Sejarah KH Kholil Bangkalan: Mempersiapkan Pemimpin Berilmu

12/24/2014
Sebagai seorang yang hidup di zaman penjajahan, KH Moh Kholil juga tak terlepas dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Dengan caranya sendiri beliau melakukan perlawanan dengan mempersiapkan pemimpin yang berilmu, punya wawasan dan tangguh.

Beliau dalam melawan kaum penjajah lebih banyak berada di belakang layar, dengan tidak segan segan memberi Suwuk atau kekuatan bathin kepada pejuang.

Masjid Syaichona Moh Kholil

Suatu ketika beberapa pejuang pelarian dari Jawa bersembunyi di kompleks Pesarean Demangan. Namun tercium oleh tentara penjajah yang langsung mengerahkan bala tentaranya. Saking jengkelnya karena menyembunyikan kaum pejuang, penjajah membawa KH Moh Kholil untuk ditahan. Dengan harapan para pejuang itu mau menyerahkan diri.

Tapi apa yang terjadi, para pejuang itu tidak menyerahkan diri. Malah penjajah dipusingkan oleh berbagai kejadian yang membuat mereka tak mengerti. Mula-Mula semua pintu tidak bisa ditutup ketika KH Moh Kholil dimasukkan kedalam tahanan. Ini membuat mereka harus menjaga siang malam, kalau tidak ingin tahanan yang lain melarikan diri.

Beberapa hari kemudian, ribuan orang dari berbagai penjuru Madura, bahkan dari Jawa datang untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada KH Moh Kholil. Tentu saja ini memusingkan penjajah yang akhirnya mengeluarkan larangan mengunjungi tahanan. Tapi ini juga tak menyelesaikan masalah. Akhirnya KH Moh Kholil dilepaskan dari tahanan.

Sebenarnya bakat diluar jangkauan pikiran manusia itu mulai nampak sejak berusia belasan tahun. Beliau pada saat itu nyantri kepada Kyai Muhammad Noer di Pesantren Langitan Tuban. Kyai Mohammad Noer jadi terkejut. Ternyata santri yang nyentrik ini mampu membaca secara persis apa yang terlintas di benaknya.

Sejak saat itu Kyai Mohammad Noer sangat hati-hati dalam menghadapi Kholil, santri muda yang bukan saja sangat cerdas, tapi juga mempunyai kelebihan mengindra hal-hal yang Gaib, Kyai Kholil dikenal sebagai kyai yang suka berbuat yang aneh-aneh. Penuh teka-teki dan misteri. Walaupun demikian perbuatan yang aneh-aneh itu oleh masyarakat dianggap sebagai isyarat tertentu.

Misalnya ketika beliau mengusir Wahab Hasbullah dari pesantrennya dan menyuruh nyantri kepada Kyai Hasyim Asyari, murid seniornya yang mendirikan pesantren Tebuireng, Jombang. Padahal sebelumnya beliau sering nyantri dalam bulan puasa pada kyai Hasyim Asyari. Padahal semua orang tahu, Kyai Hasyim Asyari adalah santrinya.

Bagi kalangan pesantren hal ini merupakan isyarat pengakuan beliau terhadap derajat keilmuan dan intensitas Kyai Hasyim. Karena itu tak aneh kalau dikemudian hari pesantren Tebuireng dibanjiri santri dari berbagai daerah di tanah air.

Kyai Kholil kadang berlaku tega terhadap santrinya. Misalnya terjadi ketika Abdul Karim berguru kepadanya. Semua bekal diminta sehingga tak punya apa-apa lagi. Akhirnya selama nyantri 5 tahun, ia lebih sering kelaparan. Namun oleh Abdul Karim perlakuan yang demikian dianggapnya sebagai syarat tertentu. Ternyata sepulang dari nyantri ia mendirikan pesantren yang cukup besar dan terkenal.

Sebelumnya: Kisah Kyai Kholil, Bangkalan: Santrinya Jadi Tokoh Penting

Kyai Kholil merupakan seorang figur yang alim dalam bidang Ilmu Nahwu, Fikh dan Tasawwuf. Hafal Al-Quran, termasuk Qur'an Sab'ah, Juga kemampuannya dalam hal yang luar biasa, sehingga wajar jika sebagian besar ummat Islam meyakini sebagai salah seorang Waliyullah.

Namun pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H atau tahun 1925 M, beliau meninggal yang dimakamkan di pesarean Martajasah, dekat pohon mlinjo yang sering dijadikan tempat istirahat ketika berziarah ke makam ayahandanya.

Meskipun demikian, jejak langkahnya kini tetap kelihatan tegas ditambah para penerus dan pengikutnya. menurut hasil penelitian Fathur Rachman Said yang mantan mahasiswa IAIN Surabaya, kini di Indonesia diperkirakan ada sekitar 4.800 ponpes.

Sebagian besar pengaruh ponpes tersebut mempunyai sanad (persambungan) dengan KH Hasyim Asyari, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Bisri Samsuri dan Kyai besar lainnya yang semuanya murid KH Moh Kholil.
(Hori/Memorandum)

Tour Travel Pulau Madura

Sebarkan

Komentar Facebook

Artikel Terkait

Previous
Next Post »