Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan

Ekspedisi Wisata Oksigen Tertinggi di Dunia - Pulau Gili Iyang - Sumenep

10/23/2013 3 Comments
Ekspedisi Wisata Oksigen Tertinggi di Dunia - Pulau Gili Iyang - Sumenep - Madura

Rencana TreTan untuk bisa berkunjung ke Pulau Gili Iyang akhirnya terwujud bareng temen-temen dari Komunitas Blogger Madura (Plat-M.com) dan dari Tim Songennep Tempo Doeloe. Sebenarnya kita berencana ingin ke Pulau Gili Labak yang masih masuk Kabupaten Sumenep, namun tertunda dikarnakan sesuatu hal. Alasan kenapa ingin ke Pulau Gili Labak dikarnakan pulau tersebut memiliki pantai yang bagus dengan pasir putihnya.

Beberapa orang telah mengabadikan cerita dan foto mereka tentang keindahan Pulau Gili Labak di dunia maya, dari situlah TreTan ingin ‘babat alas’ melihat secara langsung potensi didalamnya dan ikut serta mempromosikan potensi wisata Pulau Gili Labak kepada khalayak ramai melalui media web PulauMadura.com ini.

Baca Juga: Wisata Pulau Gili Labak - Sumenep

Gagal mengunjungi Pulau Gili Labak, temen-temen dari Tim Songennep Tempo Doeloe memberi saran untuk mengunjungi Pulau Gili Iyang dengan potensi Kadar Oksigen terbersih di Dunia. Mendengarkan tawaran dari mereka, kami mengiyakan dan membicarakan langkah selanjutnya untuk sampai di Pulau Gili Iyang.

Hari yang ditentukan telah tiba, kami berangkat setelah sebelumnya berkumpul di Taman Bunga Sumenep menanti teman lainnya berbarengan mengunjungi Pulau Gili Iyang. Perjalanan lumayan panjang memakan waktu sekitar 1 jam dan kamipun tiba di Pelabuhan Dungkek tempat penyeberangan menuju Pulau Gili Iyang.

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR
Pelabuhan Dungkek

Sepeda motor kami titipkan ke tempat parkir tepatnya di Pom Bensin tempat pembelian bensin/solar bagi para nelayan.

Disana tidak lantas kami menumpang perahu, tapi masih menunggu perahu yang telah dipesan dengan meminta bantuan Klebun (Kepala Desa) setempat. Ongkos yang dikeluarkan untuk kami yang berjumlah 8 orang dengan sistem Pulang-Pergi sekitar Rp. 300.000

Perjalanan perahu melawan ombak laut membuat beberapa teman pusing dan salah satu dari kami mengalami muntah mungkin dikarenakan belum terbiasa “digoyang” oleh ombak dan akhirnya kami sampai di Pulau Giliyang dengan memakan waktu perjalanan laut sekitar setengah jam.

Suasana dalam perahu menuju Pulau Giliyang

Perjalanan menuju Pulau Giliyang

Disana kami sudah disambut oleh penduduk setempat yang akan memandu kami untuk mengunjungi beberapa tempat wisata dengan menggunakan “Dorkas” kendaraan sepeda motor roda 3 dan orang setempat menyebutnya “odong-odong”.

Dorkas atau "Odong-Odong"

Tempat pertama yang kami kunjungi di Pulau Giliyang adalah Gua Air. Disitu kami disambut pintu gua yang lumayan besar dan memasuki salah satu lubang dengan keadaan gelap gulita. Penerangan menggunakan seadanya seperti kamera dari gadget kami. Meski tidak maksimal tapi kami tetap bisa menikmati beberapa keindahan didalam Gua Air.

Menuju Gua Air

Suasana dalam Gua Air

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai didaerah Banra’as disitu kami menemukan tulang ikan paus yang cukup besar dan sepertinya sengaja disimpan oleh warga sekitar mengingat daerah tersebut jarang sekali ada ikan paus.

Tulang Belulang Ikan Paus

Di Pantai tersebut kami bermanjakan diri berenang dengan airnya yang cukup jernih dan TreTans menyempatkan diri untuk menumpang Sholat disalah satu rumah warga sekitar. disitu TreTans melihat beberapa penerangan seperti Lampu TL (Tube Lamp) dengan menggunakan Aki sebagai sumber tenaga listrik dan Lampu Teplok menggunakan minyak.

Aki sebagai sumber kehidupan

Lampu Teplok

Wajar jika penduduk Pulau Giliyang menggunakan alat penerangan seperti itu dikarnakan listrik PLN belum masuk daerah mereka dan dari pengamatan TreTans beberapa rumah sudah menggunakan panel tenaga surya untuk beraktifitas sehari-hari.

Harapan TreTans semoga suatu saat ada Gerakan Listrik Tenaga Surya agar penduduk Pulau Giliyang bisa menggunakan listrik untuk kebutuhan sehari-hari seperti penerangan dan lain sebagainya.

Oia, mengenai tempat yang mempunyai kadar oksigen tertinggi, TreTan belum memasuki daerah itu yang konon katanya hanya orang-orang dari Balai Penelitian Pusat yang mengetahui tempat/pusat daerah yang mempunyai Kadar Oksigen Tertinggi di Dunia.

Yah, semoga di Ekspedisi selanjutnya, TreTans bisa mengunjungi kembali dan merasakan sensasi menghirup nafas dengan kadar Oksigen lebih dari biasanya.

Yang jelas kembali menyisihkan uang untuk itu, syukur-syukur ada sponsor atau Donasi untuk terus Menduniakan Madura.. he he..

Maaf jika gambar kurang berkenan, hanya mengandalkan Gadget murahan.. Jika penasaran, silahkan kunjungi langsung Pulau Giliyang – Sumenep.. tentunya hanya di Pulau Madura.. ;)

 PETA DIGITAL SURAMADU MENUJU PULAU GILIYANG - SUMENEP
KLIK GAMBAR



Untuk Menuju Pulau Gili Iyang, TreTan bisa menghubungi teman kita:
- Sutam Balakosa (fb: facebook.com/sutam.balakosa atau Twitter: @SutamWidodo)
- Deddy (fb: facebook.com/Boyz.phat
- dari Terminal Bungurasih - Surabaya, naek bis langsung menuju Terminal Sumenep.


MATOR SAKALANGKONG:
~ Komunitas Blogger Madura (Plat-M.com)
~ Komunitas Sejarah Sumenep "Songennep Tempo Doeloe"
Tim Ekspedisi Pulau Gili Iyang - Sumenep

Pencarian:
Tempat Wisata Pulau Gili Iyang, Kadar Oksigen Tertinggi, Pulau di Sumenep, Pariwisata tersembunyi Madura,  Wisata Kesehatan di Sumenep, Lokasi Pulau Gili Iyang di Madura, Paket Wisata Madura,

Ekspedisi Benteng Fort Sumenep - Tim Songennep Tempo Doeloe

5/16/2013 1 Comment
Ekspedisi Benteng Fort Sumenep - Tim Songennep Tempo Doeloe

Melanjutkan postingan yang tertunda setelah hampir 4 bulan lamanya, Kami mencoba menelusuri peninggalan bersejarah lainnya di wilayah distrik 3 wilayah Kota Sumenep. Kali ini objek yang kami telusuri yaitu “Fort Soemenep” atau yang dikenal oleh Masyarakat sekitar dengan sebutan “Benteng Kalimo’ok”.

Fort Soemenep sendiri menurut prasasti yang ada di depan benteng, menerangkan bahwasanya benteng tersebut dibangun pada tahun 1785 oleh VOC. Benteng Fort Sumenep dibangun tak jauh dari lokasi pembangunnya yang pertama di “ Loji Kantang” . Benteng Fort Soemenep berada di dusun bara’ lorong, Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget jaraknya sekitar 5 km dari pusat kota Sumenep

Desa Kalimo’ok merupakan daerah dekat pesisir jaraknya hanya sekitar 3 km dari bibir pantai, lokasinya juga tidak jauh dari Kali Marengan sebagai jalur perdangan utama untuk memasuki kawasan kota. Lebih dari itu lokasi ini juga sangat strategis karena daerahnya agak tinggi dan pandagannya langsung menuju selat Madura. Segala aktifitas keluar masuk kapal dari selat Madura ke kali marengan terpantau jelas dari bangunan utama benteng.

Fort Sumenep atau lebih terkenal dengan sebuatan benteng Kalimo’ok bangunannya berbentuk persegi dilengkapi dengan 4 buah bastion di setiap sudut-sudutnya. Benteng ini juga dilengkapi beberapa buah meriam yang salah satunya tertuju pada satu arah yakni “ Selat Madura”. Semua bastion masing-masing juga dilengkapi beberapa lubang ukuran 50x70 cm sebagai tempat pengintaian.

Fort Sumenep, luasnya kurang lebih 12.750 M2 dengan panjang tembok 150 meter dan lebar 100 meter. Ketebalan dinding keseluruhan 3 meter. Didalamnya juga terdapat 2 buah penjara. Benteng ini juga mempunyai 2 pintu yang kesemuanya mencerminkan arsitektur kolonial. Pediment di kedua pintu gerbangnya juga masih berdiri kokoh hingga saat ini, hampir mirip dengan pintu masuk labhang mesem di Karaton Sumenep.

Seperti yang tertera pada gambar peta Kota Soemenep tahun 1883. Didalam benteng sebenarnya ada 4 buah bangunan . Sayangnya keempat buah bangunan tersebut sudah hilang diganti menjadi bangunan-bangunan baru untuk fasilitas gedung dinas peternakan dan juga lapangan volley, hanya ada satu bangunan yang bisa dibilang umurnya sudah cukup tua, kemungkinan merupakan sisa bagian dari bangunan-bangunan lainnya yang sudah dibongkar. Arsitektur dari bangunan ini juga mencerminkan gaya bangunan Kolonial. Secara sekilas nampak seperti bangunan berkubah dengan ketebalan dinding dalam hampir mencapai 1 meter.

Menurut persepsi masyarakat, bangunan ini merupakan musholla yang ada sejak jaman VOC, sebab ada kubah diatasnya. Namun persepsi masyarakat tersebut sebenarnya kurang benar. Menurut penuturan Bapak Sulaiman, salah sorang pegawai dinas peternakan yang ditugaskan untuk menjaga lokasi tersebut, Bangunan tersebut difungsikan sebagai musholla hanya pada era pemerintahan orde baru saja, tatkala Benteng tersebut dialih fungsikan sebagai pusat peternakan sapi Madura.

Di utara Benteng saat ini terdapat bangunan Kandang Sapi yang ukurannya cukup luas, namun sejak jaman reformasi hingga sekarang sudah tidak difungsikan lagi. Saat ini kondisinya juga sangat memperihatinkan, hampir mirip dengan kondisi bangunan utama Benteng yang dibeberapa sudutnya sudah ditumbuhi semak belukar dan hancur.

Berikut foto-foto kondisi terkini Kondisi Fort Soemenep tahun 2013. Penelusuran kali ini juga kami abadikan menjadi film documenter bersama teman-teman Songennep Tempo Doeloe.

Kondisi dalam Benteng yang sudah berubah fungsi dan juga bangunannya, sudah nampak tak terawat lagi dan merusak stuktur bangunan benteng yang dulunya sebagai pusat pertahanan.

Kondisi salah satu penjara yang ada di dalam area benteng yang tertutup semak belukar.

Kondisi ruangan penjara yang hanya berukuran 1.5 meter X 1 meter.
Pintu keluar yang ada di sisi utara benteng, juga jalan masuk menuju Kandang Sapi milik dinas Peternakan Propinsi.

rekonstruksi bangunan benteng "Fort Soemenep" menurut kondisi saat ini.

Ca-kanca Komunitas Songennep Tempo Doeloe di depan Benteng "Fort Soemenep" di Desa Kalimo'ok, Kecamatan Kalianget.

Catatan:
- Jika TreTans ingin lebih mengetahui lebih jauh tentang sejarah Sumenep atau bergabung dengan Tim SEPOELOE (Songennep Tempoe Doeloe) dalam menguak Sejarah yang ada di Kabupaten Sumenep, silahkan bergabung di link Fanspage SEPOELOE.
- Terima Kasih kepada Tim SEPOELOE yang ikut berkonstribusi untuk web PulauMadura.com (Berbagi Seputar Pulau Madura) semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Asal Usul Pulau Madura

9/12/2012 27 Comments
Siapa yang tidak kenal Pulau Madura? Pulau dengan penduduknya yang ramah dan sopan serta banyak keunikan didalamnya. Belum lagi banyaknya potensi wisata didalamnya seperti Kerapan Sapi, Pantai Camplong di Sampang, Masjid Syechona Moch. Cholil di Bangkalan dan Potensi Wisata lainnya di Kepulauan Sumenep yang tidak kalah dengan tempat wisata lainnya.

Namun ada baiknya jika TreTan mengetahui terlebih dahulu asal muasal Pulau Madura hingga sekarang menjadi sebuah pulau yang didiami oleh banyak orang dan berikut adalah ceritanya:

DICERITAKAN bahwa pulau Madura ini bermula terlihat oleh pelajar-pelajar pada jaman purbakala sebagai pulau yang terpecah-pecah sehingga merupakan beberapa puncak-puncak tanah yang tinggi (yang sekarang menjadi puncaknya bukit-bukit di Madura) dan beberapa tanah datar yang rendah apabila air laut surut kelihatan dan apabila air laut pasang tidak kelihatan (ada di bawah air). Puncaknya-puncak yang terlihat itu diantaranya yang sekarang disebut Gunung Geger di daerah Kabupaten Bangkalan dan Pegunungan Pajudan di daerah Kabupaten Sumenep.

Diceritakan bahwa pada jaman purba ada suatu negara yang bernama negara Mendangkawulan yang didalamnya terdapat subuah kraton yang bernama Gilling Wesi. Rajanya bernama Sanghiangtunggal. Menurut dugaan orang Madura dikiranya ada disuatu tempat didekat Gunung Semeru didekat puncakala yang bernama Gunung Bromo. Jaman tersebut kira-kira sekitar tahun 929 Masehi.

Raja tersebut mempunyai seorang putri yang masih gadis. Pada suatu hari, putri tersebut bermimpi kemasukan rembulan dari mulutnya terus masuk ke dalam perutnya dan tidak keluar lagi. Setelah beberapa bulan setelah kejadian itu, putri tesebut menjadi hamil dan tidak ketahuan siapa ayah dari calon bayi tersebut. Beberapa kali ayahnya bertanya tentang sebab musababnya, tapi putrinya sama sekali tidak menjawab karena iapun juga tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya.

Raja tadi amat marah dan memannggil Patihnya yang bernama Pranggulang. Patih tersebut diperintah untuk membunuh putri tersebut dan membawa kepala putrinya ke hadapan raja tersebut. Apabila Patih tersebut tidak sanggup memperlihatkan kepala putrinya itu maka Patih tidak diperkenankan menghadap raja dan tidak dianggap lagi sebagai Patih di Kerajaannya.

Maka berangkatlah Patih dengan membawa sang Putri keluar dari Kraton menuju hutan rimba. Setelah sampai disuatu tempat di dalam hutan belantara, maka Patih menghunus pedangnya dan mulai memegang leher Putri tersebut, akan tetapi hampir pedang tersebut sampai ke lehernya pedang tersebut terjatuh ke tanah. Setelah kejadian tersebut sang Patih termenung dan berpikir bahwa hamilnya Putri tersebut tentu bukan dari kesalahannya, tetapi tentu ada hal yang luar biasa dan akhirnya Patih Pranggulang mengalah untuk tidak kembali ke rajanya dan mulai saat itu ia berubah nama menjadi Kijahi Poleng (Poleng artinya dalam Bahasa Madura yakni kain tenunan Madura) dan ia merubah pakaian yaitu memakai kain, baju dan ikat kepala dari kain poleng. Ia memotong kayu-kayu untuk dijadikan perahu (oleh orang Madura dinamakan Ghitek atau orang Jawa bilang Getek).

Sebelum Putri tadi diberangkatkan, Kijahi Poleng memberikan beberapa bekal berupa buah-buahan serta berpesan bahwa jika sang Putri memerlukan pertolongannya supaya sang Putri menghentakkan kakinya ketanah sebanyak 3 kali maka seketika itu Kijahi Poleng datang untuk menolongnya.

Putri tersebut oleh Kijahi Poleng didudukkan diatas ghitek itu yang kemudian ditendangnya Ghitek tersebut menuju "Madu Oro" (pojok di ara-ara) artinya pojok menuju ke arah yang luas. Diceritakan bahwa sebab inilah Pulau ini bernama Madura. Ada juga yang mengatakan bahwa nama Madura itu dari perkataan "Lemah Dhuro" artinya tanah yang tidak sesungguhnya yaitu apabila air laut pasang tanahnya tidak kelihatan, apabila air laut surut maka tanah akan kelihatan.

Singkat cerita Ghitek tersebut terdampar di Gunung Geger (disitu asalnya tanah Madura) dan memang menurut Babad-babad apabila ada yang tertulis perkataan tanah Madura, maka yang dimaksudkan adalah Kabupaten Bangkalan juga termasuk Kabupaten Sampang, sedangkan apabila ada yang menyebutkan daerah-daerah disebelah Timur dari daerah-daerah tersebut maka dimaksudkan adalah Kabupaten Sumenep atau Sumekar atau Sumanap dan dituliskannya Pamekasan.

Pada suatu ketika perut sang Putri mulai terasa sakit seolah akan menemui ajalnya, disitu ia menghentakkan kakinya ketanah 3 kali guna meminta pertolongan Kijahi Poleng. Maka seketika itu Kijahi Poleng datang dan iapun bila bahwa sang Putri akan segera melahirkan. Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya amat bagus yang kemudian diberi nama "Raden Segoro" (Segoro artinya lautan). Keluarga itu menjadi penduduk pertama di Madura. Setelah itu Kijahi Poleng menghilang lagi, tetapi ia sering datang mengunjungi sang Putri dengan membawa makanan atau buah-buahan.

Diceritakan bahwa perahu-perahu orang dagang yang berlayar dari beberapa kepulauan di Indonesia apabila pada waktu malam hari melalui lautan dekat tempatnya Raden Segoro tersebut, maka mereka melihat cahaya yang terang seolah-olah cahaya rembulan, maka mereka akan berhenti untuk berlabuh ditempat itu Geger Madura dan akan membuat selamatan makan minum disitu serta memberi hadiah kepada yang bersahaja itu.

Setelah berumur dua tahun Raden Segoro sering bermain-main di tepi lautan, dan pada suatu hari dari arah lautan datanglah dua ekor naga yang amat besarnya mendekatinya.

Dengan ketakutan, maka Raden Segoro berlari sambil menangis dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Merasa khawatir takut anaknya dimakan ular naga tersebut, maka ibunya memanggil Kijahi Poleng. Dan seketika itu Kijahi Poleng datang menemui si Ibu, maka si ibu menceritakan kejadian yang menimpa putranya tersebut. Kemudian kijahi Poleng mengajak Raden Segoro bermain-main di tepi laut.

Tidak beberapa lama datanglah dua ekor naga raksasa itu, lalu Kijahi Poleng menyuruh Raden Segoro agar memegang ekor ular dan membantingkannya ke tanah. Raden Segoro menolak permintaan Kijahi Poleng, tetapi karena paksaan tersebut akhirnya Raden Segoro memenuhi permintaan tersebut. Kemudian dipegangnya dua ekor naga raksasa tersebut dan dibantingkannya ke tanah. Seketika itu juga dua ekor ular naga raksasa tersebut berubah menjadi dua bilah tombak. Kedua bilah tombak tersebut kemudian diberikan kepada Kijahi Poleng untuk dibawa menghadap ibunya raden Segoro. Tombak satunya diberi nama "Kijahi (si) Nenggolo" dan satunya diberi nama "Kijahi (si) Aluquro"

Pada usia 7 tahun Raden Segoro pindah dari Gunung Geger ke Desa Nepa. Nama Nepa itu karena disitu banyak sekali pohon Nepa. Pohon nepa atau Bhunyok yaitu pohon sejenis kelapa tapi lebih kecil dan tidak besar seperti halnya pohon kelapa, daunnya dapat dibuat atap rumah, yang masih muda dapat dibuat rokok (seperti klobot). Desa tersebut letaknya berada di daerah Ketapang Kabupaten Sampang dipantai sebelah Utara (Java Zee) dan hingga sekarang masih banyak keranya.

Pada suatu ketika, Negara Mendangkawulan kedatangan musuh dari Tjina. Didalam peperangan tersebut Raja Mendangkawulan berkali-kali kalah sehingga rakyatnya hampir habis dibunuh oleh musuh. Didalam keadaan bingung dan susah tersebut, suatu malam Raja Mendangkawulan bermimpi bertemu dengan orang tua yang berkata bahwa di sebelah pojok Barat Daya dari Kraton tersebut ada Pulau bernama Madu Oro (Lemah Dhuro) atau Madura. Disitu berdiam seorang anak muda bernama Raden Segoro. Raja disuruhnya untuk meminta pertolongan kepada Raden Segoro apabila ingin memenangkan peperangan.

Keesokan harinya Raja memerintahkan Pepatihnya supaya membawa beberapa prajurit ke Madura sesuai dengan Mimpinya tersebut. Sesampainya di Madura, Pepatih langsung menemui Raden Segoro dan menceritakan tentang kejadian yang menimpa kerajaannya serta meminta pertolongan Raden Segoro untuk membantunya. Dan juga meminta ijin kepada ibunya agar ibunya mengijinkan putranya untuk membantunya. Si ibu memanggil Kijahi poleng untuk mendampingi Raden Segoro guna membantu peperangan raja itu dari serangan musuh (Tjina). Kemudian berangkatlah Raden Segoro, Kijahi Poleng serta Pepatih dan prajuritnya menuju Kraton Mendangkawulan dengan membawa pusaka tombak Kijahi Nenggolo.

Kijahi Poleng ikut serta akan tetapi tidak kelihatan oleh yang lain kecuali Raden Segoro. Dan sesampainya di negara tersebut, Raden Segoro langsung berperang dengan tentara Tjina dengan didampingi oleh Kijahi Poleng. Pusaka Kijahi Nenggolo hanya ditujukan kearah tempat sarang-sarang musuh maka banyak musuh yang mati karena mendadak menderita sakit dan tidak lama kemudian semua musuh lari meninggalkan negara Mendangkawulan.
Raja Mendangkawulan mengadakan pesta besar untuk merayakan kemenangan perang dan memberi penghormatan besar kepada Raden Segoro serta memberi gelar "Raden Segoro alias Tumenggung Gemet" yang artinya semua musuh apabila bertarung dengannya maka akan habis (Gemet = Bahasa Djawa)

Raja Sanghiangtunggal berhajat untuk mengambil anak mantu kepada Tumenggung Gemet dan menghantarkan dia (suruhan Pepatih dan tentara kehormatan) dengan disertai surat terima kasih kepada ibunya. Raja menanyakan siapa ayahnya, maka Raden Segoro akan menanyakan kepada ibunya nanti. Kemudian Raden Segoro mohon ijin kepada Raja Mendangkawulan untuk kembali ke Madura.

Setelah sampai, maka Raden Segoro kembali menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya. Ibunya merasa kebingungan dan menjawabnya bahwa ayahnya adalah seorang siluman. Maka seketika itu pula lenyaplah ibu dan anaknya serta rumahnya yang disebut dengan sebutan Kraton Nepa.

Demikian riwayat asal usul tanah Madura, yang oleh orang tua-tua dikesankan bahwa Raden Segoro telah membalas hutang-hutangnya yang menghinakan ibunya dengan pembalasan yang baik yaitu menolong di dalam peperangan.



Diceritakan pula bahwa dikemudian hari Kijahi Nenggolo dan Kijahi Aluquro oleh Raden Segoro diberikan kepada Pangeran Demong Plakaran (Kijahi Demong) Bupati Arosbaya (Bangkalan). Dan mulai saat itu kedua bilah tombak tersebut (Kijahi Nenggolo dan Kijahi Aluquro) menjadi Senjata pusaka Bangkalan.

Dikutip dari :
Sejarah Tjaranya Pemerintahan Daerah di Kepulauan Madura Dengan Hubungannya
Oleh: R. Zainal Fattah (R. Tumenggung Ario Notoadikusumo (Bupati Pamekasan)
Foto Madura: ragilicious.blogspot.com

Pencarian:
asal usul pulau madura, pulau madura, asal mula madura, asal mula pulau madura, Asal usul kota madura, babad madura, babad tanah madura, asal mula kota madura, asal-usul pulau madura, legenda pulau madura, cerita asal usul madura, Asal usul nama madura, asal-usul madura, kisah pulau madura, cerita rakyat asal usul madura, asal usul bahasa madura, Asal usul, Sejarah asal usul madura, Cerita asal mula madura, cerita asal usul pulau madura