Tampilkan postingan dengan label Kecamatan Geger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecamatan Geger. Tampilkan semua postingan

Asal Usul Kabupaten Bangkalan - Madura

12/21/2014 Add Comment
Bangkalan merupakan salah satu dari 4 Kabupaten di Madura setelah Sampang, Pamekasan dan Sumenep yang terletak di sebelah ujung Barat Pulau Madura. Jika TreTan mengunjungi Pulau Garam Madura melalui Pelabuhan Perak Surabaya dan sampai di Pelabuhan Ujung Kamal, maka TreTan telah menginjakkan kaki di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Dari Pelabuhan Ujung Kamal untuk mencapai Kota Bangkalan, diperlukan perjalanan sejauh sekitar 43 KM melewati pedesaan dan pemandangan alam berupa persawahan dan ketika sampai pada Kota Bangkalan, akan terlihat hiruk pikuk kehidupan, lalu lalang berbagai kendaraan umum dan ramainya toko berderet-deret menjual berbagai kebutuhan.

Terdiri dari 18 Kecamatan dengan 273 Desa dan 8 Kelurahan dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Bangkalan.

Banyak hal yang akan ditemui ketika sampai dikota kecil ini, namun sebelum itu perlu sedikit pengetahuan bagaimana asal usul dari Kabupaten Bangkalan ini? berikut adalah cerita mengenai Kabupaten Bangkalan yang tidak terlepas dengan cerita masa lalu sebagaimana Kabupaten di Madura lainnya.

Asal Usul Kabupaten Bangkalan


Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V ini ?. Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.

Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.

Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.

Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.

Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu :

  • Kiai Adipati Pramono di Madegan Sampang.

  • Kiai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan.

  • Kiai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen .

  • Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo .

  • Kiai Pragalbo yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta

di Plakaran, setelah meninggal dikenal sebagai Pangeran Islam Onggu’ .

Namun perkembangan Bangkalan bukan berasal dari legenda ini, melainkan diawali dari sejarah perkembangan Islam di daerah itu pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur.

Beliau adalah anak Raja Pragalba, pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Panembahan Pratanu diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalba wafat. Jauh sebelum pengangkatan itu, ketika Pratanu masih dipersiapkan sebagai pangeran, dia bermimpi didatangi orang yang menganjurkan dia memeluk agama Islam. Mimpi ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian memerintahkan patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus.

Perintah ini dilaksanakan sebaik-baiknya, bahkan Bageno bersedia masuk Islam sesuai saran Sunan Kudus sebelum menjadi santrinya selama beberapa waktu lamanya. Ia kembali ke Arosbaya dengan ilmu keislamannya dan memperkenalkannya kepada Pangeran Pratanu.

Pangeran ini sempat marah setelah tahu Bageno masuk Islam mendahuluinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa Sunan Kudus mewajibkannya masuk Islam sebelum mempelajari agama itu, Pangeran Pratanu menjadi maklum.

Setelah ia sendiri masuk Islam dan mempelajari agama itu dari Empu Bageno, ia kemudian menyebarkan agama itu ke seluruh warga Arosbaya. Namun ayahnya, Raja Pragalba, belum tertarik untuk masuk Islam sampai ia wafat dan digantikan oleh Pangeran Pratanu. Perkembangan Islam itulah yang dianut oleh pimpinan di Kabupaten Bangkalan ketika akan menentukan hari jadi kota Bangkalan, bukan perkembangan kekuasan kerajaan di daerah itu.

Jauh sebelum Pangeran Pratanu dan Empu Bageno menyebarkan Islam, sejumlah kerajaan kecil di Bangkalan.

Diawali dari Kerajaan Plakaran yang didirikan oleh Kyai Demang dari Sampang. Yang diperkirakan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Kyai Demang menikah dengan Nyi Sumekar, yang diantaranya melahirkan Raden Pragalba. Pragalba menikahi tiga wanita. Pratanu adalah anak Pragalba dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai putera mahkota dan kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura. Pratanu menikah dengan putri dari Pajang yang memperoleh keturunan lima orang :

  • Pangeran Sidhing Gili yang memerintah di Sampang.

  • Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah di Arosbaya, Raden Koro menggantikan ayahnya

  • ketika Pratanu wafat.

  • Pangeran Blega yang diberi kekuasaan di Blega.

  • Ratu Mas di Pasuruan dan Ratu Ayu.

Kerajaan Arosbaya runtuh diserang oleh Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Mas pada tahun 1624. Pada pertempuran ini Mataram kehilangan panglima perangnya, Tumenggung Demak, beberapa pejabat tinggi kerajaan dan sebanyak 6.000 prajurit gugur.

Korban yang besar ini terjadi pada pertempuran mendadak pada hari Minggu, 15 September 1624, yang merupakan perang besar. Laki-laki dan perempuan kemedan laga. Beberapa pejuang laki-laki sebenarnya masih bisa tertolong jiwanya. Namun ketika para wanita akan menolong mereka melihat luka laki-laki itu berada pada punggung, mereka justru malah membunuhnya.

Luka di punggung itu menandakan bahwa mereka melarikan diri, yang dianggap menyalahi jiwa ksatria. Saat keruntuhan kerajaan itu, Pangeran Mas melarikan diri ke Giri. Sedangkan Prasena (putera ketiga Pangeran Tengah) dibawa oleh Juru Kitting ke Mataram, yang kemudian diakui sebagai anak angkat oleh Sultan Agung dan dilantik menjadi penguasa seluruh Madura yang berkedudukan di Sampang dan bergelar Tjakraningrat I. Keturunan Tjakraningrat inilah yang kemudian mengembangkan pemerintahan kerajaan baru di Madura, termasuk Bangkalan.

Tjakraningrat I menikah dengan adik Sultan Agung. Selama pemerintahannya ia tidak banyak berada di Sampang, sebab ia diwajibkan melapor ke Mataram sekali setahun ditambah beberapa tugas lainnya. Sementara kekuasaan di Madura diserahkan kepada Sontomerto.

Dari perkawinannya dengan adik Sultan Agung, Tjakraningrat tidak mempunyai keturunan sampai istrinya wafat. Baru dari pernikahannya dengan Ratu Ibu ( Syarifah Ambani, keturunan Sunan Giri ), ia memperoleh tiga orang anak dan beberapa orang anak lainnya diperoleh dari selirnya (Tertera pada Silsilah yang ada di Asta Aer Mata Ibu. Bangkalan berkembang mulai tahun 1891 sebagai pusat kerajaan dari seluruh kekuasaan di Madura, pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat II yang bergelar Sultan Bangkalan II. Raja ini banyak berjasa kepada Belanda dengan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda di beberapa daerah di Nusantara bersama tentara Inggris.

Karena jasa-jasa Tjakraningrat II itu, Belanda memberikan izin kepadanya untuk mendirikan militer yang disebut ‘Corps Barisan’ dengan berbagai persenjataan resmi modern saat itu. Bisa dikatakan Bangkalan pada waktu itu merupakan gudang senjata, termasuk gudang bahan peledak. Namun perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.

Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.

Raja Bangkalan Dari Tahun 1531 – 1882

  • Tahun 1531 – 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)

  • Tahun 1592 – 1620 : Raden Koro (Pangeran Tengah)

  • Tahun 1621 – 1624 : Pangeran Mas

  • Tahun 1624 – 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)

  • Tahun 1648 – 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)

  • Tahun 1707 – 1718 : Raden Tumenggung Suroadiningrat

  • · (Pangeran Cakraningrat III)

  • · Tahun 1718 – 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Cakraningrat IV)

  • Tahun 1745 – 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)

  • Tahun 1770 – 1780 : Raden Tumenggung Mangkudiningrat

  • (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VI)

  • Tahun 1780 – 1815 : Sultan Abdu/Sultan Bangkalan I

  • · (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VII)

  • · Tahun 1815 – 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)

  • Tahun 1847 – 1862 : Raden Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)

  • Tahun 1862 – 1882 : Raden Ismael (Panembahan Cakraadiningrat VIII)

Menggali Sejarah Bangkalan, Selanjutnya


Dari Pra Islam Hingga Cakraningrat Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Bangkalan, Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi.

Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung. Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang.

Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel.

Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat. Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit. Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda.

Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M. Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil.

Baca Juga: Sejarah Sultan R. Abdul Kadir Cakra Adiningrat II

Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa. Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.

Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah. Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen).

Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar. Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit. Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu.

Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam. Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina.

(Risang Bima Wijaya) atas Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Bangkalan, Radar.- Sosok Pratanu atau lebih dikenal dengan Panembahan Lemah Duwur adalah putera Raja Pragalba. Dia dikenal sebagai pendiri kerajaan kecil, yang berpusat di Arosbaya. Masyarakat Bangakalan menokohkan Pratanu sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Madura.

Bahkan, putera Pragalba ini disebut-sebut sebagai pendiri masjid pertama di Madura. Selain itu, Pratanulah yang mengawali hubungan dengan daerah lain, yaitu Pajang dan Jawa. Perjalanan sejarah Bangkalan tidak bisa dilepaskan dengan munculnya kekuasaan di daerah Plakaran, yang selanjutnya disebut dengan Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperkirakan muncul sebelum seperempat pertama abad 16, yakni sebelum penguasa Madura barat memeluk Islam.

Plakaran diawali dengan kedatangan Kiyai Demung dari Sampang. Dia adalah anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Setelah menetap di Plakaran, Kiyai Demung dikenal dengan nama Demung Plakaran. Dia mendirikan kraton di sebelah barat Plakaran atau sebelah timur Arosbaya, yang dinamakan Kota Anyar (Pa’ Kamar 1951: 113).

Sepeninggal Demung Plakaran, kekuasaan dipegang oleh Kiai Pragalba, anaknya yang nomor lima. Pragalba mengangkat dirinya sebagai Pangeran Plakaran dari Arosbaya. Selanjutnya meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir seluruh Madura. Paragalba mempunyai tiga orang istri.

Pratanu adalah anak dari istri ketiganya. Semasa kekuasaan Pragalba inilah agama Islam mulai disebarkan di Madura barat, yang dilakukan oleh para ulama dari Giri dan Gresik. Penyebarannya meliputi daerah pesisir pantai sekitar selat Madura pada abad ke-15 (FA Sutjipto Tirtoatmodjo 1983 : 13) Islam berkembang pesat sejak penyeberannya dilakukan secara teratur oleh Syech Husen dari Ampel (Hamka 1981:137).

Bahkan, ia mendirikan masjid di Arosbaya. Menurut cerita masyarakat Arosbaya, reruntuhan di sekitar makam Syech Husen adalah masjid yang didirikannya. Namun meski Islam sudah masuk di Madura barat, Pragalba belum memeluk Islam. Tetapi justru putranya Pratanu yang memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi: Sirna Pandawa Kertaning Nagara (1450 caka 1528 M).

Peristiwa tersebut berbarengan dengan pudarnya kekuasaan Majapahit setelah dikuasai Islam tahun 1527 M. Selain itu, Kerajaan Plakaran mengakui kekuasaan Demak, sehingga diperkirakan penerimaan Islam di Madura bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Menjelang wafat, Pragalba masuk Islam dengan menganggukkna kepala, karena itu dia mendapat sebutan Pangeran Onggu’ (mengangguk, Red). Sepeninggalnya, Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Dhuwur. Itu terjadi pada tahun 1531-1592.

Di masa pemerintahan Lemah Dhuwur inilah pusat pemerintahan Plakaran dipindahkan ke Arosbaya. Karena itu, dia mendapat julukan sebagai pendiri Kerajaan Arosbaya. Lemahlah Dhuwur yang mendirikan kraton dan msajid pertama di Arosabaya. Selama masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan Arosbaya telah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke seluruh Madura barat, termasuk Sampang dan Blega.

Panembahan lemah Duwur mengawini putri Triman dari Pajang. Ini juga menjadi bukti bahwa Lemah Duwur adalah penguasa Madura pertama yang menjalinm hubungan dengan Jawa. Berdasarkan Tutur Madura Barat, Rafless mengatakan bahwa Lemah Dhuwur adalah penguasa terpenting di daerah Jawa Timur pada masa itu.

Panembahan Lemah Dhuwur wafat di Arosbaya pada tahun 1592 M setelah kembali dari kunjungannya ke Panembahan Ronggo Sukowati di Pamekasan. Sesuai dengan tradisi dia dimakamkan di kompleks Makam Agung Lemah Dhuwur.

Selanjutnya kekuasaan Arosbaya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Tengah, hasil perkawinannya dengan puteri Pajang. Pangeran Tengah berkuasa tahun 1592-1620. Di masa pemerintahan Pangeran Tengah terjadi peristiwa terkenal yang disebut dengan 6 Desember 1596 berdarah, karena saat itu telah gugur dua orang utusan dari Arosbaya yang dibunuh oleh Belanda yaitu Patih Arosbaya Kiai Ronggo dan Penghulu Arosbaya Pangeran Musarip. Sejak peristiwa itulah Arosbaya menyatakan perang dengan Belanda.

Pangeran Tengah meninggal tahun 1620. Makamnya terletak di kompleks makam Syech Husen, dan sampai sekarang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Pengganti Pangeran Tengah adalah adiknya yang bernama Pangeran Mas, yang berkuasa tahun 1621-1624. Sebetulnya yang berhak berkuasa adalah putra Pangeran Tengah yang bernama Pangeran Prasena. Namun karena masih kecil, dia diwakili oleh pamannya.

Di masa pemerintahan Pangeran Mas terjadi peristiwa penyerangan Sultan Agung ke Arosbaya pada tahun 1624. Itulah yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Arosbaya. Sedang Pangeran Mas melarikan diri ke Demak dan Pangeran Prasena dibawa oleh juru kitting ke Mataram.

Peperangan antara Mataram dan Arosbaya yang berlangsung pada hari Minggu 15 Septeber 1624 tersebut, memang patut dikenang sebagai perjuangan rakyat Madura. Saat itu Mataram harus membayar mahal, karena mereka telah kehilangan panglima perang tertingginya, Tumenggung Demak dan kehilangan 6000 prajurit.

Saat itu laki-laki dan wanita Arosbaya berjuang bersama. Ada sebuah kisah menarik di sini. Dikisahkan saat di medan perang ada beberapa prajurit lelaki yang mengeluh karena luka berat. Tetapi katika para wanita melihat luka tersebut terdapat dibagian belakang, para wanita tersebut menusuk prajurit tadi hingga tewas.

’’Lukanya di bagian belakang, artinya prajurit itu telah berbalik lari, hingga dilukai di bagian punggungnya oleh musuh, mereka pengecut dalam,’’ demikian kata-kata para wanita Arosbaya. atas Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Prasena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.

Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas.

Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto. Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan.

Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya. Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika.

Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya. Cakraningrat I diganti oleh Undagan. seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram. Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura.

Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura. Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom. Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677.

Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I.

Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang. Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun.

Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III. Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali.

Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura. Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi. Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit. Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali.

Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.

Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini.

Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati. Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban.

Logo Cipta Indra Cakti Dharma Kabupaten Bangkalan

Cakraningrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.

Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap.

Sumber Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan, logo: soendoel.blogspot.com

Pencarian:
Koran Radar Bangkalan Madura, Berita Terbaru Bangkalan, Carok di Kabupaten Bangkalan, Sejarah Perjuangan Pahlawan Bangkalan, Asal usul Rato Ebu, Cerita Legenda di Bangkalan, Asal usul Selat Madura, Kapan hari Jadi bangkalan.

Sejarah Gunung Geger - Bangkalan Pulau Madura (3)

12/09/2014 Add Comment

Sejarah Gunung Geger - Bangkalan Pulau Madura (3)


Banyak Orang Nyepin Ingin Dapatkan Pusaka

Beberapa sumber material yang berkait dengan kisah kedatangan Putri Doro Gung dan lahirnya Raden Segoro ini, hingga kini masih ada bekasnya di Gunung Geger. Salah satu diantaranya, ada batu bongkahan yang berjejer rapi, tepat dibawah pohon ploso (semacam jati). Menurut anggapan penduduk Geger, jajaran batu itu adalah bekas rakit Doro Gung yang sudah membatu.

Goa Pelanangan di Gunung Geger Madura
Goa Pelanangan
Tempat ini merupakan tempat yang dikeramatkan orang dan sering dimanfaatkan untuk tempat tirakat, Keberadaan batu itu tak disertai prasasti. Ada pula sebuah tempat di puncak Gunung Geger berupa tumpukan batu karang setinggi 15 meter, mirip bangunan langgar yang disebut dengan "pelanggaran".

Menurut kepercayaan penduduk setempat di tempat inilah dahulu Doro Gung mendarat, kemudian melahirkan Raden Segoro dan bertempat tinggal. Tempat ini pun dikeramatkan orang. Tapi sayang tak dijumpai cerita tertulis, sehingga nilai sejarahnya mengambang.

Walau demikian, hingga kini sebagaimana diungkapkan juru kunci Zaini, tempat keramat di Gunung Geger itu masih sering dikunjungi orang. Mereka yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu hingga tirakat berhari-hari, bukan saja masyarakat Madura, "Tapi juga Cirebon, Banten, Semarang, Bandung, Banyuwangi bahkan ada yang dari Malaysia," tutur Zaini.

Mereka memanfaatkan goa-goa keramat dan angker sebagai tempat nyepi. Ada 4 goa yang kerapkali dunabfaatkan nyepi oleh para ahli tirakat itu. Masing-masing goa Petapan, Potre, Pancong Pote, dan Pelanangan. Dari tempat inilah banyak para alih petapa memperoleh berkah berupa wangsit atau benda-benda pusaka.
Diceritakan, sekitar tahun 1976 ahli tirakat dari Banten yang nyepi selama 41 malam di goa Petapan, pada malam terakhir dia dijatuhi benda secara gai tepat di pangkuanya. Ternyata benda itu sebuah "Besi Kuning" sepanjang 15 cm dengan garis tengah 2 cm. Konon katanya, khasiat benda itu menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam.


Keanehan lainya dialami Marjuki, asal kamal. Ketika dia nyepi di goa Pelanangan selama 101 hari, menjelang akhir lelakunya ia menerima wangsit, yang menganjurkan agar menggali tanah dibawah batu caping (miring topi).

Ketika tempat itu digali ternyata diperoleh sebuah kerangka lengkap dengan tengkoraknya. Konon disela-sela kerangka itu ditemukan sebuah limpa yang masih berbau amis. Di dalam tempurung tengkorak juga ditemukan benda putih mengkilat sebesar kelereng. " Namun apa khasiatnya oleh yang bersangkutan dirahasiakan," Ujar Zaini.

Disamping tempat keramat, goa di puncak Gunung Geger banyak pula memendam keajaiban alam. Di Goa Pelanangan misalnya ada sebua Stalakmit sepanjang 1,5 meter dengan garis tengah 15 cm bergantung di atap goa. bentuknya mirip organ pria, sehingga stalakmit unik ini diabadikan dengan nama Pelanangan.


Menurut juru kunci, stalakmit ini mempunyai khasiat nyata. Siapa saja lelaki yang mampu memanjat dinding goa, kemudian menyentuhnya, ia akan memiliki keperkasaan.

Menurut legenda versi Bangkalan, goa Petapan adalah bekas pertapaan Adipoday, sedang goa Potre pertapaan Putri Kuning. Keduanya pertapa saksi dari Madura dan dikenal sebagai ayah bunda tokoh legendaris Jokotole.

Konon ketika Jokotole akan bertarung melawan tojoh saksi dari daratan cian, yaitu Dempo Awang (Sampo Tualang), ia sempat pamit di Goa Petapan dan Potre. Disana Jokotole mendapat hadiah sebuah cemeti pusaka dari ayah bundanya yang sedang bertapa. Dengan cemeti ini, Jokotole dapat menghancurkan perahu Dampo Awang dalam pertempuran di udara. Saat itu Jokotole naik kuda terbang sedang Dampo Awang menaiki perahu terbang.
Keburuan kedua pertapa ini pun juga ada di puncak Gunung Geger. Makam Sang Putri tepat berada di depan goa Potre. Sementara Adipoday terletak 200 meter sebelah utara goa Petapan, dilindungi sebuah cungkup sederhana.

Makam R.A Tunjung Sekar atau Putri Kuning di Gunung Geger
Makam R.A Tunjung Sekar atau Putri Kuning
Sedang goa Pancong Pote dahulu dikenal sebagai tempat pertapan tokoh sakti Ratu Syarifah Ambani, permaisuri Pangeran Cangkraningrat I (1546-1569), Raja Plakaran Arosbaya. Konon berkat hasil tapa brata Sang ratu di goa Pancong Pote ini kerajaan Plakaran bisa diperintah keturunan Tjakraningrat I selama tujuh turunan. TAMAT
Sumber : (Buku Sejarah yang ditulis oleh (hor) )

Pencarian:
Sejarah Gunung Geger, Cerita Misteri Gunung Geger Bangkalan, Lokasi Bukit Geger Madura, Legenda Adi Poday Madura, asal usul gunung geger Madura.

Legenda dan Kisah Gunung Geger, Bangkalan (2)

12/08/2014 Add Comment

Tempat Rakit Sang Putri Terdampar dan Melahirkan


Menghadapi kejadian aneh tersebut Patih Pranggulang termenung. Dia mengambi kesimpulan bahwa hamilnya sang putri, memang bukan kesalahanya melainkan karena ada hal-hal yang luar biasa. Saat termenung itulah, Patih Pranggulang tiba-tiba mendengar suara bayi secara gaib dari rahim Sang Putri.

Hai Pranggulang tak usah kau ulangi perbuatanmu. Kamu telah melaksanakan titah rajamu dengan baik. Tetapi Tuhan belum mengizinkan aku dan ibuku mati sekarang. Kini tolonglah, buatkan rakit demikian seruan bayi yang didengar Patih Pranggulang.

Jalan bertingkat menuju Puncak Gunung Geger - Bangkalan Madura
Seketika itu Patih Prangguling menebangi pohon di hutan dan membuat rakit. Setelah rakitnya siap, datanglah Sang Putri ke tepi laut, sambil berpesan, jika butuh pertolongan menjejakkan kakinya ke tanah tiga kali, dan seketika itu Patih Pranggulang akan segera datang.
Setelah usai berpesan, Patih Pranggulang mengganti pakaian kebesaranya sebagai Patih dengan pakaian poleng (kain tenun kasar). Ini dilakukan Patih Pranggulang, karena ia sadar tak mungkin kembali menghadap raja. Dan sejak itu, Patih Pranggulang mengubah namanya menjadi Ki Poleng.

Setelah persiapan dan bekal seperlunya dianggap cukup, Sang Putri naik ke atas rakit. Sesaat kemudian Ki Poleng menendang rakit itu menuju "Madu-Oro" (Pojok di ara-ara yang artinya pojok menuju kearah laut luas). Konon dari kata Madu-Oro inilah timbul kata Madura yang kemudian dijadikan nama Madura.

Selanjutnya, setelah di ombang-ambingkan ombak besar, Doro Gung terdampar di sebuah daratan kecil yang tersembul di permukaan laut, tepat di bawah pohon "Ploso" (semacam pohon jati). Daratan kecil inilah sekarang dikenal sebagai Gunung Geger terletak sekitar 40 km arah timur laut kota Bangkalan.
Konon, ketika Sang Putri mendarat di daratan ini, jika air pasang daratan ini sempit sekali, tapi jika air surut areanya bertambah luas. Itulah sebabnya daratan itu diberi nama "Lemah Doro" (tanah yang tak sesungguhnya) karena sering berubah luasnya. Kata Lemah Doro ini dijadikan versi kedua asal kata Madura.


Raden Segoro

Beberap bulan setelah Doro Gung yang hami itu terdampar di Gunung Geger, tibalah saatnya untuk melahirkan. Saat itulah, Doro Gung menjejakkan kaki tiga kali ke tanah. Kemudian Ki Poleng muncu secara gaib di hadapan Sang Putri. Atas bantuan Ki Poleng Sang Putri melahirkan seorang bayi laki-laki yang rupawan. Karena kelahiranya tepat di tepi pantai, Oleh Ki Poleng bayi lelaki itu diberi nama Raden Segoro (Laut). Jadilah Raden Segoro orang pertama yang lahir di Pulau Madura.

Sejak kelahiran Raden Segoro, di sekitar Gunung Geger selalu ada cahaya semacam rembulan memancar ke angkasa. Cahaya ini, seringkali dilihat oleh pelaut yang berlayar di sekitar perairan Gunung Geger. Maka menurut kisah, akhirnya banyak pelaut yang singgah ke Gunung Geger, kemudian menghambakan diri pada Raden Segoro dan ibunya, Doro Gung. Mereka inilah akhirnya dianggap sebagai penduduk pertama di Madura.

Lanjut di: Sejarah Gunung Geger - Bangkalan Pulau Madura (3)

Sumber : (Buku Sejarah yang ditulis oleh (hor) )

Asal Usul Gunung Geger Bangkalan - Madura (1)

12/04/2014 Add Comment

Kekeramatan Gunung Geger, Bangkalan (1)


Putri Sendiri Dihukum Mati

Menelusuri jejak sejarah lahirnya Madura, sungguh menarik. Bukan saja mengandung legenda yang unik, sacral dan romantic, tapi juga sarat cerita kepahlawanan. Demikian pula peninggalan-peninggalan sejarah yang tersisa, merupaan sisi lain yang menggelitik. Pada umumnya peninggalan-peninggalan itu hingga kini dikeramatkan.

Gambar Gunung Geger di Kecamatan Geger - Bangkalan - Madura

Beberapa literature tentang sejarah Madura baik yang dikupas sejarawan Madura, Zainal Fatah dan Drs.Abdurahman, secara lengkap memaparkan perjalanan lahirnya nama Madura ini. Kelahiran nama Madura berkaitan erat dengan dua tempat yang ada di pulau Garam tersebut. Yakni gunung Geger di Bangkalan dan hutan Nepa di Desa Batioh, kecamatan Banyuates, Sampang.

Dari dua tempat ini babak awal perjalanan sejarah Madura bermuara. Mengapa dimulai dari dua tempat ini? Sebab disanalah orang pertama Madura menginjakkan kaki, membentuk system pemerintahan social dan perjalan hidup yang mengandung epos.

Konon ceritanya, pada zaman purbakala di kaki gunung Semeru, berdiri kerajaan Medangkemulan yang dipimpin rajanya bernama Sang Hyang Tunggal. Di dalam keraton yang disebut Giling Wesi, Sang Hyang Tunggal hidup bersama permaisuri dan putrinya bernama Raden Ayu Ratna Doro Gung. Dibawah pemerintahan raja yang arif dan bijaksana itu, Medangkemulan merupakan kerajaan yang makmur dan sentosa.
Namun ketentraman sang raja bersama rakyatnya jadi guncang , ketika terjadi peristiwa yang menimbulkan aib besar bagi kerajaan. Peristiwa itu berawal ketika sang Putri Doro Gung dalam tidurnya bermimpi kemasukan “rembulan” dari mulutnya. Aneh, beberapa bulan kemudian sang putrid hamil secara gaib. Inilah sebabnya Sang Hyang Tunggal jadi murka.


Beberapa kali Sang Hyang Tunggal menanyakan, siapa lelaki yang membuat sang putrid hamil. Namun dengan terisak Doro Gung yang cantik jelita itu tak mampu menjelaskan, karena ia tak tahu awal mulanya mengapa bisa hamil.


Ketika Sang Putri menjelaskan bahwa dia hamil secara gaib, setelah bermimpi menelan rembulan Sang Raja bertambah marah. Sang Putri dianggap bukan saja mendustai raja, tetapi juga seluruh rakyat Medangkemulan.

Akhirnya raja bertindak tegas, dipanggilnya patih Panggulang dan dititahkan untuk menghilangkan nyawa Sang Putri di hutan. Dipesannya agar Panggulang tak menghadap raja, kecuali membawa kepala Sang Putri. Dengan berat hati, serta bercucuran air mata, Patih Pranggulang menjalankan perintah, membawa Sang Putri ke hutan belantara.

Alkisah, ketika sudah berjalan jauh di dalam hutan, Sang Putri duduk bersimpuh, merasa tiba waktunya menerima nasib yang paling buruk. “ Paman patih, silahkan laksanakan titah paduka ayahanda,” kata Doro Gung.

Mendengar ucapan Sang Putri dengan bibir yang bergetar, Patih Pranggulang berlinang air mata. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena takut pada sang Raja. Ia pun menghunus pedang, dan tiga kali pedang itu ditebaskan ke leher sang Putri yang pasrah. Tetapi apa yang terjadi. Setiap pedang itu menyentuh leher sang Putri, selalu terpental ke tanah. BERSAMBUNG -> Legenda dan Kisah Gunung Geger - Bangkalan (2)

Sumber : (Buku Sejarah yang ditulis oleh (hor)