Pusat Pengrajin Keris di Desa Aeng Tong Tong - Sumenep

5/27/2017

Banyak orang berpikir kalau pusat keris itu hanya berada di Kota Yogyakarta dan Jawa Tengah saja. Namun, anggapan tersebut salah karena ternyata di Kabupaten Sumenep - Pulau Madura juga ada pusat pembuatan keris. Tepatnya di sebuah desa bernama Aeng Tong Tong Pengrajin Keris tersebut berada dan dibuat bahkan tetap dilestarikan sampai saat ini.

Desa Aeng Tong Tong yang berada di kawasan Saronggi ini juga menjadi akses untuk bisa menyeberang ke Gili Genting. Di Gili Genting ini ada dua wisata alam yang patut untuk dikunjungi yakni Pantai Sembilan dan Pantai Kahuripan yang memiliki keindahan alam luar biasa dan pilihan terbaik saat berlibur bersama teman maupun keluarga.


Kalau teman-teman sedang berada di kawasan Madura atau Surabaya dan ingin memperoleh sesuatu yang unik, datanglah ke Aeng Tong Tong. Di desa ini kalian akan menemukan pemandangan unik di mana hampir semua pria di desa bekerja sebagai pembuat keris. Kalau teman-teman penasaran seperti apa yuk segera agendakan waktu untuk datang berkunjung.

Keris Aeng Tong Tong Warisan Kerajaan Sumenep

Selama berabad-abad Madura telah menjadi daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900–1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa Timur sehingga ada banyak peninggalan sisa kekuasaan kerajaan dan keraton di sini. Keberadaan keris Aeng Tong Tong di Sumenep sudah ada sejak zaman Kerajaan Sumenep berdiri.

Dahulu kala kawasan Aeng Tong Tong digunakan sebagai tempat belajar para raja-raja. Semua keturunan dari raja akan diajari banyak hal oleh Pangeran Bukabu. Beliau mengajari banyak hal mulai dari hal-hal bersifat keagamaan, kerajaan, hingga seni yang secara khusus merujuk pada pembuatan keris.

Desa Aeng Tong Tong sendiri mempunyai arti khusus. "Aeng" berarti air dan "Tong Tong" berarti jinjing. Maksudnya masyarakat desa yang selalu menjinjing air dari luar desa. Nama desa ini menggambarkan betapa sulitnya mencari sumber air di desa mereka yang terlihat kering.


Penduduk desa sangat susah mencari air untuk pertanian. Jangan heran kalau usaha pertanian di sini hanyalah dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Pekerjaan utama kehidupan masyarakat Desa Aeng Tong Tong justru membuat keris. Bunyi keras denting logam yang ditempa, suara besi yang sedang di gerinda, membuat dentingan besi membahana di setiap sudut Desa Aeng Tong Tong. 

Banyak faktor yang membuat sebuah harga keris menjadi mahal, di antaranya adalah bahan baku besi yang berkualitas, lama waktu pengerjaan, desain yang rumit, ukiran yang terdapat di keris tersebut, dan keris pesanan khusus yang menjadikan Keris tersebut menjadi Indah dan Unik.


Di zaman modern seperti sekarang, keris dari Aeng Tong Tong sangat diminati oleh kolektor dari negara-negara dari Asia Tenggara. Ekspor barang ini terus melonjak setiap tahunnya. Para kolektor mau terus membeli keris dari daerah ini karena motifnya selalu unik dan kadang memiliki manfaat mistis lain yang susah dijelaskan dengan logika.

Sejak masa penjajahan Belanda, banyak keris yang dibawa dari desa Aeng Tongtong sebagai oleh – oleh kepada para panglima perang, atau pun sebagai tanda keberanian oleh orang – orang Belanda. Para pengrajin sendiri umumnya belajar membuat keris sejak usia yang masih muda. 

Dengan jumlah pengrajin keris lebih dari 540 orang menjadikan Desa Aeng Tongtong tidak hanya sebagai sentra keris terbesar di Indonesia, tapi juga juga merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Sebarkan

Komentar Facebook

Artikel Terkait

Previous
Next Post »