Astana Aermata Rato Ebhu Syarifah Ambami Buduran - Arosbaya

3/06/2024

 


Makam Ratu Ibu Syarifah Ambami di Arosbaya Bangkalan ini adalah komplek makam Adipati Tjakraningrat, Letak makam ini berada di atas bukit berundak, seperti lazimnya punden berundak di Indonesia. Awalnya makam ini adalah makam Ratu Ibu yaitu permaisuri Cakraningrat I pada akhir bertapanya. Cakraningrat adalah penguasa Madura pada awal Mataram menguasai Madura, pemerintahannya berada di Sampang.

Tjakraningrat adalah Adipati pertama, menurut sejarah Madura, Tjakraningrat adalah salah satu keturunan Majapahit hasil perkawinan dengan putri Cempa, yaitu Lembu Peteng. 

Istilah Lembu Peteng banyak dijumpai dibeberapa tempat dan literatur. Beberapa ahli memperkirakan Lembu Peteng adalah keturunan adipati dari bukan permaisuri. Garis keturunan ini mengukuhkan dan menegaskan bahwa Cakraningrat adalah keturunan dari kerajaan besar yaitu Majapahit. Pada komplek makam ini terdapat tujuh keturunan Tjakraningrat yang menjabat sebagai adipati di Madura barat yaitu Sampang dan Bangkalan.

𝙇𝙖𝙮𝙤𝙪𝙩 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙢

Karena makam ini berada di atas puncak bukit batu putih. Memiliki orientasi makam seperti makam Islam pada umumnya yaitu berorientasi utara-selatan. Bagian utara adalah yang tertinggi, memiliki sifat paling suci yaitu makam utama Ratu Ibu Syarifah Ambami/Permaisuri Tjakraningrat I. Ratu Ibu adalah permaisuri Tjakraningrat I yang meninggal di tempat tersebut karena selama hidupnya hanya dipakai untuk bertapa dalam kesedihan sampai air matanya membasahi sekelilingnya, sehingga makam ini juga dikenal dengan makam Aer Mata. Sedangkan Tjakraningrat I sendiri dimakamkan di Imogiri Jogjakarta. Untuk mencapai puncak makam harus dicapai dengan menaiki sejumlah anak tangga. Disamping kanan atau sisi barat makam terdapat sebuah masjid dan sebuah mata air. Serta beberapa makam orang yang berjasa terhadap keluarga Tjakraningrat.

Makam ini terdiri dari ruang-ruang yang tersusun sebagai berikut, halaman luar, halaman tengah, dan halaman dalam atau utama. Halaman luar adalah halaman pertama dari komplek makan ini. Halaman ini memiliki dua bangunan utama yaitu bangunan yang tertutup dan bangunan yang terbuka. Bangunan tertutup ini adalah bangunan dengan atap joglo dan dikelilingi tembok, sedangkan bangunan terbuka berupa 

pendopo beratap joglo, yang terletak tepat di depan pintu masuk ke halaman berikutnya. Untuk memasuki halaman luar ini, harus melewati sebuah pintu gerbang bata plester, berhiaskan stilasi tanaman dan bentuk geometris.

Masuk ke halaman berikutnya harus melewati pintu gerbang berbentuk paduraksa dengan gaya Majapahit yang sederhana, tanpa ornamen dan dibuat dari bahan batu putih. Di halaman berikutnya juga terdapat dua bangunan. Bangunan yang lain adalah bangunan pendopo terbuka, saat ini dipakai untuk penerima tamu bagi petugas makam.

Halaman utama adalah makam adipati-adipati Madura barat, yang awalnya berpusat di Sampang, selanjutnya pusat pemerintahan di Arosbaya Bangkalan yaitu dinasti Cakraningrat. Memasuki halaman ini terdapat satu pintu gerbang yang sangat mirip dengan pintu gerbang kedua, dengan gaya Majapahit, tanpa ornamen dan terbuat dari bahan batu putih juga. Area ini memiliki kelompok makam yang terdiri dari 3 cungkup utama. 

Pada area tertinggi terdapat cungkup dengan makam utama yaitu permaisuri Tjakraningrat I. Dalam cerita masyarakat, beliau dikenal dengan sebutan Ratu Ibu. Syarifah Ambami Makam Ratu Ibu ini mudah dikenali karena ditandai dengan hadirnya gunungan yang terbuat dari batu putih yang disebut batu olet. Batu ini diambil di sekitar pegunungan tidak jauh dari makam ini. Karakter yang dimiliki batu ini adalah ulet, sangat kuat dan keras. Di luar gunungan ini terdapat makam-makam lain yang tidak menggunakan gunungan. 

Cungkup berikutnya adalah cungkup makam Tjakraningrat II dengan keturunanannya. Memiliki gunungan yang sangat panjang dan menyatu menjadi satu dengan ragam yang sangat kaya. Material gunungan terbuat dari batu olet juga. Serta pada bagian ini memiliki gunungan utama yang terdiri dari 5 gunungan, disamping kiri dan kanannya terdapat masing masing² 2 gunungan yang berukir dan tidak berukir.

Dibagian paling bawah dari halaman utama ini terdapat cungkup makam adipati penerus Tjakraningrat I. Pada cungkup ini terdapat gunungan yang menyatu dan berjumlah 9 gunungan, dengan bentuk ragam hias yang lebih sederhana dibanding dengan gunungan makam Tjakraningrat di atasnya. Material yang digunakan tidak berbeda dengan makam sebelumnya. Yang membedakan dengan gunungan sebelumnya adalah ragam hias yang dipakai. Ragam hiasnya berbentuk stilasi sulur tumbuhan, dengan pahatan yang besar-besar. Bentuk gunungannya lebih mendekati kepada bentuk gunungan wayang. 

Yang spesifik dari makam ini adalah setiap jirat makam memiliki ragam yang merupakan simbol dinasti Cakraningrat, berbentuk cakra dan bentuknya sangat dekat dengan simbol Surya Majapahit, simbol keagungan kerajaan Majapahit. 

Dari nama dan pola susunan makam tersebut sebenarnya sangat jelas bahwa makam yang utama adalah makam perempuan yaitu Ratu Ibu. Peran perempuan pada masyarakat madura adalah sangat penting.

Hal ini sesuai dengan prinsip pandangan primordial masyarakatnya, yang menempatkan perempuan sebagai bagian yang sangat penting.

Cungkup Ketiga bersemanyam Presiden Negara Madura RAA Soerjowinoto Tjakraningrat sekalipun cuma 2 tahun masanya 1948-1951 kembali ke NKRI.

𝘽𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙜𝙖𝙢 𝙃𝙞𝙖𝙨 𝙂𝙪𝙣𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙢 𝙍𝙖𝙩𝙪 𝙄𝙗𝙪 𝘼𝙧𝙤𝙨𝙗𝙖𝙮𝙖.

Bentuk gunungan makam ini memiliki bentuk segitiga yang bersambung satu dengan yang lain dan ada pula yang terpisah, atau berdiri satu satu. Bahan yang digunakan terbuat dari batu olet. Ragam yang digunakan juga sangat variatif, mulai dari flora, fauna, maupun mahkluk mitologi. Ragam flora didominasi ragam teratai, juga pandan dan beberapa pohon buah buahan. Binatang mitologi hadir seperti kepala gajah, kemamang, air dan lain-lain. 

Ragam hias bunga teratai yang menjadi ciri ragam Majapahit, hadir dalam panel panel gunungan makam tersebut. Berbagai bentuk ragam hias kemamang terdapat pada peralihan gunungan. Ragam hias sulur gelung, terdapat pada pertemuan antara dua gunungan, dan pinggiran gunungan. Ragam hias bunga teratai, pandan, kepala gajah, kolam air, batu karang, dan disebelah kanan terlihat stilasi naga Cina. Ragam ini sangat banyak variasinya dan terdapat didalam gunungan itu sendiri. 

Pada contoh ragam hias diatas sangat jelas diketahui bahwa pengembangan stilasi flora dari bunga teratai sangat sangat menonjol. Baik pengembangan dari bunga teratai menjadi ragam yang geometris, sampai kepada ragam hias yang sangat natural. Tampak pula stilasi kepala gajah yang berbelalai dan bentuk naga Cina. Selain itu kala makara atau juga disebut kemamang memiliki ragam yang sangat banyak.

Ragam hias burung natural hanya ditemui satu buah saja, tetapi bentukan sayap banyak ditemui di tempat tempat lain. Ragam lain yang hadir adalah kolam air, bukit batu yang terkomposisi tiga-tiga. Secara keseluruhan ragam flora hadir lebih dominan. 

Bentuk segitiga yang demikian sangat dekat dengan pohon kehidupan khususnya dengan kekayon wayang. Bentuk segitiga ini sangat dekat dengan prinsip primordial masyarakatnya. Artinya ekspresi bentuk tiga sebagai manifestasi gunung, atau tempat bersemayam roh-roh suci

sangat terekspresi disini. Jadi meskipun secara garis keturunan unsur Cina seperti Putri Cempa dan Putri Cina adalah leluhur mereka, tatapi pengaruh Majapahit sangat sangat menonjol.

Pada contoh ragam hias di atas sangat jelas diketahui bahwa pengembangan stilasi flora dari bunga teratai sangat sangat menonjol. Baik pengembangan dari bunga teratai menjadi ragam yang geometris sampai kepada ragam hias yang sangat natural. Tampak pula stilasi kepala gajah, bentuk sepasang naga Cina Selain itu kala makara atau juga disebut kemamang memiliki ragam yang sangat banyak Ragam Hias burung natural hanya ditemui satu buah saja, tetapi bentukan sayap banyak ditemui di tempat-tempat lain. Ragam lain yang hadir adalah kolam air, bukit batu yang terkomposisi tiga-tiga. Secara keseluruhan ragam flora hadir lebih dominan Dari data yang ada ini jelas sekali bahwa unsur ragam yang hadir adalah ragam Majapahit.

Perbedaan yang sangat menonjol adalah pada panel terakhir dimana pada panel ini hanya hadir ragam sulur gelung saja, sedangkan ragam lain tidak hadir disini. Ditinjau dari ragam hiasnya, terlihat perbedaan sangat mencolok karena ragam di panel sebelumnya stilasi ragam masih mendekati kepada sifat natual, sementara ragam terakhir sudah sangat stilasi.

Apabila diamati lebih lanjut perbedaan sangat jelas bahwa semakin baru ragam itu dibuat maka semakin sederhana pula stilasi yang tampil pada gunungan tersebut. Ada satu indikasi menarik dengan hadirnya ragam kaligrafi Arab pada jirat maupun pada hiasan lain, sangat jelas menunjukkan bahwa semakin kuat pengaruh Islam di tempat tersebut, maka semakin sederhanalah ragam yang digunakan. 

𝙔𝙖𝙮𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙤𝙚𝙣𝙖 

Terbentuknya Yayasan Koena adalah untuk membantu Keluarga Trah Tjakraningrat dalam menginventarisir  barang² Peninggalan Kraton dan Keluarga terutama barang² bawaan  milik GKR Pembayun dari Kraton Surakarta Hadiningrat, yang menikah dengan RAA Mr Moh. Sis Tjakraningrat sebagai Bupati Bangkalan ke IV tahun 1948 - 1956.

Yayasan Koena terbentuknya sekitar tahun 1960an untuk menginventarisir dan mendata barang² tersebut diletakkan di Museum Aermata Buduran Arosbaya kemudian pada tahun 1980 Bupati ke VIII J. Soedjaki yang memerintah Kabupaten Bangkalan tahu 1971 - 1982 memindahkan barang² tersebut ke Kompleks Rumah Bupati Pendopo Agung Bangkalan, dan menjadi Museum Pemerintah Kabupaten Bangkalan. 

Selanjutnya pada tahun 1981 untuk melanjutkan keberadaan Yayasan Koena maka dibentuk Yayasan Asta Aermata Rato Ebhu Syarifah Ambami Buduran Arosbaya sampai sekarang yang Ketuanya adalah Robi Ilahi sebagai pengganti dari Ketua sebelumnya H. Moch. Zuhri. (Hidrochin Sabarudin)



Tour Travel Pulau Madura

Sebarkan

Komentar Facebook

Artikel Terkait

Previous
Next Post »