Galeri Foto Kerapan Sapi Madura 2015

10/30/2015 Add Comment
Event Kerapan Sapi yang diadakan pada tanggal 18 Oktober 2015 di Stadion RP. Moh. Noer kemarin berjalan sukses dan meriah. Dengan sekitar 36 pasang sapi yang datang dari berbagai daerah di Bangkalan. Seperti biasanya even Kerapan Sapi selalu mampu menarik ribuan penonton baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu saja, banyak para reporter dan jurnalis yang berasal dari beberapa media lokal maupun nasional datang untuk meliput acara.

Banyak sekali momen – momen langka yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Rasa semangat para joki yang menggiring sapi – sapi untuk berlari kencang, perjuangan setiap tim untuk mempersiapkan sapi, sorak gembira para penonton, para pedagang makanan dan minuman yang bersemangat menawarkan dagangannya serta masih banyak momen langka lainnya.

Hal ini tentu tidak kita sia – siakan begitu saja, jalannya pertandingan Kerapan Sapi yang begitu ramai sudah kami abadikan dalam beberapa foto. Supaya kalian yang belum berkesempatan untuk datang menonton pertandingan secara langsung bisa menikmati setiap aksi seru dan momen berharga melalui hasil jepretan tim Pulau Madura. Berikut telah kita pilihkan Foto Kerapan Sapi Madura yang berhasil didapatkan, semoga bisa memuaskan kalian semua ya

FOTO KERAPAN SAPI MADURA 2015


Kerapan Sapi 2015 Tingkat Kabupaten Bangkalan


Foto Kerapan Sapi Madura 2015


Kerapan Sapi Madura Tingkat Kabupaten Bangkalan 2015

Kerapan Sapi Tingkat Kabupaten Bangkalan 2015

Tragedi Kerapan Sapi Madura 2015


KETERANGAN:

Jika teman - teman membutuhkan foto atau file asli kerapan sapi diatas, silahkan hubungi kami atau email ke [email protected]

Daftar Penginapan dan Hotel di Kabupaten Pamekasan

10/29/2015 Add Comment
Adanya fasilitas umum pada setiap kota maupun daerah menjadi sebuah hal yang pasti, khususnya daerah yang memiliki banyak tempat pariwisata. Kabupaten Pamekasan di Pulau Madura salah satunya, selain banyak memiliki tempat pariwisata juga rajin mengadakan event – event besar setingkat nasional. Tidak tanggung - tanggung setiap even yang diadakan selalu mampu menarik ribuan para wisatawan untuk datang.

Menyadari hal tersebut pemerintah daerah Pamekasan sudah menyiapkan begitu banyak fasilitas umum mulai dari Hotel, penginapan, restoran dan jasa travel. Untuk hotel dan penginapan sendiri harus jauh – jauh hari memesan kamar agar bisa menginap karena setiap ada even besar sudah bisa dipastikan akan penuh. Untuk masalah fasilitas dan tarif yang disediakan hotel maupun penginapan kalian bisa langsung menghubungi pihak hotel setempat.

Seperti pengalaman dari setiap tahunnya Penginapan dan Hotel di Kabupaten Pamekasan akan penuh disewa oleh para wisatawan. Jika memesan kamar secara mendadak dimungkinkan tidak mendapatkan kamar untuk bisa disewa. Untuk memudahkan kalian semua yang akan berkunjung dan bermalam di Kabupaten Pamekasan kami dari tim PulauMadura telah mengumpulkan info penginapan dan Hotel yang berada di daerah sekitar.
Sumber Foto HotelNewRamayana.blogspot.com

Banyak Hotel Murah di Pamekasan yang bisa kalian gunakan terutama bagi para backpaker maupun fotografer yang ingin menginap dan melepas penat setelah melakukan banyak aktifitas maupun istirahat sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lainnya di Madura. Hotel Murah yang berada di pamekasan kisaran harga Rp. 80.000 hingga Rp. 100.000 itupun tergantung fasilitas didalamnya. Semakin lengkap dan mewah layaknya hotel berbintang maka tarif turut mahal

Dibawah ini adalah beberapa hotel bagus dan terbaik untuk dijadikan penginapan sementara, silahkan dihubungi dan booking terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi

DAFTAR PENGINAPAN DAN HOTEL DI KABUPATEN PAMEKASAN - MADURA


NO. NAMA ALAMAT NO. TELEPON / FAX
1 Hotel Madinah Jl. Dirgahayu 0324 - 329534
2 Hotel Garuda Jl. Masigit 0324 – 322589
3 Hotel Ramayana Jl. Niaga 0324 – 324575
4 Hotel New Ramayana Jl. Trunojoyo 0324 – 333237
5 Hotel Putri Jl. Trunojoyo 0324 – 322872
6 Hotel Purnama Jl. Bonorogo -
7 Hotel EDO Jl. Kabupaten 0324 – 322576
8 Homestay Asri Jl. Trunojoyo 0324 - 327285
9 Hotel Malindo Jl. KH. Amin Ja'far 0324 – 329066

Jika kalian salah satu pemilik Penginapan dan Hotel di Pamekasan, silahkan hubungi kita di E-mail [email protected] untuk dimasukkan pada list diatas.

Tips Menonton Event Kerapan Sapi di Madura

10/28/2015 Add Comment
Kerapan Sapi menjadi ajang agenda tahunan di Pulau Madura. Even internasional ini selalu mampu mendatangkan ribuan penonton baik yang berasal dari dalam negeri juga luar negeri. Minggu kemari kami tim dari PulauMadura sengaja meliput khusus even Kerapan Sapi ini. Masih dalam babak final Tingkat Kabupaten Bangkalan untuk menentukan siapa yang akan menjadi wakil Kabupaten pada Kerapan Sapi Piala Presiden nanti.

Kerapan Sapi Tingkat Kabupaten Bangkalan 2015
Bukan sekedar pertandingan biasa, namun ajang ini kerap dijadikan sebagai sarana silaturahmi dan bahkan pamer gengsi. Kerapan Sapi tingkat kabupaten kemarin diadakan serempak pada empat Kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Setiap Kabupaten dipenuhi para peserta yang siap mengadu kecepatan lari sapi jagoan mereka.

Di Kabupaten Bangkalan salah satunya, tercatat ada 36 pasang sapi yang siap untuk dipertandingkan pada hari minggu kemarin. Stadion RP. Moh Noer dipilih pemerintah daerah setempat menjadi digelarnya ajang Kerapan Sapi di Bangkalan. Stadion RP. Moh Noer ini merupakan stadion kedua di Bangkalan setelah Stadion Gelora Bangkalan. Bangunannya juga terhitung cukup baru jadi tidak heran kalau masih sangat gersang dan jarang pepohonan.

Selain dipadati oleh ribuan penonton yang berada di dalam stadion juga banyak penjual makanan, minuman dan penjual topi serta masker. Maklum saja akhir – akhir ini sinar matahari di Pulau Madura sedang menyengat sekali. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk menonton kerapan tidak sebentar, kita harus sedikit berdesak – desakan ketika sapi-sapi siap untuk berlari.

Seperti biasa sebelum pertandingan dimulai sapi-sapi di arak mengelilingi stadion sambil melakukan persiapan. Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta, peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding antar pelatih untuk mengatur strategi.

Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut pertandingan babak selanjutnya.

Uniknya dalam Kerapan Sapi Madura ini, pada babak kualifikasi jika ada sepasang sapi kalah dalam pertandingan akan dimasukkan dalam pertandingan bagian kalah artinya ada 2 sesi dalam adu lomba kerapan sapi, Bagian Kalah dan Bagian Menang.

Tips Menonton Event Kerapan Sapi Madura



Bagian kalian yang ingin menyaksikan event kerap sapi yang sangat fenomenal ini, ada beberapa tips dari kami:

1. Memakai pakaian yang menutup anggota badan dari sengatan sinar matahari kecuali wajah dan tangan.

2. Membawa payung.

3. Menggunakan Sun Block dan vitamin rambut bagi yang tidak menggunakan hijab.

4. Memakai Sepatu atau Flat shoes supaya bisa bergerak bebas.

5. Sediakan air mineral atau makanan kecil di dalam tas, walaupun disana banyak penjual makanan dan minuman.

6. Sebelum menonton pertandingan, pastikan betul kondisi badan kita sedang fit karena pertandingan Kerapan Sapi ini berlangsung lam, bisa sehari atau bahkan 3 hari.

7. Awasi betul bagi kalian yang berencana menonton Kerapan Sapi dengan membawa anak kecil.

8. Tetap waspada dan jaga barang pribadi selama menonton.

Selamat menonton, sampai ketemu lagi pada event Kerapan Sapi Piala Presiden tanggal 1 November 2015 di Lapangan Stadion Soenarto Hadiwidjojo Pamekasan. Siapkan kamera kalian untuk mengabadikan setiap momen – momen seru nantinya.

Sejarah, Tradisi dan Kontes Sapi Sonok di Madura

10/24/2015 Add Comment
Pulau Madura begitu terkenal dengan warisan wisata budayanya yakni Kerapan Sapi. Ajang internasional ini mampu menarik beribu penonton untuk datang. Minggu lalu empat kabupaten di Madura serentak mengadakan Kerapan Sapi untuk mendapatkan perwakilan yang akan kembali di pertandingkan pada Kerapan Sapi Piala Presiden pekan depan.

Bulan ini juga ada pertandingan yang melibatkan sapi, tapi bukan Kerapan Sapi, melainkan Sapi Sonok. Sapi Sonok adalah kontes kecantikan sepasang sapi betina, wisata budaya ini sudah ada sejak 50 tahun yang lalu. Namun rupanya Tradisi Sapi Sonok tidak seterkenal Kerapan Sapi, jadi masih asing di dengar masyarakat.

Berbeda dengan Kerapan Sapi yang mengandalkan kecepatan sapi untuk berlari kencang di arena lapangan. Sepasang sapi betina yang ada di karnaval budaya lebih menonjolkan keindahan dan keserasian pasangan sapi. Dengan penuh hiasan di badan sapi seperti sepasang pengantin, kemudian berjalan berlenggak – lenggok mengikuti alunan musik tradisional dari Gong, Terompet dan Kenong.

Sejarah, Tradisi dan Kontes Sapi Sonok di Madura foto Travel.Kompas.com

Setiap tahun selalu diadakan konten Sapi Sonok dengan mendatangkan sapi sapi terbaik dari seluruh wilayah Pulau Madura. Sapi juga menjadi identitas Pulau Madura yang sudah sangat terkenal dimana saja. Kontes Sapi Sonok ini hampir berbarengan dengan Kerapan Sapi yang rutin diselenggarakan.

SEJARAH SAPI SONOK MADURA

Sapi Sonok juga memiliki cerita sejarah sendiri, dimulai dari kebiasaan para petani di Kabupaten Pamekasan dalam merawat sapi ternak mereka. Setiap sore sapi - sapi betina ini dimandikan setelah itu ditali pada tonggak kayu dan kemudian berjejer rapi.

Rupanya hal ini menjadi keisengan para petani untuk melakukan sebuah pemilihan sapi tercantik, termulus dan terbaik. Lambat laun, kontes – kontes kecil inipun berkembang menjadi kontes tingkat desa, kecamatan dan kabupaten dan sejak saat itu sapi - sapi peserta kontes itu dinamai sapi sonok.

Dalam kontes Sapi Sonok ini memang menggunakan sapi betina karena sapi jantan lebih banyak digunakan pada Kerapan Sapi. Jika awalnya kontes Sapi Sonok ini hanya dinilai dari segi fisik saja dengan berjalannya waktu terjadi perubahan dalam penilaian. Selain segi fisik, sepasang sapi betina ini juga akan dinilai dari penampilan aksesorin yang digunakan dan keserasian.

Tidak jauh berbeda dengan Kerapan Sapi rupanya konten Sapi Sonok ini menjadi ajang pamer gengsi antar peserta. Pemenang kontes Sapi Sonok juga tidak kalah dengan Sapi Kerapan dengan harga jual yang melambung tinggi. Harga Sapi Sonok bisa mencapai ratusan juta dan bisa menjadi lebih mahal lagi tergantung dari tingkat kualitasnya.

Jadi tidak heran jika Sapi Sonok juga dipanggil dengan sapi elit di Madura karena harga jualnya yang ratusan juta tersebut. Untuk masalah perawatan sehari – hari rupanya Sapi Sonok tidak jauh berbeda dengan Sapi Kerapan. Untuk bisa menghasilkan sepasang Sapi Sonok yang terbaik dibutuhkan ketelatenan, waktu dan pastinya biaya yang tidak sedikit.

Sebelum bisa tampil di kontes Sapi Sonok, sapi – sapi tersebut telah dilatih sejak usia 3 tahun dengan perlakuan khusus dan nutrisi makanan yang terbaik. Setiap seminggu sekali sapi – sapi tersebut rutin diberi jamu yang telah dicampur dengan sekitar 15 butir telur. Bisa dibayangkan saja selain cantik mempesona sepasang Sapi Sonok juga kuat.

Selain itu ada perlakuan khusus lainnya yang didapat para sapi – sapi ini mereka dimandikan dengan shampo dan sabun. Tidak tanggung – tanggung para pemilik sapi juga kerap mendatangkan dokter hewan setiap 3 bulan sekali guna memeriksa kesehatan sapi mereka. Tidak hanya itu saja, ternyata aksesoris yang digunakan dalam kontes Sapi Sonok bisa mencapai harga ratusan ribu.

Semakin tidak diragukan lagi kalau Pulau Madura menyimpan berjuta keindahan dan keeksotisan sebuah pulau. Mari kunjungi Pulau Madura, temukan langsung keindahan alamnya, keramahan masyarakatnya dan rasa spiritualisme yang begitu kuat.

Wisata Sejarah Makam Agung Arosbaya di Bangkalan

10/15/2015 Add Comment
Bagi rombongan wisatawan dari luar Pulau Madura yang datang berkunjung ke Obyek Wisata Religi Pasarean Aermata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, ada baiknya untuk tidak melupakan Situs Makam Agung di Desa Plakaran. Bahkan, secara etika spiritual, akan lebih afdol bagi para peziarah atau ahli tirakat untuk sowan ke Makam Agung terlebih dahulu sebelum bertandang ke kompleks Pasarean Aermata. Terlebih, lokasi Makam Agung hanya berjarak sekitar dua kilometer sebelah Selatan Pasarean Aermata..

Dalam beberapa sumber sejarah Madura, kawasan di sekitar Makam Agung, tepatnya di Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya, disebut-sebut pernah berdiri kerajaan kecil bernama Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperintah oleh Ki Demung Plakaran, keturunan dari Prabu Brawijaya (1468-1478), raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Selain terkenal dengan legenda islam onggu’, situs ini juga juga amat berkait erat dengan penetapan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Bangkalan.

MAKAM AGUNG SITUS KERAMAT ISLAM ONGGU’


Berawal dari keturunan Ki Demung Plakaran dengan permaisurinya Nyi Sumekar inilah, sistem pemerintahan di wilayah Madura Barat kemudian jadi semakin terbangun dan berkembang pesat. Ketika Kraton Plakaran diperintah Raden Pragalbo, putra ketiga Ki Demung Plakaran, yang kemudian populer dengan sebutan Pangeran Islam Onghu’ (Islam Mengangguk), kekuasaan Kerajaan Plakaran yang pusat pemerintahannya sudah berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya), jadi semakin berkembang luas hingga ke seluruh Pulau Madura.

Demikian pula, ketika Kerajaan Arisbaya diperintah oleh Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur (1531-1592), salah seorang putra Raden Pragalbo, untuk kali pertama penyebaran Agama Islam dikembang luaskan ke seluruh Pulau Madura. Berikutnya, dari keturunan Raden Pratanu inilah, berturut-turut lahirlah raja-raja besar di kawasan Madura Barat. Termasuk para raja keturunan Raden Praseno alias Pangeran Cakraningrat I dengan permaisurinya Kanjeng ratu Syarifah Ambami, yang kita ketahui memerintah wilayah Madura Barat hingga tujuh turunan, dan situs makamnya menyatu di kompleks Pasarean Aermata.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan di sini, Situs Makam Agung yang kini menjadi tempat persemayaman makam Raden Pragalbo dan Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur, merupakan situs makam leluhur dari seluruh raja di kawasan Madura Barat. Juga merupakan awal dari penyebaran Agama Islam di Bumi Madura. Dari situs Makam Agung ini pula, tetenger Hari Jadi Bangkalan digali, dianalisa dan kemudian dikukuhkan oleh para pakar sejarah melalui proses penilitian dan forum seminar cukup panjang.

Pintu Gerbang Makam Agung Raja Pragalbo - Arosbaya

Itu sebabnya, dalam konteks spiritual, adalah hal yang logis dan wajar jika situs Makam Agung di Desa Plakaran, seperti situs purbakala Bukit Geger dan Pasarean Aermata, pada akhirnya juga banyak dikeramatkan orang. Bahkan, dalam kaca mata pandang para sesepuh spiritual setempat, bagi siapapun para peziarah atau ahli tirakat yang akan berkunjung ke Pasarean Aermata, akan lebih baik jika terlebih dahulu sowan ke Makam Agung. Alasannya, selain situs ini lebih tua, di dalamya juga bersemayam makam leluhur para raha di kawasan Madura Barat.

Sayangnya, dari sisi kultural, situs Makam Agung tidak memiliki peninggalan karya seni yang adiluhung seperti di kompleks Pasarean Aermata. Bangunan pisik situs Makam Agung, meski menyiratkan konstruksi dan arsitektur bangunan kuno, hanya berwujd pagar kaliling dengan ukuran sekitar 20 X 40 meter saja.

Warangka dan batu nisan dari puluhan makam yang tersebar di dalamnya, termasuk situs makam Raden Pragalbo dan Panembahan Ki Lemah Duwur, juga tidak dihiasi pahatan seni ukir yang menyiratkan simbol-simbol filosofis seperti makam para raja di Pasarean Aermata. Demikain pula, semua makam yang ada, tidak pula berada di bawah naungan bangunan cungkup, melainkan terhampar begitu saja di alam terbuka.

Meski begitu, suasana situs Makam Agung terasa begitu teduh, serta menyiratkan aura cukup sakral. Ini terjadi lantaran di sekitar kompleks Makam Agung, bertebaran sejumlah pohon beringin tua cukup besar, selain ada pula sebaran pohon kamboja dengan aroma wawangiannya yang spesifik.

Selain itu, lokasi Makam Agung yang berada di tengah hamparan sawah penduduk sekitar, juga belum dilengkapi sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Di lokasi makam, sejauh ini belum ada deretan kios souvenir aarts, areal parkir, serta deretan warung makanan tradisional. Satu-satunya prasarana penunjang yang ada, hanyalah banguan baru berupa sebuah cungkup peristirahatan, Musholla kecil dan sebuah toilet.

Berkat kebersahajaan faslitas, sarana dan prasarana penunjangnya itulah, arus kunjungan wisatawan ke obyek sisata religi Makam Agung, secara kuantitatif, jauh lebi kecil dibanding kunjungan ke Pasarean Aermata. Para peziarah dan ahli tikarat dari luar Pulau yang bertandang ke situs makam tua itu hanya bersifat satuan. Tidak dalam bentuk rombongan bus pariwisata ziarah yang kaprah berkunjung ke kompleks Pasarean Aermata.

Hanya saja, bagi siapapun wisatawan yang ingin sowan ke Makam Agung, juga bisa ditempuh dengan perjalanan yang mudah. Sebab lokasi Makam Agung saling berdekatan dengan Kompleks Pasarean Aertmata. Jaraknya hanya sekitar dua kilometer saja. Arau berjarak sekitar 17 km sebelah Utara Pusat Pemerintahan Kota Bangkalan. Prasarana jalan raya menuju ke Makam Agung juga sudah mulus, nyaman dan aman. Seluruh betangannya berwujud jalan hot-mix.

Legenda Islam Onggu’

Makam Raja Pragalbo di Kompleks Makam Agung Arosbaya
 Seperti legenda linangan Aermata Kanjeng Ratu Syarifah Ambami yang kemudian diabadikan sebagai nama Pasarean Aermata, situs Makam Agung di Desa Plakaran juga menyimpan legenda yang tak kalah menyentuh hati. Legenda ini berkait erat dengan kisah tentang upaya Peng-Isalaman Raden Pragalbo, ayah kandung Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur (1531-1592). Bagaimana kisahnya ?.

Syahdan, pada kisaran awal abad ke XV silam, Ki Demung, salah seorang keturunan dari Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya V ( 1468-1478), berdomisili di sebuah padukuhan kecil bernama Madegan ( di Kabupaten Sampang). Setelah dewasa, salah seorang dari dua anak hasil perkawinan Aryo Pojok dengan Nyi Ageng Budho, itu kemudian hijrah kesebuah padukuhan kecil di kawasan Madura Barat bernama Plakaran ( di Kabupaten Bangkalan).

Di tempat pemukimannya yang baru inilah, Ki Demung kemudian membentuk komune (kelompok masyarakat) baru, sekaligus mendirikan sistem pemerintahan kecil-kecilan. Itu sebabnya, Ki Demung yang kemudian memposisikan diri sebagai pimpinan, lalu mentasbihkan diri sebagai raja kecil dengan gelar Ki Demung Plakaran.

Karena kepemimpinannya yang arief dan bijak, Ki Demung Plakaran menjadi sosok penguasa yang amat dicintai para pengikutnya. Dia kemudian menikah dengan seorang kembang padukuhan setempat bernama Ni Sumekar. Keduanya dianugerahi lima orang anak, masing-masing bernama Ki Pramono, Ki Pratolo, Ki Pratali, Ki Panangken dan Ki Pragalbo.

Pada suatu saat, Ki Demung kemudian melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk dari Sang Penguasa Alam Semesta, siapa kira-kira diantara kelima putranya yang kelak pantas menggantikan dirinya sebagai penuasa Pkalaran. Di sinilah, Ke Demung kemudian memperoleh wangsit bahwa putra kelimanya, Raden Pragalbo, dinilai paling layak untuk dipersiapkan sebagai penggatinya, karena kelak akan menurunkan raja-raja besar penguasa kawasan Madura Barat.

Setelah Ki Demung Wafat, Raden Pragalbo memang dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kecil Plakaran. Nyatanya, di bawah kepemimpinan Raden Pragalbo, suasana kehuidupan masyarakat di sekitarnya jadi semakin makmur-sejahtera. Itu sebabnya, daerah kekuasaan Plakaran kemudian semakin luas. Saat itulah, Raden Pragalbo kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari dukuh kecil Plakaran ke Arisbaya (sekarang Kecamatan Arosbaya).

Disepanjang pemerintahannya, Raden Pragalbo memiliki tiga istri. Masing-masing Nyi Angsuko dan Nyi Padopo, keduanya berasal dari Proppo (Kabupaten Pamekasan), serta istri yang ketiga bernama Nyi Ageng Mamah dari Madegan ( Kabupaten Sampang). Dari istri ketiganya inilah, Raden Pragalbo dianugerahi tiga orang putra, masing-masing bernama Ki Pratanu, Ki Prakoso dan Ki Pranoto.

Setelah beranjak sepuh, Raden Pragalbo kemudian mepresiapkan putra sulungnya Ki Pratanu sebagai calon putera mahkota. Dari sinilah, kisah tentang legenda Islam Onggu’ itu bermula. Konon, Ki Pratanu yang mulai beranjak remaja, dalam tidurnya kerap kali didatangi oleh seorang lelaki amat tampan dan berbusana serba putih (sorban). Setiap kali muncul dalam mimpinya, sosok lelaki itu selalu menganjurkan agar Ki Pratanu segera memeluk agama baru, yakni Agama Islam. Juga dianjurkan agar mendalami agama baru itu ke daerah Kudus.

Karena mimpi serupa berulang kali, Ki Pratanu akhirnya bercerita seputar mimpinya itu kepada sang ayah Raden Pragalbo. Itu sebabnya, Raden Pragalbo kemudian mengutus Patihnya Empu Bageno untuk pergi ke Kudus guna menyelidiki seluk-beluk seputar agama baru itu. Dalam beberapa sumber sejarah Madura, tidak disebutkan apakah keluarga Raden Pragalbo saat itu memeluk Agama Hindu atau Budha.

Alkisah, sesampainya di daerah Kudus, Empu Bageno kemudian berjumpa dengan Sunan Kudus. Dihadapan salah satu dari sembilan Wali Songo yang kesohor itulah, Empu Bageno menjelaskan maksud dan tujuannya. Di sini, Sunan Kudus menegaskan bahwa Empu Bageno akan bisa mendalami Agama Islam secara fasih jika dia masuk dam memeluk Agama Islam. Pada akhirnya, Empu Bageno tidak hanya sekedar masuk Islam, tetapi juga menjadi santri kesayangan Sunan Kudus yang amat tekun dan patuh.

Setelah menjadi muslim yang taat dan khusuk, Empu Bageno akhirnya pulang ke Kraton Arisbaya. Dihadapan Ki Pratani, dia lalu menceriterakan bahwa dirinya telah memeluk Agama Islam, sekaligus menjelaskan tentang keunggulan Agama baru yang didalaminya dari Sunan Kudus itu. Di sini, Ki Pratanu sempat gusar lantaran Empu Bageno memeluk Islam terlebih dahulu. Namun, pada akhirnya Ki Pratanu dengan ikhlas lalu mengucapkan dua kalimat Syahadad, sebagai tetenger bahwa dirinya telah memluk Agama Islam.

Melalui jasa Empu Bageno dan Ki Pratanu inilah, saat itu penyebaran Agama Islam mulai dikembang luaskan di wilayah Madura Barat. Bahkan perkembangannya kemudian berekskalasi hingga ke wilayah Madura Timur, terutama di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. Di era kepemimpinan Ki Pratanu inilah, untuk pertama kalinya sebuah mesjid dibangun dan didirikan di Arosbaya. Inilah start awal dari penyebaran Agama Islam di Pulau Madura.

Mengingat sebagian besar Rakyat Kerajaan Arisbaya sudah memluk Islam, Ki Pratanu dengan sikap welas-asih, kemudian berupaya menyadarkan ayahnya Raden Pragalbo agar juga memeluk agama baru itu. Namun, sang ayah tetap bergeming untuk mempertahankan kayakinan lamanya.

Barulah, ketika Raden Pragalbo sudah udzur dan sakit keras, dia menyadari akan kebenaran dan kebesaran Islam. Dengan kesadaran yang mantap, Raden Pragalbo menyatakan bersedia untuk masuk dan memeluk Agama Islam. Saat itulah, Ki Pratanu lalu menuntun sang ayah untuk mengucapkan dua kalimah Syahadad. Namun, karena kondisi pisik Raden Pragalbo sudah kirtis, dia tak sanggup lagi mengucapkan lafal dua kalimah Syahadad, kecuali sekedar bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju memeluk Agama Islam.

Seusai menganggukan kepala itulah, Raden Pragalbo kemudian wafat. Sejak saat itulah, Raden Pragalbo kemudian diabadikan dengan gelar baru bertajuk Pangeran Islam Onggu’ (Pengeran Islam Mengangguk). Begitulah, legenda tentang kisah Ke-Islaman Raden Pragalbo, yang hingga saat ini tetap populer dan mengkristal di kalangan masyarakat Madura, terutama Rakyat Kabupaten Bangkalan.


Tetenger Hari Jadi Bangkalan

Kompleks Makam Raja Pragalbo di Makam Agung Arosbaya
Selain memendam kisah Ke-Islaman Raden Pragalbo yang melegenda, situs Makam Agung juga amat berkait erat dengan penetapan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Bangkalan. Sebab dari situs makam tua inilah, tetenger hari jadi Bangkalan digali, dianalisa, untuk kemudian dikukuhkan melalui forum seminar oleh para pakar sejarah, para bangsawan dan para petinggi Pemkab Bangkalan pada tahun 1991 s/d 1992 lalu.

Pada akhirnya, para pakar sepakat tetenger hari jadi Bangkalan harus dipetik melalui peristiwa penobatan Ki Pratanu sebagai Putra Mahkota Kerajaan Arosbaya oleh sang ayahanda Raden Pragalbo. Itu terjadi setelah Ki Pratanu masuk dan memeluk Agama Islam, kemudian menyebar luaskan hingga ke wilayah Timur Pulau Madura.

Menjelang diangkat sebagai putra mahkota (Pangeran Adipati), Ki Pratanu memohon izin kepada sang ayahanda untuk membangun kraton baru di atas dataran tinggi seputar Kerajaan. Pada akhirnya, bersamaan dengan peresmian kraton baru itulah, Raden Pragalbo kemudian menobatkan Ki Pratanu sebagai putra mahkota.

Saat itu, ketika menobatkan putranya, Raden Pragalbo menyuarakan sabda dan titah sebagai berikut ,
”Wahai anakku, dengan disaksikan Rakyat Plakaran, mulai saat ini, dalam Chandra Sengkala Sirno Pendowo Kertaning Negari, kamu saya angkat sebagai putera mahkota kerajaan ini dengan gelar Pangeran KI Lemah Duwur ( Pangeran Dataran Tinggi ). Dan Mulai sekarang, di Negeri Madura Barat ini, saya berlakukan mulai adanya Arisbanggi,”.

Dalam kalimat sabda penobatan Ki Pratanu sebagai putera mahkota itu, ada beberapa kalimat yang patut diterjemahkan dan dikaitkan dengan tahun Caka. Diantaranya, kalimat Candra Sangkala Sirno Pendowo Kertaning Negari, bisa diterjemahkan dan dipilah sebagai berikut : Kata Sirno berarti 0 (habis), Pendowo berarti 5, Kerta berarti 4 dan Negari berarti 1.

Jika dirangkai, terjemahan setiap kata itu akan menjadi rangkaian angka 0541. Namun sebagaimana kelaziman dalam menterjemahkan tahun Caka, rangkaian angka itu harus ditata terbalik sehingga berubah menjadi 1450. Kemudian, jika ingin dirubah menjadi tahun masehi, rangkaian angka tahun Caka itu harus ditambah 78, sehingga jumlahnya menjadi tahun 1528 Masehi. Inilah tahun penobatan Ki Pratanu menjadi putera mahkota dengan gelar Pangeran Ki Lemah Duwur.

Sementara kata-kata Arisbanggi dalam sabda penoibatan Ki Pratanu sebagai putera mahkota, bisa diterjemahkan sebagai berikut,”Aris berarti Ada dan banggi berarti Aturan“. Artinya, pada saat Ki Pratanu dinobatkan, sejak saat itulah di Kerajaan mulai diberlakukan serbaneka aturan (sekarang undang-undang) sebagai pedoman untuk mengendalikan sistem pemerintahan di Kerajaan. Dari kata-kata Arisbanggi inilah, pada akhirnya Kerajaan di bawah kekuasaan Raden Pragalbo berubah nama dari Kerajaan Plakaran menjadi Kerajaan Arisbaya (sekarang Arosbaya). Yakni sebuah kerajaan di Madura Barat yang sudah memiliki aturan dalam mengelola sistem pemerintahan. Inilah, Kerajaan pertama di Madura Barat dalam arti yang sebenarnya. Yakni dikukuhkan pada tahun 1528 Masehi.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1531 Masehi Raden Pragalbo wafat, beberapa saat setelah bersedia memluk Agama Islam dengan anggukan kepala (Islam Onggu’). Saat itu pula Ki Pratanu yang sudah menjadi putra mahkota secara resmi kemudian dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Arisbaya dengan gelar Panembahan Ki Lemah Duwur, menggantikan ayahandanya Raden Pragalbo. Lalu tanggal dan bulan berepa penobatan itu terjadi ?. Inilah yang kemudian digali dan diseminarkan sejak tahun 1991 hingga tahun 1992 lalu.

Setelah melalui proses cukup panjang, Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Museum Trowulan, Mejokerto, Drs Moh Romli, dan Dosen Archeologi Islam di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Dra Inajati Adriasianti, lalu menemukan jejak fakta bahwa Tahun 1531 Masehi, tahun penobatan Pabnembahan Lemah Duwur menjadi Raja Arosbaya, identik atau sama dengan Tahun 938 Hijriyah (Kalender Islam).

Berikutnya, jika dikaitkan dengan tradisi penobatan raja-raja Islam di Pulau Jawa, biasanya selalu dilakukan setiap tanggal 12 Robbi’ul Awal, bersamaan dengan pelaksanaan ritual Sekaten atau Grebek Maulud Nabi.Atau dengan kata lain, kedua pakar tersebut, akhirnya hakkul yakin penobatan Panembahan Lemah Duwur menjadi Raja Arisbaya, terjadi pada tanggal 12 Robib’ul Awal 938 Hijriyah.

Berikutnya, merujuk kepada buku berbahasa Jerman berjudul Muhammadanischen Und Christilachen Zeittrechnung ( tentang kejadian-kejadian penting Islam dan Kristen) yang disusun oleh Ferdinand Wustenfiel, pada akhir ditemukan jejak penjelasan yang menegaskan bahwa tanggal 12 Robbi’ul Awal Tahun 938 Hijriyah, identik atau sama dengan hari Selasa 14 Oktober 1531 Masehi.

Pada akhirnya, para pakar sejarah dan purbakala, Bupati, DPRD, serta para tokoh bangsawan dan budayawan di Kabupaten Bangkalan, sepakat bahwa hari Selasa 24 Oktober 1531 merupakan penobatan Panembahan Lemah Duwur sebagai Raja Kerajaan Arosbaya, sekaligus dikukuhkan dsebagai tetenger hari jadi Bangkalan.

Demikian sekilas pintas tentang ulasan Situs Makam Agung, yang kini tidak sekedar populer sebagai salah satu obyek wisata religi andalan Kabupaten Bangkalan, melainkan juga menjadi sumber inspirasi dan rujukan penentuan hari jadi Bangkalan. Mudah-mudahan, semua materi di dalamnya bisa menambah wawasan pengetahuan, sekaligus pemahaman atas awal mula terbentuknya sistem pemerintahan di kawasan Madura Barat.

Sentra Kampung Batik Tanjung Bumi di Desa Paseseh - Bangkalan

10/11/2015 4 Comments
Batik merupakan salah satu karya budaya bangsa yang sudah tersohor sampai ke luar negeri. Hampir disetiap daerah di negeri ini memiliki sentra kerajinan batik, terutama Pulau Jawa dan sekitarnya. Sentra kerajinan batik sendiri menjadi wisata budaya yang banyak dijadikan destinasi oleh para wisatawan baik yang dari dalam negeri maupun luar negeri sendiri.

Pulau Madura yang terletak bersebelahan dengan Pulau Jawa ternyata juga memiliki beberapa sentra kerajinan batik. Salah satunya yang berada di Kabupaten Bangkalan tepatnya di Kecamatan Tanjung Bumi, terdapat sentra kerajinan batik Telaga Biru. Desa wisata ini memang sudah menjadi tempat berkumpulnya pengrajin juga pedagang batik sejak puluhan tahun yang lalu.

Sentra Kampung Batik Tanjung Bumi di Desa Paseseh - Bangkalan
Sentra Batik Tanjung Bumi di Desa Paseseh
Batik yang berasal dari desa ini memiliki motif batik tulis pesisir yang terkenal dengan penggunaan warna – warna tajam seperti warna merah. Hal ini berbeda dengan jenis batik tulis pedalaman yang memiliki motif dan warna yang kalem dan sederhana.letaknya yang terletak di pesisir pantai mewakili jiwa seni pengrajin batik pesisir yang terbuka dan berani dengan dunia luar.

Bagi para wisatawan yang ingin datang berkunjung untuk mengetahui langsung proses pembuatan batik, desa wisata ini atau desa Paseseh berjarak sekitar 45 km dari pusat kota Bangkalan. Sekitar 6 km saja dari Objek Wisata Pantai Siring Kemuning.

Untuk akses jalan menuju Kecamatan Tanjung Bumi memang mengalami kerusakan yang cukup parah karena akses jalan tersebut sering dilalui truk fuso yang mengangkut muatan berat. Angkutan umum pun juga sudah banyak tersedia siap untuk mengantar para wisatawan.

Dari Pelabuhan Kamal anda cukup memilih angkutan umum sejenis L 300 menuju pusat kota Bangkalan dan langsung menuju Kecamatan Tanjung Bumi dengan ongkos sekitar Rp. 15.000. Bila anda melalui Jembatan Suramadu dengan bus patas dari Terminal Bungurasih Surabaya anda tinggal turun di perempatan Tangkel, lalu menuju pusat Kota Bangkalan dengan angkutan umum. Setelah itu kembali naik angkutan umum menuju daerah pesisir utara Kecamtan Tanjung Bumi dengan L 300.

Gapura Kampung Batik Desa Paseseh Tanjung Bumi

Tepat dipinggir jalan di daerah Kecamatan Tanjung Bumi atau sekitar 50 meter dari Kantor Pos Tanjung Bumi ada Gapura yang berdiri. Memasuki Gapura tersebut anda akan langsung disuguhi rumah – rumah yang beralih fungsi menjadi tempat kerajinan batik tulis Tanjung Bumi.

Pada kesempatan kali ini Tim Pulau Madura berkesempatan untuk dapat berkenalan dengan salah satu pengrajin batik yang berada di kawasan desa sentra kerajinan batik Telaga Biru. Dibantu oleh kepala desa setempat kami diantar langsung menuju rumah pengrajin batik tulis Tanjung Bumi ini.

Setelah berkenalan dengan pengrajin batik kami pun diberi kesempatan khusus untuk melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis Tanjung Bumi. Proses pembuatan batiknya juga tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik di daerah lain. Dibuat pada selembar kain panjang dan diukir menggunakan malam yang ditempati canting tangan secara sabar juga telaten oleh pengrajin.

Sekilas Sejarah Batik Tanjung Bumi


Batik tulis Tanjung Bumi ini sudah lama ada, berawal dari kejenuhan para kaum ibu di kawasan pesisir mengisi waktu luang sambil menunggu suami datang kembali dari berlayar di lautan. Batik ini memiliki ciri khusus yang menjadi pembeda dengan batik tulis dari daerah lainnya. Adanya motif burung yang pasti terdapat di batik Tanjung Bumi ini, serta penggunaan warna merah yang sangat mewakili karakter penduduk pesisir khususnya Pulau Madura.

Dari segi seni, tampilan serta corak para pengrajin batik tulis di desa ini berbeda – beda. Hal ini bisa dapat anda buktikan langsung dengan mengunjungi beberapa pengrajin yang ada di kawasan tersebut. Semakin menambha kekayaan motif batik Tanjung Bumi yang ternyata hampir memiliki 1000 jenis motif.

Berbagai macam motif, seperti motif Rongterong, Ramo, Perkaper, Serat Kayu dan sebagainya. Ada satu jenis batik yang menjadi andalan yakni jenis batik Gentongan. Nama batik Gentongan sendiri berasal dari kata Gentong atau sejenis tempat besar yang biasa digunakan untuk menampung air.

Batik jenis Gentongan ini memiliki corak dan warna yang spesial, karakter yang kuat, warna yang lebih tajam dan membuat orang yang memakainya semakin menambah aura kewibawaan. Tidak salah jika harga yang ditawarkan untuk jenis batik Gentongan ini berkisar diatas Rp. 2.000.000 , harga tersebut bisa anda dapatkan bila langsung membelinya ke pengrajin.

Untuk anda yang memiliki budget terbatas namun menginginkan batik tulis Tanjung Bumi ini juga tersedia batik yang harganya bersahabat dengan kantong. Mulai dari harga Rp. 60.000 sampai Rp. 1.000.000 dengan motif dan warna yang juga tidak kalan menarik dengan batik Gentongan yang tersedia di toko ataupun penjualan secara online

Sebenarnya lamanya proses pembuatan batik dan tingkat kesulitan dalam pengerjaannya ini mempengaruhi nilai harga yang ditawarkan. Batik Gentongan menduduki kualitas tingkat pertama terutama dalam pewarnaannya. Membutuhkan waktu paling lama satu tahun dari mulai membuat corak, pewarnaaan dan perendaman batik dalam gentong. Batik di rendam di dalam gentong dan di letakkan pada kamar khusus yang tertutup serta tidak boleh ada orang yang masuk.



Menurut cerita Kepala Desa setempat yakni bapak Fauzi, di kawasan desa sentra kerajinan batik Tanjung Bumi ini hanya ada tiga orang pengrajin saja yang bisa membuat batik Gentongan. Jadi, tidak semua pengrajin yang berada di kawasan tersebut bisa membuat batik Gentongan.

Mitos yang beredar di masyarakat setempat mengatakan bahwa ketika proses pengangkatan batik dalam gentong tidak boleh terdengar kabar orang meninggal karena akan mempengaruhi warna batik menjadi memudar. Terdengar memang tidak masuk akal namun hal itulah yang memang kerap terjadi.

Sayangnya menurut cerita dari sebagian pengrajin batik tulis yang berada di kawasan sentra tersebut pemerintah daerah setempat masih belum memberikan perhatian khusus. Padahal kualitas batik Tanjung Bumi ini benar – benar bagus dan sudah melejit sampai luar negeri.

Semoga dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang berkunjung ke Objek Wisata Budaya Batik Tanjung Bumi ini menjadikan pemerintah setempat semakin profesional mengelola salah satu warisan budaya nenek moyang ini.

Bagaimana ? anda sudah tertarik untuk datang berkunjung ke kawasan sentra batik Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan ini ?. Mari datang ke Pulau Madura, jadikan Objek Wisata Budaya ini menjadi destinasi perjalanan anda selanjutnya. Memperkaya pengetahuan akan keragaman batik Nusantara.

KISAH BATIK TULIS TANJUNG BUMI | BATIK GENTONGAN



Lokasi GPS Sentra Kampung Batik Tanjung Bumi Desa Paseseh