Tampilkan postingan dengan label sejarah madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah madura. Tampilkan semua postingan

Wisata Sejarah Makam Agung Arosbaya di Bangkalan

10/15/2015 Add Comment
Bagi rombongan wisatawan dari luar Pulau Madura yang datang berkunjung ke Obyek Wisata Religi Pasarean Aermata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, ada baiknya untuk tidak melupakan Situs Makam Agung di Desa Plakaran. Bahkan, secara etika spiritual, akan lebih afdol bagi para peziarah atau ahli tirakat untuk sowan ke Makam Agung terlebih dahulu sebelum bertandang ke kompleks Pasarean Aermata. Terlebih, lokasi Makam Agung hanya berjarak sekitar dua kilometer sebelah Selatan Pasarean Aermata..

Dalam beberapa sumber sejarah Madura, kawasan di sekitar Makam Agung, tepatnya di Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya, disebut-sebut pernah berdiri kerajaan kecil bernama Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperintah oleh Ki Demung Plakaran, keturunan dari Prabu Brawijaya (1468-1478), raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Selain terkenal dengan legenda islam onggu’, situs ini juga juga amat berkait erat dengan penetapan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Bangkalan.

MAKAM AGUNG SITUS KERAMAT ISLAM ONGGU’


Berawal dari keturunan Ki Demung Plakaran dengan permaisurinya Nyi Sumekar inilah, sistem pemerintahan di wilayah Madura Barat kemudian jadi semakin terbangun dan berkembang pesat. Ketika Kraton Plakaran diperintah Raden Pragalbo, putra ketiga Ki Demung Plakaran, yang kemudian populer dengan sebutan Pangeran Islam Onghu’ (Islam Mengangguk), kekuasaan Kerajaan Plakaran yang pusat pemerintahannya sudah berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya), jadi semakin berkembang luas hingga ke seluruh Pulau Madura.

Demikian pula, ketika Kerajaan Arisbaya diperintah oleh Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur (1531-1592), salah seorang putra Raden Pragalbo, untuk kali pertama penyebaran Agama Islam dikembang luaskan ke seluruh Pulau Madura. Berikutnya, dari keturunan Raden Pratanu inilah, berturut-turut lahirlah raja-raja besar di kawasan Madura Barat. Termasuk para raja keturunan Raden Praseno alias Pangeran Cakraningrat I dengan permaisurinya Kanjeng ratu Syarifah Ambami, yang kita ketahui memerintah wilayah Madura Barat hingga tujuh turunan, dan situs makamnya menyatu di kompleks Pasarean Aermata.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan di sini, Situs Makam Agung yang kini menjadi tempat persemayaman makam Raden Pragalbo dan Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur, merupakan situs makam leluhur dari seluruh raja di kawasan Madura Barat. Juga merupakan awal dari penyebaran Agama Islam di Bumi Madura. Dari situs Makam Agung ini pula, tetenger Hari Jadi Bangkalan digali, dianalisa dan kemudian dikukuhkan oleh para pakar sejarah melalui proses penilitian dan forum seminar cukup panjang.

Pintu Gerbang Makam Agung Raja Pragalbo - Arosbaya

Itu sebabnya, dalam konteks spiritual, adalah hal yang logis dan wajar jika situs Makam Agung di Desa Plakaran, seperti situs purbakala Bukit Geger dan Pasarean Aermata, pada akhirnya juga banyak dikeramatkan orang. Bahkan, dalam kaca mata pandang para sesepuh spiritual setempat, bagi siapapun para peziarah atau ahli tirakat yang akan berkunjung ke Pasarean Aermata, akan lebih baik jika terlebih dahulu sowan ke Makam Agung. Alasannya, selain situs ini lebih tua, di dalamya juga bersemayam makam leluhur para raha di kawasan Madura Barat.

Sayangnya, dari sisi kultural, situs Makam Agung tidak memiliki peninggalan karya seni yang adiluhung seperti di kompleks Pasarean Aermata. Bangunan pisik situs Makam Agung, meski menyiratkan konstruksi dan arsitektur bangunan kuno, hanya berwujd pagar kaliling dengan ukuran sekitar 20 X 40 meter saja.

Warangka dan batu nisan dari puluhan makam yang tersebar di dalamnya, termasuk situs makam Raden Pragalbo dan Panembahan Ki Lemah Duwur, juga tidak dihiasi pahatan seni ukir yang menyiratkan simbol-simbol filosofis seperti makam para raja di Pasarean Aermata. Demikain pula, semua makam yang ada, tidak pula berada di bawah naungan bangunan cungkup, melainkan terhampar begitu saja di alam terbuka.

Meski begitu, suasana situs Makam Agung terasa begitu teduh, serta menyiratkan aura cukup sakral. Ini terjadi lantaran di sekitar kompleks Makam Agung, bertebaran sejumlah pohon beringin tua cukup besar, selain ada pula sebaran pohon kamboja dengan aroma wawangiannya yang spesifik.

Selain itu, lokasi Makam Agung yang berada di tengah hamparan sawah penduduk sekitar, juga belum dilengkapi sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Di lokasi makam, sejauh ini belum ada deretan kios souvenir aarts, areal parkir, serta deretan warung makanan tradisional. Satu-satunya prasarana penunjang yang ada, hanyalah banguan baru berupa sebuah cungkup peristirahatan, Musholla kecil dan sebuah toilet.

Berkat kebersahajaan faslitas, sarana dan prasarana penunjangnya itulah, arus kunjungan wisatawan ke obyek sisata religi Makam Agung, secara kuantitatif, jauh lebi kecil dibanding kunjungan ke Pasarean Aermata. Para peziarah dan ahli tikarat dari luar Pulau yang bertandang ke situs makam tua itu hanya bersifat satuan. Tidak dalam bentuk rombongan bus pariwisata ziarah yang kaprah berkunjung ke kompleks Pasarean Aermata.

Hanya saja, bagi siapapun wisatawan yang ingin sowan ke Makam Agung, juga bisa ditempuh dengan perjalanan yang mudah. Sebab lokasi Makam Agung saling berdekatan dengan Kompleks Pasarean Aertmata. Jaraknya hanya sekitar dua kilometer saja. Arau berjarak sekitar 17 km sebelah Utara Pusat Pemerintahan Kota Bangkalan. Prasarana jalan raya menuju ke Makam Agung juga sudah mulus, nyaman dan aman. Seluruh betangannya berwujud jalan hot-mix.

Legenda Islam Onggu’

Makam Raja Pragalbo di Kompleks Makam Agung Arosbaya
 Seperti legenda linangan Aermata Kanjeng Ratu Syarifah Ambami yang kemudian diabadikan sebagai nama Pasarean Aermata, situs Makam Agung di Desa Plakaran juga menyimpan legenda yang tak kalah menyentuh hati. Legenda ini berkait erat dengan kisah tentang upaya Peng-Isalaman Raden Pragalbo, ayah kandung Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur (1531-1592). Bagaimana kisahnya ?.

Syahdan, pada kisaran awal abad ke XV silam, Ki Demung, salah seorang keturunan dari Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya V ( 1468-1478), berdomisili di sebuah padukuhan kecil bernama Madegan ( di Kabupaten Sampang). Setelah dewasa, salah seorang dari dua anak hasil perkawinan Aryo Pojok dengan Nyi Ageng Budho, itu kemudian hijrah kesebuah padukuhan kecil di kawasan Madura Barat bernama Plakaran ( di Kabupaten Bangkalan).

Di tempat pemukimannya yang baru inilah, Ki Demung kemudian membentuk komune (kelompok masyarakat) baru, sekaligus mendirikan sistem pemerintahan kecil-kecilan. Itu sebabnya, Ki Demung yang kemudian memposisikan diri sebagai pimpinan, lalu mentasbihkan diri sebagai raja kecil dengan gelar Ki Demung Plakaran.

Karena kepemimpinannya yang arief dan bijak, Ki Demung Plakaran menjadi sosok penguasa yang amat dicintai para pengikutnya. Dia kemudian menikah dengan seorang kembang padukuhan setempat bernama Ni Sumekar. Keduanya dianugerahi lima orang anak, masing-masing bernama Ki Pramono, Ki Pratolo, Ki Pratali, Ki Panangken dan Ki Pragalbo.

Pada suatu saat, Ki Demung kemudian melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk dari Sang Penguasa Alam Semesta, siapa kira-kira diantara kelima putranya yang kelak pantas menggantikan dirinya sebagai penuasa Pkalaran. Di sinilah, Ke Demung kemudian memperoleh wangsit bahwa putra kelimanya, Raden Pragalbo, dinilai paling layak untuk dipersiapkan sebagai penggatinya, karena kelak akan menurunkan raja-raja besar penguasa kawasan Madura Barat.

Setelah Ki Demung Wafat, Raden Pragalbo memang dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kecil Plakaran. Nyatanya, di bawah kepemimpinan Raden Pragalbo, suasana kehuidupan masyarakat di sekitarnya jadi semakin makmur-sejahtera. Itu sebabnya, daerah kekuasaan Plakaran kemudian semakin luas. Saat itulah, Raden Pragalbo kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari dukuh kecil Plakaran ke Arisbaya (sekarang Kecamatan Arosbaya).

Disepanjang pemerintahannya, Raden Pragalbo memiliki tiga istri. Masing-masing Nyi Angsuko dan Nyi Padopo, keduanya berasal dari Proppo (Kabupaten Pamekasan), serta istri yang ketiga bernama Nyi Ageng Mamah dari Madegan ( Kabupaten Sampang). Dari istri ketiganya inilah, Raden Pragalbo dianugerahi tiga orang putra, masing-masing bernama Ki Pratanu, Ki Prakoso dan Ki Pranoto.

Setelah beranjak sepuh, Raden Pragalbo kemudian mepresiapkan putra sulungnya Ki Pratanu sebagai calon putera mahkota. Dari sinilah, kisah tentang legenda Islam Onggu’ itu bermula. Konon, Ki Pratanu yang mulai beranjak remaja, dalam tidurnya kerap kali didatangi oleh seorang lelaki amat tampan dan berbusana serba putih (sorban). Setiap kali muncul dalam mimpinya, sosok lelaki itu selalu menganjurkan agar Ki Pratanu segera memeluk agama baru, yakni Agama Islam. Juga dianjurkan agar mendalami agama baru itu ke daerah Kudus.

Karena mimpi serupa berulang kali, Ki Pratanu akhirnya bercerita seputar mimpinya itu kepada sang ayah Raden Pragalbo. Itu sebabnya, Raden Pragalbo kemudian mengutus Patihnya Empu Bageno untuk pergi ke Kudus guna menyelidiki seluk-beluk seputar agama baru itu. Dalam beberapa sumber sejarah Madura, tidak disebutkan apakah keluarga Raden Pragalbo saat itu memeluk Agama Hindu atau Budha.

Alkisah, sesampainya di daerah Kudus, Empu Bageno kemudian berjumpa dengan Sunan Kudus. Dihadapan salah satu dari sembilan Wali Songo yang kesohor itulah, Empu Bageno menjelaskan maksud dan tujuannya. Di sini, Sunan Kudus menegaskan bahwa Empu Bageno akan bisa mendalami Agama Islam secara fasih jika dia masuk dam memeluk Agama Islam. Pada akhirnya, Empu Bageno tidak hanya sekedar masuk Islam, tetapi juga menjadi santri kesayangan Sunan Kudus yang amat tekun dan patuh.

Setelah menjadi muslim yang taat dan khusuk, Empu Bageno akhirnya pulang ke Kraton Arisbaya. Dihadapan Ki Pratani, dia lalu menceriterakan bahwa dirinya telah memeluk Agama Islam, sekaligus menjelaskan tentang keunggulan Agama baru yang didalaminya dari Sunan Kudus itu. Di sini, Ki Pratanu sempat gusar lantaran Empu Bageno memeluk Islam terlebih dahulu. Namun, pada akhirnya Ki Pratanu dengan ikhlas lalu mengucapkan dua kalimat Syahadad, sebagai tetenger bahwa dirinya telah memluk Agama Islam.

Melalui jasa Empu Bageno dan Ki Pratanu inilah, saat itu penyebaran Agama Islam mulai dikembang luaskan di wilayah Madura Barat. Bahkan perkembangannya kemudian berekskalasi hingga ke wilayah Madura Timur, terutama di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. Di era kepemimpinan Ki Pratanu inilah, untuk pertama kalinya sebuah mesjid dibangun dan didirikan di Arosbaya. Inilah start awal dari penyebaran Agama Islam di Pulau Madura.

Mengingat sebagian besar Rakyat Kerajaan Arisbaya sudah memluk Islam, Ki Pratanu dengan sikap welas-asih, kemudian berupaya menyadarkan ayahnya Raden Pragalbo agar juga memeluk agama baru itu. Namun, sang ayah tetap bergeming untuk mempertahankan kayakinan lamanya.

Barulah, ketika Raden Pragalbo sudah udzur dan sakit keras, dia menyadari akan kebenaran dan kebesaran Islam. Dengan kesadaran yang mantap, Raden Pragalbo menyatakan bersedia untuk masuk dan memeluk Agama Islam. Saat itulah, Ki Pratanu lalu menuntun sang ayah untuk mengucapkan dua kalimah Syahadad. Namun, karena kondisi pisik Raden Pragalbo sudah kirtis, dia tak sanggup lagi mengucapkan lafal dua kalimah Syahadad, kecuali sekedar bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju memeluk Agama Islam.

Seusai menganggukan kepala itulah, Raden Pragalbo kemudian wafat. Sejak saat itulah, Raden Pragalbo kemudian diabadikan dengan gelar baru bertajuk Pangeran Islam Onggu’ (Pengeran Islam Mengangguk). Begitulah, legenda tentang kisah Ke-Islaman Raden Pragalbo, yang hingga saat ini tetap populer dan mengkristal di kalangan masyarakat Madura, terutama Rakyat Kabupaten Bangkalan.


Tetenger Hari Jadi Bangkalan

Kompleks Makam Raja Pragalbo di Makam Agung Arosbaya
Selain memendam kisah Ke-Islaman Raden Pragalbo yang melegenda, situs Makam Agung juga amat berkait erat dengan penetapan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Bangkalan. Sebab dari situs makam tua inilah, tetenger hari jadi Bangkalan digali, dianalisa, untuk kemudian dikukuhkan melalui forum seminar oleh para pakar sejarah, para bangsawan dan para petinggi Pemkab Bangkalan pada tahun 1991 s/d 1992 lalu.

Pada akhirnya, para pakar sepakat tetenger hari jadi Bangkalan harus dipetik melalui peristiwa penobatan Ki Pratanu sebagai Putra Mahkota Kerajaan Arosbaya oleh sang ayahanda Raden Pragalbo. Itu terjadi setelah Ki Pratanu masuk dan memeluk Agama Islam, kemudian menyebar luaskan hingga ke wilayah Timur Pulau Madura.

Menjelang diangkat sebagai putra mahkota (Pangeran Adipati), Ki Pratanu memohon izin kepada sang ayahanda untuk membangun kraton baru di atas dataran tinggi seputar Kerajaan. Pada akhirnya, bersamaan dengan peresmian kraton baru itulah, Raden Pragalbo kemudian menobatkan Ki Pratanu sebagai putra mahkota.

Saat itu, ketika menobatkan putranya, Raden Pragalbo menyuarakan sabda dan titah sebagai berikut ,
”Wahai anakku, dengan disaksikan Rakyat Plakaran, mulai saat ini, dalam Chandra Sengkala Sirno Pendowo Kertaning Negari, kamu saya angkat sebagai putera mahkota kerajaan ini dengan gelar Pangeran KI Lemah Duwur ( Pangeran Dataran Tinggi ). Dan Mulai sekarang, di Negeri Madura Barat ini, saya berlakukan mulai adanya Arisbanggi,”.

Dalam kalimat sabda penobatan Ki Pratanu sebagai putera mahkota itu, ada beberapa kalimat yang patut diterjemahkan dan dikaitkan dengan tahun Caka. Diantaranya, kalimat Candra Sangkala Sirno Pendowo Kertaning Negari, bisa diterjemahkan dan dipilah sebagai berikut : Kata Sirno berarti 0 (habis), Pendowo berarti 5, Kerta berarti 4 dan Negari berarti 1.

Jika dirangkai, terjemahan setiap kata itu akan menjadi rangkaian angka 0541. Namun sebagaimana kelaziman dalam menterjemahkan tahun Caka, rangkaian angka itu harus ditata terbalik sehingga berubah menjadi 1450. Kemudian, jika ingin dirubah menjadi tahun masehi, rangkaian angka tahun Caka itu harus ditambah 78, sehingga jumlahnya menjadi tahun 1528 Masehi. Inilah tahun penobatan Ki Pratanu menjadi putera mahkota dengan gelar Pangeran Ki Lemah Duwur.

Sementara kata-kata Arisbanggi dalam sabda penoibatan Ki Pratanu sebagai putera mahkota, bisa diterjemahkan sebagai berikut,”Aris berarti Ada dan banggi berarti Aturan“. Artinya, pada saat Ki Pratanu dinobatkan, sejak saat itulah di Kerajaan mulai diberlakukan serbaneka aturan (sekarang undang-undang) sebagai pedoman untuk mengendalikan sistem pemerintahan di Kerajaan. Dari kata-kata Arisbanggi inilah, pada akhirnya Kerajaan di bawah kekuasaan Raden Pragalbo berubah nama dari Kerajaan Plakaran menjadi Kerajaan Arisbaya (sekarang Arosbaya). Yakni sebuah kerajaan di Madura Barat yang sudah memiliki aturan dalam mengelola sistem pemerintahan. Inilah, Kerajaan pertama di Madura Barat dalam arti yang sebenarnya. Yakni dikukuhkan pada tahun 1528 Masehi.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1531 Masehi Raden Pragalbo wafat, beberapa saat setelah bersedia memluk Agama Islam dengan anggukan kepala (Islam Onggu’). Saat itu pula Ki Pratanu yang sudah menjadi putra mahkota secara resmi kemudian dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Arisbaya dengan gelar Panembahan Ki Lemah Duwur, menggantikan ayahandanya Raden Pragalbo. Lalu tanggal dan bulan berepa penobatan itu terjadi ?. Inilah yang kemudian digali dan diseminarkan sejak tahun 1991 hingga tahun 1992 lalu.

Setelah melalui proses cukup panjang, Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Museum Trowulan, Mejokerto, Drs Moh Romli, dan Dosen Archeologi Islam di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Dra Inajati Adriasianti, lalu menemukan jejak fakta bahwa Tahun 1531 Masehi, tahun penobatan Pabnembahan Lemah Duwur menjadi Raja Arosbaya, identik atau sama dengan Tahun 938 Hijriyah (Kalender Islam).

Berikutnya, jika dikaitkan dengan tradisi penobatan raja-raja Islam di Pulau Jawa, biasanya selalu dilakukan setiap tanggal 12 Robbi’ul Awal, bersamaan dengan pelaksanaan ritual Sekaten atau Grebek Maulud Nabi.Atau dengan kata lain, kedua pakar tersebut, akhirnya hakkul yakin penobatan Panembahan Lemah Duwur menjadi Raja Arisbaya, terjadi pada tanggal 12 Robib’ul Awal 938 Hijriyah.

Berikutnya, merujuk kepada buku berbahasa Jerman berjudul Muhammadanischen Und Christilachen Zeittrechnung ( tentang kejadian-kejadian penting Islam dan Kristen) yang disusun oleh Ferdinand Wustenfiel, pada akhir ditemukan jejak penjelasan yang menegaskan bahwa tanggal 12 Robbi’ul Awal Tahun 938 Hijriyah, identik atau sama dengan hari Selasa 14 Oktober 1531 Masehi.

Pada akhirnya, para pakar sejarah dan purbakala, Bupati, DPRD, serta para tokoh bangsawan dan budayawan di Kabupaten Bangkalan, sepakat bahwa hari Selasa 24 Oktober 1531 merupakan penobatan Panembahan Lemah Duwur sebagai Raja Kerajaan Arosbaya, sekaligus dikukuhkan dsebagai tetenger hari jadi Bangkalan.

Demikian sekilas pintas tentang ulasan Situs Makam Agung, yang kini tidak sekedar populer sebagai salah satu obyek wisata religi andalan Kabupaten Bangkalan, melainkan juga menjadi sumber inspirasi dan rujukan penentuan hari jadi Bangkalan. Mudah-mudahan, semua materi di dalamnya bisa menambah wawasan pengetahuan, sekaligus pemahaman atas awal mula terbentuknya sistem pemerintahan di kawasan Madura Barat.

Asal Usul Kabupaten Sumenep

2/03/2015 Add Comment
Asal Usul Kabupaten Sumenep - Kabupaten Sumenep merupakan daerah yang berada paling ujung dari Pulau Madura. Di tempat ini juga terdapat beberapa wisata pantai yang tidak kalah hebat dengan pantai yang ada di bali. Beberapa pantai itu adalah Pantai Slopeng dan Pantai Lombang.

Asal Mula dan Sejarah Kabupaten Sumenep

Sejarah Sumenep jaman dahulu diperintah oleh seorang Raja. Ada 35 Raja yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan, sekarang ini telah dipimpin oleh seorang Bupati. Ada 14 Bupati yang memerintah Kabupaten Sumenep.
Mengingat sangat keringnya informasi/data yang otentik seperti prasati, pararaton, dan sebagainya mengenai Raja Sumenep maka tidak seluruh Raja-Raja tersebut kami ekspose satu persatu, kecuali hanya Raja-Raja yang menonjol saja popularitasnya.
Pendekatan yang kami gunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan historis dan kultural, selain itu kami gunakan juga pendekatan ekonomis, psikologis dan edukatif.

JAMAN PEMERINTAH KERAJAANARYA WIRARAJA
Arya Wiraja dilatik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269, yang sekaligus bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumenep. Selama dipimpin oleh Arya Wiraja, banyak kemajuan yang dialami kerajaan Sumenep. Pria yang berasal dari desa Nangka Jawa Timur ini memiliki pribadi dan kecakapan/kemampuan yang baik. Arya Wiraja secara umum dikenal sebagai seorang pakar dalam ilmu penasehat/pengatur strategi, analisanya cukup tajam dan terarah sehingga banyak yang mengira Arya Wiraja adalah seorang dukun.
Adapun jasa-jasa Arya Wiraja :

- Mendirikan Majapahit b ersama dengan Raden Wijaya.
- Menghancurkan tentara Cina/tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.

Dalam usia 35 Tahun, karier Arya Wiraja cepat menanjak. Mulai jabatan Demang Kerajaan Singosari kemudian dipromosikan oleh Kartanegara Raja Singosari menjadi Adipati Kerajaan Sumenep, kemudian dipromosikan oleh Raden Wijaya menjadi Rakyan Menteri di Kerajaan Majapahit dan bertugas di Lumajang. Setelah Arya Wiraja meninggalkan Sumenep, kerajaan di ujung timur Madura itu mengalami kemunduran. kekuasaan diserahkan kepada saudaranya Arya Bangah dan keratonnya pindah dari Batuputih ke Banasare di wilayah Sumenep juga.

Selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya Danurwendo, yang keratonnya pindah ke Desa Tanjung. Dan selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya asparati. Diganti pula oleh anaknya bernama Panembahan Djoharsari. Selanjutnya kekuasaan dipindahkan kepada anaknya bernama Panembahan Mandaraja, yang mempunyai 2 anak bernama Pangeran Bukabu yang kemudian menganti ayahnya dan pindah ke Keratonnya di Bukabu (Kecamatan Ambunten). Selanjutnya diganti oleh adiknya bernama Pangeran Baragung yang kemudian pindah ke Desa Baragung (Kecamatan Guluk-guluk).

PANGERAN JOKOTOLE (Pangeran Secodiningrat III)

Pangeran Jokotole menjadi raja Sumenep yang ke 13 selama 45 tahun (1415-1460). Jokotole da adiknya bernama Jokowedi lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai hasil dari perkawinan bathin (melalui mimpi) dengan Adipoday (Raja Sumenep ke 12). Karena hasil dari perkawinan Bathin itulah, maka banyak orang yang tidak percaya. Dan akhirnya, seolah-olah terkesan sebagai kehamilan diluar nikah. Akhirnya menimbulkan kemarahan kedua orang tuanya, sampai akan dihukum mati. Sejak kehamilannya, banyak terjadi hal-hal yang aneh dan diluar dugaan. Karena takut kepada orang tuanya maka kelahiran bayi RA Potre Koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangya. Dan, ditemukan oleh Empu Kelleng yang kemudian disusui oleh kerbau miliknya.

Peristiwa kelahiran Jokotole, terulang lagi oleh adiknya yaitu Jokowedi. Kesaktian Jokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat alat-alat perkakas dengan tanpa bantuan dari alat apapun hanya dari badanya sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri. Lewat kesaktiannya itulah maka ia membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan dan sakit akibat kepanasan termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat pintu gerbang raksasa atas pehendak Brawijaya VII. Dengan cara membakar dirinya dan kemudian menjadi arang itulah kemudian lewat pusarnya keluar cairan putih. Cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. Dan, akhirnya ia diberi hadiah emas dan uang logam seberat badannya. Akhirnya ia mengabdi di kerajaan Majapahit untuk beberapa lama.

Banyak kesuksessan yang ia raih selama mengadi di kerajaan Majapahit tersebut yang sekaligus menjadi mantu dari Patih Muda Majapahit. Setibanya dari Sumenep ia bersama istrinya bernama Dewi Ratnadi bersua ke Keraton yang akhirnya bertemu dengan ibunya RA Potre Koneng dan kemudian dilantik menjadi Raja Sumenep dengan Gelar Pangeran Secodiningrat III. Saat menjadi raja ia terlibat pertempuran besar melawan raja dari Bali yaitu Dampo Awang, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Jokotole dengan kesaktiannya menghancurkan kesaktiannya Dampo Awang. Dan kemudian kekuasaannya berakhir pada tahun 1460 dan kemudian digantikan oleh Arya Wigananda putra pertama dari Jokotole.


RADEN AYU TIRTONEGORO DAN BINDARA SAOD
Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai Kepala Pemerintahan yang ke 30. Menurut hikayat RA Tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya Ratu kawin dengan Bindara Saod. Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. Setelah ada kata sepakat perkawinan dilaksanakan, Bindara Saodmenjadi suami Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro.

Terjadi peristiwa tragis pama masa pemerintahan Ratu Tirtonegoro. Raden Purwonegoro Patih Kerajaan Sumenep waktu mencintai Ratu Tirtonegoro, sehingga sangat membenci Bindara Saod, bahkan merencanakan membunuhnya. Raden Purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang namun tidak mengenai sasaran dan pedang tertancap dalam ke tiang pendopo. Malah sebaliknya Raden Purwonegoro tewas di tangan Manteri Sawunggaling dan Kyai Sanggatarona.

Seperti diketahui bahwa Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro sama-sama keturunan Tumenggung Yudonegoro Raja Sumenep ke 23. Akibatnya keluarga kerajaan Sumenep menjadi dua golongan yang berpihak pada Ratu Tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di Sumenep dan diwajibkan merubah gelarnya dengan sebutan Kyai serta berjanji untuk tidak akan menentang Bindara Saod sampai tujuh turunan. Sedang golongan yang tidak setuju pada ketentuan tersebut dianjurkan meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke Pamekasan, Sampang atau Bangkalan.

PANEMBAHAN SOMALA
Bandara Saod dengan isterinya yang pertama di Batu Ampar mempunyai 2 orang anak. Pada saat kedua anak Bindara Saod itu datang ke keraton memenuhi panggilan Ratu Tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama Somala terlebih dahulu dalam menyungkem kepada Ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada ayahnya (Bindara Saod).

Saat itu pula keluar wasiat Sang Ratu yang dicatat oleh sektretaris kerajaan. Isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari apabila Bindara Saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah Somala. Setelah Bindara Saod meninggal 8 hari kemudian Ratu Tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat Ratu yang menjadi Raja Sumenep adalah Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I.

Beberapa peristiwa penting pada zaman pemerintahan Somala antara lain menyerang negeri Blambangan dan berhasil menang sehingga Blambangan dan Panarukan menjadi wilayah kekuasaan Panembangan Notokusumo I. Kemudian beliau membangun keraton Sumenep yang sekarang berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten. Selanjutnya beliau membangun Masjid Agung Sumenep 1763, Asta Tinggi (tempat pemakaman Raja-Raja Sumenep dan keluarganya) juga dibangun oleh beliau.

Lambang Kabupaten Sumenep Sumekar
Lambang Kabupaten Sumenep Sumekar


SULTAN ABDURRACHMAN PAKUNATANINGRAT
Sultan Abdurrachman Pakunataningrat bernama asli Notonegoro putra dari Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat gelar Doktor Kesusastraan dari pemerintah Inggris, karena beliau pernah membantu Letnan Gubernur Jendral Raffles untuk menterjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa Melayu. Beliau memang meguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Sansekerta, Bahasa Kawi, dan sebagainya. Dan, juga ilmu pengetahuan dan Agama. Disamping itu pandai membuat senjata Keris. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat dikenal sangat bijaksana dan memperhatikan rakyat Sumenep, oleh karena itu ia sangat disegani dan dijunjung tinggi oleh rakyat Sumenep sampai sekarang.

Asal Usul Kabupaten Pamekasan - Madura

1/27/2015 Add Comment
Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten yang ada di Pulau Madura seperti Bangkalan, Sampang dan Sumenep. Pamekasan sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumenep di sebelah timur, Kabupaten Sampang di sebelah barat, Selat Madura di selatan dan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah Utara.

Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan, yang kemudian dibagi lagi menjadi 178 Desa dan 11 Kelurahan. berikut adalah nama dari 13 Kecamatan tersebut:
  • Kecamatan Tlanakan
  • Kecamatan Proppo
  • Kecamatan Pegantenan
  • Kecamatan Pasean
  • Kecamatan Pamekasan
  • Kecamatan Palengaan
  • Kecamatan Pademawu
  • Kecamatan Kadur
  • Kecamatan Larangan
  • Kecamatan Galis
  • Kecamatan Batu MarMar
  • Kecamatan Pakong
  • Kecamatan Waru

Berbicara tentang Kabupaten Pamekasan tentunya tidak akan terlepas dari nama Monumen Arek Lancor, selain itu di Kabupaten Pamekasan ini tiap tahun mengadakan event Kerapan Sapi Piala Presiden serta rangkaian acara Semalam di Pamekasan yang menampilkan kesenian khas Pamekasan serta kabupaten lainnya di Madura.

Selain itu ada tokoh yang cukup terkenal di Indonesia berasal dari Pamekasan, beliau adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud MD yang sempat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia.

Berikut adalah Daftar Wisata yang berada di Kabupaten Pamekasan:

- Pantai Talang Siring (namanya hampir mirip Pantai Siring Kemuning di Kecamatan Tanjung Bumi - Kabupaten Bangkalan) yang letaknya 10 Km kearah Timur dari Kota Pamekasan.
- Pantai Jumiang dengan jarak 15 Km dari Pusat Kota.
- Pantai Batu Kerbuy yang namanya di ambil dari sebuah batu yang berbentuk kerbau yang terletak di Kecamatan Pasean dengan luas 5 Ha.
- Api Tak Kunjung Padam yang jaraknya sekitar 4 Km dari Pusat Kota.
- Makam Keramat Pasarean Batu Ampar yang terletak di Desa Pangbatok Kecamatan Proppo sekitar 15 Km dari arah Pusat Kota.
- Vihara Alokitesvara yang berada di Kampung Candi Desa Monto' Kecamatan Galis (14 Km dari Kota Pamekasan), berdekatan dengan Pantai Talangsiring. Vihara terbesar kedua di Pulau Jawa. Salah satu keunikannya, yaitu di dalam komplek terdapat Musholla, Gereja dan Pura yang melambangkan kerukunan beragama.
- Monumen Arek Lancor yang merupakan monumen perjuangan kepahlawanan Rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.

Asal Mula dan Sejarah Kabupaten Pamekasan - Madura


Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal  pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggo Sukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini.

Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.  Munculnya sejarah Pemerintah Lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke lima belas (15) berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sumoyo yang mulai merintis Pemerintahan Lokal di daerah Proppo atau Parupuk  Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa Kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bias dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri dalam penataan untuk mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya sangat padat kegiatan dengan luas wilayah yang sangat besar.

Saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra, sedangkan kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-Islam.

Tulisan- tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan  Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan bahasa Belanda kemudian mulai diterjemahkan atau ditulils kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun-daun lontar atau layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggo Sukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di Wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan se jimat ,yaitu jalan-jalan di alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya  inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman Pemerintahan Ronggo Sukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda Kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggo Sukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Arosbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan hari jadi kota Pamekasan.

Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal
Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal

Terungkapnya sejarah Pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invasi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal di bawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh sarjana Barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigland tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Banda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit.

Sumber: http://www.pamekasankab.go.id
Lambang: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
ASAL USUL PAMEKASAN, asal usul kota pamekasan, asal mula pamekasan, kabupaten pamekasan, asal usul kota pamekasan madura, asal usul arek lancor, Asal Mula Kota Pamekasan, sejarah batu ampar madura, kota pamekasan, silsilah kota pamekasan, silsilah kyai madura, silsilah pamekasan, pantai batu kerbuy, batik tanjungbumi, asal usul api tak kunjung padam, asal mula kabupaten pamekasan, jumiang, asal mula desa jumiang, sejarah api tak kunjung padam di pamekasan, sejarah batu ampar

Asal Usul Kabupaten Sampang - Madura

1/22/2015 Add Comment
Asal Usul Kabupaten Sampang - Kabupaten Sampang adalah Kota yang berada di Pulau Madura. Di Kota tersebut banyak tempat wisata yang sangat bagus seperti Pantai Nepa yang didekatnya juga ada hutan kera dan ada juga Pantai Camplong dengan segala keindahan didalamnya. Sakera pernah mengunjungi Kota Sampang bareng teman-teman Plat-M [Blogger Madura] dengan mengunjungi tempat pariwisata diatas dan mencicipi kuliner khas Sampang yaitu Bebek Songkem. Berikut adalah cerita mengenai asal muasal serta sejarah adanya Kabupaten (kota) Sampang.

ASAL USUL KABUPATEN SAMPANG

Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang   pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang   berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario   Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa.

Lembu Peteng akhirnya pergi memondok di Ampel dan meninggal disana.
Yang  mengganti Kamituwo di Sampang adalah putera yang tertua ialah Ario   Menger yang keratonnya tetap di Madekan. Menger berputera 3 orang   laki-laki ialah Ario Langgar, Ario Pratikel (ia bertempat tinggal di   Pulau Gili Mandangil atau Pulau Kambing) dan Ario Panengah gelar Pulang   Jiwo bertempat tinggal di Karangantang.

Pratikel mempunyai anak  perempuan yang kawin dengan Ario Pojok dan  mempunyai anak bernama Kiyai  Demang (Demangan adalah tempat  kelahirannya) setelah Demang menjadi  dewasa ia sering pergi ke tempat  tempat yang dipandang keramat dan  bertapa beberapa hari lamanya disana,  pada suatu waktu ia sedang  tertidur dipertapaannya ia bermimpi supaya  ia terus berjalan kearah  Barat Daya kedesa Palakaran.

Setelah Demang bangun ia terus  pulang dan minta ijin pada orang  tuanya untuk memenuhi panggilan dalam  mimpinya, ayah dan ibunya  sebenarnya keberatan tetapi apa dikata,  kehendak anaknya sangat kuat.  Menurut cerita Demang terus berjalan  kearah Barat Daya diperjalanan ia  makan ala kadarnya daun-daun,  buah-buahan dan apa saja yang dapat  dimakan, dan kalau malam ia tertidur  dihutan dimana ia dapat berteduh.

Pada suatu waktu ketika ia  berhenti melepaskan lelah tiba-tiba  datang seorang perempuan tua  memberikan bingkisan dari daun-daun,  setelah bingkisan dibuka  terdapatlah 40 buah bunga nagasari, diamana  ada Pohon Nagasari?  Perempuan tua itu menjawab bahwa pohon yang  dimaksud letaknya didesa  Palakaran tidak beberapa jauh dari tempat itu.

Dengan diantar  perempuan tua tersebut Demang terus menuju kedesa  Palakaran dan diiringi  oleh beberapa orang yang bertemu diperjalanan.  Sesampainya didesa itu  mereka terus beristirahat ditempat pengantarnya  sambil menikmati  hidangan yang lezat-lezat yang menghidangkan ialah,  Nyi Sumekar puteri  dari janda itu. Tidak bberapa lam Demang jatuh cinta  pada perempuan itu  dan mereka kawin, kemudian mereka mendirikan rumah  besar, yang kemudian  oleh orang-orang disebut keraton kota Anjar  (Arosbaya) dari perkawinan  Sumekar dan Demang lahirlah beberapa orang  anak dengan nama-nama sebagai  berikut :

1. Kiyahi Adipati Pranomo
2. Kiyahi Pratolo
3. Kiyahi Pratali
4. Pangeran Panagkan dan
5. Kiyahi Pragalbo.

Pada  sauatu saat Demang Palakaran bermimpi bahwa kemudian hari yang  akan  menggantikan dirinya ialah Kiyahi Pragalbo yang akan menurunkan   pemimpin-pemimpin masyarakat yang baik, putera yang tertua Pramono oleh   ayahnya disuruh bertempat tinggal di Sampang dan memimpin pemerintah   dikota itu.

Ia kawin dengan puteri Wonorono di Pamekasan karena  itu ia juga  menguasai Pamekasan jadi berarti Sampang dan Pamekasan  bernaung dalam  satu kerajaan, demikian pula sewaktu Nugeroho (Bonorogo)  menggantikan  ayahnya yang berkeraton di Pamekasan dua daerah itu masih  dibawah satu  kekuasaan, setelah kekuasaan Bonorogo Sampang terpisah lagi  dengan  Pamekasan yang masing-masing dikuasai oleh Adipati Pamadekan  (Sampang)  dan Pamekasan dikuasai oleh Panembahan Ronggo Sukawati,  kedua-duanya  putera Bonerogo.

Lambang Kabupaten Sampang Trunojoyo
Kemudian Sampang diperintah oleh  Pangeran Adipati Mertosari ialah  cucu dari puteri Pramono putera dari  Pangeran Suhra Jamburingin,  demikianlah diceritakan bahwa memang menjadi  kenyataan Kiyahi Demang  banyak menurunkan Raja-Raja di Madura.

Foto: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
ASAL USUL BANGKALAN, kota sampang madura, sejarah kota sampang, asal usul kota sampang, asal usul sampang, sejarah sampang madura, kabupaten sampang madura, sejarah sampang, asal usul kabupaten sampang, carok madura sampang, lambang madura, warga 2 kabupaten di madura carok, sejarah kota sampang madura, cerita sampang madura, legenda kota sampang, asal mula sampang madura, legenda madura, SAMPANG MADURA, cerita asal mula pulau madura, legenda sampang

Asal Usul Kabupaten Bangkalan - Madura

12/21/2014 Add Comment
Bangkalan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten di Madura setelah Sampang, Pamekasan dan Sumenep yang terletak di sebelah ujung Barat Pulau Madura. Jika TreTan mengunjungi Pulau Garam Madura melalui Pelabuhan Perak Surabaya dan sampai di Pelabuhan Ujung Kamal, maka TreTan telah menginjakkan kaki di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Dari Pelabuhan Ujung Kamal untuk mencapai Kota Bangkalan, diperlukan perjalanan sejauh sekitar 43 KM melewati pedesaan dan pemandangan alam berupa persawahan dan ketika sampai pada Kota Bangkalan, akan terlihat hiruk pikuk kehidupan, lalu lalang berbagai kendaraan umum dan ramainya toko berderet-deret menjual berbagai kebutuhan.

Terdiri dari 18 Kecamatan dengan 273 Desa dan 8 Kelurahan dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Bangkalan.

Banyak hal yang akan ditemui ketika sampai dikota kecil ini, namun sebelum itu perlu sedikit pengetahuan bagaimana asal usul dari Kabupaten Bangkalan ini? berikut adalah cerita mengenai Kabupaten Bangkalan yang tidak terlepas dengan cerita masa lalu sebagaimana Kabupaten di Madura lainnya.

Asal Usul Kabupaten Bangkalan


Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V ini ?. Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.

Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.

Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.

Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.

Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu :

  • Kiai Adipati Pramono di Madegan Sampang.

  • Kiai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan.

  • Kiai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen .

  • Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo .

  • Kiai Pragalbo yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta

di Plakaran, setelah meninggal dikenal sebagai Pangeran Islam Onggu’ .

Namun perkembangan Bangkalan bukan berasal dari legenda ini, melainkan diawali dari sejarah perkembangan Islam di daerah itu pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur.

Beliau adalah anak Raja Pragalba, pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Panembahan Pratanu diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalba wafat. Jauh sebelum pengangkatan itu, ketika Pratanu masih dipersiapkan sebagai pangeran, dia bermimpi didatangi orang yang menganjurkan dia memeluk agama Islam. Mimpi ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian memerintahkan patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus.

Perintah ini dilaksanakan sebaik-baiknya, bahkan Bageno bersedia masuk Islam sesuai saran Sunan Kudus sebelum menjadi santrinya selama beberapa waktu lamanya. Ia kembali ke Arosbaya dengan ilmu keislamannya dan memperkenalkannya kepada Pangeran Pratanu.

Pangeran ini sempat marah setelah tahu Bageno masuk Islam mendahuluinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa Sunan Kudus mewajibkannya masuk Islam sebelum mempelajari agama itu, Pangeran Pratanu menjadi maklum.

Setelah ia sendiri masuk Islam dan mempelajari agama itu dari Empu Bageno, ia kemudian menyebarkan agama itu ke seluruh warga Arosbaya. Namun ayahnya, Raja Pragalba, belum tertarik untuk masuk Islam sampai ia wafat dan digantikan oleh Pangeran Pratanu. Perkembangan Islam itulah yang dianut oleh pimpinan di Kabupaten Bangkalan ketika akan menentukan hari jadi kota Bangkalan, bukan perkembangan kekuasan kerajaan di daerah itu.

Jauh sebelum Pangeran Pratanu dan Empu Bageno menyebarkan Islam, sejumlah kerajaan kecil di Bangkalan.

Diawali dari Kerajaan Plakaran yang didirikan oleh Kyai Demang dari Sampang. Yang diperkirakan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Kyai Demang menikah dengan Nyi Sumekar, yang diantaranya melahirkan Raden Pragalba. Pragalba menikahi tiga wanita. Pratanu adalah anak Pragalba dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai putera mahkota dan kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura. Pratanu menikah dengan putri dari Pajang yang memperoleh keturunan lima orang :

  • Pangeran Sidhing Gili yang memerintah di Sampang.

  • Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah di Arosbaya, Raden Koro menggantikan ayahnya

  • ketika Pratanu wafat.

  • Pangeran Blega yang diberi kekuasaan di Blega.

  • Ratu Mas di Pasuruan dan Ratu Ayu.

Kerajaan Arosbaya runtuh diserang oleh Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Mas pada tahun 1624. Pada pertempuran ini Mataram kehilangan panglima perangnya, Tumenggung Demak, beberapa pejabat tinggi kerajaan dan sebanyak 6.000 prajurit gugur.

Korban yang besar ini terjadi pada pertempuran mendadak pada hari Minggu, 15 September 1624, yang merupakan perang besar. Laki-laki dan perempuan kemedan laga. Beberapa pejuang laki-laki sebenarnya masih bisa tertolong jiwanya. Namun ketika para wanita akan menolong mereka melihat luka laki-laki itu berada pada punggung, mereka justru malah membunuhnya.

Luka di punggung itu menandakan bahwa mereka melarikan diri, yang dianggap menyalahi jiwa ksatria. Saat keruntuhan kerajaan itu, Pangeran Mas melarikan diri ke Giri. Sedangkan Prasena (putera ketiga Pangeran Tengah) dibawa oleh Juru Kitting ke Mataram, yang kemudian diakui sebagai anak angkat oleh Sultan Agung dan dilantik menjadi penguasa seluruh Madura yang berkedudukan di Sampang dan bergelar Tjakraningrat I. Keturunan Tjakraningrat inilah yang kemudian mengembangkan pemerintahan kerajaan baru di Madura, termasuk Bangkalan.

Tjakraningrat I menikah dengan adik Sultan Agung. Selama pemerintahannya ia tidak banyak berada di Sampang, sebab ia diwajibkan melapor ke Mataram sekali setahun ditambah beberapa tugas lainnya. Sementara kekuasaan di Madura diserahkan kepada Sontomerto.

Dari perkawinannya dengan adik Sultan Agung, Tjakraningrat tidak mempunyai keturunan sampai istrinya wafat. Baru dari pernikahannya dengan Ratu Ibu ( Syarifah Ambani, keturunan Sunan Giri ), ia memperoleh tiga orang anak dan beberapa orang anak lainnya diperoleh dari selirnya (Tertera pada Silsilah yang ada di Asta Aer Mata Ibu. Bangkalan berkembang mulai tahun 1891 sebagai pusat kerajaan dari seluruh kekuasaan di Madura, pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat II yang bergelar Sultan Bangkalan II. Raja ini banyak berjasa kepada Belanda dengan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda di beberapa daerah di Nusantara bersama tentara Inggris.

Karena jasa-jasa Tjakraningrat II itu, Belanda memberikan izin kepadanya untuk mendirikan militer yang disebut ‘Corps Barisan’ dengan berbagai persenjataan resmi modern saat itu. Bisa dikatakan Bangkalan pada waktu itu merupakan gudang senjata, termasuk gudang bahan peledak. Namun perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.

Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.

Raja Bangkalan Dari Tahun 1531 – 1882

  • Tahun 1531 – 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)

  • Tahun 1592 – 1620 : Raden Koro (Pangeran Tengah)

  • Tahun 1621 – 1624 : Pangeran Mas

  • Tahun 1624 – 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)

  • Tahun 1648 – 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)

  • Tahun 1707 – 1718 : Raden Tumenggung Suroadiningrat

  • · (Pangeran Cakraningrat III)

  • · Tahun 1718 – 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Cakraningrat IV)

  • Tahun 1745 – 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)

  • Tahun 1770 – 1780 : Raden Tumenggung Mangkudiningrat

  • (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VI)

  • Tahun 1780 – 1815 : Sultan Abdu/Sultan Bangkalan I

  • · (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VII)

  • · Tahun 1815 – 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)

  • Tahun 1847 – 1862 : Raden Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)

  • Tahun 1862 – 1882 : Raden Ismael (Panembahan Cakraadiningrat VIII)

Menggali Sejarah Bangkalan, Selanjutnya


Dari Pra Islam Hingga Cakraningrat Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Bangkalan, Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi.

Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung. Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang.

Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel.

Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat. Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit. Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda.

Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M. Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil.

Baca Juga: Sejarah Sultan R. Abdul Kadir Cakra Adiningrat II

Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa. Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.

Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah. Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen).

Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar. Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit. Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu.

Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam. Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina.

(Risang Bima Wijaya) atas Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Bangkalan, Radar.- Sosok Pratanu atau lebih dikenal dengan Panembahan Lemah Duwur adalah putera Raja Pragalba. Dia dikenal sebagai pendiri kerajaan kecil, yang berpusat di Arosbaya. Masyarakat Bangakalan menokohkan Pratanu sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Madura.

Bahkan, putera Pragalba ini disebut-sebut sebagai pendiri masjid pertama di Madura. Selain itu, Pratanulah yang mengawali hubungan dengan daerah lain, yaitu Pajang dan Jawa. Perjalanan sejarah Bangkalan tidak bisa dilepaskan dengan munculnya kekuasaan di daerah Plakaran, yang selanjutnya disebut dengan Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperkirakan muncul sebelum seperempat pertama abad 16, yakni sebelum penguasa Madura barat memeluk Islam.

Plakaran diawali dengan kedatangan Kiyai Demung dari Sampang. Dia adalah anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Setelah menetap di Plakaran, Kiyai Demung dikenal dengan nama Demung Plakaran. Dia mendirikan kraton di sebelah barat Plakaran atau sebelah timur Arosbaya, yang dinamakan Kota Anyar (Pa’ Kamar 1951: 113).

Sepeninggal Demung Plakaran, kekuasaan dipegang oleh Kiai Pragalba, anaknya yang nomor lima. Pragalba mengangkat dirinya sebagai Pangeran Plakaran dari Arosbaya. Selanjutnya meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir seluruh Madura. Paragalba mempunyai tiga orang istri.

Pratanu adalah anak dari istri ketiganya. Semasa kekuasaan Pragalba inilah agama Islam mulai disebarkan di Madura barat, yang dilakukan oleh para ulama dari Giri dan Gresik. Penyebarannya meliputi daerah pesisir pantai sekitar selat Madura pada abad ke-15 (FA Sutjipto Tirtoatmodjo 1983 : 13) Islam berkembang pesat sejak penyeberannya dilakukan secara teratur oleh Syech Husen dari Ampel (Hamka 1981:137).

Bahkan, ia mendirikan masjid di Arosbaya. Menurut cerita masyarakat Arosbaya, reruntuhan di sekitar makam Syech Husen adalah masjid yang didirikannya. Namun meski Islam sudah masuk di Madura barat, Pragalba belum memeluk Islam. Tetapi justru putranya Pratanu yang memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi: Sirna Pandawa Kertaning Nagara (1450 caka 1528 M).

Peristiwa tersebut berbarengan dengan pudarnya kekuasaan Majapahit setelah dikuasai Islam tahun 1527 M. Selain itu, Kerajaan Plakaran mengakui kekuasaan Demak, sehingga diperkirakan penerimaan Islam di Madura bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Menjelang wafat, Pragalba masuk Islam dengan menganggukkna kepala, karena itu dia mendapat sebutan Pangeran Onggu’ (mengangguk, Red). Sepeninggalnya, Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Dhuwur. Itu terjadi pada tahun 1531-1592.

Di masa pemerintahan Lemah Dhuwur inilah pusat pemerintahan Plakaran dipindahkan ke Arosbaya. Karena itu, dia mendapat julukan sebagai pendiri Kerajaan Arosbaya. Lemahlah Dhuwur yang mendirikan kraton dan msajid pertama di Arosabaya. Selama masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan Arosbaya telah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke seluruh Madura barat, termasuk Sampang dan Blega.

Panembahan lemah Duwur mengawini putri Triman dari Pajang. Ini juga menjadi bukti bahwa Lemah Duwur adalah penguasa Madura pertama yang menjalinm hubungan dengan Jawa. Berdasarkan Tutur Madura Barat, Rafless mengatakan bahwa Lemah Dhuwur adalah penguasa terpenting di daerah Jawa Timur pada masa itu.

Panembahan Lemah Dhuwur wafat di Arosbaya pada tahun 1592 M setelah kembali dari kunjungannya ke Panembahan Ronggo Sukowati di Pamekasan. Sesuai dengan tradisi dia dimakamkan di kompleks Makam Agung Lemah Dhuwur.

Selanjutnya kekuasaan Arosbaya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Tengah, hasil perkawinannya dengan puteri Pajang. Pangeran Tengah berkuasa tahun 1592-1620. Di masa pemerintahan Pangeran Tengah terjadi peristiwa terkenal yang disebut dengan 6 Desember 1596 berdarah, karena saat itu telah gugur dua orang utusan dari Arosbaya yang dibunuh oleh Belanda yaitu Patih Arosbaya Kiai Ronggo dan Penghulu Arosbaya Pangeran Musarip. Sejak peristiwa itulah Arosbaya menyatakan perang dengan Belanda.

Pangeran Tengah meninggal tahun 1620. Makamnya terletak di kompleks makam Syech Husen, dan sampai sekarang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Pengganti Pangeran Tengah adalah adiknya yang bernama Pangeran Mas, yang berkuasa tahun 1621-1624. Sebetulnya yang berhak berkuasa adalah putra Pangeran Tengah yang bernama Pangeran Prasena. Namun karena masih kecil, dia diwakili oleh pamannya.

Di masa pemerintahan Pangeran Mas terjadi peristiwa penyerangan Sultan Agung ke Arosbaya pada tahun 1624. Itulah yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Arosbaya. Sedang Pangeran Mas melarikan diri ke Demak dan Pangeran Prasena dibawa oleh juru kitting ke Mataram.

Peperangan antara Mataram dan Arosbaya yang berlangsung pada hari Minggu 15 Septeber 1624 tersebut, memang patut dikenang sebagai perjuangan rakyat Madura. Saat itu Mataram harus membayar mahal, karena mereka telah kehilangan panglima perang tertingginya, Tumenggung Demak dan kehilangan 6000 prajurit.

Saat itu laki-laki dan wanita Arosbaya berjuang bersama. Ada sebuah kisah menarik di sini. Dikisahkan saat di medan perang ada beberapa prajurit lelaki yang mengeluh karena luka berat. Tetapi katika para wanita melihat luka tersebut terdapat dibagian belakang, para wanita tersebut menusuk prajurit tadi hingga tewas.

’’Lukanya di bagian belakang, artinya prajurit itu telah berbalik lari, hingga dilukai di bagian punggungnya oleh musuh, mereka pengecut dalam,’’ demikian kata-kata para wanita Arosbaya. atas Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Prasena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.

Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas.

Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto. Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan.

Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya. Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika.

Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya. Cakraningrat I diganti oleh Undagan. seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram. Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura.

Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura. Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom. Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677.

Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I.

Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang. Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun.

Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III. Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali.

Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura. Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi. Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit. Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali.

Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.

Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini.

Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati. Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban.

Logo Cipta Indra Cakti Dharma Kabupaten Bangkalan

Cakraningrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.

Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap.

Sumber Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan, logo: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
Koran Radar Bangkalan Madura, Berita Terbaru Bangkalan, Carok di Kabupaten Bangkalan, Sejarah Perjuangan Pahlawan Bangkalan, Asal usul Rato Ebu, Cerita Legenda di Bangkalan, Asal usul Selat Madura, Kapan hari Jadi bangkalan.