Biografi Adrian Pawitra

1/31/2015 Add Comment
BIOGRAFI ADRIAN PAWITRA



Adrian Pawitra, dilahirkan di Bangkalan 20 Agustus 1969, adalah seorang pencinta dan pemerhati seni dan budaya Madura, Karya-karya yang telah dihasilkan adalah menyusun buku kumpulan lagu-lagu Madura (Penerbit LPKM Jakarta 2003), menyusun pantun-pantun Madura, mencipta dan mengaransir lagu-lagu Madura (Album Madurese Love Songs), menekuni seni lukis dengan motif batik Madura, menyusun Kamus Bahasa Madura-Indonesia (Penerbit PT. Dian Rakyat Jakarta, tahun 2009), menyusun Kamus Bahasa Indonesia-Madura (belum diterbitkan), menulis novel dengan setting budaya Madura, menulis puisi-puisi Madura, selain berkarya juga aktif dalam berbagai bidang organisasi yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan seni dan budaya Madura seperti pada : Yayasan Pragalba, sebagai ketua, LPKM (Lembaga Pelestarian Kesenian Madura) sebagai sekretaris, Komunitas Tèra’ Bulan sebagai bendahara sekaligus ketua bidang musik, juga pada Pangghellâr Bhuddhi “Nangghâlâ” pada komisi Bahasa Madura.

Sate - Gule Mufakat Kuliner Khas Kabupaten Sampang

1/30/2015 Add Comment

Sate - Gule Mufakat


Banyak hal yang dapat TreTan temukan ketika memasuki Kabupaten Sampang seperti Obyek Wisata Pantai Camplong, Air Terjun Toroan dan lain sebagainya. Tak hanya wisata alam saja yang ada di Sampang - Madura ini, ada juga Kuliner atau Makanan Khas Kabupaten Sampang yang banyak beda daripada makanan pada umumnya entah itu dari segi rasa maupun cara pengolahannya.

Untuk para pecinta kuliner yang terbuat dari daging kambing, TreTan perlu mencicipi sate-gule mufakat karena bukan hanya musyawarah saja yang harus mencapai mufakat, tapi rasa dari kuliner ini benar-benar mufakat. Kata Mufakat jika orang Madura membacanya jadi Mupakat yang artinya Mantap.

Letak yang sangat strategis di pusat kota membuat pecinta kuliner gampang mengakses tempat ini, tepatnya di Jl. Hasyim Ashari 25 - Sampang searah jalan ke Tugu Monumen Kota Sampang.

Sate Kambing Mufakat Kuliner Khas Sampang Madura Jawa Timur
Sate Kambing Mufakat Kuliner Khas Sampang

Depot Mufakat mulai buka pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, tapi biasanya ramai ketika jam makan siang. Rasa daging sate yang sangat empuk serta aroma rempah Gule yang sangat khas membuat orang ketagihan untuk kuliner ditempat ini lagi.

Pembelian sate ini tidak selalu sepaket dengan gule, TreTan bisa memesan salah satunya. Bisa hanya sate saja ataupun hanya gule saja sesuai penikmat kuliner yang ingin mencicipi. Selain sate dan gule depot ini juga menyediakan beberapa Camilan khas Madura seperti rengginang lorjuk, kripik tette, ting-ting kacang , dll.

Kuliner Khas Sampang Gule Kambing Mufakat
Gule Kambing Mufakat Khas Sampang
Untuk harga sate satu porsi tidak sama karena sesuai dengan permintaan kita, untuk satu porsi 10 tusuk seharga Rp. 25.000 jika dinikmati dengan Gule seharga Rp. 40.000. kita bisa memesan langsung dinikmati di tempat bisa juga di bawa pulang dengan bungkus yang khas dari depot ini yaitu berbungkus daun pisang. (oleh: Erna Sri Hartatik)

Obyek Wisata Religi Vihara Avalokitesvara - Pamekasan

1/28/2015 Add Comment

Potret Toleransi Vihara Kwan Im Kiong

Kala Perbedaan Luruh di Talang Siring

Sore itu, Cakrawala di ufuk barat Pantai Talang Siring Pamekasan tampak cerah. Semburat awan menggaris indah, matahari masih menyisakan sinarnya di sela-sela awan yang berjenjang. Di Vihara Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara, seolah seluruh perbedaan luruh dalam harmoni.

Vihara itu berdiri kokoh dan megah. Namanya Vihara Avalokitesvara atau sering juga disebut Kelenteng Kwan Im Kiong, yang bersebelahan dengan lokasi Wisata Pantai Talang Siring. Menurut keterangan, bangunan seluas 3 Hektare ini didirikan pada abad 18. Sekitar 1.800 sebelum masehi. Dinamakan juga Kelenteng Kwan Im Kiong karena di dalamnya ada patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara, Dewi Welas Asih. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah 36 cm, dan tebal bawah 59 cm.

Bagi kalangan Tionghoa, Vihara ini punya keunikan tersendiri. Ada legenda atau cerita lisan yang berlangsung turun-temurun termasuk sisa-sisa peninggalan budaya zaman Majapahit.

Pada awal abad ke-16, terdapat sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo, barat Pamekasan yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit.

Raja-raja Jamburingin yang masih keturunan Majapahit itu punya rencana membangun candi untuk tempat ibadah, tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin dan mendatangkan perlengkapan lewat Pantai Talang Siring dari Kerajaan Majapahit.

Pantai Talang Siring dulu dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara. sebab, pantainya landai. Pemandangannya juga indah.

Terlebih bagi armada Kerajaan Majapahit untuk mensuplai bahan-bahan keperluan keamanan ataupun spiritual di Wilayah Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah.

Namun, setelah tiba di pelabuhan Talang, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang.

Penduduk pada waktu itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter dari pantai. Akhirnya penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi disekitar Pantai Talang.

Tempat Candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung  merupakan salah satu Desa di Kecamatan Proppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin. Burung dalam bahasa Madura berarti Gagal.

Rencana pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai memudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan sangat baik di Pulau Madura. Termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang serta lenyap terbenam dalam tanah.

Obyek Wisata Avalokitesvara di Pamekasan - Madura

ada yang menarik di dalam Vihara itu. Sejumlah perempuan berjilbab tampak asyik ber foto selfie. Sementara, ditengah komplek peribadatan umat tridarma itu, tampak berdiri Masjid, tepatnya Mushalla dan Pura.

Inilah keunikan Vihara Avalokitesvara. Ada rasa saling menghormati dan toleransi yang kental didalamnya. Seorang pengunjung H. Misbach mengemukakan, dirinya cukup sering ke lokasi ini. "Ini wujud toleransi beragama di Madura. Perbedaan memang bukan untuk dibesar-besarkan, namun harus saling menghormati" ujarnya yang kala itu datang bersama anak istrinya.

Keunikan Vihara ini bahkan menarik perhatian mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfudz MD yang merupakan asli Pamekasan. Beberapa waktu silam, dengan mengenakan baju koko putih, Mahfudz bersama sejumlah koleganya mendatangi tempat bermain di masa kecilnya itu. Menurut penuturannya, semasa kecil dirinya memang sering bermain ditempat ini. Lokasinya tak jauh dari Pantai Talang, Sekitar satu kilometer.

"Saya senang tempat itu (vihara). Saya sering kesana untuk bermain" Ujarnya kala itu. Dirinya memang penasaran terkait keberadaan masjid di areal tempat ibadah umat Tri Darma itu.

Musala berukuran 4x4 meter itu terlihat mencolok dengan warna hijau tua, dengan kubah berbentuk piramid berundak tiga, mirip Masjid Demak maupun Masjid umumnya di Pulau Jawa. Lokasinya tepat didepan kanan vihara. Meski tidak besar, pihak Vihara menyediakan tempat berwudu, sajadah (alas untuk Sholat), Mukena. Jarak musala dengan Vihara hanya 10 Meter.

Dari pengamatan Majalah Suramadu, bukan hanya musala yang berdiri di areal Vihara, tapi ada juga tempat ibadah untuk umat lain. Saya lihat disana ada Pura  paling dekat dengan Vihara. Namun ukuran Pura lebih kecil dari Musala, hanya 3x3 meter. Pembangunan Pura atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu. yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu.

"Wah, ini mestinya masuk Guinness Book of Record sebagai satu-satunya Vihara yang didalamnya ada Musala dan Pura. ini bukti bahwa umat beragama di Madura ini bisa hidup rukun dan berdampingan. Kalau tidak toleran tidak akan berdiri Vihara, apalagi di dalamnya ada tempat ibadah penganut agama lain" terang Mahfud yang masa kecilnya dihabiskan di Pamekasan ini sambil berkeliling Vihara.

"Ini seharusnya menjadi prototype tentang kerukunan di Madura. Seharusnya, perbedaan jangan dijadikan alasan untuk saling menyerang, merusak apalagi membunuh. Madura itu sebenarnya orang-orangnya bijaksana, bisa menerima perbedaan sebagai rahmat. Hanya terkadang ada yang memprovokasi" ujar Mahfudz sebagaimana dikutip sebuah Media Nasional.

Dan petang itu, Tjipto, Sudarwan dan Onggodo menyiapkan kertas bagi umat Budha yang akan bersembahyang di Vihara itu. Saat ketiganya asyik bekerja, sayup-sayup terdengar Adzan Mangrib dari kejauhan. Onggodo yang beragama Budha mengingatkan rekannya untuk melaksanakan Sholat Mangrib di Musolla yang berdiri di samping Vihara. Dan seluruh perbedaan itu luruh dalam harmoni alam. di Talang Siring, Pamekasan, Madura.

Oleh: Faisal Yasir Arifin (Majalah Suramadu, Edisi 8, Hal. 30-31)

Asal Usul Kabupaten Pamekasan - Madura

1/27/2015 Add Comment
Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten yang ada di Pulau Madura seperti Bangkalan, Sampang dan Sumenep. Pamekasan sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumenep di sebelah timur, Kabupaten Sampang di sebelah barat, Selat Madura di selatan dan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah Utara.

Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan, yang kemudian dibagi lagi menjadi 178 Desa dan 11 Kelurahan. berikut adalah nama dari 13 Kecamatan tersebut:
  • Kecamatan Tlanakan
  • Kecamatan Proppo
  • Kecamatan Pegantenan
  • Kecamatan Pasean
  • Kecamatan Pamekasan
  • Kecamatan Palengaan
  • Kecamatan Pademawu
  • Kecamatan Kadur
  • Kecamatan Larangan
  • Kecamatan Galis
  • Kecamatan Batu MarMar
  • Kecamatan Pakong
  • Kecamatan Waru

Berbicara tentang Kabupaten Pamekasan tentunya tidak akan terlepas dari nama Monumen Arek Lancor, selain itu di Kabupaten Pamekasan ini tiap tahun mengadakan event Kerapan Sapi Piala Presiden serta rangkaian acara Semalam di Pamekasan yang menampilkan kesenian khas Pamekasan serta kabupaten lainnya di Madura.

Selain itu ada tokoh yang cukup terkenal di Indonesia berasal dari Pamekasan, beliau adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud MD yang sempat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia.

Berikut adalah Daftar Wisata yang berada di Kabupaten Pamekasan:

- Pantai Talang Siring (namanya hampir mirip Pantai Siring Kemuning di Kecamatan Tanjung Bumi - Kabupaten Bangkalan) yang letaknya 10 Km kearah Timur dari Kota Pamekasan.
- Pantai Jumiang dengan jarak 15 Km dari Pusat Kota.
- Pantai Batu Kerbuy yang namanya di ambil dari sebuah batu yang berbentuk kerbau yang terletak di Kecamatan Pasean dengan luas 5 Ha.
- Api Tak Kunjung Padam yang jaraknya sekitar 4 Km dari Pusat Kota.
- Makam Keramat Pasarean Batu Ampar yang terletak di Desa Pangbatok Kecamatan Proppo sekitar 15 Km dari arah Pusat Kota.
- Vihara Alokitesvara yang berada di Kampung Candi Desa Monto' Kecamatan Galis (14 Km dari Kota Pamekasan), berdekatan dengan Pantai Talangsiring. Vihara terbesar kedua di Pulau Jawa. Salah satu keunikannya, yaitu di dalam komplek terdapat Musholla, Gereja dan Pura yang melambangkan kerukunan beragama.
- Monumen Arek Lancor yang merupakan monumen perjuangan kepahlawanan Rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.

Asal Mula dan Sejarah Kabupaten Pamekasan - Madura


Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal  pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggo Sukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini.

Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.  Munculnya sejarah Pemerintah Lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke lima belas (15) berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sumoyo yang mulai merintis Pemerintahan Lokal di daerah Proppo atau Parupuk  Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa Kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bias dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri dalam penataan untuk mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya sangat padat kegiatan dengan luas wilayah yang sangat besar.

Saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra, sedangkan kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-Islam.

Tulisan- tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan  Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan bahasa Belanda kemudian mulai diterjemahkan atau ditulils kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun-daun lontar atau layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggo Sukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di Wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan se jimat ,yaitu jalan-jalan di alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya  inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman Pemerintahan Ronggo Sukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda Kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggo Sukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Arosbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan hari jadi kota Pamekasan.

Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal
Lambang Kabupaten Pamekasan Madu Ganda Magesti Tunggal

Terungkapnya sejarah Pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invasi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal di bawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh sarjana Barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigland tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Banda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit.

Sumber: http://www.pamekasankab.go.id
Lambang: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
ASAL USUL PAMEKASAN, asal usul kota pamekasan, asal mula pamekasan, kabupaten pamekasan, asal usul kota pamekasan madura, asal usul arek lancor, Asal Mula Kota Pamekasan, sejarah batu ampar madura, kota pamekasan, silsilah kota pamekasan, silsilah kyai madura, silsilah pamekasan, pantai batu kerbuy, batik tanjungbumi, asal usul api tak kunjung padam, asal mula kabupaten pamekasan, jumiang, asal mula desa jumiang, sejarah api tak kunjung padam di pamekasan, sejarah batu ampar

Asal Usul Kabupaten Sampang - Madura

1/22/2015 Add Comment
Asal Usul Kabupaten Sampang - Kabupaten Sampang adalah Kota yang berada di Pulau Madura. Di Kota tersebut banyak tempat wisata yang sangat bagus seperti Pantai Nepa yang didekatnya juga ada hutan kera dan ada juga Pantai Camplong dengan segala keindahan didalamnya. Sakera pernah mengunjungi Kota Sampang bareng teman-teman Plat-M [Blogger Madura] dengan mengunjungi tempat pariwisata diatas dan mencicipi kuliner khas Sampang yaitu Bebek Songkem. Berikut adalah cerita mengenai asal muasal serta sejarah adanya Kabupaten (kota) Sampang.

ASAL USUL KABUPATEN SAMPANG

Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang   pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang   berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario   Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa.

Lembu Peteng akhirnya pergi memondok di Ampel dan meninggal disana.
Yang  mengganti Kamituwo di Sampang adalah putera yang tertua ialah Ario   Menger yang keratonnya tetap di Madekan. Menger berputera 3 orang   laki-laki ialah Ario Langgar, Ario Pratikel (ia bertempat tinggal di   Pulau Gili Mandangil atau Pulau Kambing) dan Ario Panengah gelar Pulang   Jiwo bertempat tinggal di Karangantang.

Pratikel mempunyai anak  perempuan yang kawin dengan Ario Pojok dan  mempunyai anak bernama Kiyai  Demang (Demangan adalah tempat  kelahirannya) setelah Demang menjadi  dewasa ia sering pergi ke tempat  tempat yang dipandang keramat dan  bertapa beberapa hari lamanya disana,  pada suatu waktu ia sedang  tertidur dipertapaannya ia bermimpi supaya  ia terus berjalan kearah  Barat Daya kedesa Palakaran.

Setelah Demang bangun ia terus  pulang dan minta ijin pada orang  tuanya untuk memenuhi panggilan dalam  mimpinya, ayah dan ibunya  sebenarnya keberatan tetapi apa dikata,  kehendak anaknya sangat kuat.  Menurut cerita Demang terus berjalan  kearah Barat Daya diperjalanan ia  makan ala kadarnya daun-daun,  buah-buahan dan apa saja yang dapat  dimakan, dan kalau malam ia tertidur  dihutan dimana ia dapat berteduh.

Pada suatu waktu ketika ia  berhenti melepaskan lelah tiba-tiba  datang seorang perempuan tua  memberikan bingkisan dari daun-daun,  setelah bingkisan dibuka  terdapatlah 40 buah bunga nagasari, diamana  ada Pohon Nagasari?  Perempuan tua itu menjawab bahwa pohon yang  dimaksud letaknya didesa  Palakaran tidak beberapa jauh dari tempat itu.

Dengan diantar  perempuan tua tersebut Demang terus menuju kedesa  Palakaran dan diiringi  oleh beberapa orang yang bertemu diperjalanan.  Sesampainya didesa itu  mereka terus beristirahat ditempat pengantarnya  sambil menikmati  hidangan yang lezat-lezat yang menghidangkan ialah,  Nyi Sumekar puteri  dari janda itu. Tidak bberapa lam Demang jatuh cinta  pada perempuan itu  dan mereka kawin, kemudian mereka mendirikan rumah  besar, yang kemudian  oleh orang-orang disebut keraton kota Anjar  (Arosbaya) dari perkawinan  Sumekar dan Demang lahirlah beberapa orang  anak dengan nama-nama sebagai  berikut :

1. Kiyahi Adipati Pranomo
2. Kiyahi Pratolo
3. Kiyahi Pratali
4. Pangeran Panagkan dan
5. Kiyahi Pragalbo.

Pada  sauatu saat Demang Palakaran bermimpi bahwa kemudian hari yang  akan  menggantikan dirinya ialah Kiyahi Pragalbo yang akan menurunkan   pemimpin-pemimpin masyarakat yang baik, putera yang tertua Pramono oleh   ayahnya disuruh bertempat tinggal di Sampang dan memimpin pemerintah   dikota itu.

Ia kawin dengan puteri Wonorono di Pamekasan karena  itu ia juga  menguasai Pamekasan jadi berarti Sampang dan Pamekasan  bernaung dalam  satu kerajaan, demikian pula sewaktu Nugeroho (Bonorogo)  menggantikan  ayahnya yang berkeraton di Pamekasan dua daerah itu masih  dibawah satu  kekuasaan, setelah kekuasaan Bonorogo Sampang terpisah lagi  dengan  Pamekasan yang masing-masing dikuasai oleh Adipati Pamadekan  (Sampang)  dan Pamekasan dikuasai oleh Panembahan Ronggo Sukawati,  kedua-duanya  putera Bonerogo.

Lambang Kabupaten Sampang Trunojoyo
Kemudian Sampang diperintah oleh  Pangeran Adipati Mertosari ialah  cucu dari puteri Pramono putera dari  Pangeran Suhra Jamburingin,  demikianlah diceritakan bahwa memang menjadi  kenyataan Kiyahi Demang  banyak menurunkan Raja-Raja di Madura.

Foto: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
ASAL USUL BANGKALAN, kota sampang madura, sejarah kota sampang, asal usul kota sampang, asal usul sampang, sejarah sampang madura, kabupaten sampang madura, sejarah sampang, asal usul kabupaten sampang, carok madura sampang, lambang madura, warga 2 kabupaten di madura carok, sejarah kota sampang madura, cerita sampang madura, legenda kota sampang, asal mula sampang madura, legenda madura, SAMPANG MADURA, cerita asal mula pulau madura, legenda sampang

Wisata Sejarah Museum Cakraningrat Bangkalan - Madura

1/10/2015 Add Comment
Wisata Bangkalan Madura: Museum Cakraningrat Bangkalan

Saat itu baru pertama kalinya PulauMadura.com mengunjungi Museum Cakraningrat yang terletak dideretan kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan tepatnya di Jl. Soekarno - Hatta. Keperluan datang ke Museum tersebut untuk mencari tau tentang keberadaan Benteng Erfprins di dekat Kantor Polisi Satlantas. Sakera datang ke tempat tersebut atas rekomendasi dari Bapak Hidrochin Sabaruddin yang dulu pernah menjadi salah satu bagian dari Museum tersebut. Pak Didik menjelaskan berbagai sejarah bangkalan dan yang membuat menarik adalah tentang asal usul daerah atau desa di Bangkalan yang namanya berasal dari berbagai kejadian ditempat itu. Berikut adalah Selayang Pandang Museum Cakraningrat di Kabupaten Bangkalan yang didapat pada Brosur ketika mengunjung Museum tersebut.

MENGENAL DARI DEKAT MUSEUM CAKRANINGRAT KABUPATEN BANGKALAN

Pada tahun 1974 Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan mendirikan sebuah Gedung Museum untuk menyimpan benda-benda koleksi keluarga Kraton yang sudah diserahkan perawatannya kepada Pemerintah dengan ciri khas gerbang pintu adalah miniatur Bentar Makam Agung Arosbaya.

Kemudian pada tanggal 24 Juli 1975 dibuka untuk umum setiap hari pada pukul 08.00 s/d 14.00 WIB. Dengan bentuk dan kondisi yang hanya satu ruangan tersebut, maka telah dapat ditampung beberapa macam benda koleksi Peninggalan milik perorangan maupun milik Keluarga Bangsawan Bangkalan.

Semua ini berkat upaya dan kerja keras serta kerjasama antara masyarakat, Pemerintah Daerah dan Kantor Departemen Dikbud Kabupaten Bangkalan. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya, tugas dan fungsi Museum secara umum digambarkan:

- Mengumpulkan, mencatat
- Meneliti dan merawat
- Serta memamerkan benda-benda bernilai sejarah, budaya dan ilmiah.

Museum tidak hanya bersifat memperkenalkan benda-benda bernilai sejarah saja, akan tetapi juga merupakan “HUMAN RELATIONSHIP” sebagai sarana komunikasi dari generasi ke generasi, demikianlah ada dan keberadaan “MUSEUM DAERAH KABUPATEN BANGKALAN”.

Sebelum memiliki gedung yang tetap seperti yang terjadi pada saat ini, terdorong oleh rasa bangga terhadap warisan nenek moyang kita yang menggambarkan pembuktian manusia, alam dan kebudayaan, baik secara synchronis maupun secara dyachronis, demikian juga pencerminan kontemporer, maupun pencerminan histories dari pada manusia, alam lingkungan dan kebudayaannya.

Transisi budaya di jaman klasik telah menimbulkan gejala-gejala: Syncretisme dan telah menunjukkan daya ungkapan, kemajuan tehnis dan teknologis dan daya kemampuan kreatif berupa pembangunan monument-monument keagamaan, struktur organisasi pemerintahan dengan pusat-pusat pemerintahan yang mengenai desentrlisasi dengan system viodalisme.

Dengan inilah maka tokoh-tokoh penerus yang merasa bertanggungjawab untuk melestarikan peninggalan yang masih tersisa, disuatu pihak mulai menghimpun peralatan bekas milik Kraton Bangkalan yang masih tersisa, dikumpulkan dan disimpan di gudang pengumpulan dan penyimpanan yang terletak dikomplek pesarean “AER MATA” (Komplek pemakaman Raja-Raja di desa Buduran Kecamatan Arosbaya) usaha ini memenuhi saran Pini Sepuh Kabupaten Bangkalan diantaranya:

- R.A. ROESLAN TJAKRANINGRAT
- R.A. SALEH ADININGRAT SURYOWINOTO
- R.P. ABDUL MADJID SURYOWINOTO
- R.P. MACHMUD SOSROADIPOETRO
- R.P. ABD. HAMID NOTODIREJO

Usaha ini dilakukan sekitar tahun 1950-1955 guna mengurus dan merawat peninggalan ini maka terbentuklah suatu yayasan yang menamakan diri :

“ YAYASAN KONA ”

Akhirnya Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan atas nama Pemerintah Tingkat II yaitu : H. J. SOEDJAKI mendirikan gedung tempat koleksi tersebut. Setelah bangunan tersebut selesai maka bersama: “YAYASAN KONA” yang pada waktu itu diwakili oleh

- R.A. MOCH. ANWAR TJAKRAADIPOETRO
- R.P. ABD. MADJIDSURYOWINOTO
- R.P. ABD. HAMID NOTODIREJO

Maka bersama-sama beliaulah Bupati Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan juga bersama-sama dengan tokoh Pemerintah yaitu:

- H.J. SOEDJAKI

- R.A SALEH SOSROADIPOETRO

- R.ABD.RACHMAN


Mereka merencanakan untuk memindahkan koleksi Kraton yang ada di komplek Pasarean ASTA AER MATA ke gedung penyimpanan yang baru yang ada di kompleks Perumahan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan yaitu di Jalan Letnan Abdullah No. 1 Bangkalan. Kemudian pada tanggal: 24 Juli 1975 benda koleksi yang ada di AER MATA tersebut dipindah ke gedung yang baru disaksikan oleh GUSTI PEMBAJON Permaisuri R.A. ROESLAN TJAKRANINGRAT.

Sejak saat itulah benda-benda koleksi tersebut diresmikan menjadi koleksi Museum dan benda-benda koleksi tersebut dipelihara dan dirawat langsung ileh Pemerintah Daerah bagian Urusan Rumah Tangga Kabupaten yaitu : R. ABDOERRAHMAN. Adapun koleksi tersebut masih belum berfungsi kemudian pada awal tahun 1979 gedung tersebut diresmikan menjadi museum dan diberi nama : “MUSEUM DAERAH TINGKAT II KABUPATEN BANGKALAN”

PERKEMBANGAN MUSEUM CAKRANINGRAT KABUPATEN BANGKALAN

Perkembangan Museum Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan berkembang semakin maju terbukti dengan kerjasama yang baik Pemerintah dapat menyelamatkan benda-benda koleksi yang ada didaerah Kabupaten Bangkalan berupa beberapa buah piring porselen berhasil diselamatkan oleh pemerintah karena benda tersebut akan dilarikan ke tempat lain keluar dari Pulau Madura.
Museum Bangkalan mengalami perkembangan yang pesat sehingga dapat kami gambarkan sebagai berikut:

- Terhitung sejak awak tahun 1997 Museum Bangkalan telah difungsikan dengan sebagaimana mestinya dengan nama: MUSEUM DAERAH BANGKALAN.
- Sejak waktu itu Museum Daerah Bangkalan mulai dibenahi dan dikembangkan baik mengenai koleksi bendanya, penataan (Display) dan konservasinya.
- Pada bulan maret 1980 telah dilatih 2 orang Tenaga Kantor Departemen Dikbud Kabupaten Bangkalan ke Museum “MPU TANTULAR” di Surabaya yang khusus menangani dan mempelajari cara perawatan benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan serta mengatasi penataan tata pameran dan administrasi Museum tersebut adalah R. ABDURRACHMAN KS. dan HIDROCHIN SABARUDDIN UP. Anggaran diperoleh dari Bidang PSK Jawa Timur.
- Pada pertengahan tahun 1979 telah ditunjuk dan dikaryakan sebagai Tenaga Pembantu Pelaksana dari Kantor Suaka Sejarah dan Kepurbakalaan di Mojokerto yang telah mendapat SK. Penempatan yaitu Sdr. SUKARDI.
- Pada tanggal 18 Agustus 1979 Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan memberikan ganti rugi benda-benda porselin sebanyak 165 buah dengan penggantian uang sebesar Rp. 170.000,-
- Pada tanggal 09-10 Agustus 2007 benda koleksi Museum dipindah ke gedung yang baru bersebelahan dengan gedung DPRD Kabupaten Bangkalan yaitu di Jl. Soekarno Hatta No. 39 A Bangkalan.
- Pada tanggal 13 Maret 2008 Pemerintah Kabupaten Bangkalan dalam hal ini Bapak Bupati FUAD AMIN, Spd. Setelah pelantikan dan Sumpah Jabatan Bupati periode 2008-2013, sangat antusias memperhatikan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Kabupaten Bangkalan, akhirnya atas prakarsa beliau maka terwujudlah bangunan Gedung Museum yang baru dengan nama "MUSEUM TJAKRANINGRAT KABUPATEN BANGKALAN"
- Pada saat ini pula 18 Kecamatan juga memamerkan Peninggalan sejarah dan purbakala berupa dokumentasi foto yang tersebar di pelosok daerah pedalaman se-Kabupaten Bangkalan, dan Pameran Benda-Benda Pusaka Bertuah milik keluarga Dinasti Cakraningrat ke II dan yang lainnya.
- Peresmian Gedung Museum Cakraningrat Kabupaten Bangkalan diresmikan oleh Bapak Gubernur Jawa Timur, Bapak Imam Utomo pada tanggal 13 Maret 2008.

Suatu prestasi yang gemilang bagi sosok pimpinan yang begitu antusias memberikan fasilitas-fasilitas untuk mewujudkan terpeliharanya Peninggalan-Peninggalan Bersejarah yang tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Bangkalan Madura Barat.

Demikian sekelumit tentang keberadaan Museum yang kita harapkan bersama sebagai penunjang asset Budaya Daerah di bumi Cakraningrat Madura Barat. Dengan tersebarnya informasi ini diharapkan dapat semakin memacu perkembangan di sektor Pariwisata Kabupaten Bangkalan yang tentunya akan menambah Income Pendapatan daerah Kabupaten Bangkalan.
BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENJUNJUNG TINGGI NILAI-NILAI LUHUR BUDAYA BANGSANYA

dan berikut adalah beberapa foto Museum Cakraningrat Bangkalan dan koleksi berbagai pusaka jaman dahulu. Foto by: fickirhasbi.blogspot.com/2012/10/museum-cakraningrat-bangkalan.html

Tampak Depan Gedung Museum Cakraningrat
Tampak Depan Gedung Museum Cakraningrat

Museum Cakraningrat Bangkalan Meriam Peluru Lontar
Meriam Peluru Lontar

Museum Cakraningrat Tabbuwan Selajing
Tabbuwan Selajing

Museum Cakraningrat Judang
Judang

Museum Cakraningrat Kelbung Penyaring Air Batu dan Tempayan dari Tanah Liat
Kelbung Penyaring Air Batu dan Tempayan dari Tanah Liat

Museum Cakraningrat Lumpang Batu dan Lumpang Kayu serta Pepes
Lumpang Batu dan Lumpang Kayu serta Pepes

Museum Cakraningrat Alat Musik Tradisional Tuk Tuk
Alat Musik Tradisional Tuk Tuk

Gamelan Museum Cakraningrat Bangkalan
Gamelan

Museum Cakraningrat Bangkalan Benda - Benda Pusaka Kraton
Benda - Benda Pusaka Kraton

Museum Cakraningrat Bangkalan Peralatan Masak dari Tanah Liat / Lempung
Peralatan Masak dari Tanah Liat / Lempung

Museum Cakraningrat Bangkalan PIR (Sarana Transportasi Umum)
PIR (Sarana Transportasi Umum)

Museum Cakraningrat Bangkalan Alat Musik Tradisional
Alat Musik Tradisional

Museum Cakraningrat Bangkalan Barang Pecah Belah Keramik
Barang Pecah Belah Keramik

LOKASI MUSEUM CAKRANINGRAT BANGKALAN - MADURA

Berikut adalah Peta Digital Google Map untuk menuju Musem Cakraningrat

dari Pelabuhan Ujung Kamal

Klik Disini

dari Jembatan Suramadu Surabaya

Klik Disini

Pencarian:
Wisata di Bangkalan, Museum Cakraningrat Bangkalan Madura, Pusaka Bangkalan, Rumah Keraton di Bangkalan, Koleksi Pusaka Bangkalan, Petilasan Raja Bangkalan, Silsilah Pangeran Cakraningrat Bangkalan, Makam Sultan Abdul Kadirun, Macam - Macam Jenis Pusaka Bangkalan.

Wisata Alam Pantai Jumiang di Kabupaten Pamekasan

1/07/2015 Add Comment

Elok Sunrise & Tebing Karang Pantai Jumiang


Madura benar-benar memiliki banyak potensi yang menjanjikan. Pantai Jumiang salah satunya. Pantai yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan ini berjarak sekitar 12 Km Tenggara Kota Pamekasan.

Akses jalan yang bagus, dapat ditempuh dengan sarana transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Pantai Jumiang berbeda dengan beberapa pantai di Pamekasan lainnya, karena terletak di dataran tinggi dan bertebing.

Meskipun belum tersentuh pembangunan yang massif, namun Pantai Jumiang merupakan salah satu pantai wisata di Pamekasan yang menyajikan berbagai keindahan alam. Menikmati sunrise dari pantai ini, memberi sensasi tersendiri bagi penikmat.

Selain itu, gugusan tebing karang menyajikan pemandingan tersendiri. Debur ombak yang menerobos di sela-sela karang, seakan menciptakan sensasi aquatic yang indah. Seolah, waktu enggan beranjak takkala kita merejang di Jumiang.

Kelak Potensi Wisata ini harus dibangun dan dikelola dengan baik agar bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar. Saat ini, Jumiang masih dikelola oleh masyarakat desa setempat. Ketika akhir pekan, masyarakat desa menerapkan tarif Rp. 3000 untuk sekali masuk per-orang. (Faisal Yasir Arifin / Majalah BPWS edisi 8)

Potensi Wisata Alam Pantai Jumiang - Pamekasan Madura - Jawa Timur
Pantai Juming - Pamekasan (Plat-M.com)

Tradisi Okol Madura, Tradisi Minta Hujan ala Orang Pamekasan

1/06/2015 Add Comment

Tradisi Okol, Tradisi Puja Mengundang Hujan 


Siang itu ratusan orang meriung di tanah lapang. Seorang kyai sepuh duduk bersila. bibirnya mendaras doa dan puja yang tak sepenggal pun rantas. pantang surut meski sengat matahari terus menggeliat. okol, tradisi mengundang hujan yang sarat makna.

Usai Ashar, matahari masih menyengat saat di Desa Nylabu Laok, Pamekasan, Madura ratusan orang khusuk mendaras Ayat Kursi dan Wirid.

Mereka yang awalnya riuh meriung, turut larut dalam puja dan doa. Ya, siang itu mereka memang menggelar tradisi Okol. Sebuah Tradisi yang lahir dari kearifan lokal madura, sebagai salah satu upaya bermunajat kepada Allah SWT untuk mendatangkan hujan.

Bukan sekedar bermunajat, ada salah satu pertunjukan yang dinanti-nantikan dalam acara itu. Yakni adu oto dalam gulat tradisional yang dalam bahasa Madura disebut Okol.

Sekilas, tradisi okol ini seperti orang yang hendak bergulat. Dua orang pria dewasa, berada dalam sebuah lingkaran berdiamater 3 meter. Saling berhadapan dalam posisi siaga.

Ketika wasit memberi tanda okol dimulai, kedua pria dewasa tersebut saling bertumbukan, Sorak penonton bergemuruh. Debu beterbangan hingga luar arena. Tak ada amarah, hanya ada tawa dan senyum cerah.

itulah Okol, sebuah tradisi memanggil hujan yang sudah turun temurun ada di Madura. Butuh waktu 5 sampai 10 menit untuk mengalahkan musuhkan. dalam pertandingan Okol, tidak mudah untuk menjatuhkan lawan. Sebab, disamping harus bertubuh kekar, mereka juga harus memiliki kuda-kuda yang kuat

Tradisi Okol, Gulat Khas Pamekasan Madura
Okol Madura (thejakartapost.com)
dalam pertandingan ini, siapa yang bisa menjatuhkan musuhnya dengan posisi di bawah yang jadi pemenang. "Meskipunbisa menjatuhkan musuh, tetapi posisinya berada dibawah musuhnya, dia dinyatakan kalah" Kata Muhammad Takrib, Tetua Desa setempat.

Tradisi Okol ini biasanya dilaksanakan saat musim kemarau berkepanjangan untuk meminta hujan. tradisi itu menjadi rangkaian dari tradisi meminta meminta hujan lainnya seperti Sholat meminta Hujan (Sholat Istisqa) dan dzikir. "Biasanya digelar usai Ashar, jadi matahari masih terasa terik menyengat", imbuhnya.

Biasanya, tradisi ini digelar dari desa ke desa hingga hujan turun baru dihentikan.

Namun, kini sudah ada pergeseran budaya. Jika biasanya hanya dimainkan saat dimusim panas untuk mengundang hujan, kini saat musim hujan pun juga dimainkan. Takrib menuturkan, masyarakat di desanya sudah menganggap tradisi tersebut bukan sekedar tradisi untuk meminta hujan, melainkan sudah menjadi hiburan.

"Ketika Okol digelar, masyarakat sangat terhibur. Alasannya, petani butuh hiburan karena musim hujan yang berkepanjangan, banyak tanaman mereka yang gagal panen" terangnya.

Karena sifatnya hiburan, maka tidak dibuat kompetisi siapa yang kalah dan siapa yang menang. Hanya saja, siapa yang bisa menjatuhkan musuh dibawah maka dia yang menjadi juara satu dan yang berada diatas menjadi juara dua.

Tidak semua desa di Pamekasan menjalankan Tradisi Okol. Sukarman, pemain Okol yang sering bermain dari desa ke desa, menuturkan ada enam desa yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Salah satu desa yang hingga kini masih mempertahankan adalah Desa Nylabu Laok.

Apakah Tradisi Okol yang sudah dijadikan hiburan tidak melanggar pakem? Menurut Sukarman, sama sekali tidak. "Kalau niatnya hiburan, kan tidak masalah. Kecuali sudah ada pelanggaran tradisi, seperti menjadi ajang perjudian dan permusuhan", ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pamekasan, Nur Faisal mengatakan, Tradisi seperti itu harus terus dijaga dan jangan sampai punah. Sebab, hal itu merupakan sebuah produk kearifan budaya Madura yang memiliki nilai filosofi tinggi.

"Ini bisa menjadi salah satu aset budaya yang memiliki nilai tinggi. Dalam beberapa hal, Okol bisa menjadi salah satu daya tarik Wisata di Madura bagi orang luar yang dapat mensejahterakan rakyatnya, seperti halnya Tari Kecak di Bali. Tinggal bagaimana seluruh Stakeholder yang ada bisa memolesnya sehingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi", tandasnya. (Faisal Yasir Arifin / Majalah BPWS Edisi 8)

Wisata Kuliner Rujak Soto Khas Bangkalan

1/05/2015 Add Comment

Tempat Wisata Kuliner Rujak Soto di Bangkalan


Kabupaten Bangkalan selain terkenal dengan beberapa tempat wisata alam dan sejarah seperti Mercusuar Sembilangan, Gunung Geger di Kecamatan Geger dan beberapa tempat lainnya, juga kaya akan masakan tradisional dan banyak digemari oleh warga lokal ataupun mereka yang datang dari luar pulau untuk mencoba berbagai kuliner yang ada di Kabupaten Bangkalan.

Salah satu yang menjadi favorit warga lokal untuk untuk makan di luar rumah adalah Kuliner Rujak Soto yang terletak di Desa Kebun, Kecamatan Kamal - Pulau Madura. Memang terdengar sedikit aneh ketika Rujak disandingkan oleh panganan berupa Soto tapi ketika sudah mencoba rasanya, lidah akan terus bergoyang mengunyah enaknya Rujak Soto ini.

Tak hanya warga lokal, Kuliner ini juga menjadi incaran para mahasiswa UTM (Universitas Trunojoyo Madura) karna selain lokasi yang berdekatan dengan kampus juga harga yang cukup murah yakni Rp. 4.000 untuk 1 porsi Rujak Soto dan mereka menyebutnya Naruto atau Nasi Rujak Soto.

Rujak Soto dilengkapi dengan Ketupat atau bisa juga TreTan menggantinya dengan Nasi, selain itu rasa pedas yang menjadi favorit banyak orang sebagai bumbu pelengkap juga ada pada Kuliner Rujak Soto ini, TreTan bisa saja meminta kepada penjual untuk menambah level pedas sesuai dengan selera yang diinginkan.

Kuliner Khas Bangkalan Rujak Soto Madura

Penjual Rujak Soto Bangkalan - Madura
Makanan Rujak Soto Bangkalan Madura









VIDEO LIPUTAN KULINER KHAS BANGKALAN RUJAK SOTO MADURA


 

PETA DIGITAL MENUJU RUJAK SOTO BANGKALAN DARI ARAH PELABUHAN UJUNG KAMAL


Daftar Penginapan & Hotel di Kabupaten Bangkalan

1/01/2015 Add Comment
Info tentang Penginapan dan Hotel di Bangkalan

Bangkalan merupakan Kabupaten paling Barat Pulau Madura yang terdapat banyak tempat wisata serta yang berpotensi untuk dijadikan tempat wisata. Wisata ini terdiri dari Wisata Alam, Wisata Religi, Budaya serta Tradisi yang masih dijalani hingga saat ini. Seperti Aduan Kerapan Sapi yang sudah terkenal dimana-mana dan masuk dalam daftar wisata yang wajib ditonton untuk melihat ketangkasan sapi yang beradu kecepatan di lapangan.

Selain itu ada juga Lapangan Sepak Bola atau Stadion Gelora Bangkalan yang sering digunakan untuk laga lokal maupun kelas Nasional. Nah, bagi para turis luar Bangkalan ataupun Luar Madura untuk melihat kedua event penting itu tentunya dibutuhkan waktu setidaknya sehari sebelum acara dimulai agar bisa mempersiapkan diri tentunya dengan mencari penginapan terdekat di Kota Bangkalan.

Terdapat 1 Hotel dan 2 Penginapan yang ada di Bangkalan, biasanya mereka adalah pendatang dari luar Bangkalan yang menginap dikarnakan ada agenda tertentu di Bangkalan entah berkunjung ke tempat wisata, menghadiri acara ataupun mengunjungi sanak famili atau sekedar transit sementara untuk melanjutkan ke Kabupaten lain di Madura seperti Sampang, Pamekasan, Sumenep atau ke Pulau Jawa melalui Surabaya.

Ada baiknya sebelum mengunjungi hotel atau penginapan, TreTan memesan terlebih dahulu atau menanyakan ketersediaan kamar. Mahal atau murah harga menginap satu malam tergantung hotel dan fasilitas didalam kamar, silahkan tanyakan kepada Customer Service.


Berikut adalah Daftar Penginapan dan Hotel yang ada di Bangkalan - Madura - Jawa Timur.

1. Hotel Ningrat, Jl. KH. MOH. Cholil 113, No. Telepon (031) 3095388 - 3095507


LOKASI VIA GOOGLE MAPS


2. Penginapan PKPN, Jl. Panglima Sudirman 112A Telp. (031) 3095109 - 3098796


LOKASI GOOGLE MAPS



3. Penginapan MAN Jl. Soekarno-Hatta 3 C (Komplek MAN) No. Telp (031) 72017883


 LOKASI GOOGLE MAPS