Benteng Erfprins - Cagar Budaya Indonesia yang Terlupakan

11/19/2019
Beberapa waktu yang lalu cuaca di Kota Bangkalan sedang panas-panasnya. Tiba-tiba saja saya ingin membeli Es Kacang Ijo di dekat benteng yang cepat habis karena rasanya yang enak sekali. Siang itu sambil mengendarai sepeda motor, saya pergi membeli Es Kacang Ijo yang berada tidak jauh dari rumah, mungkin berjarak sekitar 500 meter.

Setibanya di tempat penjual saya bergegas untuk memarkir sepeda motor lalu memesan dua bungkus es. Beruntung, ternyata saya masih kebagian meskipun harus sedikit mengantri karena seperti biasa ada beberapa orang yang sedang mengantri juga sedari tadi. Saya berdiri di dekat rombong Es Kacang Ijo, menghindari sengatan sinar matahari.

Sambil menghabiskan waktu saya melihat-lihat sekitar yang memang persis di seberang jalan umum. Ya, rombong Es Kacang Ijo berada di atas trotoar yang seharusnya digunakan untuk jalan kaki. Saat asyik melihat sekitar, tiba-tiba pandangan saya terhenti pada bangunan tua yang berada tepat di depan saya berdiri.

Sekilas kalau dilihat seperti tembok tua biasa yang ditumbuhi lumut hijau. Mungkin bagi orang baru yang bukan masyarakat sekitar tidak sadar kalau tembok tersebut merupakan bagian dari benteng peninggalan Belanda. Tapi tidak untuk masyarakat sekitar yang sudah tahu keberadaan benteng. Lamunan saya kembali mengingat bentuk benteng Belanda ini beberapa tahun yang lalu.

Benteng Erfprins - Bangkalan

Sekitar 19 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingat betul kalau dulunya bangunan benteng Belanda ini masih terlihat bersih dan cukup terawat dari luar. Entah sejak kapan para pedagang ini dalam sekejap mengubah keadaan sekitar benteng menjadi seperti tembok tua biasa.

"Mbak, ini esnya mau pakai roti atau nggak?..".

Tiba-tiba saja lamunan saya buyar, saya tersentak dengan pertanyaan ibu penjual es, dalam hati saya berkata, ya ampun ibu ini bikin kaget saja.

"Pakai roti, Bu semuanya ya..".

Setelah dua bungkus Es Kacang Ijo dan dua potong roti dibungkus menggunakan plastik bening, saya langsung membayar dan bergegas pulang karena siang itu memang cuacanya sedang panas. Dalam perjalanan pulang pikiran saya masih memikirkan tentang benteng Belanda itu, saya penasaran ingin sekali melihat kondisi benteng di dalamnya seperti apa, tapi siapa yang mau antar saya masuk ke dalam?.

Sesampainya di rumah, seperti biasa saya sudah ditunggu Mirza anak saya dan juga suami yang sudah tidak sabar ingin minum Es Kacang Ijo. Bertiga di dalam kamar kami menikmati Es Kacang Ijo dibarengi dengan teriakan Mirza yang entah kenapa hari ini dia cepat sekali menghabiskan kacang ijonya.

"Pak, tahu benteng Belanda yang di dekat Es Kacang Ijo itu nggak?..".

"Iya. Kenapa?..".

"Aku kok penasaran yang kepengen masuk ke dalam benteng, pengen lihat-lihat..".

"Emang berani?..".

"Kenapa? emang ada hantunya ya?..".

"Tumben aja. Nanti kamu ikut ya bareng timku buat ekspedisi tentang Benteng Erfprins..".

"Oh, namanya Benteng Erfprins. Kapan?..".

"Tunggu aja..".

Pertama Kali Melihat ke Dalam Benteng Erfprins dan Mendengar Sejarahnya


Selang beberapa hari dari percakapan kami waktu itu, akhirnya saya ikut suami bersama Tim Gerbang Pulau Madura menuju Benteng Erfprins. Beruntung, karena kebetulan saya berangkat melihat benteng bersama tim yang memang mengerti mengenai cerita Benteng Erfprins ini. Saat tiba di area benteng kami bertemu dengan Bapak Irwanto, beliau adalah Juru Pelihara Benteng Erfprins.

Saat itu kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami. Lalu, Bapak Irwanto langsung mengajak kami naik ke atas benteng. Baru saja menaiki beberapa anak tangga kami sudah disambut dengan pemandangan benteng yang sebagian besar telah ditumbuhi oleh lumut hijau, tumbuhan yang menjalar dan akar-akar pohon sehingga nampak jelas benteng kurang terawat.

Kondisi Tembok Benteng Erfprins

Sambil berkeliling melihat keadaan di bagian atas benteng, Bapak Irwanto menceritakan tentang keadaan Benteng Erfprins kepada kami. Dari penjelasan beliau saya baru tahu kalau ternyata benteng yang terletak di tengah Kota Bangkalan ini memiliki kaitan erat dengan sejarah pendudukan VOC atas Madura Barat.

VIDEO WAWANCARA DENGAN PAK IRWANTO


Dulunya, benteng ini merupakan gudang persenjataan VOC, dimana VOC membangun sebuah kekuatan militer di Madura yang bertujuan untuk menumpas berbagai pemberontakan di Cirebon, Bone, Jambi, Bali dan Jawa. Namun, ada keterangan lain yang menjadi alasan mengapa benteng ini dibangun.

Seperti yang disepakati dalam perjanjian antara Mataram dan VOC tanggal 11 November 1743 yang menyebutkan bahwa Paku Buwono II dapat bertahta kembali jikalau VOC menjadi penguasa Madura Barat dengan menyingkirkan kekuasan raja-raja Tjakraningrat.

Dari kumpulan surat-surat Bupati Bangkalan diketahui bahwa setelah menguasai Madura Barat sekitar tahun 1747, VOC membangun sebuah benteng yang memiliki luas gedung sebesar 980 meter dan luas lahannya sekitar 7249 meter yang digunakan untuk mengawasi keluarga Kesultanan Bangkalan.

Sketsa Denah Benteng Erfprins Bangkalan

Yang menarik dari benteng ini adalah ternyata benteng sempat tidak memiliki nama. Hingga ada surat dari KITLV (Koninklijk Instituut Voor Tall Land En Volkenkude) yang ditujukan kepada Kepala Museum Bangkalan, sebuah arsip Belanda yang menyatakan bahwa benteng ini dulunya bernama Erfprins atau dalam Bahasa Indonesia berarti Warisan Pangeran.

Jadi, kalau di Belanda Raja mempunyai anak-anak, anak pertama selalu bernama 'Prins van Oranje'. Kalau dia sudah punya anak-anak sendiri yang pertama bernama Erfprins. Benteng ini dibangun sebagai tanda penghormatan penguasa Belanda di Madura Barat terhadap kelahiran cucu Raja Willem I.

Sambil mengelilingi benteng sekilas terlihat kalau benteng ini dibuat dari batu putih berlepa dengan memiliki denah bujur sangkar dan memiliki empat bastion di keempat sudutnya. Tembok keliling benteng memiliki ketebalan sekitar 60 cm dan tinggi 3,5 meter. Pintu masuk utamanya berada di sebelah timur.

Bastion pada sudut-sudut benteng berbentuk mata panah dan dilengkapi dengan lubang-lubang penembakan berbentuk segi empat. Pada bastion Utara terdapat 6 lubang penembakan, yaitu 2 di tembok bastion sisi Barat dan 4 di tembok bastion sisi timur.

Kondisi 4 Bastion Benteng Erfprins

Pada bastion Timur terdapat 7 lubang penembakan, yaitu 3 di tembok bastion sisi Timur dan 4 di tembok bastion sisi Selatan. Sedangkan bastion Selatan sendiri memiliki 6 lubang penembakan, masing-masing 2 di sisi Timur dan 4 di sisi Barat.

Sedangkan bastion Barat memiliki 7 lubang penembakan, yaitu 4 di tembok bastion sisi Utara dan 3 di tembok bastion sisi Selatan. Pada setiap ujung bagian bastion terdapat menara pengintaian berdenah segi enam. Pada masing-masing bangunan pengintaian terdapat lubang penembakan berjumlah 3 buah.

Saat pertama kali masuk ke dalam area benteng terlihat beberapa bangunan yang ternyata merupakan bangunan tempat tinggal. Kondisi temboknya sebagian besar sudah ditumbuhi lumut, tumbuh-tumbuhan paku bahkan ada yang hidup di temboknya. Pohon yang tumbuh disekitarnya pun seperti di tempat pengintaian, akarnya telah mendesak tembok sehingga suatu ketika bisa merobohkannya.

Di tembok luar ditempati masyarakat umum untuk berdagang. Lapaknya bahkan menempel pada dinding benteng. Di situ kita bisa temui pedagang Es Kacang Ijo langganan saya, penjual kaset vcd, penjual bilah bambu dan aneka produk dari bambu, bahkan kita bisa menemukan bengkel las yang lapaknya menempel di tembok. Setelah selesai berkeliling saya bisa menyimpulkan kalau keadaan benteng memang kurang terawat.

Bangunan Semi Permanen di Tembok Benteng Erfprins

Kerusakan yang paling parah pada benteng terdapat pada bastion di bagian Barat. Bahkan bila dilihat hanya sekilas saja sudah terlihat kalau tembok bastion bagian Barat retak dan bangunan pengintaiannya hampir romboh karena akar pohon yang dibiarkan tumbuh secara liar di tempat itu.

Benteng Erfprins sendiri sudah resmi dijadikan sebagai cagar budaya dan terdaftar di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, wilayah kerja Jawa Timur. Kalau memang sudah resmi dijadikan sebagai cagar budaya Indonesia seharusnya kondisinya tidak seperti itu. Kok rasanya akan sayang sekali jika Benteng Erfprins ini nantinya perlahan-lahan semakin rusak dan bukan tidak mungkin jika kelak benteng ini akan musnah karena kurang terawat.

Plakat Undang - Undang Cagar Budaya yang posisinya menghadap kedalam

Semoga saja akan segera ada upaya pelestarian dari pihak yang berwenang demi kepentingan penggalian nilai-nilai sejarah tentang peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu serta perkembangannya hingga kini. Pelestarian Benteng Erfprins sebagai cagar budaya memiliki arti penting. Tentunya dalam upaya pelestarian benteng akan mendapat tantangan besar.

Dari kondisi benteng saat ini dapat terlihat betapa tidak pedulinya semua pihak terhadap keberadaan benteng sebagai cagar budaya. Baik itu Pemerintah Daerah, pihak berwenang terkait peninggalan bersejarah maupun masyarakat luas termasuk saya sendiri yang menjadi pelanggan Es Kacang Ijo.

Gencarnya pembangunan di Kota Bangkalan mungkin akan memberikan dampak negatif terhadap kelestarian benteng. Pembangunan tanpa menghiraukan keberadaan benteng sebagai cagar budaya sudah terlihat dengan menurunnya kualitas benteng.

Upaya pelestarian perlu dilakukan dengan cara merawat benteng sebagai cagar budaya agar bisa dilihat oleh anak cucu kita nanti. Saya masih ingin melihat Benteng Erfprins berdiri kokoh dan orang-orang mengenalinya sebagai benteng bukan sekadar tembok tua biasa seperti perasaan saya saat membeli Es Kacang Ijo di dekatnya.

Upaya Pelestarian Benteng Erfprins Sebagai Cagar Budaya Indonesia


Ada beberapa hal yang masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan benteng supaya anak cucu kita bisa melihatnya. Upaya ini memang tidak mudah, membutuhkan kesungguhan, tenaga dan bahkan biaya yang cukup besar. Tetapi setiap pihak bisa mengambil perannya masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

Relokasi Penghuni Benteng

Di dalam benteng terdapat bangunan semacam asrama yang ditempati oleh beberapa keluarga. Mereka sudah menempatinya secara turun temurun. Meskipun benteng ini statusnya adalah aset negara tetapi pemindahan para penghuni selayaknya dilakukan secara manusiawi. Mungkin pemerintah bisa menyediakan tempat relokasi yang layak huni.

Kondisi bagian dalam Benteng

Di luar bangunan benteng terdapat banyak sekali pedagang yang menggantungkan hidupnya pada tembok benteng. Pemerintah daerah dengan dinas terkaitnya perlu melakukan relokasi terhadap para pedagang tersebut. Mereka bukan berniat merusak benteng tetapi karena tidak mengetahui kalau tempat yang mereka tempati merupakan tempat bersejarah.

Selama ini pun mereka tidak merasa bahwa tindakannya tidak sesuai dengan aturan. Barangkali memang dari pihak berwenang cenderung abai. Bahkan di sisi timur benteng bangunan milik tukang las dan tukang cukur rambut sudah merupakan bangunan semi permanen.

Penjual bambu sudah menempatinya berpuluh tahun, bahkan di sisi selatan benteng pedagangnya semakin banyak sejak Pusat Makanan Rakyat (Pumara) yang awalnya berada di alun-alun Bangkalan ditutup. Perlu ada penertiban dari pihak berwenang agar para pedagang termasuk Es Kacang Ijo langganan saya bisa dipindah ke lokasi yang selama ini sudah disediakan oleh pemerintah seperti Pumara yang ada di sebelah utara area luar Stadion Bangkalan.

Restorasi Benteng

Setelah semua penghuni benteng baik di dalam maupun di luar sudah direlokasi tahap selanjutnya adalah Restorasi Benteng. Program restorasi ini tentunya tidak bisa dipahami oleh orang awam seperti saya. Tetapi karena statusnya sebagai cagar budaya maka pihak yang berwenang mungkin bisa mengirim ahli untuk mengevaluasi kondisi bangunan benteng.

Bagi orang awam seperti saya setidaknya saat ini perlu dilakukan sosialisasi ke masyarakat umum bahwa bangunan tua tersebut adalah benteng yang terdaftar sebagai cagar budaya. Dari beberapa orang yang sempat saya tanyai, kebanyakan dari mereka bahkan tidak menyadari keberadaan benteng.

Sebagai Pusat Kegiatan Budaya dan Wisata Sejarah

Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap benteng, jika telah dilakukan relokasi penghuni dan restorasi bangunan, maka benteng bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan budaya. Misalnya bisa diadakan pameran seperti pameran lukisan, pameran batik atau pameran karya seni rupa lainnya. Juga bisa dijadikan sebagai tempat pertunjukan musik, tari maupun teater.

Bahkan tidak menutup kemungkinan bila Benteng Erfprins ini bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah di Bangkalan. Tentu hal ini dapat mendatangkan wisatawan baik dari dalam maupun luar Madura untuk menikmati wisata sejarah Benteng Erfprins. Terlebih lokasi benteng yang berada di tengah Kota Bangkalan memudahkan wisatawan untuk bisa menemukannya.

Foto Udara Benteng Erfprins

Namun, yang terpenting adalah Benteng Erfprins bisa terawat dengan baik sebagai cagar budaya Indonesia peninggalan Belanda dan bukan lagi seperti tembok tua biasa yang tidak banyak masyarakat tahu tentang keberadaannya. Salah satu warisan sejarah di masa lalu yang akan terus dinikmati oleh generasi kita selanjutnya.

Saya sangat berharap, setidaknya melalui tulisan ini ada pihak berwenang tergerak untuk membantu menyelamatkan salah satu aset penting cagar budaya di Bangkalan ini. Minimal memperlambat hancurnya Benteng dengan dibersihkan tumbuhan liar didalamnya meskipun sebenarnya saya menginginkan lebih dari itu sebagaimana yang sudah saya jelaskan pada beberapa poin upaya pelestarian di atas.

Lalu, bagaimana dengan cagar budaya yang ada di tempat teman-teman sendiri?, yuk kita turut memberi suara melalui tulisan di blog yang bisa diikut sertakan dalam kompetisi blog Cagar Budaya Indonesia, Rawat atau Musnah.



Referensi :

1. Surat dari KITLV kepada Museum Bangkalan tentang nama Benteng "Efprins" Th. 2010
2. Surat Keterangan Cagar Budaya BPCB Mojokerto No. HK.701/1073/CB7/BPCB/VII/2013
3. http://www.atlasofmutualheritage.nl


Tour Travel Pulau Madura

Sebarkan

Komentar Facebook

Artikel Terkait

Previous
Next Post »