Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Melihat Tradisi Rokat Tase atau Petik Laut di Pulau Mandangin - Sampang

1/17/2017 Add Comment
Rokat Tase' atau yang biasa dikenal dengan Larung Laut / Petik Laut adalah salah satu adat budaya masyarakat Madura. Sebagai kepulauan yang memiliki letak geografis dikelilingi oleh lautan masyarakat Pulau Madura rutin melaksanan tradisi Rokat Tase' ini. Rokat Tase' sendiri memiliki ciri khas dan keunikan sendiri pada masing-masing daerah yang ada di Madura.


Seperti yang ada di Pulau Mandangin di Kabupaten Sampang pada hari selasa tanggal 10 Januari 2017 kemarin mengadakan Rokat Tase'. Rokat Tase’ juga disebut Petik Laut, atau Larung Sesajen bagi masyarakat Jawa, merupakan peristiwa ritual yang dilakukan para nelayan sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberi limpahan hasil ikan tangkapan di laut.

Demikian pula yang dilakukan masyarakat nelayan yang ada di Pulau Mandangin Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang. Sebelumnya perlu teman-teman ketahui Pulau Mandangin merupakan sebuah pulau yang memiliki luas sekitar 1,65 kilometer persegi dan memiliki jumlah penduduk yang cukup padat. Dengan luas pulau demikian, jumlah penduduk mencapai 18.000 jiwa, sehingga rumah-rumah tampak berdekatan dan jalan-jalan tidak begitu lebar.

Runtutan Proses Rokat Tase' di Pulau Mandangin

Upacara ritual Rokat tase’ diadakan selama tiga hari dengan beberapa tahapan. Acara Rokat tase’ sebelumnya diawali dengan acara selametan bersama warga yang diadakan di rumah Bapak Kepala Desa atau yang biasa disebut Bapak Klebun. Dalam acara selametan semua warga berkumpul untuk berdoa bersama demi kelancara acara Rokat Tase’.

Kemudian dihari kedua adalah hari jadi acara Rokat Tase’. Sejak pagi hari semua masyarakat sudah bersiap dengan berkumpul di sebuah musholla. Di area musholla tempat berkumpul terdapat dua makam sosok penting di Pulau Mandangin yakni Bangsacara dan Ragapadmi. Sebelum menuju tepi pantai untuk memulai acara kembali diadakan doa bersama sembari membaca sholawat bersama.


Di lain sisi, masyarakat Pulau Mandangin sudah selesai menghias perahu untuk acara Rokat Tase’ tidak ketinggalan juga pernak-pernik yang akan dibawa dan yang diarung ke laut. Selama acara berlangsung arus transportasi laut menuju Pulau Mandangin pun ditutup untuk umum.

Acara Rokat Tase’ sendiri difasilitasi oleh masyarakat dan dinas terkait dengan bergotong royong sehingga acara berlangsung ramai dan meriah, selain itu ada aparat Kepolisian dan TNI serta Wakil Bupati Sampang turut hadir memeriahkan acara Rokat Tase' di Pulau Mandangin. Pada kegiatan kemarin kita dari Tim Gerbang Pulau Madura bersama perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sampang turut mengabadikan acara Rokat Tase'. Acara dimulai dari jam 07.00 pagi hingga selesai pada siang menjelang sore hari.


Pada hari ketiga sekaligus hari terakhir merupakan acara ludruk dan hiburan rakyat lainnya. Rokat Tase’ sendiri rutin diadakan setiap tahun pada bulan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, acara ini biasa ditunggu-tunggu oleh semua masyarakat di Pulau Mandangin. Jika teman-teman ingin melihat langsung acara Rokat Tase’ di Pulau Mandangin ini bisa datang langsung tahun depan.

VIDEO LIPUTAN TRADISI ROKAT TASE' DI PULAU MANDANGIN


Tradisi Tidur di Pasir Kampung Pasir Desa Legung - Sumenep

1/02/2017 Add Comment
Bukan hanya menyimpan kekayaan wisata alamnya, Pulau Madura juga memiliki adat dan tradisi tersendiri yang mungkin akan membuat teman-teman tidak percaya saat mengetahuinya. Salah satunya yang ada di Kabupaten Sumenep, ada suatu kebiasaan khusus yang dilakukan oleh masyarakatnya disana.

Tepatnya di desa Legung Timur Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep, masyarakatnya terbiasa tidur di atas kasur pasir. Bukan hanya di desa Legung Timur, kebiasaan unik ini juga bisa teman-teman temukan di dua desa lainnya yang masih berada di Kabupaten Sumenep yakni desa Legung Barat dan desa Dapenda.


Tidur di atas pasir, hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun bagi warga sekitar dan merupakan kewajiban setiap rumah memiliki kasur pasir dalam rumahnya. Bahkan tidak hanya di dalam rumah saja masyarakat setempat menaruh pasirnya, di halaman rumah dan tempat-tempat tertentu juga ada pasir yang digunakan untuk bersantai bersama keluarga dan tetangga.


Tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun secara turun-temurun. Bahkan kebanyakan anak di Desa Legung dilahirkan di atas pasir juga. Jadi, sedari kecil mereka memang sudah akrab dengan kasur berpasir. Mereka lahir, bermain, bertumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa di atas pasir sehingga tak jarang ada yang menyebutnya Manusia Pasir

Di setiap kamar maupun di ruang istirahat di tiga desa itu pasti didapati tumpukan pasir yang dijadikan tempat tidur. Sekalipun di kamar ada tempat tidur, seperti pada umumnya, mereka nyaris tidak pernah menggunakannya. Meskipun begitu para warga tetap memilih tidur di atas kasur dari pasir tersebut.

MANFAAT TIDUR DI KASUR PASIR

Warga tiga desa yang mayoritas sebagai nelayan, sebagian lainnya pedagang dan bertani, menganggap pasir memberi manfaat besar berupa kesehatan bagi tubuh.Mereka juga menganggap tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibandingkan dengan kasur kapuk maupun spring bed yang harganya jutaan rupiah.


Pasir yang diambil dari sekitar Pantai Lombang itu tidak lengket di kulit atau tubuh meski kulit dalam keadaan basah. Butiran pasir tersebut memiliki kristal pasir yang sangat halus, bersih mengkilap, dan memiliki warna putih gading. Sebelum digunakan pasir akan diayak untuk memastikan tidak ada batu atau benda berbahaya lain di dalamnya. Pasir lalu dijemur agar tak basah atau lembab.

Warga yang memanfaatkan pasir sebagai tempat tidur atau istirahat bukan hanya mereka yang kelas ekonomi menengah ke bawah, melainkan warga yang sudah mempunyai kemampuan lebih, masih tetap tidur di atas pasir. Bagi teman-teman yang ingin pergi ke Desa Legung dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Kota Sumenep.

Penasaran ingin mencoba Tidur diatas Kasur Pasir ? segera datang ke Kampung Pasir, Desa Legung, Kabupaten Sumenep.

Seni Tradisi Ojung atau Ojhung Khas Kabupaten Sumenep

10/25/2016 Add Comment
Sudah menjadi kebiasaan saat teman-teman berkunjung pada suatu daerah akan dijamu dengan kebiasaan, adat dan budaya yang ada di tempat tersebut. Hal tersebut juga berlaku saat Tim Gerbang Pulau Madura berkesempatan untuk mendampingi kunjungan peserta Pemberdayaan Masyarakat untuk Desa Wisata di Sumenep. Dalam kunjungan wisata kali itu kami diajak untuk menikmati salah satu seni tarung yang sudah menjadi turun temurun di sebuah desa yang ada di Kabupaten Sumenep.

Ojhung merupakan nama dari seni bertarung yang menggunakan tongkat. Sebenarnya kesenian ini bukan hanya ada di tanah Madura saja melainkan sudah tersebar di beberapa daerah yang ada di Jawa Timur. Tongkat diduga menjadi salah satu seni senjata tertua yang sudah digunakan oleh manusia. Kesenian tarung ini sudah hampir punah oleh sebab itu beberapa pihak Pelaku Wisata di Madura berupaya untuk kembali melestarikan budaya ini.

SEJARAH KESENIAN OJHUNG SUMENEP

Tradisi seni tarung Ojhung ini digagas pertama kali oleh tokoh masyarakat Desa Bunbere’ almarhum Kiai Darun. Sejarah awal Ojhung ini memiliki banyak versi salah satunya adalah pagelaran tersebut diadakan sebagai wujud rasa syukur atas sumber air yang masih tetap lancar mengalir tidak mengenal musim. Sebelum acara Ojhung dimulai warga mengaji dan membca tahlil bersama di Asta K. Moh Syakim.

Tradisi Ojhung ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali untuk keselamatan desa. Karena, jika pagelaran Ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali terjadi perang, pertengkaran antar warga, dan musibah-musibah lainnya. Sumber air titisan K. Moh Syakim pun sampai sekarang masih mengalir deras baik itu di musim kemarau. (Sumber: "Kesenian Tradisional Ojhung terus dijunjung" / Koran Madura / 31 Desember 2012 / No. 0025)

Seni Tarung Ojhung tidak jauh berbeda dengan seni tarung pada umumnya, dimainkan oleh dua pemuda dengan menggunakan pelindung badan yang terbuat dari karung Goni. Karung Goni tersebut dibalutkan mulai dari kepala, kedua tangan sampai badan kecuali tangan sebelah kanan dan kedua kaki. Konon, tradisi Ojung tempo dulu sering digelar saat selamatan desa, tolak balak atau sedang mendapat kegembiraan bersama disuatu wilayah. Sehingga mereka berkumpul dan mengadu kekuatan tubuh.

Tidak semua orang bisa ikut serta menjadi pemain dalam tradisi Ojhung ini, selain harus berani dan bertubuh kebal, juga kekuatan memukul dengan rotan serta seni menghindari dari pukulan lawan menjadi tolak ukur peserta Ojung. Sehingga permainan Ojhung ini sangat tidak diperbolehkan untuk anak-anak karena cukup berbahaya.

Jika tidak, maka pukulan rotan atau tongkat yang disediakan khusus oleh panitia bakal melukai kulit pemain. Memang seringkali terjadi bagi pemain pemula, pukulan rotan berukuran besar yang menyasar di lengan dan tubuh belakang dan samping melukai kulit dengan darah segar mengalir. Tetapi, bagi mereka yang sudah biasa bermain Ojung, bekas pukulan rotan tak terlihat. Ini biasanya dinilai yang paling jago dan mendapat tepuk tangan meriah oleh penonton.

Pemenang dalam permainan Ojhung ini dinilai dari seberapa banyak mereka memberikan pukulan kepada lawannya. Jadi, bila lebih banyak menerima pukulan apalagi tongkat rotan yang dipegangnya lepas dari tangan dianggap kalah oleh penonton. Salah satu perangkat budaya, yang kemudian menjadi tradisi, yaitu Ojung atau Ojhung, suatu bentuk tradisi yang cenderung mengarah pada bentuk ritual, meski dengan cara kekerasan dan melukai.


Namun sebagaimana tradisi yang dianggap “keras” itu, pada dasarnya untuk menjalin tali silaturrahim dan mencipta kekerabatan lebih dekat antar “saudara”. Selama permainan, ada dua orang yang mengatur jalannya Ojung tersebut. Dia disebut Peputo (Wasit). Perannya, selain menjaga permainan tetap profesional dan sportif, juga menjaga pihak penonton atau kerabatnya ikut memukul pemain bila dianggap kalah.

Ada kebiasaan yang unik saat mencari lawan karena tidaklah sulit, di arena gelanggang 10x10 meter itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju. Jadi, kalau teman-teman sedang berkunjung ke Kabupaten Sumenep jangan lupa untuk menikmati seni tarung ini.

Karena tidak setiap hari seni tarung Ojhung atau Ojung Sumenep ini bisa ditonton jadi hanya teman-teman yang sedang beruntung saja yang bisa menikmatinya secara langsung.

VIDEO PERSIAPAN SENI OJUNG SUMENEP


Mengenal Tradisi Musik Patrol atau Ul Daul Khas Madura

7/07/2016 Add Comment
Setiap bulan Ramadhan tiba menjadi berkah tersendiri bagi semua umat muslim tidak terkecuali masyarakat di Pulau Madura. Suasana bulan puasa di Madura begitu terasa kental maklum saja hampir sebagian besar masyarakat disini beragama muslim. Ada banyak kebiasaaan yang menjelma menjadi sebuah tradisi turun temurun untuk mengisi datangnya bulan puasa.

Selain banyaknya penjual takjil, kembang api, Kuliner Ramadhan dan semua atribut tradisi lainnya. Beberapa waktu yang lalu Tim Gerbang Pulau Madura berkesempatan untuk datang dan meliput salah satu kegiatan sekaligus tradisi orang Madura yakni parade musik Tongtong atau yang akrab disebut dengan Musik Patrol.


Sejarah Musik Patrol atau Ul Daul Khas dari Pulau Madura


Musik Patrol atau Ul Daul sendiri adalah salah satu jenis musik Madura yang dulunya berfungsi untuk membangunkan warga saat jam makan sahur tiba. Musik Tongtong ini jika didengarkan sangat menarik, memiliki irama harmonis ketika dimainkan secara bersama. Musik ini dimainkan dengan tidak mengutamakan hasil suara yang nyaring, melainkan mengutamakan pada harmonisasi suara dari bermacam jenis alat musik yang digunakan pemain untuk ditabuh

Kata Tong Tong yang terdapat dalam Musik Tong Tong diambil dari salah satu istilah tiruan bunyi yang digunakan untuk menyebut satu kelompok alat musik. Tong Tong sendiri berupa kentongan yang dibuat dari batang bambu besar (bungbung) atau akar bambu yang besar (bungkel). Sedangkan Tong tong atau kentongan yang berukuran lebih besar, terbuat dari pokok pohon kelapa atau pohon siwalan yang dilubangi, sesuai dengan kebutuhan ukuran dan bunyinya.

Saat dimainkan oleh para pemain, musik Tongtong selain dalam bentuk instrumen,juga dilengkapi dengan nyanyian. Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya secara bersama-sama dengan lagu-lagu Madura, seperti Olle Olang, Pajjar Lagghu, serta lainnya dalam bentuk MP3 dan kadang pula dinyanyikan dengan lagu-lagu qosidah.

Setiap satu kelompok pemain musik Tongtong ini rata-rata terdiri dari 15 pemain, yang setiap malam berkeliling kampung atau desa untuk membangunkan warga sambil membunyikan alat kentungan yang mereka bawa. Tidak jarang juga di kelompok pemain musik Tongtong ini terdapat anak kecil yang berpartisipasi ikut berkeliling.

Selain membawa kentungan yang terbuat dari bambu, para pemain musik ini juga membawa alat musik buatan seperti botol galon air minum, panci, kaleng-kaleng bekas berukuran besar dan untuk parade biasanya ditambahkan alat instrumen drum band. Para pemain musik Tongtong ini biasa berkeliling kampung selama satu jam, keberadaan mereka sangat membantu warga kampung untuk tidak telat bangun sahur.

Dari Musik Tongtong Kampung Menjadi Parade Musik


Tradisi musik Tongtong atau musik patrol ini selalu berhasil menarik perhatian warga sehingga berubah menjadi sebuah parade musik yang setiap tahun diadakan. Beberapa hari yang lalu di Kota Bangkalan diadakan parade musik patrol oleh Polres Bangkalan dan Pemerintah Daerah Bangkalan.

Kegiatan parade musik ini akan diselenggarakan secara rutin setiap bulan ramadhan tiba. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Kapolres Bangkalan dihadapan semua warga Bangkalan yang malam itu ramai-ramai datang ke alun-alun untuk melihat langsung kemeriahan musik patrol ini.


Rupanya masyarakat begitu antusias mendengar rencana kegiatan parade musik setiap tahun. Akan ada 18 kelompok pemain musik Tongtong dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini tidak terbatas peserta dan membuka banyak kesempatan bagi para kelompok pemain yang baru untuk ikut serta meramaikan parade musik ini.

Kalau teman-teman penasaran ingin menonton sekaligus menikmati langsung alunan musik Tongtong ini bisa datang ke alun-alun Kota Bangkalan setiap bulan Ramadhan di hari tertentu. Biasanya parade musik ini diadakan pada saat malam hari setelah sholat Tarawih. Ketika tampil dalam parade, biasanya atribut musik Tongtong lebih beragam lagi seperti obor api, para penari, odong-odong yang dihias supaya bisa dinaiki oleh para pemain musik dan lain sebagainya.

Untuk bisa menonton parade musik patrol ini teman-teman tidak akan dipungut biaya, semua orang bisa menonton secara bebas. Para peserta parade yang berkelompok akan mengelilingi beberapa jalanan utama Kota Bangkalan, dengan jarak tempuh sekitar 3 km. Kelompok musik yang paling menarik akan mendapatkan hadiah sebuah tropi dan uang tunai.

Dengan adanya parade Musik Patrol atau Ul Daul Khas Madura ini diharapkan untuk bisa melestarikan budaya dan tradisi musik Tongtong. Memperkenalkan kepada semua masyarakat luas di luar Madura agar mereka bisa datang menonton salah satu musik khas Orang Madura ini.

VIDEO LOMBA MUSIK PATROL DI BANGKALAN



Galeri Foto Kerapan Sapi Madura 2015

10/30/2015 Add Comment
Event Kerapan Sapi yang diadakan pada tanggal 18 Oktober 2015 di Stadion RP. Moh. Noer kemarin berjalan sukses dan meriah. Dengan sekitar 36 pasang sapi yang datang dari berbagai daerah di Bangkalan. Seperti biasanya even Kerapan Sapi selalu mampu menarik ribuan penonton baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu saja, banyak para reporter dan jurnalis yang berasal dari beberapa media lokal maupun nasional datang untuk meliput acara.

Banyak sekali momen – momen langka yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Rasa semangat para joki yang menggiring sapi – sapi untuk berlari kencang, perjuangan setiap tim untuk mempersiapkan sapi, sorak gembira para penonton, para pedagang makanan dan minuman yang bersemangat menawarkan dagangannya serta masih banyak momen langka lainnya.

Hal ini tentu tidak kita sia – siakan begitu saja, jalannya pertandingan Kerapan Sapi yang begitu ramai sudah kami abadikan dalam beberapa foto. Supaya kalian yang belum berkesempatan untuk datang menonton pertandingan secara langsung bisa menikmati setiap aksi seru dan momen berharga melalui hasil jepretan tim Pulau Madura. Berikut telah kita pilihkan Foto Kerapan Sapi Madura yang berhasil didapatkan, semoga bisa memuaskan kalian semua ya

FOTO KERAPAN SAPI MADURA 2015


Kerapan Sapi 2015 Tingkat Kabupaten Bangkalan


Foto Kerapan Sapi Madura 2015


Kerapan Sapi Madura Tingkat Kabupaten Bangkalan 2015

Kerapan Sapi Tingkat Kabupaten Bangkalan 2015

Tragedi Kerapan Sapi Madura 2015


KETERANGAN:

Jika teman - teman membutuhkan foto atau file asli kerapan sapi diatas, silahkan hubungi kami atau email ke tretans@gmail.com.

Sejarah, Tradisi dan Kontes Sapi Sonok di Madura

10/24/2015 Add Comment
Pulau Madura begitu terkenal dengan warisan wisata budayanya yakni Kerapan Sapi. Ajang internasional ini mampu menarik beribu penonton untuk datang. Minggu lalu empat kabupaten di Madura serentak mengadakan Kerapan Sapi untuk mendapatkan perwakilan yang akan kembali di pertandingkan pada Kerapan Sapi Piala Presiden pekan depan.

Bulan ini juga ada pertandingan yang melibatkan sapi, tapi bukan Kerapan Sapi, melainkan Sapi Sonok. Sapi Sonok adalah kontes kecantikan sepasang sapi betina, wisata budaya ini sudah ada sejak 50 tahun yang lalu. Namun rupanya Tradisi Sapi Sonok tidak seterkenal Kerapan Sapi, jadi masih asing di dengar masyarakat.


Berbeda dengan Kerapan Sapi yang mengandalkan kecepatan sapi untuk berlari kencang di arena lapangan. Sepasang sapi betina yang ada di karnaval budaya lebih menonjolkan keindahan dan keserasian pasangan sapi. Dengan penuh hiasan di badan sapi seperti sepasang pengantin, kemudian berjalan berlenggak – lenggok mengikuti alunan musik tradisional dari Gong, Terompet dan Kenong.


Setiap tahun selalu diadakan konten Sapi Sonok dengan mendatangkan sapi sapi terbaik dari seluruh wilayah Pulau Madura. Sapi juga menjadi identitas Pulau Madura yang sudah sangat terkenal dimana saja. Kontes Sapi Sonok ini hampir berbarengan dengan Kerapan Sapi yang rutin diselenggarakan.

SEJARAH SAPI SONOK MADURA

Sapi Sonok juga memiliki cerita sejarah sendiri, dimulai dari kebiasaan para petani di Kabupaten Pamekasan dalam merawat sapi ternak mereka. Setiap sore sapi - sapi betina ini dimandikan setelah itu ditali pada tonggak kayu dan kemudian berjejer rapi.

Rupanya hal ini menjadi keisengan para petani untuk melakukan sebuah pemilihan sapi tercantik, termulus dan terbaik. Lambat laun, kontes – kontes kecil inipun berkembang menjadi kontes tingkat desa, kecamatan dan kabupaten dan sejak saat itu sapi - sapi peserta kontes itu dinamai sapi sonok.

Dalam kontes Sapi Sonok ini memang menggunakan sapi betina karena sapi jantan lebih banyak digunakan pada Kerapan Sapi. Jika awalnya kontes Sapi Sonok ini hanya dinilai dari segi fisik saja dengan berjalannya waktu terjadi perubahan dalam penilaian. Selain segi fisik, sepasang sapi betina ini juga akan dinilai dari penampilan aksesorin yang digunakan dan keserasian.

Tidak jauh berbeda dengan Kerapan Sapi rupanya konten Sapi Sonok ini menjadi ajang pamer gengsi antar peserta. Pemenang kontes Sapi Sonok juga tidak kalah dengan Sapi Kerapan dengan harga jual yang melambung tinggi. Harga Sapi Sonok bisa mencapai ratusan juta dan bisa menjadi lebih mahal lagi tergantung dari tingkat kualitasnya.


Jadi tidak heran jika Sapi Sonok juga dipanggil dengan sapi elit di Madura karena harga jualnya yang ratusan juta tersebut. Untuk masalah perawatan sehari – hari rupanya Sapi Sonok tidak jauh berbeda dengan Sapi Kerapan. Untuk bisa menghasilkan sepasang Sapi Sonok yang terbaik dibutuhkan ketelatenan, waktu dan pastinya biaya yang tidak sedikit.

Sebelum bisa tampil di kontes Sapi Sonok, sapi – sapi tersebut telah dilatih sejak usia 3 tahun dengan perlakuan khusus dan nutrisi makanan yang terbaik. Setiap seminggu sekali sapi – sapi tersebut rutin diberi jamu yang telah dicampur dengan sekitar 15 butir telur. Bisa dibayangkan saja selain cantik mempesona sepasang Sapi Sonok juga kuat.

Selain itu ada perlakuan khusus lainnya yang didapat para sapi – sapi ini mereka dimandikan dengan shampo dan sabun. Tidak tanggung – tanggung para pemilik sapi juga kerap mendatangkan dokter hewan setiap 3 bulan sekali guna memeriksa kesehatan sapi mereka. Tidak hanya itu saja, ternyata aksesoris yang digunakan dalam kontes Sapi Sonok bisa mencapai harga ratusan ribu.

Semakin tidak diragukan lagi kalau Pulau Madura menyimpan berjuta keindahan dan keeksotisan sebuah pulau. Mari kunjungi Pulau Madura, temukan langsung keindahan alamnya, keramahan masyarakatnya dan rasa spiritualisme yang begitu kuat.

Tradisi Gumbak atau Pencucian 24 Pusaka di Kabupaten Sampang

9/20/2015 Add Comment

Tradisi Gumbak


Di tengah gempuran budaya dari luar, masyarakat Desa Banjar, Kecamatan Kedungdung, Sampang, Madura, masih melestarikan tradisi “gumbak”. Gumbak adalah kata dalam bahasa Madura yang artinya mengaduk-aduk air sungai sehingga bergelombang. Tradisi ini berupa pencucian 24 senjata pusaka pada malam tanggal 14 dan 17 Dzulhijjah dan sudah berlangsung selama ratusan tahun.




Berawal dari dua orang tokoh sakti yang disebut Buju’ Toban dan Buju’ Kenek yang pandai membuat senjata sakti dari tanah liat. Senjata yang dibuat oleh dua orang ini berjumlah 50 buah. Namun yang masih ada di tangan masyarakat adalah 24 senjata. Bentuknya beragam, mulai dari tombak, clurit, pedang, linggis hingga pisau bermata dua. Senjata pusaka ini dikeramatkan dan disimpan di Masjid Banjar.

Setiap tahunnya, upacara gumbak digelar bersamaan dengan upacara bersih desa, yang bertujuan untuk bersyukur dan memohon kemakmuran desa. Diawali oleh gundeggan berupa persiapan pemberangkatan yang dikuti oleh semua warga desa dan ulama.

Selanjutnya adalah rerembagan (musyawarah) untuk membahas persiapan dan pelestarian tradisi gumbak. Untuk menolak bala’ (musibah), ada juga penyembelihan kambing hitam mulus di tanah Galis. Hasil kurban lalu dibagi ke semua warga untuk ditanam di depan rumah masing-masing.


Acara selanjutnya adalah okolan (pertarungan tokoh) untuk menentukan dan memilih pembela keamanan desa. Para pemuda yang terpilih menunjukkan kebolehannya dalam beladiri dan melakukan pertarungan satu lawan satu. Pemenangnya akan menjadi penjaga keamanan desa. Sedangkan yang kalah diberikan ketupat yang dikalungkan ke lehernya sebagai tanda persaudaraan.

Dalam setiap kegiatan, dzikir dan do’a tak pernah lepas dari orang Madura. Begitupun dengan tradisi gumbak. Setelah okolan, ulama memimpin warga untuk ber-tafakkur dan taqarrub, melantunkan dzikir dan do’a agar mendapatkan keberkahan. Nasi tumpeng dibagikan ke warga sesudahnya.

Upacara bacemman yang dilakukan selanjutnya adalah penyucian dan pembersihan 24 senjata pusaka. Senjata dicuci, diasapi dengan kemenyan, dan dibawa berkeliling di beberapa tempat yang dikeramatkan sambil meliuk-liukkan badan, dengan iringan tabbuwan colo' (musik acapella) kemudian dilanjutkan dengan tarian kenca’.

Tempat yang dikeramatkan adalah: Masjid Berguh, Somor Saronen, Buju’ Tobban, Buju’ Klebun Kene’, Buju’ Karim, Glidhigen dan rumah juru kunci “Mak Ramah”. Tradisi gumbak diakhiri dengan terbangan (musik rebana) yang diiringi dengan tarian “hadrah jidhor”. Setelah semua proses dijalani, 24 senjata pusaka dikembalikan ke tempat penyimpanan semula di Masjid Banjar.

Jamaluddin
Alumnus STAIN Pamekasan
Blogger pengampu www.bangjamal.my.id

Facebook: Shodaime No Jamal
Twitter: @zb_jamal

Tradisi Okol Madura, Tradisi Minta Hujan ala Orang Pamekasan

1/06/2015 Add Comment

Tradisi Okol, Tradisi Puja Mengundang Hujan 


Siang itu ratusan orang meriung di tanah lapang. Seorang kyai sepuh duduk bersila. bibirnya mendaras doa dan puja yang tak sepenggal pun rantas. pantang surut meski sengat matahari terus menggeliat. okol, tradisi mengundang hujan yang sarat makna.

Usai Ashar, matahari masih menyengat saat di Desa Nylabu Laok, Pamekasan, Madura ratusan orang khusuk mendaras Ayat Kursi dan Wirid.

Mereka yang awalnya riuh meriung, turut larut dalam puja dan doa. Ya, siang itu mereka memang menggelar tradisi Okol. Sebuah Tradisi yang lahir dari kearifan lokal madura, sebagai salah satu upaya bermunajat kepada Allah SWT untuk mendatangkan hujan.

Tradisi Okol, Gulat Khas Pamekasan Madura
Tradisi Okol (thejakartapost.com)

Bukan sekedar bermunajat, ada salah satu pertunjukan yang dinanti-nantikan dalam acara itu. Yakni adu oto dalam gulat tradisional yang dalam bahasa Madura disebut Okol.

Sekilas, tradisi okol ini seperti orang yang hendak bergulat. Dua orang pria dewasa, berada dalam sebuah lingkaran berdiamater 3 meter. Saling berhadapan dalam posisi siaga.

Ketika wasit memberi tanda okol dimulai, kedua pria dewasa tersebut saling bertumbukan, Sorak penonton bergemuruh. Debu beterbangan hingga luar arena. Tak ada amarah, hanya ada tawa dan senyum cerah.

itulah Okol, sebuah tradisi memanggil hujan yang sudah turun temurun ada di Madura. Butuh waktu 5 sampai 10 menit untuk mengalahkan musuhkan. dalam pertandingan Okol, tidak mudah untuk menjatuhkan lawan. Sebab, disamping harus bertubuh kekar, mereka juga harus memiliki kuda-kuda yang kuat

dalam pertandingan ini, siapa yang bisa menjatuhkan musuhnya dengan posisi di bawah yang jadi pemenang. "Meskipunbisa menjatuhkan musuh, tetapi posisinya berada dibawah musuhnya, dia dinyatakan kalah" Kata Muhammad Takrib, Tetua Desa setempat.

Tradisi Okol ini biasanya dilaksanakan saat musim kemarau berkepanjangan untuk meminta hujan. tradisi itu menjadi rangkaian dari tradisi meminta meminta hujan lainnya seperti Sholat meminta Hujan (Sholat Istisqa) dan dzikir. "Biasanya digelar usai Ashar, jadi matahari masih terasa terik menyengat", imbuhnya.

Biasanya, tradisi ini digelar dari desa ke desa hingga hujan turun baru dihentikan.

Namun, kini sudah ada pergeseran budaya. Jika biasanya hanya dimainkan saat dimusim panas untuk mengundang hujan, kini saat musim hujan pun juga dimainkan. Takrib menuturkan, masyarakat di desanya sudah menganggap tradisi tersebut bukan sekedar tradisi untuk meminta hujan, melainkan sudah menjadi hiburan.

"Ketika Okol digelar, masyarakat sangat terhibur. Alasannya, petani butuh hiburan karena musim hujan yang berkepanjangan, banyak tanaman mereka yang gagal panen" terangnya.

Karena sifatnya hiburan, maka tidak dibuat kompetisi siapa yang kalah dan siapa yang menang. Hanya saja, siapa yang bisa menjatuhkan musuh dibawah maka dia yang menjadi juara satu dan yang berada diatas menjadi juara dua.

Tidak semua desa di Pamekasan menjalankan Tradisi Okol. Sukarman, pemain Okol yang sering bermain dari desa ke desa, menuturkan ada enam desa yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Salah satu desa yang hingga kini masih mempertahankan adalah Desa Nylabu Laok.

Apakah Tradisi Okol yang sudah dijadikan hiburan tidak melanggar pakem? Menurut Sukarman, sama sekali tidak. "Kalau niatnya hiburan, kan tidak masalah. Kecuali sudah ada pelanggaran tradisi, seperti menjadi ajang perjudian dan permusuhan", ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pamekasan, Nur Faisal mengatakan, Tradisi seperti itu harus terus dijaga dan jangan sampai punah. Sebab, hal itu merupakan sebuah produk kearifan budaya Madura yang memiliki nilai filosofi tinggi.

"Ini bisa menjadi salah satu aset budaya yang memiliki nilai tinggi. Dalam beberapa hal, Okol bisa menjadi salah satu daya tarik Wisata di Madura bagi orang luar yang dapat mensejahterakan rakyatnya, seperti halnya Tari Kecak di Bali. Tinggal bagaimana seluruh Stakeholder yang ada bisa memolesnya sehingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi", tandasnya. (Faisal Yasir Arifin / Majalah BPWS Edisi 8)