnya terjadi ketika Abdul Karim berguru kepadanya. Semua bekal diminta sehingga tak punya apa-apa lagi. Akhirnya selama nyantri 5 tahun, ia lebih sering kelaparan. Namun oleh Abdul Karim perlakuan yang demikian dianggapnya sebagai syarat tertentu. Ternyata sepulang dari nyantri ia mendirikan pesantren yang cukup besar dan terkenal.

Sebelumnya: Kisah Kyai Kholil, Bangkalan: Santrinya Jadi Tokoh Penting

Kyai Kholil merupakan seorang figur yang alim dalam bidang Ilmu Nahwu, Fikh dan Tasawwuf. Hafal Al-Quran, termasuk Qur'an Sab'ah, Juga kemampuannya dalam hal yang luar biasa, sehingga wajar jika sebagian besar ummat Islam meyakini sebagai salah seorang Waliyullah.

Namun pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H atau tahun 1925 M, beliau meninggal yang dimakamkan di pesarean Martajasah, dekat pohon mlinjo yang sering dijadikan tempat istirahat ketika berziarah ke makam ayahandanya.

Meskipun demikian, jejak langkahnya kini tetap kelihatan tegas ditambah para penerus dan pengikutnya. menurut hasil penelitian Fathur Rachman Said yang mantan mahasiswa IAIN Surabaya, kini di Indonesia diperkirakan ada sekitar 4.800 ponpes.

Sebagian besar pengaruh ponpes tersebut mempunyai sanad (persambungan) dengan KH Hasyim Asyari, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Bisri Samsuri dan Kyai besar lainnya yang semuanya murid KH Moh Kholil.
(Hori/Memorandum)

Potensi Wisata Kolam Air Alami Desa Jaddih - Bangkalan

12/22/2014 4 Comments

Wisata Alam Kolam Renang Desa Jaddih


Di Kabupaten Bangkalan tepatnya di Desa Jaddih ada sebuah penambangan batu kapur yang diangkut oleh beberapa truk besar serta terdapat alat berat untuk menggali dan mengangkut batuan kapur kemudian dikirim ke tempat yang dituju. Bukit Kapur bisa terlihat dengan jelas jika TreTan melewati jalan Ring-Road atau Halim Perdana Kusuma dari kejauhan yang tampak sebuah bukit dengan beberapa bagian berwarna putih hasil dari penambangan.

Ketika Sakera mengunjungi tempat itu, terlihat beberapa pekerja dan alat berat memotong batuan kapur hingga menjadi persegi panjang. Ada pula sebuah warung kecil yang menjajakan makanan untuk para pekerja yang beristirahat. Suasana di Bukit Kapur - Desa Jaddih cukup ramai oleh bunyi mesin diesel pemotong batu dan terlihat jelas bekas bekas penambangan disekitar area.

Penambangan Batu Kapur Bukit Geger Desa Jaddih

Di sekitar Bukit Kapur, ada 1 bungker peninggalan belanda yang dulunya digunakan untuk menyimpan atau gudang senjata. kita sempat masuk kedalam dengan kondisi yang gelap gulita menggunakan senter. disitu terdapat beberapa ruangan yang di sekat oleh tembok serta banyaknya kalelawar yang menghuni bungker tersebut.

Gua Peninggalan Belanda di Bukit Geger Desa Jaddih

Ada pemandangan yang cukup membuat mata tertuju pada suatu tempat, disitu terdapat sebuah kolam besar yang berisi air berwarna hijau dan ada beberapa orang yang mencuci sepeda motor serta anak-anak yang mandi disekitar kolam tersebut.

Menurut Masyarakat sekitar, air dikolam itu muncul dengan sendirinya disaat melakukan penggalian kemudian dibentuklah sebuah kolam yang cukup besar. Untuk menguras air dikolam menggunakan mesin pompa air dan beberapa saat kemudian air akan kembali memenuhi kolam dengan sendirinya tanpa bantuan pompa.

Kolam Renang Alami Desa Jaddih Bangkalan

Kedepan kolam ini akan dibenahi untuk dijadikan kolam renang dan dipakai oleh masyarakat umum. Kolam ini memang pantas untuk dikembangkan karna merupakan potensi wisata alam yang cukup unik ditengah banyaknya kolam renang buatan.


Bisa jadi jika sesuai dengan rencana, kemungkinan Kolam Renang Alami Desa Jaddih Kabupaten Bangkalan ini merupakan yang pertama di Indonesia atau bahkan didunia sebagai Wisata Kolam Renang di Area Bukit Kapur yang sumber airnya muncul langsung dari kolam tersebut.

LOKASI KOLAM PEMANDIAN BATU KAPUR DESA JADDIH, KECAMATAN SOCAH - KABUPATEN BANGKALAN DARI ARAH SURABAYA - JEMBATAN SURAMADU

Peta Google Maps Lokasi Pemandian Kolam Renang Desa Jaddih Socah Bangkalan

UDPATE KOLAM AIR DESA JADDIH!

Kolam Renang Desa Jaddih Terbaru
Foto oleh: Raden Mas Achmad Syafii
 
Lama tidak mendengar kabar tentang Kolam Air Desa Jaddih, dapat kabar dari salah seorang teman, ternyata sekarang sudah banyak perubahan dengan beningnya air dan terdapat perosotan layaknya Kolam Renang Modern.

Update: Galeri Foto Wisata Pemandian Kolam Renang Aeng Guweh Pote Jaddih

Semoga suatu saat bisa kembali kesana dan menceritakan bagaimana keadaan sekitar kolam serta jalan akses untuk menuju ketempat itu tentunya untuk mempermudah pengunjung yang ingin sekedar melihat atau mencoba sensasi berenang di kolam batu kapur.

UPDATE WISATA KOLAM RENANG BUKIT KAPUR - JADDIH

Kolam Renang Bukit Kapur Desa Jaddih Kecamatan Socah Bangkalan

Info dari salah seorang temen Kacong - Jebbing Bangkalan bahwa Kolam Renang Bukit Kapur secara resmi telah dibuka untuk umum kemarin (28/12) Silahkan bagi TreTan yang tertarik dan ingin mencoba berenang di Kolam Renang Alami Pertama di Dunia yang berada di Bukit Kapur dan Sumber Air muncul langsung di Kolam itu.


REPORTASE TIM PULAUMADURA.COM DI KOLAM AENG GUWEH POTE


Asal Usul Kabupaten Bangkalan - Madura

12/21/2014 Add Comment
Bangkalan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten di Madura setelah Sampang, Pamekasan dan Sumenep yang terletak di sebelah ujung Barat Pulau Madura. Jika TreTan mengunjungi Pulau Garam Madura melalui Pelabuhan Perak Surabaya dan sampai di Pelabuhan Ujung Kamal, maka TreTan telah menginjakkan kaki di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Dari Pelabuhan Ujung Kamal untuk mencapai Kota Bangkalan, diperlukan perjalanan sejauh sekitar 43 KM melewati pedesaan dan pemandangan alam berupa persawahan dan ketika sampai pada Kota Bangkalan, akan terlihat hiruk pikuk kehidupan, lalu lalang berbagai kendaraan umum dan ramainya toko berderet-deret menjual berbagai kebutuhan.

Terdiri dari 18 Kecamatan dengan 273 Desa dan 8 Kelurahan dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Bangkalan.

Banyak hal yang akan ditemui ketika sampai dikota kecil ini, namun sebelum itu perlu sedikit pengetahuan bagaimana asal usul dari Kabupaten Bangkalan ini? berikut adalah cerita mengenai Kabupaten Bangkalan yang tidak terlepas dengan cerita masa lalu sebagaimana Kabupaten di Madura lainnya.

Asal Usul Kabupaten Bangkalan


Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V ini ?. Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.

Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.

Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.

Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.

Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu :

  • Kiai Adipati Pramono di Madegan Sampang.

  • Kiai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan.

  • Kiai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen .

  • Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo .

  • Kiai Pragalbo yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta

di Plakaran, setelah meninggal dikenal sebagai Pangeran Islam Onggu’ .

Namun perkembangan Bangkalan bukan berasal dari legenda ini, melainkan diawali dari sejarah perkembangan Islam di daerah itu pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur.

Beliau adalah anak Raja Pragalba, pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Panembahan Pratanu diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalba wafat. Jauh sebelum pengangkatan itu, ketika Pratanu masih dipersiapkan sebagai pangeran, dia bermimpi didatangi orang yang menganjurkan dia memeluk agama Islam. Mimpi ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian memerintahkan patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus.

Perintah ini dilaksanakan sebaik-baiknya, bahkan Bageno bersedia masuk Islam sesuai saran Sunan Kudus sebelum menjadi santrinya selama beberapa waktu lamanya. Ia kembali ke Arosbaya dengan ilmu keislamannya dan memperkenalkannya kepada Pangeran Pratanu.

Pangeran ini sempat marah setelah tahu Bageno masuk Islam mendahuluinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa Sunan Kudus mewajibkannya masuk Islam sebelum mempelajari agama itu, Pangeran Pratanu menjadi maklum.

Setelah ia sendiri masuk Islam dan mempelajari agama itu dari Empu Bageno, ia kemudian menyebarkan agama itu ke seluruh warga Arosbaya. Namun ayahnya, Raja Pragalba, belum tertarik untuk masuk Islam sampai ia wafat dan digantikan oleh Pangeran Pratanu. Perkembangan Islam itulah yang dianut oleh pimpinan di Kabupaten Bangkalan ketika akan menentukan hari jadi kota Bangkalan, bukan perkembangan kekuasan kerajaan di daerah itu.

Jauh sebelum Pangeran Pratanu dan Empu Bageno menyebarkan Islam, sejumlah kerajaan kecil di Bangkalan.

Diawali dari Kerajaan Plakaran yang didirikan oleh Kyai Demang dari Sampang. Yang diperkirakan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Kyai Demang menikah dengan Nyi Sumekar, yang diantaranya melahirkan Raden Pragalba. Pragalba menikahi tiga wanita. Pratanu adalah anak Pragalba dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai putera mahkota dan kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura. Pratanu menikah dengan putri dari Pajang yang memperoleh keturunan lima orang :

  • Pangeran Sidhing Gili yang memerintah di Sampang.

  • Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah di Arosbaya, Raden Koro menggantikan ayahnya

  • ketika Pratanu wafat.

  • Pangeran Blega yang diberi kekuasaan di Blega.

  • Ratu Mas di Pasuruan dan Ratu Ayu.

Kerajaan Arosbaya runtuh diserang oleh Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Mas pada tahun 1624. Pada pertempuran ini Mataram kehilangan panglima perangnya, Tumenggung Demak, beberapa pejabat tinggi kerajaan dan sebanyak 6.000 prajurit gugur.

Korban yang besar ini terjadi pada pertempuran mendadak pada hari Minggu, 15 September 1624, yang merupakan perang besar. Laki-laki dan perempuan kemedan laga. Beberapa pejuang laki-laki sebenarnya masih bisa tertolong jiwanya. Namun ketika para wanita akan menolong mereka melihat luka laki-laki itu berada pada punggung, mereka justru malah membunuhnya.

Luka di punggung itu menandakan bahwa mereka melarikan diri, yang dianggap menyalahi jiwa ksatria. Saat keruntuhan kerajaan itu, Pangeran Mas melarikan diri ke Giri. Sedangkan Prasena (putera ketiga Pangeran Tengah) dibawa oleh Juru Kitting ke Mataram, yang kemudian diakui sebagai anak angkat oleh Sultan Agung dan dilantik menjadi penguasa seluruh Madura yang berkedudukan di Sampang dan bergelar Tjakraningrat I. Keturunan Tjakraningrat inilah yang kemudian mengembangkan pemerintahan kerajaan baru di Madura, termasuk Bangkalan.

Tjakraningrat I menikah dengan adik Sultan Agung. Selama pemerintahannya ia tidak banyak berada di Sampang, sebab ia diwajibkan melapor ke Mataram sekali setahun ditambah beberapa tugas lainnya. Sementara kekuasaan di Madura diserahkan kepada Sontomerto.

Dari perkawinannya dengan adik Sultan Agung, Tjakraningrat tidak mempunyai keturunan sampai istrinya wafat. Baru dari pernikahannya dengan Ratu Ibu ( Syarifah Ambani, keturunan Sunan Giri ), ia memperoleh tiga orang anak dan beberapa orang anak lainnya diperoleh dari selirnya (Tertera pada Silsilah yang ada di Asta Aer Mata Ibu. Bangkalan berkembang mulai tahun 1891 sebagai pusat kerajaan dari seluruh kekuasaan di Madura, pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat II yang bergelar Sultan Bangkalan II. Raja ini banyak berjasa kepada Belanda dengan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda di beberapa daerah di Nusantara bersama tentara Inggris.

Karena jasa-jasa Tjakraningrat II itu, Belanda memberikan izin kepadanya untuk mendirikan militer yang disebut ‘Corps Barisan’ dengan berbagai persenjataan resmi modern saat itu. Bisa dikatakan Bangkalan pada waktu itu merupakan gudang senjata, termasuk gudang bahan peledak. Namun perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.

Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.

Raja Bangkalan Dari Tahun 1531 – 1882

  • Tahun 1531 – 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)

  • Tahun 1592 – 1620 : Raden Koro (Pangeran Tengah)

  • Tahun 1621 – 1624 : Pangeran Mas

  • Tahun 1624 – 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)

  • Tahun 1648 – 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)

  • Tahun 1707 – 1718 : Raden Tumenggung Suroadiningrat

  • · (Pangeran Cakraningrat III)

  • · Tahun 1718 – 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Cakraningrat IV)

  • Tahun 1745 – 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)

  • Tahun 1770 – 1780 : Raden Tumenggung Mangkudiningrat

  • (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VI)

  • Tahun 1780 – 1815 : Sultan Abdu/Sultan Bangkalan I

  • · (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VII)

  • · Tahun 1815 – 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)

  • Tahun 1847 – 1862 : Raden Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)

  • Tahun 1862 – 1882 : Raden Ismael (Panembahan Cakraadiningrat VIII)

Menggali Sejarah Bangkalan, Selanjutnya


Dari Pra Islam Hingga Cakraningrat Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Bangkalan, Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi.

Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung. Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang.

Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel.

Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat. Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit. Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda.

Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M. Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil.

Baca Juga: Sejarah Sultan R. Abdul Kadir Cakra Adiningrat II

Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa. Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.

Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah. Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen).

Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar. Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit. Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu.

Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam. Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina.

(Risang Bima Wijaya) atas Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Bangkalan, Radar.- Sosok Pratanu atau lebih dikenal dengan Panembahan Lemah Duwur adalah putera Raja Pragalba. Dia dikenal sebagai pendiri kerajaan kecil, yang berpusat di Arosbaya. Masyarakat Bangakalan menokohkan Pratanu sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Madura.

Bahkan, putera Pragalba ini disebut-sebut sebagai pendiri masjid pertama di Madura. Selain itu, Pratanulah yang mengawali hubungan dengan daerah lain, yaitu Pajang dan Jawa. Perjalanan sejarah Bangkalan tidak bisa dilepaskan dengan munculnya kekuasaan di daerah Plakaran, yang selanjutnya disebut dengan Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperkirakan muncul sebelum seperempat pertama abad 16, yakni sebelum penguasa Madura barat memeluk Islam.

Plakaran diawali dengan kedatangan Kiyai Demung dari Sampang. Dia adalah anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Setelah menetap di Plakaran, Kiyai Demung dikenal dengan nama Demung Plakaran. Dia mendirikan kraton di sebelah barat Plakaran atau sebelah timur Arosbaya, yang dinamakan Kota Anyar (Pa’ Kamar 1951: 113).

Sepeninggal Demung Plakaran, kekuasaan dipegang oleh Kiai Pragalba, anaknya yang nomor lima. Pragalba mengangkat dirinya sebagai Pangeran Plakaran dari Arosbaya. Selanjutnya meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir seluruh Madura. Paragalba mempunyai tiga orang istri.

Pratanu adalah anak dari istri ketiganya. Semasa kekuasaan Pragalba inilah agama Islam mulai disebarkan di Madura barat, yang dilakukan oleh para ulama dari Giri dan Gresik. Penyebarannya meliputi daerah pesisir pantai sekitar selat Madura pada abad ke-15 (FA Sutjipto Tirtoatmodjo 1983 : 13) Islam berkembang pesat sejak penyeberannya dilakukan secara teratur oleh Syech Husen dari Ampel (Hamka 1981:137).

Bahkan, ia mendirikan masjid di Arosbaya. Menurut cerita masyarakat Arosbaya, reruntuhan di sekitar makam Syech Husen adalah masjid yang didirikannya. Namun meski Islam sudah masuk di Madura barat, Pragalba belum memeluk Islam. Tetapi justru putranya Pratanu yang memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi: Sirna Pandawa Kertaning Nagara (1450 caka 1528 M).

Peristiwa tersebut berbarengan dengan pudarnya kekuasaan Majapahit setelah dikuasai Islam tahun 1527 M. Selain itu, Kerajaan Plakaran mengakui kekuasaan Demak, sehingga diperkirakan penerimaan Islam di Madura bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Menjelang wafat, Pragalba masuk Islam dengan menganggukkna kepala, karena itu dia mendapat sebutan Pangeran Onggu’ (mengangguk, Red). Sepeninggalnya, Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Dhuwur. Itu terjadi pada tahun 1531-1592.

Di masa pemerintahan Lemah Dhuwur inilah pusat pemerintahan Plakaran dipindahkan ke Arosbaya. Karena itu, dia mendapat julukan sebagai pendiri Kerajaan Arosbaya. Lemahlah Dhuwur yang mendirikan kraton dan msajid pertama di Arosabaya. Selama masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan Arosbaya telah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke seluruh Madura barat, termasuk Sampang dan Blega.

Panembahan lemah Duwur mengawini putri Triman dari Pajang. Ini juga menjadi bukti bahwa Lemah Duwur adalah penguasa Madura pertama yang menjalinm hubungan dengan Jawa. Berdasarkan Tutur Madura Barat, Rafless mengatakan bahwa Lemah Dhuwur adalah penguasa terpenting di daerah Jawa Timur pada masa itu.

Panembahan Lemah Dhuwur wafat di Arosbaya pada tahun 1592 M setelah kembali dari kunjungannya ke Panembahan Ronggo Sukowati di Pamekasan. Sesuai dengan tradisi dia dimakamkan di kompleks Makam Agung Lemah Dhuwur.

Selanjutnya kekuasaan Arosbaya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Tengah, hasil perkawinannya dengan puteri Pajang. Pangeran Tengah berkuasa tahun 1592-1620. Di masa pemerintahan Pangeran Tengah terjadi peristiwa terkenal yang disebut dengan 6 Desember 1596 berdarah, karena saat itu telah gugur dua orang utusan dari Arosbaya yang dibunuh oleh Belanda yaitu Patih Arosbaya Kiai Ronggo dan Penghulu Arosbaya Pangeran Musarip. Sejak peristiwa itulah Arosbaya menyatakan perang dengan Belanda.

Pangeran Tengah meninggal tahun 1620. Makamnya terletak di kompleks makam Syech Husen, dan sampai sekarang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Pengganti Pangeran Tengah adalah adiknya yang bernama Pangeran Mas, yang berkuasa tahun 1621-1624. Sebetulnya yang berhak berkuasa adalah putra Pangeran Tengah yang bernama Pangeran Prasena. Namun karena masih kecil, dia diwakili oleh pamannya.

Di masa pemerintahan Pangeran Mas terjadi peristiwa penyerangan Sultan Agung ke Arosbaya pada tahun 1624. Itulah yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Arosbaya. Sedang Pangeran Mas melarikan diri ke Demak dan Pangeran Prasena dibawa oleh juru kitting ke Mataram.

Peperangan antara Mataram dan Arosbaya yang berlangsung pada hari Minggu 15 Septeber 1624 tersebut, memang patut dikenang sebagai perjuangan rakyat Madura. Saat itu Mataram harus membayar mahal, karena mereka telah kehilangan panglima perang tertingginya, Tumenggung Demak dan kehilangan 6000 prajurit.

Saat itu laki-laki dan wanita Arosbaya berjuang bersama. Ada sebuah kisah menarik di sini. Dikisahkan saat di medan perang ada beberapa prajurit lelaki yang mengeluh karena luka berat. Tetapi katika para wanita melihat luka tersebut terdapat dibagian belakang, para wanita tersebut menusuk prajurit tadi hingga tewas.

’’Lukanya di bagian belakang, artinya prajurit itu telah berbalik lari, hingga dilukai di bagian punggungnya oleh musuh, mereka pengecut dalam,’’ demikian kata-kata para wanita Arosbaya. atas Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Prasena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.

Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas.

Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto. Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan.

Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya. Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika.

Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya. Cakraningrat I diganti oleh Undagan. seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram. Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura.

Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura. Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom. Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677.

Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I.

Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang. Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun.

Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III. Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali.

Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura. Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi. Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit. Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali.

Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.

Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini.

Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati. Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban.

Logo Cipta Indra Cakti Dharma Kabupaten Bangkalan

Cakraningrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.

Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap.

Sumber Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan, logo: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
Koran Radar Bangkalan Madura, Berita Terbaru Bangkalan, Carok di Kabupaten Bangkalan, Sejarah Perjuangan Pahlawan Bangkalan, Asal usul Rato Ebu, Cerita Legenda di Bangkalan, Asal usul Selat Madura, Kapan hari Jadi bangkalan.

Kumpulan Puisi Madura Karya Adrian Pawitra

12/21/2014 Add Comment
Kumpulan Puisi Madura Karya Adrian Pawitra

Puisi merupakan seni tertulis yang dimana bahasa digunakan sebagai kualitas estetik sebagai tambahan atau selain arti semantiknya. ada beberapa yang membuat perbedaan dalam puisi dan prosa yakni dalam segi estetika suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, rima dan meter, namun perbedaan tersebut masih diperdebatkan. Pandangan orang awam mengenai perbedaan antara puisi dan prosa adalah dari jumlah huruf dan kalimat, puisi lebih singkat dan padat sedangkan prosa lebih mengalir seperti mengutarakan cerita. Bagi mereka yang ahli memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tersebut tidak sebagai jenis literatur melainkan sebagai wujud imajinasi manusia sebagai sumber segala aktifitas.

Itulah sedikit penjelasan tentang puisi yang diambil dari situs wikipedia, dan dibawa ini merupakan kumpulan Puisi Madura karya dari Adrian Pawitra yang beliau juga adalah Penyusun Kamus Bahasa Madura - Indonesia lengkap dengan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.


PUISI MADURA - TALEKKO
by Adrian Pawitra



ngalèbâdhi bhut-ombhut, èbbhâ’ moso ghi-bighiân
è mosèm nambhârâ’, ghu-lagghu sè èoburi ebbhun
pandhengnga mata ghi’ taalang bun-arbun
sambi ngèjhung bi’ saronèn sè ètopè dhâghâ kalowar ra’-ora’ èlè’èrra

toju’ kadhibi’ân è bâto karang è pèngghir sèrèng
mano’ talekko la paḍâ ombâr, cè’ locona, cè’ manèssa lèlèbâna
mano’ sè èsebbhut kèya dhârâ tasè’
amarghâ para’ paḍââ bi’ mano’ dhârâ 

buluna èsak abârna bu-abu
cocco’na abâk lanjhâng bân lancip

èmot ka alè’ sè raddhin, sè maghreggheddhân atè
 pon la abit bulâ sè nyarè dhika, bâḍâ èko’imma ma’ taḍâ’ kabhârrâ
ḍu alè’ dhika raddhin tor manès amara talekko,
sè ngabbher è bâng-abâng, pangabângnga ngatang rè-lèrè

malar moghâ èpastèaghi jhâ’ dhika pajhât pèlèan atè bulâ
ḍu Pangèran kabbhulaghi pangaterro abdhi dhâlem
ka alè’ sè raddhin sè amara talekko,
sè ngapèncotè atè.

Adrian Pawitra Jhengghâlâ, Agustus 2010


TERJEMAHAN
PUISI MADURA - CAMAR


melewati semak belukar yang penuh dengan biji-bijian
di musim penghujan, pagi hari yang ditaburi embun
pandangan mata masih terhalang halimun
sembari menyanyi dengan serunai yang ditiup
sampai keluar urat-urat dilehernya

duduk sendirian dibatu karang dipinggir pantai
burung camar mulai berdatangan, sangat lucu, sangat manis perilakunya
burung yang disebut juga burung merpati laut
karena hampir mirip dengan merpati 

bulunya indah berwarna abu-abu
paruhnya agak panjang dan lancip

teringat akan kasihku yang cantik, yang menggemaskan hati
telah lama ku mencarimu, ada dimana kok tidak ada kabarnya
oh kasih,.. dirimu cantik dan manis bagaikan camar
yang terbang diangkasa, terbangnya melayang datar perlahan-lahan

semoga ada kepastian bahwa dirimu memang pilihan hatiku
Oh Tuhan, kabulkanlah keinginanku 
akan kasihku yang cantik
yang seperti camar, yang memesona hati

 Sidoarjo, Agustus, 2010


Puisi Madura - Kembhâng Kènè’ Senṭèk
by: Adrian Pawitra



Nalèka langngè’ è jhubârâ’ onḍem ngajhibet
Bi’-dhibi’ ân bulâ toju’ atongghul to’ot mabi mandhengngè
kembhâng kènè’ senṭèk mèbis kembhâng mabâr
Sè ghi’ bhuru mekkar ngacengngar
Atè mojhi bân ngarep ma’ ta’ legghis èlobbhâ

Namong.. dhâksakala ojhân dherres angèn akalangbusbus
Bulâ buru aberka’ ghâncang, adhinaaghi kembhâng kènè’ senṭèk
Nyarè pangaobhân sè teḍḍhu
Napè bhâ’ rosagghâ kembhâng ghârowa ècapo’ ojhân?
Bulâ ngo’-prongo’an cè’ pegghellâ,.. pegghel ongghu taḍâ’ paḍâ

Adhi’-dhindhi’ ojhân pas la ambu, langngè’ acajâ polè
Bulâ cè’ agherrâ,.. agher ongghu nègghuâ kabâḍâânna
kembhâng kènè’ senṭèk
Kembhâng ghârowa ella rosak, ella potong dâlânggiddhâ,
Ta’ kennèng naddhek sodhek polè
Bulâ ghun coma ngellos ḍâḍâ, coma ngarep,
kembhâng kènè’ senṭèk ghârowa pagghunna èsak
Bulâ ajhânjhi,.. mojhââ salanjhângnga.

Jhengghâlâ, Agustus 2010


TERJEMAHAN
PUISI MADURA - BUNGA KECIL MUNGIL



saat langit disebelah barat mendung menghitam
sendirian ku duduk meringkuk sambil memandangi
bunga kecil mungil mirip bunga mawar
yang baru mekar menyegar
hati memuji dan mengharap tak kan lekas layu

namun.. tiba-tiba turun hujan deras angin bertiup kencang
berlari cepat kumeninggalkan bunga kecil mungil
mencari tempat untuk berteduh
tahankah bunga kecil itu tertimpa hujan?
aku bersungut-sungut sangat marah,…ku sungguh sangat marah

perlahan-lahan hujan berhenti, langit cerah kembali
ku bersegera.. sangat segera tuk melihat keadaan
bunga kecil mungil
bunga itu telah rusak,.. telah patah tangkainya
tidak bisa tegak lagi
aku hanya bisa mengelus dada
hanya mengharap, bunga kecil mungil itu tetap indah
kuberjanji, akan memujamu selamanya.

Sidoarjo, Agustus 2010


MON DHIKA LAKAR BINTANG
(Sè Ngangghit : Adrian Pawitra)




Napè sè èkasanḍhâng bulâ, bulâ kettèr ngandhikanè
Tang atè talka, dhina.. sè bâḍâ èkaoḍi’ân bulâ dhâddhi sè sanyatana.
Ḍâ’ ka tarèsna sè èsto, dhâddhi marghâ tor alasân
Mata bulâ prappa’na ngatèngal, kaangghuy nyarè tarèsna èḍâlem atèna dhika.

Mon dhika lakar Bintang, sè aghibââ cajâ ka ḍâlem kaoḍi’ân sè kopong,
sè ta’ ghâmpang loslos, sè ta’ adhinaaghiâ bulâ,
Tarèsna nèko ta’ pas sèrnaa, nangèng mon dhika ghun coma mèmpè,
matèè dhilâ, saèngghâ bulâ ghun oḍi’ ḍâlem mèmpè.
namong pajjhâr ta’ dhâddhiâ bhujâr aengghun è bâ’dhibi’
saèngghâ bulâ bisa ngatrèsnanè dhika.

Ḍâ’ ka abâ’ dhibi’ sanèrbhâna jhâlân dhâddhi petteng, ngen-angen sè ta’ kacapo’a polè.
Nangèng samangkèn dhika èko’iyâ, bân bulâ ngangrasa terbi’ polè
bân amolaè kaoḍi’ân.
yâ... lakar Dhika.


TERJEMAHAN
Jika Kau Adalah Bintang

Apa yang terjadi padaku, aku takut untuk menceritakannya.
hatiku patah, biarkan apa yang ada dalam hidupku untuk menjadi kenyataan.
Untuk menjadi cinta sejati, menjadi penyebab dan alasan
mataku sedang melihat, untuk menemukan cinta dalam hatimu.

Jika kau adalah bintang, yang akan membawa cahaya ke dalam kehidupan yang hampa, yang tidak pernah lepas, yang tidak pernah meninggalkanku.
ini cinta tidak pernah hilang, tapi jika dirimu adalah mimpi, memadamkan pelita,
sehingga ku bisa hidup dalam mimpi, namun fajar tidak pernah berakhir tinggal
di dalam diriku, sehingga aku bisa mencintaimu.

Untuk diriku sendiri jalan semuanya gelap, impianku tak kan pernah tercapai
tapi sekarang kau di sini dan aku merasa terlahir kembali
dan memulai kehidupan, ya memang Dirimu.


Serial Puisi Madura - Ghi' Nyapo' Sobbhu
by: Adrian Pawitra


Ajhâlân kadhibi’ân è rem-oremma cajâ
Bâḍâ è nga-tengngana sèttong kennengngan, akadhi ngarbâng
rassana bhâdhân.
Mo-temmona tapanggghi sareng alè’ raddhin buwâna atè,
ta’ man-toman bulâ ngrassaaghi atè kapèraghân.
Biyasana lè’ dhika ta’ toman marḍuliaghi bulâ polè,
sejjhegghâ dhika bân bulâ pon abit apèsa.
Pajhât tapèsa ongghu

Tabegeggennan nalèka dhika asanappel ka bulâ
pèpèna sè ghi’ bâcca adhrisdhisân aèng mata, nalpè’ ka pèpè bulâ
palèrègghâ dhika lè’ matalka atè
rassa caltong sè ampon abit bâḍâ èḍâlem atè
dhâddhi ngobbhâr ḍâḍâ sè èpossa’è rassa tarèsna sè èsto

bit-abit polè dhika pas ngèṭèsaghi prasaan bulâ
atè bhingong ta’ karowan, mon tarèsna lè’ torè bi’ ongghu
ḍu... jhâ’ kangsè’ bulâ ngen-bângennan
dhika ngandhika tarèsna namong dhika ta’ kobâsa
ghun coma pandhengnga dhika mènangka cacana atèna
dhika sajân jhâu ḍâri bulâ,
ètabâng.. sâjân ètabâng sajân ta’ kacapo’

Atè ḍeg-gâḍegghân,.. tako’ kaèlangan dhika polè
Bulâ jhâghâ è teng-pettengnga
È… taona bulâ ghun coma amèmpè
Namong atè talanjuk bhunga bân kapèraghân ongghu

Ta’ anapè makko ghârowa ghun coma mèmpè
Ca’èpon, … mèmpè kembhângnga tèḍung
Pajjhâr pon para’ ngombârrâ
Ajâm saroju’ paḍâ akongko’, monyèna sanget lantè
Bhâjjhrâ ghi’ nyapo’ sobbhu!!

Jhengghâlâ, Agustus 2010


Terjemahan
PUISI MADURA - MASIH MENDAPATI WAKTU SUBUH

Berjalan sendirian di suramnya cahaya
Berada ditengah-tengah suatu tempat, terasa tubuh seperti melayang
Tiba-tiba berjumpa dengan kekasih yang cantik buah hatiku
Tidak seperti biasanya hatiku merasakan kegembiraan
Biasanya dirimu tidak pernah memerdulikanku lagi
Sejak dirimu dan diriku telah lama berpisah
Sungguh memang terpisah

Tertegun saat kau mendekapku
Pipimu yang masih basah berlinang air mata menempel kepipiku
Lirikanmu kasih membuat hatiku pilu
Rasa patah hati yang telah lama ada didalam hatiku
jadi menggelorakan dada yang dipenuhi rasa cinta sejati

Lama-lama dirimu tidak menghiraukanku lagi
hati bingung tidak karuan, jika ada cinta bersungguhlah
Oh, jangan sampai ku terkenang-kenang
Kau mengucapkan cinta, namun dirimu tak kuasa
Hanya tatapanmu yang menyiratkan kata hatimu
Kau semakin jauh dariku, dikejar…semakin dikejar
semakin tidak kudapati

Hatiku bergetar,.. takut akan kehilanganmu lagi
Ku terjaga dalam kegelapan
Eh.. ternyata aku hanya bermimpi
Namun hati terlanjur sangat riang dan gembira

Tidak mengapa meskipun itu hanya mimpi
Katanya, mimpi adalah bunga tidur
Fajar sudah hampir muncul
Ayam serempak berkokok, bunyinya sangat nyaring
Beruntung masih mendapati waktu subuh!!

Sidoarjo, Agustus 2010

Tempat Wisata Bangkalan Mercusuar Sembilangan Tanjung Piring

12/20/2014 Add Comment
Wisata Mercusuar Desa Sembilangan, Kecamatan Tanjung Piring, Kabupaten Bangkalan.

Berwisata ke Pulau Madura rasanya ada yang kurang jika TreTan belum mengunjungi salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Bangkalan ini. Obyek Wisata ini adalah Mercusuar Sembilangan yang berdiri kokoh sejak Jaman Belanda hingga sekarang yang berguna untuk membantu navigasi hilir mudik kapal yang lewat agar menghindari daerah yang rawan seperti batuan karang serta daerah laut yang dangkal. Sumber cahaya yang digunakan pada lampu mercusuar pada umumnya mulai dari api, lensa hingga lampu dan seiring perkembangan zaman, Mercusuar di seluruh dunia telah merosot dikarnakan penggunaannya yang telah tergantikan oleh GPS (Global Positioning System).

Sejarah Mercusuar Sembilangan ini merupakan peninggalan Jaman Belanda pada pemerintahan Z.M.Willem III tepatnya pada Tahun 1879 ditandai dengan plakat yang terdapat pada Mercusuar dan konon mercusuar peninggalan belanda di Madura hanya terdapat 2, di Bangkalan dan Sumenep.


Sejarah Plakat Tahun Berdiri dan di bangun Mercusuar Sembilangan Bangkalan


Hingga kini Mercusuar tersebut masih befungsi sebagai navigasi kapal laut dibawah kendali Departemen Perhubungan dan sering ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menaiki hingga kepuncak dan melihat keindahan alam disekitar Desa Sembilangan yang cukup mempesona.

Mercusuar Bangkalan ini terbuka untuk umum bagi siapapun yang ingin menuju puncak dan melihat pesona alam, hanya dengan membayar kepada petugas setempat sekitar Rp. 3.000
Mercusuar Sembilangan Bangkalan

Untuk dapat sampai hingga ke puncak mercusuar yang tingginya mencapai 65 meter, TreTan harus melewati 17 lantai dengan menggunakan anak tangga yang terbuat dari besi. Rasa lelah ketika menaiki tiap anak tangga akan terasa disaat hampir mendekati puncak. Perjuangan melewati anak tangga mercusuar akan terbayar setelah melihat indahnya alam dan hilir mudik kapal serta angin yang lumayan kencang menerpa tubuh.


Puncak Mercusuar Sembilangan Bangkalan

diatas mercusuar, kita bisa mengabadikan alam sekitar dengan foto menggunakan HP ataupun DSLR. Moment seperti ini biasanya menjadi incaran pecinta fotografi landscape professional, selain dari atas puncak moment fotografi bisa diambil saat sore hari ketika matahari mulai terbenam.


Tetap perhatikan keselamatan diri dan orang lain selama didalam mercusuar, utamanya diatas puncak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tak hanya dalam urusan fotografi alam, terkadang keindahan panorama disekitar Mercusuar ini digunakan untuk foto Prewedding ataupun foto model oleh para pecinta fotografi lokal ataupun turis dari luar madura seperti surabaya dan daerah lainnya.

Mercusuar Sembilangan Bangkalan Madura


Disekitar Mercusuar ini, TreTan bisa mencoba Kuliner Rujak Khas Bangkalan yang dijajakan oleh Masyarakat sekitar sambil menikmati indahnya Pantai Sembilangan.Seperti apa rasanya? penasaran? silahkan datang dan rasakan sendiri bagaimana lezatnya Rujak Bangkalan.

Tempat Wisata Mercusuar di Kabupaten Bangkalan ini berada di Desa Sembilangan, Kecamatan Tanjung Piring, Masyarakat sekitar umumnya mengatakan daerah "Lampu" dan masih 1 jalur ketika TreTan mengunjungi Wisata Religi Makam Syaichona Moh Kholil menuju ke barat.

Ada 2 opsi untuk menuju Mercusuar Sembilangan ini, lewat kapal melalui Tanjung Perak Surabaya hingga Pelabuhan Ujung Kamal atau Lewat Jembatan Suramadu.

Masih bingung jalan akses kesana? Berikut Sakera akan memberikan Peta Google Maps dimulai dari Jembatan Suramadu yang cukup fenomenal itu.

Google Maps Peta menuju Mercusuar Bangkalan

PETA DIGITAL


Segera rencanakan untuk melakukan Traveling ke salah satu Tempat Wisata Madura di Mercusuar Bangkalan ini, ajak teman beserta sanak keluarga lainnya dan jangan lupa untuk mengabadikan tiap moment yang dilewati selama diperjalanan.