Ingin Liburan atau Traveling dengan Keluarga? Jangan Biarkan Barang Ini Tertinggal!

11/21/2019 Add Comment
Setiap traveling pasti ada saja perasaan janggal seperti ada barang yang tertinggal. Maka dari itu, packing lah barang - barang kamu minimal dua hari sebelum keberangkatan. Lalu, kamu harus mengeceknya ulang ketika hendak bepergian. Agar tidak membuat kamu repot nantinya, maka pastikan kamu membawa barang - barang berikut ini.


1. Dompet

Barang yang sering tertinggal biasanya adalah dompet. Pernahkah kamu traveling tanpa membawa dompet? Pasti kamu sangat panik sekali saat mengetahuinya. Apalagi jika kamu baru sadar kalau tidak membawa dompet, pada saat membeli barang. Maka dari itu, dompet merupakan barang terpenting yang harus kamu bawa saat traveling.

2. Powerbank

Barang yang wajib kamu bawa selanjutnya adalah powerbank. Pasalnya, pasti akan repot sekali jika handphone kamu mati pada saat traveling. Powerbank bisa jadi solusi untuk kamu pada saat handphone kamu mati dan jauh dari sumber listrik.

3. Kamera

Mengabadikan momen indah saat traveling pasti memerlukan kamera. Apalagi, jika kamu traveling ke tempat yang indah. Kamu pasti sangat memerlukan kamera untuk memotret keindahan tempat yang kamu kunjungi.

Kamu bisa membelinya di tempat toko khusus jual kamera atau di official store resminya dengan harga yang sesuai budget. Kamera juga dapat membuat kamu lebih teliti melihat pemandangan tempat yang kamu kunjungi dari sisi yang berbeda.

4. Uang Cash

Uang Cash, sangat kamu perlukan sekali jika kamu hendak pergi liburan. karena, kamu bisa repot jika hanya mengandalkan kartu kredit atau yang lainnya. Maka, siapkanlah uang cash secukupnya saja, untuk memudahkan kamu bertransaksi pada saat liburan.

5. Perlengkapan Mandi

Perlengkapan mandi sangat diperlukan sekali, jika kamu ingin berlama - lama saat liburan. Namun, biasanya setiap hotel atau penginapan memang menyediakan perlengkapan mandi, jadi kamu tidak perlu repot - repot membawanya. Tetapi, untuk kamu yang tidak cocok dengan perlengkapan mandi di hotel, sebaiknya kamu membawanya dari rumah.

Disarankan untuk membawa perlengkapan mandi seperlunya saja, seperti sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk kecil agar menghemat barang bawaan kamu.

6. Smartphone

Kamu pasti tidak mau kan, liburan kamu jadi ribet hanya karena tidak membawa smartphone. Alat komunikasi seperti smartphone sangat dibutuhkan sekali, apalagi jika kamu traveling bersama banyak orang. Kamu jadi tidak bisa menghubungi rekan travelling, jika kamu terpisah dari mereka.

Smartphone tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja, bisa juga untuk menjadi petunjuk arah agar kamu tidak tersesat di perjalanan menuju tempat liburan. Jadi, jangan pernah kamu lupakan alat yang satu ini.

7. Charger USB

Bawa lah USB pada saat liburan, agar memudahkan kamu ketika ingin mengisi daya smartphone. Kabel USB juga akan sangat kamu perlukan sekali, ketika hendak mengisi daya dengan menggunakan powerbank.

8. Peralatan Ibadah

Peralatan ibadah sangat dibutuhkan sekali, khususnya untuk para muslimah. Pasalnya, jika kamu hanya mengandalkan peralatan dari masjid, kamu harus mengantri dengan muslim perempuan lainnya.

Apalagi jika sudah masuk waktu sholat tiba. Maka dari itu, bawalah peralatan sholat agar kamu tidak perlu lama - lama menunggu untuk sholat.

9. Obat-obatan

Jangan pernah abaikan peralatan yang satu ini. Karena, jika badan kamu sudah merasa mulai terasa tidak enak, segeralah obati agar kesehatanmu terjaga pada saat liburan.

Kamu pasti tidak mau liburanmu terganggu hanya karena kondisi fisik kamu yang sedang tidak enak badan. Jadi, bawalah sekira nya obat - obatan yang penting untuk mengantisipasi terjadinya hal - hal tidak diinginkan.

Jika traveling kemanapun, biasakan untuk mengecek barang mu terlebih dahulu.Bila perlu buatlah checklist untuk membuat daftar barang apa saja yang harus kamu bawa. Selamat liburan!

Benteng Erfprins - Cagar Budaya Indonesia yang Terlupakan

11/19/2019 Add Comment
Beberapa waktu yang lalu cuaca di Kota Bangkalan sedang panas-panasnya. Tiba-tiba saja saya ingin membeli Es Kacang Ijo di dekat benteng yang cepat habis karena rasanya yang enak sekali. Siang itu sambil mengendarai sepeda motor, saya pergi membeli Es Kacang Ijo yang berada tidak jauh dari rumah, mungkin berjarak sekitar 500 meter.

Setibanya di tempat penjual saya bergegas untuk memarkir sepeda motor lalu memesan dua bungkus es. Beruntung, ternyata saya masih kebagian meskipun harus sedikit mengantri karena seperti biasa ada beberapa orang yang sedang mengantri juga sedari tadi. Saya berdiri di dekat rombong Es Kacang Ijo, menghindari sengatan sinar matahari.

Sambil menghabiskan waktu saya melihat-lihat sekitar yang memang persis di seberang jalan umum. Ya, rombong Es Kacang Ijo berada di atas trotoar yang seharusnya digunakan untuk jalan kaki. Saat asyik melihat sekitar, tiba-tiba pandangan saya terhenti pada bangunan tua yang berada tepat di depan saya berdiri.

Sekilas kalau dilihat seperti tembok tua biasa yang ditumbuhi lumut hijau. Mungkin bagi orang baru yang bukan masyarakat sekitar tidak sadar kalau tembok tersebut merupakan bagian dari benteng peninggalan Belanda. Tapi tidak untuk masyarakat sekitar yang sudah tahu keberadaan benteng. Lamunan saya kembali mengingat bentuk benteng Belanda ini beberapa tahun yang lalu.

Benteng Erfprins - Bangkalan

Sekitar 19 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingat betul kalau dulunya bangunan benteng Belanda ini masih terlihat bersih dan cukup terawat dari luar. Entah sejak kapan para pedagang ini dalam sekejap mengubah keadaan sekitar benteng menjadi seperti tembok tua biasa.

"Mbak, ini esnya mau pakai roti atau nggak?..".

Tiba-tiba saja lamunan saya buyar, saya tersentak dengan pertanyaan ibu penjual es, dalam hati saya berkata, ya ampun ibu ini bikin kaget saja.

"Pakai roti, Bu semuanya ya..".

Setelah dua bungkus Es Kacang Ijo dan dua potong roti dibungkus menggunakan plastik bening, saya langsung membayar dan bergegas pulang karena siang itu memang cuacanya sedang panas. Dalam perjalanan pulang pikiran saya masih memikirkan tentang benteng Belanda itu, saya penasaran ingin sekali melihat kondisi benteng di dalamnya seperti apa, tapi siapa yang mau antar saya masuk ke dalam?.

Sesampainya di rumah, seperti biasa saya sudah ditunggu Mirza anak saya dan juga suami yang sudah tidak sabar ingin minum Es Kacang Ijo. Bertiga di dalam kamar kami menikmati Es Kacang Ijo dibarengi dengan teriakan Mirza yang entah kenapa hari ini dia cepat sekali menghabiskan kacang ijonya.

"Pak, tahu benteng Belanda yang di dekat Es Kacang Ijo itu nggak?..".

"Iya. Kenapa?..".

"Aku kok penasaran yang kepengen masuk ke dalam benteng, pengen lihat-lihat..".

"Emang berani?..".

"Kenapa? emang ada hantunya ya?..".

"Tumben aja. Nanti kamu ikut ya bareng timku buat ekspedisi tentang Benteng Erfprins..".

"Oh, namanya Benteng Erfprins. Kapan?..".

"Tunggu aja..".

Pertama Kali Melihat ke Dalam Benteng Erfprins dan Mendengar Sejarahnya


Selang beberapa hari dari percakapan kami waktu itu, akhirnya saya ikut suami bersama Tim Gerbang Pulau Madura menuju Benteng Erfprins. Beruntung, karena kebetulan saya berangkat melihat benteng bersama tim yang memang mengerti mengenai cerita Benteng Erfprins ini. Saat tiba di area benteng kami bertemu dengan Bapak Irwanto, beliau adalah Juru Pelihara Benteng Erfprins.

Saat itu kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami. Lalu, Bapak Irwanto langsung mengajak kami naik ke atas benteng. Baru saja menaiki beberapa anak tangga kami sudah disambut dengan pemandangan benteng yang sebagian besar telah ditumbuhi oleh lumut hijau, tumbuhan yang menjalar dan akar-akar pohon sehingga nampak jelas benteng kurang terawat.

Kondisi Tembok Benteng Erfprins

Sambil berkeliling melihat keadaan di bagian atas benteng, Bapak Irwanto menceritakan tentang keadaan Benteng Erfprins kepada kami. Dari penjelasan beliau saya baru tahu kalau ternyata benteng yang terletak di tengah Kota Bangkalan ini memiliki kaitan erat dengan sejarah pendudukan VOC atas Madura Barat.

VIDEO WAWANCARA DENGAN PAK IRWANTO


Dulunya, benteng ini merupakan gudang persenjataan VOC, dimana VOC membangun sebuah kekuatan militer di Madura yang bertujuan untuk menumpas berbagai pemberontakan di Cirebon, Bone, Jambi, Bali dan Jawa. Namun, ada keterangan lain yang menjadi alasan mengapa benteng ini dibangun.

Seperti yang disepakati dalam perjanjian antara Mataram dan VOC tanggal 11 November 1743 yang menyebutkan bahwa Paku Buwono II dapat bertahta kembali jikalau VOC menjadi penguasa Madura Barat dengan menyingkirkan kekuasan raja-raja Tjakraningrat.

Dari kumpulan surat-surat Bupati Bangkalan diketahui bahwa setelah menguasai Madura Barat sekitar tahun 1747, VOC membangun sebuah benteng yang memiliki luas gedung sebesar 980 meter dan luas lahannya sekitar 7249 meter yang digunakan untuk mengawasi keluarga Kesultanan Bangkalan.

Sketsa Denah Benteng Erfprins Bangkalan

Yang menarik dari benteng ini adalah ternyata benteng sempat tidak memiliki nama. Hingga ada surat dari KITLV (Koninklijk Instituut Voor Tall Land En Volkenkude) yang ditujukan kepada Kepala Museum Bangkalan, sebuah arsip Belanda yang menyatakan bahwa benteng ini dulunya bernama Erfprins atau dalam Bahasa Indonesia berarti Warisan Pangeran.

Jadi, kalau di Belanda Raja mempunyai anak-anak, anak pertama selalu bernama 'Prins van Oranje'. Kalau dia sudah punya anak-anak sendiri yang pertama bernama Erfprins. Benteng ini dibangun sebagai tanda penghormatan penguasa Belanda di Madura Barat terhadap kelahiran cucu Raja Willem I.

Sambil mengelilingi benteng sekilas terlihat kalau benteng ini dibuat dari batu putih berlepa dengan memiliki denah bujur sangkar dan memiliki empat bastion di keempat sudutnya. Tembok keliling benteng memiliki ketebalan sekitar 60 cm dan tinggi 3,5 meter. Pintu masuk utamanya berada di sebelah timur.

Bastion pada sudut-sudut benteng berbentuk mata panah dan dilengkapi dengan lubang-lubang penembakan berbentuk segi empat. Pada bastion Utara terdapat 6 lubang penembakan, yaitu 2 di tembok bastion sisi Barat dan 4 di tembok bastion sisi timur.

Kondisi 4 Bastion Benteng Erfprins

Pada bastion Timur terdapat 7 lubang penembakan, yaitu 3 di tembok bastion sisi Timur dan 4 di tembok bastion sisi Selatan. Sedangkan bastion Selatan sendiri memiliki 6 lubang penembakan, masing-masing 2 di sisi Timur dan 4 di sisi Barat.

Sedangkan bastion Barat memiliki 7 lubang penembakan, yaitu 4 di tembok bastion sisi Utara dan 3 di tembok bastion sisi Selatan. Pada setiap ujung bagian bastion terdapat menara pengintaian berdenah segi enam. Pada masing-masing bangunan pengintaian terdapat lubang penembakan berjumlah 3 buah.

Saat pertama kali masuk ke dalam area benteng terlihat beberapa bangunan yang ternyata merupakan bangunan tempat tinggal. Kondisi temboknya sebagian besar sudah ditumbuhi lumut, tumbuh-tumbuhan paku bahkan ada yang hidup di temboknya. Pohon yang tumbuh disekitarnya pun seperti di tempat pengintaian, akarnya telah mendesak tembok sehingga suatu ketika bisa merobohkannya.

Di tembok luar ditempati masyarakat umum untuk berdagang. Lapaknya bahkan menempel pada dinding benteng. Di situ kita bisa temui pedagang Es Kacang Ijo langganan saya, penjual kaset vcd, penjual bilah bambu dan aneka produk dari bambu, bahkan kita bisa menemukan bengkel las yang lapaknya menempel di tembok. Setelah selesai berkeliling saya bisa menyimpulkan kalau keadaan benteng memang kurang terawat.

Bangunan Semi Permanen di Tembok Benteng Erfprins

Kerusakan yang paling parah pada benteng terdapat pada bastion di bagian Barat. Bahkan bila dilihat hanya sekilas saja sudah terlihat kalau tembok bastion bagian Barat retak dan bangunan pengintaiannya hampir romboh karena akar pohon yang dibiarkan tumbuh secara liar di tempat itu.

Benteng Erfprins sendiri sudah resmi dijadikan sebagai cagar budaya dan terdaftar di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, wilayah kerja Jawa Timur. Kalau memang sudah resmi dijadikan sebagai cagar budaya Indonesia seharusnya kondisinya tidak seperti itu. Kok rasanya akan sayang sekali jika Benteng Erfprins ini nantinya perlahan-lahan semakin rusak dan bukan tidak mungkin jika kelak benteng ini akan musnah karena kurang terawat.

Plakat Undang - Undang Cagar Budaya yang posisinya menghadap kedalam

Semoga saja akan segera ada upaya pelestarian dari pihak yang berwenang demi kepentingan penggalian nilai-nilai sejarah tentang peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu serta perkembangannya hingga kini. Pelestarian Benteng Erfprins sebagai cagar budaya memiliki arti penting. Tentunya dalam upaya pelestarian benteng akan mendapat tantangan besar.

Dari kondisi benteng saat ini dapat terlihat betapa tidak pedulinya semua pihak terhadap keberadaan benteng sebagai cagar budaya. Baik itu Pemerintah Daerah, pihak berwenang terkait peninggalan bersejarah maupun masyarakat luas termasuk saya sendiri yang menjadi pelanggan Es Kacang Ijo.

Gencarnya pembangunan di Kota Bangkalan mungkin akan memberikan dampak negatif terhadap kelestarian benteng. Pembangunan tanpa menghiraukan keberadaan benteng sebagai cagar budaya sudah terlihat dengan menurunnya kualitas benteng.

Upaya pelestarian perlu dilakukan dengan cara merawat benteng sebagai cagar budaya agar bisa dilihat oleh anak cucu kita nanti. Saya masih ingin melihat Benteng Erfprins berdiri kokoh dan orang-orang mengenalinya sebagai benteng bukan sekadar tembok tua biasa seperti perasaan saya saat membeli Es Kacang Ijo di dekatnya.

Upaya Pelestarian Benteng Erfprins Sebagai Cagar Budaya Indonesia


Ada beberapa hal yang masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan benteng supaya anak cucu kita bisa melihatnya. Upaya ini memang tidak mudah, membutuhkan kesungguhan, tenaga dan bahkan biaya yang cukup besar. Tetapi setiap pihak bisa mengambil perannya masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

Relokasi Penghuni Benteng

Di dalam benteng terdapat bangunan semacam asrama yang ditempati oleh beberapa keluarga. Mereka sudah menempatinya secara turun temurun. Meskipun benteng ini statusnya adalah aset negara tetapi pemindahan para penghuni selayaknya dilakukan secara manusiawi. Mungkin pemerintah bisa menyediakan tempat relokasi yang layak huni.

Kondisi bagian dalam Benteng

Di luar bangunan benteng terdapat banyak sekali pedagang yang menggantungkan hidupnya pada tembok benteng. Pemerintah daerah dengan dinas terkaitnya perlu melakukan relokasi terhadap para pedagang tersebut. Mereka bukan berniat merusak benteng tetapi karena tidak mengetahui kalau tempat yang mereka tempati merupakan tempat bersejarah.

Selama ini pun mereka tidak merasa bahwa tindakannya tidak sesuai dengan aturan. Barangkali memang dari pihak berwenang cenderung abai. Bahkan di sisi timur benteng bangunan milik tukang las dan tukang cukur rambut sudah merupakan bangunan semi permanen.

Penjual bambu sudah menempatinya berpuluh tahun, bahkan di sisi selatan benteng pedagangnya semakin banyak sejak Pusat Makanan Rakyat (Pumara) yang awalnya berada di alun-alun Bangkalan ditutup. Perlu ada penertiban dari pihak berwenang agar para pedagang termasuk Es Kacang Ijo langganan saya bisa dipindah ke lokasi yang selama ini sudah disediakan oleh pemerintah seperti Pumara yang ada di sebelah utara area luar Stadion Bangkalan.

Restorasi Benteng

Setelah semua penghuni benteng baik di dalam maupun di luar sudah direlokasi tahap selanjutnya adalah Restorasi Benteng. Program restorasi ini tentunya tidak bisa dipahami oleh orang awam seperti saya. Tetapi karena statusnya sebagai cagar budaya maka pihak yang berwenang mungkin bisa mengirim ahli untuk mengevaluasi kondisi bangunan benteng.

Bagi orang awam seperti saya setidaknya saat ini perlu dilakukan sosialisasi ke masyarakat umum bahwa bangunan tua tersebut adalah benteng yang terdaftar sebagai cagar budaya. Dari beberapa orang yang sempat saya tanyai, kebanyakan dari mereka bahkan tidak menyadari keberadaan benteng.

Sebagai Pusat Kegiatan Budaya dan Wisata Sejarah

Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap benteng, jika telah dilakukan relokasi penghuni dan restorasi bangunan, maka benteng bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan budaya. Misalnya bisa diadakan pameran seperti pameran lukisan, pameran batik atau pameran karya seni rupa lainnya. Juga bisa dijadikan sebagai tempat pertunjukan musik, tari maupun teater.

Bahkan tidak menutup kemungkinan bila Benteng Erfprins ini bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah di Bangkalan. Tentu hal ini dapat mendatangkan wisatawan baik dari dalam maupun luar Madura untuk menikmati wisata sejarah Benteng Erfprins. Terlebih lokasi benteng yang berada di tengah Kota Bangkalan memudahkan wisatawan untuk bisa menemukannya.

Foto Udara Benteng Erfprins

Namun, yang terpenting adalah Benteng Erfprins bisa terawat dengan baik sebagai cagar budaya Indonesia peninggalan Belanda dan bukan lagi seperti tembok tua biasa yang tidak banyak masyarakat tahu tentang keberadaannya. Salah satu warisan sejarah di masa lalu yang akan terus dinikmati oleh generasi kita selanjutnya.

Saya sangat berharap, setidaknya melalui tulisan ini ada pihak berwenang tergerak untuk membantu menyelamatkan salah satu aset penting cagar budaya di Bangkalan ini. Minimal memperlambat hancurnya Benteng dengan dibersihkan tumbuhan liar didalamnya meskipun sebenarnya saya menginginkan lebih dari itu sebagaimana yang sudah saya jelaskan pada beberapa poin upaya pelestarian di atas.

Lalu, bagaimana dengan cagar budaya yang ada di tempat teman-teman sendiri?, yuk kita turut memberi suara melalui tulisan di blog yang bisa diikut sertakan dalam kompetisi blog Cagar Budaya Indonesia, Rawat atau Musnah.



Referensi :

1. Surat dari KITLV kepada Museum Bangkalan tentang nama Benteng "Efprins" Th. 2010
2. Surat Keterangan Cagar Budaya BPCB Mojokerto No. HK.701/1073/CB7/BPCB/VII/2013
3. http://www.atlasofmutualheritage.nl

Meriahnya Festival Kesenian Pesisir Utara 2019 di Kabupaten Sampang

11/08/2019 Add Comment
Tretans, sudah tahu belum kalau tahun ini Kabupaten Sampang sukses menyelenggarakan Festival Kesenian Pesisir Utama yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut mulai dari tanggal 31 Oktober sampai 2 November 2019. Di mulai dengan pembukaan festival yang dihadiri oleh banyak Masyarakat mulai dari anak kecil hingga orang dewasa ikut menyaksikan pembukaan FKPU tersebut.


Berbagai penampilan menarik disuguhkan malam hari itu, di antaranya tari dari Sampang, kesenian hadra banjari dari Kabupaten Gresik hingga peragaan busana batik khas masing-masing daerah pesisir utara. Banyak masyarakat yang hadir menyaksikan Festival Kesenian Pesisir Utara Tahun 2019. Ada sekitar 3.500 orang yang ikut di festival ini.

Pembukaan berlangsung di lapangan Wijaya Kusuma Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, Kamis (31/10/2019) malam dan festival ini bertema Dewi Cemara (Desa Wisata Cerdas Maju dan Sejahtera). Selama kurun waktu tiga hari kemarin Masyarakat akan disuguhi berbagai kesenian, pawai budaya, kerajinan seni ekonomi kreatif hingga kuliner dari masing-masing daerah di wilayah pesisir utara.


Ada 14 daerah yang masuk wilayah pesisir utara yaitu, Kabupaten Sampang, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep dan Kota Surabaya.

Gelaran Festival Kesenian Pesisir Utara Tahun juga sekaligus memperingati Hari jadi Jawa Timur ke 76 dan Hari jadi Kabupaten Sampang ke 396. FKPU Tahun 2019 ini kerjasama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dan yang bertindak sebagai tuan rumah Kabupaten Sampang.


FKPU ke XIII yang bertema Dewi Cemara atau Desa Wisata Cerdas Mandiri dan Sejahtera ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya daerah, kearifan lokal di wilayah pesisir pantai utara serta mengembangkan ekonomi kreatif berbasis seni budaya.

Festival itu dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Pamekasan Alwi mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Peresmian ditandai dengan pemukulan rebana yang diikuti Kepala Bakorwil, Kepala Disbudpar Jatim, Bupati Sampang, dan Forpimda Sampang.


Dalam sambutannya, Bupati Sampang Slamet Junaidi menyampaikan terima kasih, karena Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercayai Kabupaten Sampang sebagai tuan rumah FKPU 2019.  Menurutnya, daerah sebutan Kota Bahari ini selalu mendukung setiap langkah gerakan perubahan menuju kemajuan Jawa Timur.

Usai memberikan sambutan, Bupati Sampang menerima Pataka FKPU 2019 dan piagam penghargaan sebagai tuan rumah dari Pemprov Jatim yang diwakili Bakorwil Pamekasan Alwi. Ia kemudian menyampaikan surat tertulis Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim Sinarto, juga menyampaikan pagelaran festival di Sampang akan ada diskusi atau sarasehan dan menampilkan arak arakan budaya sebagai inovasi dari berbagi kelompok peserta.

Dengan adanya festival ini para Seniman tidak ingin selalu sentral di Surabaya. Ada impact perekonomian yang tidak harus selalu ada di Surabaya. Dengan adanya Festival Kesenian Pesisir Utara di Kabupaten Sampang ini, semoga menambah minat para wisatawan untuk datang berlibur ke Kabupaten Sampang

VIDEO RANGKAIAN FESTIVAL KESENIAN PESISIR UTARA KABUPATEN SAMPANG