Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan

Galeri Foto Obyek Wisata Alam Puncak Ratu - Pamekasan

1/29/2020 Add Comment
Saat berwisata ke Madura jangan lupa untuk sempatkan waktu pergi ke salah satu destinasi wisata baru yang ada di Kabupaten Pamekasan. Teman-teman, pasti sudah tahu kalau Pamekasan terkenal dengan Wisata Api Tak Kunjung Padam yang selalu ramai didatangi oleh wisatawan baik dari dalam maupun dari luar Pamekasan.

Tahukah kamu kalau Pamekasan diam-diam sudah memiliki banyak tempat wisata yang Instagramable untuk teman-teman kunjungi, lho. Bukan hanya sekedar tempat wisata saja namun juga bisa dijadikan tempat foto-foto dengan panorama yang sungguh luar biasa dan pasti akan apik bila diunggah di media sosial.


Tempat Foto Instagramble di Wisata Puncak Ratu

Dimana lagi kalau bukan di Wisata Puncak Ratu Pamekasan. Sudah ada yang pernah ke Puncak Ratu atau belum pernah bahkan baru tahu?, yuk simak ulasan Tim Gerbang Pulau Madura yang beberapa waktu lalu berkesempatan main-main di wisata baru ini sambil makan Durian, penasaran kan?.

Jika sebelumnya wisatawan dimanjakan dengan spot-spot wisata perbukitan nan cantik seperti Bukit Cinta di Pademawu, Pamekasan, Bukit Brukoh di Pakong, Pamekasan, dan Bukit Kampung Toron Samalem di Larangan, Pamekasan.


Kali ini teman-teman akan diajak untuk menikmati liburan seru di Puncak Ratu yang berada di Kecamatan Pegantenan, Pamekasan. Seperti halnya wisata perbukitan lainnya, Puncak Ratu juga menyajikan keindahan alam khas perbukitan yang begitu indah dan alami. Dengan pemandangan hijau nan asri yang sejuk dipandang, kalian tidak akan menyesal datang ke sana.

Lokasi Wisata Puncak Ratu berada di utara atau 10 km dari kota Pamekasan. Dari arah kota Pamekasan teman-teman bisa langsung menuju ke utara tepatnya di pasar Pagantenan. Dari arah pasar Pagentenan kalian tinggal masuk ke arah utara sebelum masuk arah Puncak Ratu teman-teman akan melihat sebuah penunjuk jalan menuju Puncak Ratu.


Walaupun Puncak Ratu di Desa Tebul Barat masih terbilang baru namun antusiasme masyarakat untuk menyambangi tempat ini cukup tinggi. Setidaknya ada ratusan pengunjung yang telah datang setiap harinya ke lokasi wisata Puncak Ratu sejak tempat ini resmi dibuka pada bulan Desember 2018 silam.

Destinasi wisata kekinian yang instagramable di Pamekasan ini berada di ketinggian sekitar 200 meter dengan pemandangan alam di sekitarnya yang begitu menawan dan menyejukkan. Bahkan pemandangan landscape Pamekasan pun terlihat jelas dari atas ketinggian Puncak Ratu ini.


Selain menyajikan keindahan alam dari atas ketinggian, kawasan di Puncak Ratu juga dikelilingi dengan deretan pohon albasia atau sengon yang sekilas memberikan pemandangan nan eskostis ala wisata hutan pinus yang sedang booming saat ini. Wisata yang instagramable dan kekinian itu didesain seperti wisata Paralayang yang berada di Kabupaten Malang, mampu memberikan panorama alam yang sejuk dan indah.

Setidaknya ada sekitar 100-an pohon sengon yang ditanam sejak tahun 2015 di kawasan ini dan mampu memberikan kesejukan tersendiri bagi para pengunjung yang datang. Destinasi wisata yang terbilang baru ini masih terus dikembangkan sehingga kedepannya masih akan ditambah dengan fasilitas, wahana permainan, dan spot foto yang pastinya lebih bervariasi.


Harga Tiket dan Lokasi Wisata Puncak Ratu

Walaupun tempat wisata ini masih dibilang baru dan masih dalam tahap pengembangan, namun fasilitas yang tersedia cukup memadai. Diantaranya adalah fasilitas berupa spot foto nan instagramable. Mulai dari gardu pandang, rumah pohon, hingga spot unik berbentuk seperti kurungan dengan kain kelambu di sekelilingnya.

Di tempat ini juga terdapat warung kopi dan makanan ringan yang bisa teman-teman datangi untuk menikmati kopi sembari merasakan suasana alam dan menunggu momen sunset di Puncak Ratu. Jangan lewatkan momen untuk mengambil gambar saat sunset tiba di sana, karena pasti akan bagus sekali.


Untuk memasuki wisata Puncak Ratu, pengunjung tinggal mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000, sebagai uang tiket masuk. Sementara untuk parkir dikenakan Rp 3.000 bagi roda dua dan Rp 5.000, untuk kendaraan roda empat. lokasi objek wisata Puncak Ratu masih berada di kawasan desa yang sama dengan Kampung Durian, yaitu di Desa Tebul Barat.

Jika teman-teman ingin sekalian singgah dan mencicipi buah Durian di Kampung Durian ini kalian hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000 saja dan parkir kendaraan Rp 3000. Buah Duriannya manis dengan ukuran sedang, kebetulan saat kami berkunjung ke sana sedang masuk musim panen jadi bisa puas menikmati Durian asli Pamekasan.

Yuk, jangan sampai teman-teman melewatkan wisata yang satu ini.


VIDEO LIPUTAN WISATA PUNCAK RATU - PAMEKASAN



Daftar Juara Grand Final Kerapan Sapi Piala Presiden 2017

11/03/2017 Add Comment
Event tahunan Kerapan Sapi Piala Presiden Tahun 2017 sudah berakhir, sama seperti tahun-tahun sebelumnya event ini diselenggarakan di Kabupaten Pamekasan. Minggu 29 Oktober 2017 kemarin menjadi waktu berlangsungnya kegiatan yang sangat ditunggu oleh banyak masyarakat Madura juga tidak lupa oleh para wisatawan dalam bahkan luar negeri.


Sebelum Grand Final Kerapan Sapi Piala Presiden 2017 ini berlangsung sudah diadakan seleksi Tingkat Kabupaten yang pemenangnya secara otomatis dikirim pada Piala Presiden. Mulai dari Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan terakhir adalah Kabupaten Sumenep.

Pada kegiatan Kerapan Sapi Piala Presiden ini para peserta memperebutkan sebuah hadiah utama yakni mobil. Jadi tidak perlu heran kalau setiap kabupaten mengirimkan wakil terbaik mereka untuk berlomba mendapat kemenangan dan tentu adu gengsi sapi milik siapa yang paling kuat serta cepat larinya.

Seperti biasanya para penonton sudah memadati arena lapangan Stadion Soenarto Hadiwidjojo beberapa jam sebelum event kerapan sapi dimulai. Bagi teman-teman yang tidak berkesempatan datang menonton langsung dan penasaran ingin tahu daftar pemenang Kerapan Sapi Piala Presiden berikut ini daftar lengkapnya.

JUARA GOL. MENANG :

1. Hajar Boss - Hj. Ova - Pamekasan
2. Jet Matic II - H. Sahid - Sampang
3. Panter - H. Dolfaki / H. Mastuki - Bangkalan

JUARA GOL. KALAH :

1. Naga Emas - R. H. M. Thohir - Bangkalan
2. Dor to dor - H. Abdullah Hidayat - Sampang
3. Gagak Rimang II - R. H. M. Thohir – Bangkalan

Selamat kepada semua para pemenang sampai jumpa lagi pada event Kerapan Sapi Piala Presiden tahun depan. Bagaimana juga event ini merupakan kegiatan tahunan yang sudah menjadi tradisi turun temurun bagi semua masyarakat di Madura.

Mengunjungi Pengrajin dan Sentra Batik Klampar di Pamekasan

1/08/2017 Add Comment
Batik merupakan salah satu budaya yang sudah tidak asing di dengar lagi. Di Pulau Madura sendiri tepatnya di Kabupaten Pamekasan terdapat jenis batik yang berbeda dengan batik pada umumnya. Jika di Kabupaten Bangkalan terdapat Batik Gentongan yang berada di Kecamatan Tanjung Bumi maka di Kabupaten Pamekasan ada Kampung Batik Klampar yang terletak di Desa Klampar Kecamatan Proppo.

Beberapa waktu yang lalu Tim Gerbang Pulau Madura berkesempatan datang langsung ke sentra batik Klampar yang berjarak sekitar 5 Km dari Kota Pamekasan tersebut. Menurut cerita Batik Klampar ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Di desa Klampar sendiri terdapat kurang lebih 300 pengrajin batik yang meneruskan usaha keluarga mereka hingga saat ini.


Walaupun hampir di seluruh kabupaten di Madura mempunyai daerah sentra batik, batik tradisional asal Desa Klampar ini mempunyai keunikan tersendiri. Yakni kaya akan warna bahkan, dalam satu potong kain batik bisa lebih dari tiga warna. Warna-warna tersebut adalah coklat sagon (tua), hitam, merah, dan hijau.

Kalau diperhatikan secara teknis dan mendetail tidak ada perbedaan yang mendasar dalam pembuatan Batik Tulis Desa Klampar dengan batik-batik lainnya. Mulai dari memotif, mewarnai, mencelup hingga menjemur. Termasuk cairan untuk mewarnai kain yaitu malam yang direbus. Yang membedakan hanya paduan warna, motif, dan jenis kain yang digunakan.

Mengembangkan para Pengrajin di Sentra Batik Klampar

Untuk harga jual sendiri para pengrajin Batik Desa Klampar membagi dua segmen para konsumennya. Untuk segmentasi konsumen batik yang ekonominya menengah ke bawah misalnya, harga 1 potong kain batik hanya Rp 75 ribu hingga Rp 500 ribu. Batik tersebut berbahan dasar dari kain katun dan hanya melewati satu tahap pewarnaan.


Sedangkan untuk batik yang biasa dibeli kalangan ekonomi menengah ke atas, bahkan hingga tingkat menteri, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta per potong. Bahan dasarnya kain sutra asli dan melalui dua kali tahap pewarnaan. Setelah selesai diwarnai kemudian dijemur kemudian kering dan lanjut pada proses diwarnai lagi.
 
 
Dengan makin dikenalnya batik Desa Klampar, membuat warga desa tersebut semakin bersemangat membuka industri usaha kecil menengah (UKM) sebagai pengrajin batik. Tentu saja, dengan banyaknya UKM semakin mengurangi pengangguran yang ada di desa Klampar. Batik Klampar sendiri pernah memecahkan Rekor MURI dengan kategori batik terpanjang yakni 1530 meter.

Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan mulai ambil bagian dalam menata desa. Dinas tersebut memproyeksikan Desa Klampar, Kecamatan Proppo sebagai desa wisata batik di Kota Gerbang Salam. Jika teman-teman penasaran ingin melihat dan membeli Batik Klampar yang murah atau mahal bisa segera datang ke Desa Klampar yang berjarak tidak terlalu jauh dari Kota Pamekasan tersebut

Wisata Kuliner Campor Lorjuk Khas Kabupaten Pamekasan

12/28/2016 Add Comment
Berkunjung ke Kabupaten Pamekasan rasanya kurang lengkap jika teman-teman tidak mencoba wisata kuliner yang ada disana. Salah satunya adalah Kuliner Campor Lorjuk yang katanya hanya ada di Kabupaten Pamekasan saja tepatnya di Kecamatan Pademawu. Buat kalian yang asli berasal dari Pamekasan pasti tidak heran dengan kuliner yang satu ini bukan ?.

Tapi sebelum kami menjelaskan apa itu Campor Lorjuk ? seperti apa bentuknya dan bagimana rasanya, sekarang teman-teman harus tahu apa itu Lorjuk ?. Bahan utama dari Campor Lorjuk tentu adalah Lorjuk itu sendiri. Lorjuk adalah sejenis kerang laut yang banyak ditemukan di tepi pantai pesisir Madura.


Bentuknya yang panjang seperti bambu sehingga Lorjuk juga dikenal dengan kerang bambu atau kerang kuku. Jenis kerang bambu ini bisa teman-teman temukan saat air laut sedang surut yang berada di bawah pasir pantai. Untuk bisa mendapatkan kerang bambu bukanlah pekerjan yang mudah, Kenapa ? karena butuh kesabaran, kejelian dan keahlian juga.

Campor Lorjuk sendiri kalau dilihat sekilas seperti Soto, tapi kali ini sotonya berbahan Lorjuk. Satu porsi Campor Lorjuk terdiri dari irisan lontong, mie soun yang sudah dimasak, kacang (Oto’) yang dimasak dengan bumbu manis, kecambah goreh, remahan peyek, kemudian disiram dengan kuah Campor Lorjuk dan tidak lupa diberi taburan Lorjuk yang sudah dimasak dibagian atasnya sebagai topping.
Kuah gurih dari Campor Lorjuk sendiri semakin khas dengan campuran petis yang juga terbuat dari kerang bambu. Petis Lorjuk sendiri cukup terkenal di tengah-tengah masyarakat Madura, rasanya yang asin dan gurih sempurna. Panganan yang satu ini biasa disediakan jika ada tamu penting yang datang karena dirasa sangat spesial.

Harga Campor Lorjuk


Ada satu rahasia yang membuat kuah Campor Lorjuk ini terasa sangat berbeda dengan kuah lainnya. Yakni air rebusan kerang bambu ( kerang kuku ) yang membuat perbedaan rasa antara soto- soto biasa dengan campor lorjuk. Setelah lorjuk sudah dipastikan bersih secara keseluruhan, kemudian direbus lagi dengan air rebusan tadi.
Untuk menambah cita rasa, lalu dicampur bersama dengan racikan bumbu lengkap secukupnya, yang terdiri dari bawang merah, cabe merah, merica, bawang putih, pala, jahe dan juga garam. Menurut penjelasan dari salah satu penjualnya, Campor Lorjuk tidak lagi membutuhkan campuran penyedap buatan karena rasa gurih kuahnya yang berasal dari rebusan Kerang Bambu sudah sangat gurih.

Harga satu porsi Campor Lorjuk ini berkisar Rp. 5.000,- sampai Rp. 7.000,- sangat murah dan terjangkau. Kami merekomendasikan panganan ini untuk teman-teman pecinta kuliner terutama kuliner dengan rasa gurih yang juara. Penasaran ? segera datang ke Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan dan nikmati langsung rasa gurih dari Campor Lorjuk ini ya.

Kuliner Lezat Sate Lalat Khas Kabupaten Pamekasan

10/26/2016 Add Comment
Kalau teman-teman berkunjung sekaligus berlibur ke Pulau Madura tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner unik dari Kabupaten Pamekasan. Seperti yang banyak diketahui kalau Kabupaten yang bersebelahan dengan Kabupaten Sampang di sebelah barat dan Kabupaten Sumenep di sebelah timur ini memilik panganan kuliner yang beragam.

Salah satunya adalah Sate Lalat, Lala' dalam bahasa Madura atau yang kerap disebut dengan Sate Laler. Meskipun namanya Sate Lalat tapi bahan yang digunakan sama sekali tidak menggunakan lalat. Kuliner unik yang satu ini disebut dengan Sate Lalat karena ukurannya yang kecil seukuran lalat. Ukurannya yang lebih kecil ini membuat kuliner khas asli Pamekasan tersebut berbeda dengan sate yang dijual pada umumnya.

Sate lalat Pamekasan

Sate lalat ini dikembangkan dan dipopulerkan oleh orang Pamekasan sekitar 25 tahun hingga sekarang, orang pertama kali yang mengembangkan sate lalat ini adalah Bapak Ento, beliau asli Pamekasan. Bapak Ento berjualan dengan mengunakan alat-alat tradisional. Tidak menggunakan gerobak, tetapi menggunakan anyaman bambu lalu dipikul keliling kampung.

Sekarang para penjual Sate Lalat ini kerap menjual dagangannya di Pusat Makanan Niaga Kota Pamekasan. Pusat makanan rakyat Niaga berada dekat dengan Monumen Arek Lancor dan Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan. Di sepanjang jalan Niaga teman-teman sudah bisa menemukan banyak penjual Sate Lalat. Biasanya para penjual Sate Lalat ini mulai buka dari sore hari sampai malam hari. Selain ukurannya yang terbilang cukup kecil ada beberapa perbedaan antara Sate Lalat dan Sate pada umumnya.

Harga Sate Lalat Khas Pamekasan

Satu porsi Sate Lalat berisi 25 tusuk dan di setiap tusuknya diisi tiga potongan daging yang berukuran kecil. Kuliner ini biasa disantap dengan menggunakan nasi hangat atau lontong. Harga yang dibandrol untuk satu porsi Sate Lalat dan nasi adalah sekitar Rp. 13.000. Walaupun ukurannya terbilang kecil namun sangat pas di perut, tidak terlalu membuat kita kenyang.

Penjual Sate lalat Khas Pamekasan - Madura

Para pembeli biasa duduk lesehan sambil menikmati hidangan Sate Lalat dan Es Teh atau Teh Hangat. Daging yang digunakan untuk Sate Lalat bisa daging ayam dan daging kambing. Proses pembuatan bumbunya, tidak sama dengan sate-sate biasa. Sate lalat tidak menggunakan kacang goreng, tapi menggunakan kacang yang terlebih dahulu disangar (disangrai) lalu di masak dengan air setelah itu di haluskan.

Agar tidak mudah gosong, sate yang telah ditusuk sebelumnya dicelupkan ke dalam minyak goreng. Proses pemanggangan juga tidak bisa dilakukan terlalu lama. Bahkan terkadang untuk menciptakan aroma yang khas dan nikmat penjual sate lalat seringkali membuat kecapnya sendiri. Jadi, tidak heran kalau rasanya cukup berbeda dengan sate pada umumnya.

Jadi tunggu apalagi? Kalau teman-teman sedang beribur di Kabupaten Pamekasan jangan lupa sempatkan waktu untuk mencicipi Sate Lalat asli Kabupaten Pamekasan yaa..

Obyek Wisata Religi Masjid Asy Syuhada di Kabupaten Pamekasan

8/01/2016 Add Comment
Sebelum terkenal dengan objek wisata alamnya seperti Api Tak Kunjung Padam, Pamekasan sudah memiliki banyak potensi wana wisata religi yang patut untuk teman-teman kunjungi. Memang tidak bisa dipungkiri lagi kalau pulau ini sangat kental sekali dengan nuansa agamis. Salah satu objek wisata religi yang bisa dikunjungi adalah Masjid Jami’.

Dari empat Kabupaten yang ada akan ditemukan banyak masjid-masjid dan yang paling menarik perhatian adalah Masjid Jami’. Setelah berkesempatan untuk mengunjungi ketiga masjid yang ada di Madura yakni Masjid Agung Bangkalan, Masjid Agung Sampang dan Masjid Agung Sumenep. Kali ini Tim Gerbang Pulau Madura berkesempatan untuk meliput salah satu masjid kebanggaan masyarakat Pamekasan.


Masjid Asy Syuhada atau yang lebih akrab disebut dengan Masjid jami’ ini merupakan wana wisata religi yang harus kalian kunjungi saat berwisata di Kabupaten terbesar di Madura tersebut. Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan ini beralamat di Jalan Mesigit Nomor 23, Pamekasan, Madura tepat di depan Monumen Arek Lancor.


Masjid Agung Asy-syuhada merupakan Masjid terbesar dan termegah di Kabupaten Pamekasan. Dulunya Masjid Agung ini disebut dengan sebutan Maseghit Rato pada abad ke 16, namun pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini diresmikan dengan nama Masjid Agung Asy-Syuhada. Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan merupakan masjid terbesar, termegah, dan termewah di kota Pamekasan ini.

Di masjid inilah semua kalangan masyarakat berbaur menjadi satu, tidak ada lagi yang namanya kesenjangan sosial, karena mereka saling menghormati. Setelah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran, Masjid Jamik Pamekasan ini secara resmi diberi nama Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan. Meski masih banyak juga masyarakat yang menyebutnya dengan nama Masjid Jamik saja. Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan ini memiliki tiga lantai, dengan serambi yang sangat luas di setiap lantainya yang mampu menampung ribuan jamaah.

Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan ini juga memiliki menara dengan tinggi yang mencapai sekitar 37 meter, dengan taman kecil yang dihias dan di tata sedemikian rupa untuk mempercantik halaman masjid jamik ini. Selain itu disekitar lokasi masjid jamik pamekasan inipun kerap kali di adakan sebuah acara-acara yang mampu menarik minat masyarakat, tidak heran kalau lokasi ini jadi semakin ramai saja.
 

SEJARAH MASJID AGUNG ASY SYUHADA


Tragedi di Lebaran ketupat.

Di masa sekarang ini,saat lebaran ketupat biasanya identik dengan kebahagiaan menikmati ketupat. Tapi tidak bagi masyarakat kota Pamekasan pada tahun 1947.

9 Agustus 1947,seminggu setelah hari raya Idul fitri,tentara NICA Belanda mendarat di pantai selatan Pamekasan.terus bergerak kearah kota Pamekasan.

Kota Pamekasan masih bisa dipertahankan.meskipun hanya setengah hari.bantuan pasukan NICA terus berdatangan.pertempuran hebat terjadi di halaman masjid agung Pamekasaan. Karena masjid itulah yang menjadi icon Pamekasan saat itu.pusat kegiatan beribadah.Kota pamekasan dibumi hanguskan.pejuang mundur ke pegunungan di Pegantenan.wilayah perbukitan di utara kota Pamekasan.

Lebih dari 90 mayat bergelimpangan di halaman masjid agung.halaaman masjid menjadi lautan jenazah Syuhada'. Tentara NICA Belanda menguburkan jenazah2 itu dlm satu lubang di halaman masjid yang terlebih dahulu mayat2 tersebut dibakar oleh tentara NICA.

Tepat seminggu setelah Idul fitri, kota pamekasan menjadi lautan jenazah para Syuhada. Masjid itu kemudian diberi nama Masjid Agung Asy Syuhada. (oleh: Irwan Poerwowinoto)



Bagi teman-teman yang ingin mengunjungi Masjid ini maka kami sarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Bagi kalian yang menggunakan kendaraan pribadi maka bisa mengikuti arah yang menuju ke tengah kota Pamekasan, maka teman-teman pasti akan melewati lokasi Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan ini. Namun, kalau teman-teman menggunakan kendaraan umum seperti angkot, maka bisa naik angkot dengan jurusan pasar, karena juga melewati lokasi masjid ini. Lebih menyenangkan lagi jika teman-teman mencoba naik dokar (sejenis delman) untuk pergi ke lokasi Masjid.


Selain dokar jumlahnya lebih banyak daripada jumlah angkot, naik dokar berkeliling kota bisa menjadi alternatif liburan tersendiri bagi para wisatawan. Karena teman-teman bisa melihat-lihat segala aktivitas di tengah kota dengan santai, walaupuan memang harganya sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan harga angkot.

Namun teman-teman tidak perlu khawatir keseruan yang diberikan akan membuat kalian merasa lebih bersemangat daripada naik angkot. Jadi tunggu apalagi, kalau teman-teman sedang berkunjung ke Madura jangan lupa untuk coba melihat langsung kemewahan dan kemegahan arsitektur Masjid Asy Asyuhada kebanggaan masyarakat Pamekasan tersebut.

Obyek Wisata Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan

8/15/2015 Add Comment
Jika anda ingin merasakan sensasi yang berbeda dan langka saat berwisata, kami mengajak anda untuk datang berkunjung ke salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Pamekasan. Objek wisata ini dikenal dengan Api Tak Kunjung Padam yang terletak tepatnya di desa Larangan Tokol, kecamatan Tlanakan kabupaten Pamekasan.

Membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan jarak 4 km dari pusat kota Pamekasan untuk bisa sampai di objek wisata Api Tak Kunjung Padam ini. Tentunya dengan akses jalan yang sangat baik untuk bisa dilewati kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari akses Tol Suramadu anda membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua jam perjalanan.

Bila anda memilih menggunakan kendaraan umum sudah banyak bus mini dan bus patas yang bisa anda pilih dengan membayar harga sekitar Rp. 15.000 saja. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar kurang lebih 800 meter dari jalan raya.

Sama dengan namanya Api Tak Kunjung Padam merupakan sebuah objek wisata berupa semburan api yang tidak akan pernah bisa padam sekalipun diguyur air. Salah satu keajaiban api abadi yang masih terdapat di Pamekasan ini sudah sangat terkenal khususnya pada masyarakat sekitar. Nyala api yang berasal dari bawah permukaan tanah ini seperti nyala api kompor gas yang muncul ke atas permukaan tanah.

Menikmati Nyala Api Tak Kunjung Padam


Anda tidak perlu khawatir semburan nyala api akan melebar ke tempat lainnya karena nyala api hanya hidup disekitar tanah yang telah dilingkari pagar. Semakin anda menggali tanah yang terdapat di dalam area lingkaran pagar maka semakin besar semburan nyala api yang dihasilkan.


Anehnya lagi, jika anda menggali tanah di luar area yang telah dipagari maka tidak akan ada dapatkan semburan nyala api. Dengan 50 titik semburan nyala api yang ada di area lingkaran padam kami tetap mengingatkan anda untuk selalu berhati – hati utamanya bagi anda yang membawa anak kecil.

Semburan nyala api yang seperti nyala kompor dan bertekanan udara ini sering dimanfaatkan masyarakat sekitar dan pengunjung untuk memasak. Di sekitar area objek wisata Api Tak Kunjung Padam ini banyak pedagang yang menjual jagung untuk bisa di bakar di atas semburan nyala api. Hasilnya sama seperti jika anda membakar jagung di atas tungku api seperti pada umumnya, cukup sekitar beberapa menit saja jagung pun matang. Sebenaranya tidak hanya jagung saja, anda bisa memasak bahan lainnya misal saja memasak telur ceplok.

Sudah pernah dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui kandungan gas dari semburan nyala api yang terdapat di objek wisata Api Tak Kunjung Padam ini, namun hasilnya nihil tidak ditemukan kandungan gas apapun.


Konon ramai terdengar sebuah cerita lama dan sangat dipercaya oleh warga sekitar bahwa sejarah semburan nyala api atau api alam tersebut pertama kali ditemukan oleh Ki Moko dan sebuah sumber air belerang di dusan Jangkah, Ki Moko merepukan seorang yang terkenal sakti di Madura pada kala itu.

Selain unik dan aneh Objek Wisata Api Tak Kunjung Padam ini menawarkan sensasi berwisata yang memang berbeda dengan objek wisata lainnya. Tidak banyak kita jumpai wisata seperti ini, mungkin bisa dikatakan masih langka di Indonesia dan hanya ada di Pulau Madura tepatnya kabupaten Pamekasan.

Obyek Wisata Religi Vihara Avalokitesvara - Pamekasan

1/28/2015 Add Comment

Potret Toleransi Vihara Kwan Im Kiong

Kala Perbedaan Luruh di Talang Siring

Sore itu, Cakrawala di ufuk barat Pantai Talang Siring Pamekasan tampak cerah. Semburat awan menggaris indah, matahari masih menyisakan sinarnya di sela-sela awan yang berjenjang. Di Vihara Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara, seolah seluruh perbedaan luruh dalam harmoni.

Vihara itu berdiri kokoh dan megah. Namanya Vihara Avalokitesvara atau sering juga disebut Kelenteng Kwan Im Kiong, yang bersebelahan dengan lokasi Wisata Pantai Talang Siring. Menurut keterangan, bangunan seluas 3 Hektare ini didirikan pada abad 18. Sekitar 1.800 sebelum masehi. Dinamakan juga Kelenteng Kwan Im Kiong karena di dalamnya ada patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara, Dewi Welas Asih. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah 36 cm, dan tebal bawah 59 cm.

Bagi kalangan Tionghoa, Vihara ini punya keunikan tersendiri. Ada legenda atau cerita lisan yang berlangsung turun-temurun termasuk sisa-sisa peninggalan budaya zaman Majapahit.

Pada awal abad ke-16, terdapat sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo, barat Pamekasan yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit.

Raja-raja Jamburingin yang masih keturunan Majapahit itu punya rencana membangun candi untuk tempat ibadah, tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin dan mendatangkan perlengkapan lewat Pantai Talang Siring dari Kerajaan Majapahit.

Pantai Talang Siring dulu dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara. sebab, pantainya landai. Pemandangannya juga indah.

Terlebih bagi armada Kerajaan Majapahit untuk mensuplai bahan-bahan keperluan keamanan ataupun spiritual di Wilayah Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah.

Namun, setelah tiba di pelabuhan Talang, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang.

Penduduk pada waktu itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter dari pantai. Akhirnya penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi disekitar Pantai Talang.

Tempat Candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung  merupakan salah satu Desa di Kecamatan Proppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin. Burung dalam bahasa Madura berarti Gagal.

Rencana pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai memudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan sangat baik di Pulau Madura. Termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang serta lenyap terbenam dalam tanah.

Obyek Wisata Avalokitesvara di Pamekasan - Madura

ada yang menarik di dalam Vihara itu. Sejumlah perempuan berjilbab tampak asyik ber foto selfie. Sementara, ditengah komplek peribadatan umat tridarma itu, tampak berdiri Masjid, tepatnya Mushalla dan Pura.

Inilah keunikan Vihara Avalokitesvara. Ada rasa saling menghormati dan toleransi yang kental didalamnya. Seorang pengunjung H. Misbach mengemukakan, dirinya cukup sering ke lokasi ini. "Ini wujud toleransi beragama di Madura. Perbedaan memang bukan untuk dibesar-besarkan, namun harus saling menghormati" ujarnya yang kala itu datang bersama anak istrinya.

Keunikan Vihara ini bahkan menarik perhatian mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfudz MD yang merupakan asli Pamekasan. Beberapa waktu silam, dengan mengenakan baju koko putih, Mahfudz bersama sejumlah koleganya mendatangi tempat bermain di masa kecilnya itu. Menurut penuturannya, semasa kecil dirinya memang sering bermain ditempat ini. Lokasinya tak jauh dari Pantai Talang, Sekitar satu kilometer.

"Saya senang tempat itu (vihara). Saya sering kesana untuk bermain" Ujarnya kala itu. Dirinya memang penasaran terkait keberadaan masjid di areal tempat ibadah umat Tri Darma itu.

Musala berukuran 4x4 meter itu terlihat mencolok dengan warna hijau tua, dengan kubah berbentuk piramid berundak tiga, mirip Masjid Demak maupun Masjid umumnya di Pulau Jawa. Lokasinya tepat didepan kanan vihara. Meski tidak besar, pihak Vihara menyediakan tempat berwudu, sajadah (alas untuk Sholat), Mukena. Jarak musala dengan Vihara hanya 10 Meter.

Dari pengamatan Majalah Suramadu, bukan hanya musala yang berdiri di areal Vihara, tapi ada juga tempat ibadah untuk umat lain. Saya lihat disana ada Pura  paling dekat dengan Vihara. Namun ukuran Pura lebih kecil dari Musala, hanya 3x3 meter. Pembangunan Pura atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu. yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu.

"Wah, ini mestinya masuk Guinness Book of Record sebagai satu-satunya Vihara yang didalamnya ada Musala dan Pura. ini bukti bahwa umat beragama di Madura ini bisa hidup rukun dan berdampingan. Kalau tidak toleran tidak akan berdiri Vihara, apalagi di dalamnya ada tempat ibadah penganut agama lain" terang Mahfud yang masa kecilnya dihabiskan di Pamekasan ini sambil berkeliling Vihara.

"Ini seharusnya menjadi prototype tentang kerukunan di Madura. Seharusnya, perbedaan jangan dijadikan alasan untuk saling menyerang, merusak apalagi membunuh. Madura itu sebenarnya orang-orangnya bijaksana, bisa menerima perbedaan sebagai rahmat. Hanya terkadang ada yang memprovokasi" ujar Mahfudz sebagaimana dikutip sebuah Media Nasional.

Dan petang itu, Tjipto, Sudarwan dan Onggodo menyiapkan kertas bagi umat Budha yang akan bersembahyang di Vihara itu. Saat ketiganya asyik bekerja, sayup-sayup terdengar Adzan Mangrib dari kejauhan. Onggodo yang beragama Budha mengingatkan rekannya untuk melaksanakan Sholat Mangrib di Musolla yang berdiri di samping Vihara. Dan seluruh perbedaan itu luruh dalam harmoni alam. di Talang Siring, Pamekasan, Madura.

Oleh: Faisal Yasir Arifin (Majalah Suramadu, Edisi 8, Hal. 30-31)

Asal Usul Kabupaten Pamekasan - Madura

1/27/2015 Add Comment
Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten yang ada di Pulau Madura seperti Bangkalan, Sampang dan Sumenep. Pamekasan sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumenep di sebelah timur, Kabupaten Sampang di sebelah barat, Selat Madura di selatan dan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah Utara.

Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan, yang kemudian dibagi lagi menjadi 178 Desa dan 11 Kelurahan. berikut adalah nama dari 13 Kecamatan tersebut:
  • Kecamatan Tlanakan
  • Kecamatan Proppo
  • Kecamatan Pegantenan
  • Kecamatan Pasean
  • Kecamatan Pamekasan
  • Kecamatan Palengaan
  • Kecamatan Pademawu
  • Kecamatan Kadur
  • Kecamatan Larangan
  • Kecamatan Galis
  • Kecamatan Batu MarMar
  • Kecamatan Pakong
  • Kecamatan Waru

Berbicara tentang Kabupaten Pamekasan tentunya tidak akan terlepas dari nama Monumen Arek Lancor, selain itu di Kabupaten Pamekasan ini tiap tahun mengadakan event Kerapan Sapi Piala Presiden serta rangkaian acara Semalam di Pamekasan yang menampilkan kesenian khas Pamekasan serta kabupaten lainnya di Madura.

Selain itu ada tokoh yang cukup terkenal di Indonesia berasal dari Pamekasan, beliau adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud MD yang sempat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia.

Berikut adalah Daftar Wisata yang berada di Kabupaten Pamekasan:

- Pantai Talang Siring (namanya hampir mirip Pantai Siring Kemuning di Kecamatan Tanjung Bumi - Kabupaten Bangkalan) yang letaknya 10 Km kearah Timur dari Kota Pamekasan.
- Pantai Jumiang dengan jarak 15 Km dari Pusat Kota.
- Pantai Batu Kerbuy yang namanya di ambil dari sebuah batu yang berbentuk kerbau yang terletak di Kecamatan Pasean dengan luas 5 Ha.
- Api Tak Kunjung Padam yang jaraknya sekitar 4 Km dari Pusat Kota.
- Makam Keramat Pasarean Batu Ampar yang terletak di Desa Pangbatok Kecamatan Proppo sekitar 15 Km dari arah Pusat Kota.
- Vihara Alokitesvara yang berada di Kampung Candi Desa Monto' Kecamatan Galis (14 Km dari Kota Pamekasan), berdekatan dengan Pantai Talangsiring. Vihara terbesar kedua di Pulau Jawa. Salah satu keunikannya, yaitu di dalam komplek terdapat Musholla, Gereja dan Pura yang melambangkan kerukunan beragama.
- Monumen Arek Lancor yang merupakan monumen perjuangan kepahlawanan Rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.

Asal Mula dan Sejarah Kabupaten Pamekasan - Madura


Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal  pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggo Sukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini.

Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.  Munculnya sejarah Pemerintah Lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke lima belas (15) berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sumoyo yang mulai merintis Pemerintahan Lokal di daerah Proppo atau Parupuk  Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa Kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bias dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri dalam penataan untuk mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya sangat padat kegiatan dengan luas wilayah yang sangat besar.

Saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra, sedangkan kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-Islam.

Tulisan- tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan  Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan bahasa Belanda kemudian mulai diterjemahkan atau ditulils kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun-daun lontar atau layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggo Sukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di Wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan se jimat ,yaitu jalan-jalan di alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya  inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman Pemerintahan Ronggo Sukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda Kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggo Sukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Arosbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan hari jadi kota Pamekasan.

Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal
Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal

Terungkapnya sejarah Pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invasi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal di bawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh sarjana Barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigland tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Banda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit.

Sumber: http://www.pamekasankab.go.id
Lambang: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
ASAL USUL PAMEKASAN, asal usul kota pamekasan, asal mula pamekasan, kabupaten pamekasan, asal usul kota pamekasan madura, asal usul arek lancor, Asal Mula Kota Pamekasan, sejarah batu ampar madura, kota pamekasan, silsilah kota pamekasan, silsilah kyai madura, silsilah pamekasan, pantai batu kerbuy, batik tanjungbumi, asal usul api tak kunjung padam, asal mula kabupaten pamekasan, jumiang, asal mula desa jumiang, sejarah api tak kunjung padam di pamekasan, sejarah batu ampar

Wisata Alam Pantai Jumiang di Kabupaten Pamekasan

1/07/2015 Add Comment

Elok Sunrise & Tebing Karang Pantai Jumiang


Madura benar-benar memiliki banyak potensi yang menjanjikan. Pantai Jumiang salah satunya. Pantai yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan ini berjarak sekitar 12 Km Tenggara Kota Pamekasan.

Akses jalan yang bagus, dapat ditempuh dengan sarana transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Pantai Jumiang berbeda dengan beberapa pantai di Pamekasan lainnya, karena terletak di dataran tinggi dan bertebing.

Meskipun belum tersentuh pembangunan yang massif, namun Pantai Jumiang merupakan salah satu pantai wisata di Pamekasan yang menyajikan berbagai keindahan alam. Menikmati sunrise dari pantai ini, memberi sensasi tersendiri bagi penikmat.

Selain itu, gugusan tebing karang menyajikan pemandingan tersendiri. Debur ombak yang menerobos di sela-sela karang, seakan menciptakan sensasi aquatic yang indah. Seolah, waktu enggan beranjak takkala kita merejang di Jumiang.

Kelak Potensi Wisata ini harus dibangun dan dikelola dengan baik agar bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar. Saat ini, Jumiang masih dikelola oleh masyarakat desa setempat. Ketika akhir pekan, masyarakat desa menerapkan tarif Rp. 3000 untuk sekali masuk per-orang. (Faisal Yasir Arifin / Majalah BPWS edisi 8)

Potensi Wisata Alam Pantai Jumiang - Pamekasan Madura - Jawa Timur
Pantai Juming - Pamekasan (Plat-M.com)

Tradisi Okol Madura, Tradisi Minta Hujan ala Orang Pamekasan

1/06/2015 Add Comment

Tradisi Okol, Tradisi Puja Mengundang Hujan 


Siang itu ratusan orang meriung di tanah lapang. Seorang kyai sepuh duduk bersila. bibirnya mendaras doa dan puja yang tak sepenggal pun rantas. pantang surut meski sengat matahari terus menggeliat. okol, tradisi mengundang hujan yang sarat makna.

Usai Ashar, matahari masih menyengat saat di Desa Nylabu Laok, Pamekasan, Madura ratusan orang khusuk mendaras Ayat Kursi dan Wirid.

Mereka yang awalnya riuh meriung, turut larut dalam puja dan doa. Ya, siang itu mereka memang menggelar tradisi Okol. Sebuah Tradisi yang lahir dari kearifan lokal madura, sebagai salah satu upaya bermunajat kepada Allah SWT untuk mendatangkan hujan.

Tradisi Okol, Gulat Khas Pamekasan Madura
Tradisi Okol (thejakartapost.com)

Bukan sekedar bermunajat, ada salah satu pertunjukan yang dinanti-nantikan dalam acara itu. Yakni adu oto dalam gulat tradisional yang dalam bahasa Madura disebut Okol.

Sekilas, tradisi okol ini seperti orang yang hendak bergulat. Dua orang pria dewasa, berada dalam sebuah lingkaran berdiamater 3 meter. Saling berhadapan dalam posisi siaga.

Ketika wasit memberi tanda okol dimulai, kedua pria dewasa tersebut saling bertumbukan, Sorak penonton bergemuruh. Debu beterbangan hingga luar arena. Tak ada amarah, hanya ada tawa dan senyum cerah.

itulah Okol, sebuah tradisi memanggil hujan yang sudah turun temurun ada di Madura. Butuh waktu 5 sampai 10 menit untuk mengalahkan musuhkan. dalam pertandingan Okol, tidak mudah untuk menjatuhkan lawan. Sebab, disamping harus bertubuh kekar, mereka juga harus memiliki kuda-kuda yang kuat

dalam pertandingan ini, siapa yang bisa menjatuhkan musuhnya dengan posisi di bawah yang jadi pemenang. "Meskipunbisa menjatuhkan musuh, tetapi posisinya berada dibawah musuhnya, dia dinyatakan kalah" Kata Muhammad Takrib, Tetua Desa setempat.

Tradisi Okol ini biasanya dilaksanakan saat musim kemarau berkepanjangan untuk meminta hujan. tradisi itu menjadi rangkaian dari tradisi meminta meminta hujan lainnya seperti Sholat meminta Hujan (Sholat Istisqa) dan dzikir. "Biasanya digelar usai Ashar, jadi matahari masih terasa terik menyengat", imbuhnya.

Biasanya, tradisi ini digelar dari desa ke desa hingga hujan turun baru dihentikan.

Namun, kini sudah ada pergeseran budaya. Jika biasanya hanya dimainkan saat dimusim panas untuk mengundang hujan, kini saat musim hujan pun juga dimainkan. Takrib menuturkan, masyarakat di desanya sudah menganggap tradisi tersebut bukan sekedar tradisi untuk meminta hujan, melainkan sudah menjadi hiburan.

"Ketika Okol digelar, masyarakat sangat terhibur. Alasannya, petani butuh hiburan karena musim hujan yang berkepanjangan, banyak tanaman mereka yang gagal panen" terangnya.

Karena sifatnya hiburan, maka tidak dibuat kompetisi siapa yang kalah dan siapa yang menang. Hanya saja, siapa yang bisa menjatuhkan musuh dibawah maka dia yang menjadi juara satu dan yang berada diatas menjadi juara dua.

Tidak semua desa di Pamekasan menjalankan Tradisi Okol. Sukarman, pemain Okol yang sering bermain dari desa ke desa, menuturkan ada enam desa yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Salah satu desa yang hingga kini masih mempertahankan adalah Desa Nylabu Laok.

Apakah Tradisi Okol yang sudah dijadikan hiburan tidak melanggar pakem? Menurut Sukarman, sama sekali tidak. "Kalau niatnya hiburan, kan tidak masalah. Kecuali sudah ada pelanggaran tradisi, seperti menjadi ajang perjudian dan permusuhan", ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pamekasan, Nur Faisal mengatakan, Tradisi seperti itu harus terus dijaga dan jangan sampai punah. Sebab, hal itu merupakan sebuah produk kearifan budaya Madura yang memiliki nilai filosofi tinggi.

"Ini bisa menjadi salah satu aset budaya yang memiliki nilai tinggi. Dalam beberapa hal, Okol bisa menjadi salah satu daya tarik Wisata di Madura bagi orang luar yang dapat mensejahterakan rakyatnya, seperti halnya Tari Kecak di Bali. Tinggal bagaimana seluruh Stakeholder yang ada bisa memolesnya sehingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi", tandasnya. (Faisal Yasir Arifin / Majalah BPWS Edisi 8)

Wisata Pantai Talang Siring di Kabupaten Pamekasan

12/28/2014 Add Comment
Para pembaca PulauMadura.com, kali ini pembahasannya masih seputar wisata pantai. Sebelumnya sudah dibahas tentang Pantai Slopeng, Sumenep, sekarang kita akan meluncur ke kebupaten di sebelah barat Sumenep, yaitu Pamekasan. Tepatnya di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Pantai Talang Siring, begitulah namanya. Jaraknya sekitar 15 Km dari pusat kota Pamekasan.

Bisa ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan pribadi. Jika TreTan berangkat dari kota Pamekasan menggunakan angkutan umum, ongkos ke pantai ini berkisar antara Rp 3.000 - 4.000. TreTan juga tak perlu khawatir kesasar karena kebanyakan sopir angkutan umum sudah mengenalnya. Pantai ini juga agak berdekatan dengan batas wilayah bagian barat Kabupaten Sumenep, sekitar 1 Km dari pintu gerbang kabupaten.

Wisata Pantai Talang Siring Pamekasan - Madura - Jawa Timur

Pantai Talang Siring merupakan pantai dari laut selatan Madura. Sebagaimana telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa karakter pantai di bagian selatan Sumenep jarang berpasir, maka pantai ini juga memiliki karakter yang sama. Mungkin karena berdekatan dengan Sumenep. Bagi Anda yang mau mencebur ke laut, sebaiknya hati-hati karena khawatir kena batu karang.

Apa destinasi wisata yang ditawarkan pantai ini? Sebagaimana lumrahnya wisata bahari, maka yang menjadi daya tariknya adalah panorama pantai yang indah. Dari bibir pantai kita bisa menyaksikan lanskap pemandangan pantai berhias sampan-sampan para nelayan pencari ikan, atau menyaksikan rimbunnya mangrove yang hijau. Di bagian timur pantai ada jejeran rumah bagang yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Rumah bagang ini menjadi daya tarik tersendiri karena konstruksinya yang unik, seperti rumah panggung yang terbuat dari pohon bambu.


Pantai ini sangat cocok untuk liburan melepas kepenatan. Aksesnya cukup mudah karena berada di dekat jalur utama jalan Kamal-Kalianget. Pantainya persis berada di pinggir selatan jalan, sehingga dari dalam kendaraan bisa terpantau. Karena aksesnya yang mudah, pantai ini selalu ramai. Anak-anak muda seringkali datang ke sana untuk menikmati keindahannya. Mereka kadang rombongan dari sebuah komunitas. Pengunjung lainnya berasal dari pejalan jauh yang ingin sekadar istirahat sebentar di tempat tersebut.

Dua tahun terakhir pantai Talang Siring mendapat kucuran dana dari pemerintah. Beberapa infrastruktur telah dibangun untuk mendukung kenyamanan dan keindahannya. Kini sudah ada mushalla, toilet, kantor, lahan parkir, tempat duduk-dukuk, dll. Namun, sayang sekali belum ada fasilitas penginapan. Bagi Anda yang mau menginap, sebaiknya membawa tenda atau bisa menumpang ke rumah warga yang ada di sekitar pantai.

Di Pantai Talang Siring juga sudah banyak orang berjualan. Tidak perlulah Anda berat-berat membawa makanan dari rumah. Terlebih lagi, di sini ada kuliner khas bernama Rujak Lumpur Lapindo. Warung rujak ini selalu diserbu pengunjung, terutama saat hari libur. Mereka ingin menikmati sensasi rujak yang secara bahan sebenarnya tak jauh beda dengan rujak pada umumnya. Bedanya, ada di rasa. Rasa yang beda inilah yang membuat Rujak Lumpur Lapindo banyak penggemarnya.

PETA DIGITAL GOOGLE MAPS DARI ARAH SURABAYA - JEMBATAN SURAMADU MENUJU PANTAI TALANG SIRING - PAMEKASAN

Peta Lokasi menuju Pantai Talang Siring Pamekasan

Untuk bisa menikmati pantai ini, Anda tidak perlu membeli karcis. Jadi, Anda bebas keluar-masuk sesuka Anda. Berikut beberapa tips yang bisa kami bagikan kepada Anda untuk mengunjungi pantai ini:
1. Jika Anda kurang terbiasa dengan panas pantai, sebaiknya bawa topi dan sunblock agar kulit Anda tetap terjaga.
2. Kalau mau menginap, bawalah tenda karena di situ tak ada penginapan ataupun hotel.
3. Jangan lupa bawa kamera, ponsel, dll, untuk merekam momen di pantai ini.
4. Jika ingin mencebur ke laut, jangan lupa pakai sandal biar kaki agar tidak menginjak karang.

Sekian dulu review pantai Talang Siring. Semoga bisa membantu TreTan.